Geun hanya ingin cepat kaya dan hidup nyaman.
Tapi setiap kebohongan kecil dan pertarungan nekat demi uang justru melahirkan legenda baru.
Saat dunia bela diri mulai menyebutnya monster dan iblis, Geun sendiri hanya sibuk mencari kerja dengan bayaran tinggi.
Geun yang awalnya hanyalah pemuda gelandangan yang ingin hidup bebas dan nyaman, namun tanpa sadar meninggalkan jejak yang mengubah dunia bela diri selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drunk Cats, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #17: Penyergapan
Di atas atap sebuah gudang beras tua yang bersebelahan dengan markas Silvercrane, empat sosok merayap dalam kegelapan.
Baek Mu-jin memimpin di depan, gerakannya yang dibantu teknik Qinggong menjadi seringan asap. Diikuti Seo Yun-gyeom dan Jang Min-seok.
Di posisi paling belakang, Geun merayap dengan gaya kaku seperti cicak yang sedang sakit pinggang, memeluk linggis berkaratnya erat-erat agar tidak berisik.
"Kenapa kita cuma berempat?" bisik Geun protes, napasnya memburu. "Kalian bilang mau menyergap. Mana pasukannya? Mana kavaleri berkudanya?"
"Ssst!" desis Seo Yun-gyeom tajam. "Pasukan penjaga kota dan regu pendukung Sekte Wudang serta sekte orthodox lain sedang menunggu di gerbang distrik. Mereka butuh sinyal suar."
"Kita tidak bisa menyerbu gudang dagang resmi tanpa bukti fisik, Saudara Geun," jelas Baek Mu-jin tanpa menoleh. "Tugas kita adalah masuk, pastikan keberadaan mayat hidup itu, lalu nyalakan suar. Begitu suar menyala, pasukan utama akan mendobrak gerbang depan."
"Oh," Geun mengangguk, sedikit lega. "Jadi kita cuma ngintip, kan? Kalau ada bahaya, kita lari, lalu biarkan pasukan yang kerja?"
"Kurang lebih begitu," jawab Mu-jin.
Mereka tiba di ventilasi atap gudang utama Silvercrane.
Dari celah sempit kayu, bau itu langsung menusuk hidung.
Bau kapur, bau rempah manis, dan di bawahnya... bau amis darah yang kental.
Pupil Geun secara otomatis melebar, energi internal masuk ke saraf matanya, membuat urat merah halus muncul di pinggiran matanya.
Apa yang dia lihat di bawah membuatnya ingin muntah.
Di lantai gudang yang luas, diterangi obor-obor dinding, berdiri Jo Chil-sung.
Dimata Geun, Kepala Cabang Silvercrane itu memancarkan aura mengalir di tubuhnya yang terlihat luar biasa padat.
Energi internalnya bergejolak kuat, setara dengan Baek Mu-jin, bahkan lebih ganas.
Praktisi tingkat Peak First-Rate.
Di sekelilingnya, puluhan pengawal elit berjaga dengan tombak.
Dan di tengah ruangan, ada lima peti mati besi yang berdiri tegak.
"Waktunya makan," suara Jo Chil-sung menggema dingin. Dia menarik tuas besi di dinding.
Rantai-rantai di langit-langit bergerak. Penutup peti mati itu ditarik ke atas secara mekanis.
KLANG!
Lima sosok melangkah keluar.
Tubuh mereka abu-abu pucat. Kulit mereka kering kerontang menempel pada tulang, seolah semua cairan tubuh telah dihisap habis. Kuku jari mereka hitam legam, panjang, dan melengkung.
Jiangshi.
Tapi ada yang berbeda. Jiangshi ini tidak diam. Mereka gemetar, mulut mereka mengeluarkan suara krak-krak dari rahang yang bergesekan.
"Mereka sepertinya lapar," bisik Geun di atap, ngeri.
Di bawah, dua pengawal menyeret seorang tahanan ke tengah ruangan. Dia adalah seorang bandit yang tertangkap.
"Umpan," perintah Jo Chil-sung.
Bandit itu didorong ke arah Jiangshi.
"JANGAN! AMPUN!!"
Lima Jiangshi itu bergerak serentak.
Cepat, terlalu cepat.
Mereka tidak berjalan, tapi melompat dengan lutut kaku, menerjang bandit itu.
Dalam sekejap, tubuh bandit itu dikerumuni. Suara daging dikoyak dan tulang dipatahkan terdengar menggema di seluruh gudang yang sunyi.
"Bajingan..." geram Jang Min-seok di samping Geun. Tangan murid muda itu gemetar memegang gagang pedang. "Mereka memberi makan monster dengan manusia hidup. Bahkan meskipun itu bandit, tetap saja..."
"Tahan," bisik Mu-jin. "Kita butuh bukti lebih..."
