NovelToon NovelToon
Pembalasan Raden Roro: Kubuat Suamiku Jadi Gembel

Pembalasan Raden Roro: Kubuat Suamiku Jadi Gembel

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Romansa pedesaan
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

~DALAM TAHAP REVISI~

Raras hanya ingin pernikahannya berjalan tenang. Ia sembunyikan nama besar keluarganya, meninggalkan kemewahan di Yogyakarta, dan memilih hidup sederhana bersama Danang, pedagang yang sedang naik daun.

Hingga suatu malam Raras melihat pesan mesra di ponsel suaminya. Danang berselingkuh.

Yang lebih menyakitkan, keluarga Danang justru merendahkan Raras. Mereka menganggap Raras perempuan tanpa masa depan. Bagi mereka Danang pantas mendapat wanita lebih cantik, lebih bergengsi, dan menguntungkan.

Raras tidak menangis. Ia hanya berkemas dan pulang ke Yogyakarta.

Di balik pintu dalem keluarganya, kehidupan yang selama ini ia sembunyikan akhirnya terbuka. Ternyata tanah, sawah, kebun, gudang, dan jaringan perdagangan milik keluarga Raras selama ini yang diam diam menopang kesuksesan bisnis Danang dari belakang.

Raras tidak menghancurkan mantan suaminya. Ia hanya berhenti menopang. Satu per satu bisnis Danang runtuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 — Kalimat yang Tidak Kutandatangani (Revisi)

“Halaman dua, kalimat pertama, aku nggak bisa tanda tangan, Mas.”

Di seberang telepon, Danang terdiam sampai terdengar bunyi klakson jauh di belakangnya. Raras berdiri di teras belakang dalem dengan ponsel menempel di telinga. Pagi baru pecah, dan kabut tipis masih menggantung di antara pohon kamboja yang kembangnya jatuh satu-satu ke batu pipih. Pertanyaan Aditya tadi ia jawab dengan satu kata, belum. Sekarang ia harus menjawab pertanyaan yang lebih sulit.

“Ras? Kamu di mana? Aku mencarimu dari tadi malam.”

“Di tempat yang ada pohon kamboja.”

“Kamboja...” Danang berhenti. “Yang di pot teras rumah kita?”

“Yang di sini lebih rimbun.” Raras mengusap kelopak putih yang jatuh ke pagar teras. “Mas tahu, tiap malam waktu Mas pulang telat, aku menyiram kamboja di pot teras dengan teh yang sudah dingin?”

“Kupikir kamu memang menyiram bunga.”

“Aku menyiram teh yang tidak jadi Mas minum.” Suaranya tenang, tetapi ujung jarinya mengepal. “Aku nggak tega membuangnya ke selokan. Rasanya seperti membuang malam itu.”

“Ras...”

“Aku sudah baca semua halaman. Kalimat pertama di halaman dua menyebut aku tidak menjalankan kewajiban sebagai istri dan menjadi penyebab retaknya rumah tangga. Memang itu yang Mas tulis?”

“Itu rumusan hukum.”

“Itu bohong, Mas.”

“Pengacara bilang harus ada alasan kuat supaya prosesnya cepat. Kalau tidak, urusannya bisa berlarut-larut.”

“Alasan yang kuat itu kebenaran.” Raras menarik napas, menekan dadanya yang mulai berat. “Kalau Mas yang pergi, tulis Mas yang pergi. Kalau ada Niken, tulis ada Niken. Aku tidak keberatan dengan kenyataan. Aku keberatan kalau Mas menulis kebohongan atas namaku.”

“Kalau kutulis aku yang selingkuh, Bapak tidak akan memaafkan. Pak Hartono juga.” Suara Danang merendah. “Dia sangat menjaga citra orang yang bekerja sama dengannya. Kalau mereka tahu aku penyebabnya, aku bisa kehilangan semuanya, Ras.”

“Jadi aku yang harus menanggung akibatnya supaya Mas aman?”

“Bukan begitu maksudku.”

“Tapi itu yang Mas minta.”

Hening. Di kejauhan, suara Mbok Jinem menyapu halaman terdengar teratur.

“Rumah sepi sekali, Ras. Aku sampai nggak tahu di mana menaruh gelas.”

“Gelas ada di rak kiri, Mas. Tapi selama ini Mas tidak pernah bertanya siapa yang membereskannya.”

“Aku nggak mau bohong lagi di depanmu, Ras.” Danang menelan ludah. “Iya, aku takut. Aku sudah memilih ini dan tahu aku salah. Tapi aku takut kehilangan semuanya sekaligus. Bapak, pekerjaan, reputasiku.”

“Itu alasan Mas, bukan alasan untuk menyalahkan aku.”

“Iya. Aku tahu.”

“Kalau tahu, ganti kalimatnya.” Raras memejamkan mata sejenak. “Aku tidak akan menandatangani apa pun sebelum kalimat itu diperbaiki.”

“Kamu mau memperpanjang masalah ini?”

“Aku mau suratnya sesuai kenyataan.”

“Ras, tanganmu...” Danang terdiam sejenak. “Niken cerita. Waktu itu aku refleks. Aku nggak bermaksud menyakitimu.”

“Niken yang cerita? Bukan Mas yang bertanya?”

“Aku mau tanya. Aku juga mau datang ke sana, tapi aku nggak tahu kamu di mana.”

“Aku di tempat yang tidak pernah Mas tanyakan.” Raras tersenyum pahit.

“Ras, aku kangen suaramu waktu bertanya, ‘Mas sudah makan?’”

“Itu suara yang Mas sebut datar.”

“Aku salah. Aku seharusnya tidak bilang begitu.”

“Mengakui kesalahan belum memperbaikinya.” Raras mengusap sudut matanya. “Itu yang membuat semuanya sulit, Mas.” Matanya terasa panas, tetapi ia menahannya. “Pulanglah. Ganti kalimat itu. Kalau sudah, hubungi aku lagi.”

“Kamu tidak pulang?”

“Tidak.”

Ia memutus sambungan sebelum suaranya patah.

Lama ia berdiri di sana. Kelopak kamboja jatuh sekali lagi, menempel di kebayanya. Raras menatap tangan kirinya. Cincin kawin itu sempit dan hangat di jari manisnya, seperti sudah menjadi bagian dari kulit. Ia memutarnya sekali. Dua kali.

Lalu ia melepasnya.

Cincin itu keluar dengan sedikit perlawanan, meninggalkan garis putih pucat di kulitnya. Raras menaruhnya di telapak tangan, menatap lekuk emas itu cukup lama, kemudian menggenggamnya sampai logamnya menekan daging.

“Belum dibuang,” bisiknya. “Cuma tidak dipakai.”

“RARAS!”

Teriakan itu datang dari arah regol, disusul bunyi sepatu hak berlari di atas batu pipih. Sekar muncul dari balik kamboja dengan tas jinjing yang hampir terjatuh, rambut diikat asal, kacamata miring di hidung.

“Aku dengar dari Mbok Jinem! Mana laki-laki kurang ajar itu? Biar kutendang pakai sepatu ini! Tadi di jalan aku hampir menabrak kambing, tahu nggak?”

“Kambingnya selamat?”

“Selamat. Dia malah lebih tenang dariku!”

“Sekar, pelan-pelan.”

“Nggak bisa! Kamu pulang tanpa kabar, tangan dibalut, dan Mbok Jinem cerita sambil nangis di telepon!” Sekar menarik napas, menatap wajah Raras, lalu menutup mulut dengan telapak tangan. “Ya Allah, Ras. Matamu.”

“Aku baik-baik saja.”

“Kamu jelas nggak baik-baik saja. Kamu pucat kayak lilin.” Sekar memeluknya erat sekali, sampai bahu Raras menegang, lalu perlahan melunak. “Aku di sini, ya. Aku nggak akan memaksa kamu cerita sekarang.”

“Iya.”

“Tapi nanti kamu cerita semuanya. Termasuk nama perempuan itu.”

“Namanya Niken.”

“Niken. Oke. Aku tulis di dahiku.” Sekar melepas pelukan dan melihat tangan kiri Raras yang kosong. Wajahnya berubah. “Cincinmu?”

“Sudah kulepas.”

“Bagus.” Sekar mengangguk tegas, meski matanya berkaca-kaca. “Terus sekarang kita ngapain? Makan? Nangis? Ke salon?”

“Ke kantor gudang.”

“Hah?”

“Antar aku ke kantor, Sekar. Aku mau bicara dengan Pak Hadi.”

“Sekarang? Kamu belum sarapan, tanganmu belum diperiksa, kamu juga baru pulang setelah semua itu terjadi.”

“Sekarang.” Raras mengambil tasnya. Suaranya lembut, tetapi tidak membuka ruang untuk ditawar. “Kalau aku menunda, aku akan mencari alasan untuk tidak jadi.”

Di mobil, Sekar mencengkeram setir lebih keras dari yang diperlukan. “Boleh tanya satu hal? Kalimat apa yang dia tulis?”

“Bahwa aku tidak menjalankan kewajiban sebagai istri.”

“Kamu?” Sekar menoleh, hampir menabrak trotoar. “Kamu yang bangun jam empat tiap pagi? Yang menyetrika kemejanya sampai licin?”

“Lihat jalan, Sekar.”

“Aku lihat jalan! Aku cuma lagi marah sambil nyetir!”

“Marahmu menenangkan.”

“Serius?”

“Serius. Ada yang marah buatku, jadi aku tidak perlu marah sendirian.”

Sekar terdiam sebentar. “Ras, kamu mau membalas dia?”

“Aku mau adil.”

“Adil itu bisa menyakitkan, lho.”

“Aku tahu.”

Kantor gudang berdiri di sisi barat kompleks, bangunan tua berjendela lebar dan beratap genteng tanah liat. Bau gabah dan kayu tua menyambut mereka di pintu. Pak Hadi berdiri dari balik meja yang penuh buku besar, kacamata bacanya melorot ke ujung hidung.

“Mbak Raras? Meniko kok mboten kabar rumiyin (ini kok tidak memberi kabar dulu)?”