Tapi emosi muda Jang Min-seok meledak. Dia tidak tahan melihat kekejaman di depan matanya.
Kakinya tanpa sengaja menendang genteng longgar.
KRAK.
Potongan genteng jatuh ke bawah dan pecah tepat di depan kaki Jo Chil-sung.
Hening.
Jo Chil-sung mendongak. Matanya yang sipit berkilat tajam.
"Tikus," desisnya.
Dia menghentakkan kakinya ke lantai.
BOOM!
Gelombang energi yang dahsyat meledak dari tubuhnya, menghantam pilar penyangga atap.
Atap tempat mereka berpijak runtuh seketika.
"AAAAAA!" Geun menjerit saat dia jatuh bebas setinggi enam meter bersama puing-puing kayu dan genteng.
Mereka mendarat di tengah gudang, dikepung oleh puluhan pengawal dan lima Jiangshi yang mulutnya penuh darah.
"Wudang? Kalian berhasil mengendus sampai ke tempat ini?" Jo Chil-sung terkejut. "Sepertinya pembunuh bayaran itu gagal."
"Nyalakan suar!" teriak Mu-jin pada Yun-gyeom.
Seo Yun-gyeom merogoh saku, mengeluarkan tabung suar. Tapi sebelum dia sempat menyalakannya, Jo Chil-sung sudah bergerak.
Kecepatannya mengerikan.
Dia melempar tiga pisau terbang yang diselimuti Qi hijau beracun.
TRANG!
Mu-jin menangkis dua pisau, tapi pisau ketiga menghantam tabung suar di tangan Yun-gyeom.
Tabung itu hancur berkeping-keping.
"Tidak akan ada bala bantuan," kata Jo Chil-sung. "Bunuh mereka semua." sambungnya sambil merobek kertas jimat kuning dengan tinta merah.
Seketika, pertempuran pecah. Jiangshi juga mulai bergerak.
Ini adalah mimpi buruk. Tiga murid Wudang dan satu gembel melawan satu markas musuh.
Baek Mu-jin langsung berhadapan dengan Jo Chil-sung.
Pedang Jian Wudang beradu dengan Sabit Kembar milik Jo Chil-sung.
CLANG! CLANG!
Gelombang kejut dari benturan antara Peak First-Rate dan First-Rate membuat lantai retak.
Mu-jin terdesak karena Jo Chil-sung bertarung dengan gaya jalanan yang licik dan penuh tipuan, berbeda dengan gaya Wudang yang bersih.
Sementara itu, lima Jiangshi menerjang ke arah Yun-gyeom, Min-seok, dan Geun.
"Mati kau mayat busuk!" teriak Min-seok. Dia menusukkan pedangnya ke dada Jiangshi terdepan.
JLEB!
Pedang menembus dada kiri. Tepat di jantung.
Tapi Jiangshi itu tidak berhenti.
Ia bahkan tidak berkedip. Tangannya yang berkuku tajam menyabet ke arah leher Min-seok.
"Hah?!" Min-seok tersentak kaget. Dia melepas pedangnya dan berguling mundur.
"Jangan incar organ dalam!" teriak Yun-gyeom. "Potong kepalanya!"
Yun-gyeom menebas leher Jiangshi lain.
TEBAS!
Leher itu robek setengah, tulang leher putus. Kepala Jiangshi itu terkulai ke samping.
Namun tubuhnya masih bergerak. Tangan mayat itu mencekik leher Yun-gyeom dengan kekuatan besi.
"Ukh... me-mereka tidak mati..." Yun-gyeom tercekik, wajahnya membiru.
Geun, yang sedang bersembunyi di balik tumpukan karung beras, melihat semua itu dengan matanya yang menyala merah.
Apa yang dia lihat membuatnya sadar kenapa serangan Wudang sia-sia.
Di mata Geun, Jiangshi itu gelap gulita.
Tidak ada jantung yang berdetak. Tidak ada otak yang berpikir. Tidak ada Dantian. Tidak ada Meridian.
Serangan Wudang yang didasarkan pada pemutusan aliran energi atau perusakan organ vital tidak berguna karena makhluk ini sudah mati.
Yang menggerakkan mereka adalah gumpalan energi hitam pekat yang stagnan di persendian mereka.
Energi itu seperti paku pasak.
Satu gumpalan di bahu, satu di siku, satu di lutut, dan satu di pinggul.
Mereka bukan makhluk hidup. Mereka adalah boneka kayu yang dilapisi daging.
"Salah! Kalian salah cara!" teriak Geun frustrasi dari persembunyiannya.
"Itu bukan orang! Jangan bunuh orangnya! Hancurkan engselnya!"
Geun melihat satu Jiangshi melompat ke arah punggung Baek Mu-jin yang sedang sibuk meladeni Jo Chil-sung.
Mu-jin tidak akan sempat menghindar. Dia akan mati dicabik.
"Sialan! Jaminan hidupku!" umpat Geun.
Geun keluar dari persembunyian.
Dia melompat naik ke atas tumpukan karung beras setinggi tiga meter.
Dia melihat Jiangshi itu ada di bawahnya.
Geun menggenggam linggis berkaratnya dengan kedua tangan.
Dia tidak menggunakan teknik pedang.
Dia menggunakan beratnya dan tarikan gravitasi.
"MINGGIR!!"
Geun menjatuhkan dirinya.
Tubuh kurusnya meluncur ke bawah, linggis di arahkan lurus ke bahu kanan Jiangshi itu.
KRAAAK!
Suara tulang hancur terdengar lebih keras dari benturan pedang manapun.
Ujung linggis yang tumpul itu menghantam tepat di celah sendi bahu
Kekuatan hantaman itu bukan memotong daging, tapi melepaskan bonggol tulang dari tempurungnya.
Lengan kanan Jiangshi itu copot seketika, terkulai lemas seperti kain basah.
Jiangshi itu goyah karena keseimbangannya rusak.
Geun mendarat berguling sambil meringis karena tumitnya sakit, tapi dia tidak berhenti.
Dia melihat lutut Jiangshi itu terbuka.
Di sana, ada gumpalan energi hitam yang menjadi pusat penggerak kaki.
"Hancur kau!"
Geun mengayunkan linggisnya mendatar seperti akan memukul anjing.
Targetnya adalah kaki Jiangshi.
DUAGH!
Kaki Jiangshi itu patah dan terbalik ke belakang.
Makhluk itu jatuh tersungkur. Ia masih mencoba merangkak, menggeram, tapi kakinya tidak bisa menopang berat badannya lagi. Ia menjadi onggokan daging yang menggeliat di lantai.
Ancaman selesai dalam dua pukulan.
Baek Mu-jin, yang baru saja memukul mundur Jo Chil-sung, terbelalak melihatnya.
Pedang Wudang yang dialiri energi murni saja butuh belasan tebasan untuk melukai kulit besi Jiangshi.
Tapi Geun... dia melumpuhkannya dengan linggis karatan?
"Dia tidak melawan kekerasan kulitnya," sadar Mu-jin. "Dia menyerang struktur mekanisnya!"
"OI WUDANG!" teriak Geun, napasnya memburu, matanya liar ketakutan. "JANGAN TUSUK JANTUNGNYA! PATAHKAN KAKINYA! COPOT BAHUNYA! MEREKA CUMA BONEKA!"
Itu instruksi yang kasar, tidak elegan, dan sangat tidak Wudang.
Tapi itu satu-satunya cara.
"Lakukan seperti katanya!" perintah Mu-jin pada kedua junior nya. "Incar persendian! Hancurkan mobilitas mereka!"
"Baik!"
Situasi berbalik.
Murid Wudang berhenti bertarung seperti pendekar pedang, dan mulai bertarung seperti tukang daging.
Mereka menggunakan energi mereka bukan untuk memotong, tapi untuk menghantam persendian.
Lutut dipatahkan, dan siku Jiangshi diputus.
Satu per satu, pasukan mayat hidup Silvercrane roboh, berubah menjadi sampah daging busuk yang tidak bisa berdiri.
Jo Chil-sung mundur selangkah. Wajahnya pucat pasi.
"Tidak mungkin... Jiangshi milik pelanggan... Klien akan murka..."
Dia menatap Geun dengan kebencian yang mendalam.
Jo Chil-sung mengabaikan Mu-jin. Dia melesat menerjang Geun dengan kecepatan penuh.
Sabit kembarnya bersinar hijau, siap memenggal kepala Geun.
Geun melotot. Dia tidak bisa menangkis serangan Peak First-Rate yang mengamuk. Dia akan mati.
"LINDUNGI AKU!!" jerit Geun tanpa malu, langsung tiarap mencium lantai. "AKU SAKSI KUNCI!!"
CLANG!
Pedang Biru Baek Mu-jin menahan sabit Jo Chil-sung tepat satu jengkal di atas kepala Geun.
Percikan api jatuh ke rambut Geun.
"Lawanmu adalah aku, Jo Chil-sung," kata Mu-jin dingin. "Dan terima kasih pada Saudara Geun, pasukanmu sudah habis."
Geun merangkak mundur secepat kilat, menjauh dari pertempuran para monster itu.
Dia bersandar di dinding, napasnya habis, jantungnya sakit lagi.
Dia melihat mayat Jiangshi yang dia hancurkan tadi. Makhluk itu masih mencoba menggigit udara.
Geun menatap linggisnya yang kini bengkok sedikit.
"Ilmu hitam apanya..." gumam Geun gemetar. "Ini cuma masalah engsel. Cabut engsel pintunya, pintunya copot."