“Maaf mengganggu pagi-pagi, Pak.”

“Mboten, Mbak. Mangga lenggah (tidak, Mbak. Silakan duduk).” Matanya turun ke tangan Raras yang masih berbalut kasa, lalu ke jari manis yang kosong. Ia tidak bertanya. “Wonten ingkang saged kulo bantu (ada yang bisa saya bantu)?”

Raras tidak duduk. Ia berdiri di depan meja itu, tangannya terlipat di depan perut, punggungnya lurus.

“Pak Hadi, saya minta Bapak mencatat dan menjalankan satu hal.”

“Inggih, Mbak.”

“Pesanan dari perusahaan Mas Danang tetap dilayani. Harga dan syaratnya sama seperti pembeli lain. Jangan mempersulit, menahan pesanan, atau merugikan mereka.” Ia berhenti sejenak. “Saya tidak mau ada sabotase. Itu bukan cara kita.”

“Inggih, Mbak. Kula cathet (saya catat).”

“Pak Hadi, selama ini apa saja yang diberikan kepada Mas Danang karena nama saya?”

Pak Hadi melepas kacamatanya, mengusap kaca dengan ujung sarungnya. “Tenggang pembayaran empat puluh lima hari, Mbak. Prioritas kiriman waktu panen, harga rekanan lama, dan beberapa pengenalan ke pemasok.”

“Itu semua diberikan karena saya yang meminta?”

“Inggih, Mbak.”

“Dan Mas Danang tidak pernah tahu?”

“Mboten, Mbak. Bapak sampun ngersaaken mekaten (tidak, Mbak. Bapak sudah menghendaki begitu).”

“Kalau begitu, tidak perlu mengumumkan apa pun. Dia akan melihat sendiri dari angka-angkanya.” Raras menarik napas. “Kalau Mas Danang menelepon, layani seperti pembeli lain. Tetap sopan dan jelaskan semuanya dengan baik. Jangan ada dendam pribadi.”

“Nggih, Mbak. Tapi apa Mbak yakin? Meniko mboten gampil (ini tidak mudah).”

“Saya belum pernah seyakin ini, Pak.”

“Ras,” bisik Sekar dari belakang, “kamu keren banget, tapi aku merinding.”

“Diam dulu, Sekar.”

“Siap.”

“Mulai hari ini, semua bantuan khusus untuk Mas Danang dihentikan.”

Pak Hadi mengangguk, lalu membuka buku besar di mejanya. “Baik, Mbak. Saya catat mulai hari ini. Semua transaksi tetap berjalan sesuai aturan yang berlaku.”

“Terima kasih, Pak. Saya ingin semuanya jelas dan bisa dipertanggungjawabkan.”

“Pasti, Mbak. Tidak akan ada yang diubah di luar ketentuan.”

Raras mengangguk. Ia tidak meminta Pak Hadi menghukum Danang. Ia hanya berhenti menggunakan pengaruhnya untuk memudahkan jalan lelaki itu. Selebihnya, Danang harus berdiri dengan usahanya sendiri.

1
Nurlaila Hidayah
Dia lah yg telah membersihkan jalan untuk ku mempermudah usahaku tnpa adanya hambatan, tapi dengan tidak tahu malu dan tidak tahu diri nya, diri ini berani untuk menduakan dan menceraikan demi wanita lain. padahal dia yg telah membantu usahaku
Sri Widiyarti
lanjut thor semangat up-nya
Erchapram: Mohon sabar menunggu ya Kak, karena aku sedang revisi mulai bab 1. Terima kasih supportnya 🙏
total 1 replies
Sri Widiyarti
Danang kesuksesanmu ternyata bantuan istri yang kau ceraikan demi perempuan lain..
Erchapram
Yang sudah baca sampai bab ini, boleh gak sih aku minta bintang limanya 🙏 Makasih banyak sebelumnya.
Sri Widiyarti
lanjut thor jangan lama2 🙏
Erchapram: Iya, Kak. Terima kasih supportnya 🙏
total 1 replies
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
Raras udh mulai bergerak ,,
Baek chanhun
next thort 💪💪
Muft Smoker
baruuu ini ad cerita byk pake bahasa daerah ,, cerita ny bagus kak ,,
lanjuut
Muft Smoker
hai kak ,, mampir aq ,,
Baek chanhun
thank, saran nya di terimah, yg bab tarakhir itu flasback ya.
🙏💪
Erchapram: Terima kasih kembali Kak dan iya, itu flashback.
total 1 replies
Baek chanhun
senang banget ada bahasa daerah, tapi, kalo ada artinya lebih bagus lagi, gua orang luar jawa ng ngerti apa.yg.di omongin, 🙏🙏
Erchapram: Sudah aku revisi Kak, bisa dibaca ulang. Terima kasih.😍
total 2 replies
Soraya
lanjut thor
Soraya
hadir thor lanjut
Baek chanhun
lanjutkan thort. 💪💪
Erchapram: Baik... terima kasih supportnya.
total 1 replies
Ma Em
mampir Thor , buat Danang menyesal karena sdh menduakan Raras .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!