✨ Sinopsis
Aluna adalah gadis cantik dan agak nakal yang tumbuh dalam kemewahan, namun yang paling berharga baginya bukan harta, melainkan dua sahabat yang selalu ada di sisinya sejak kecil: Orion — tampan, tenang, bijaksana, & pintar; serta Rexy — ganteng, tegas, sedikit tengil, namun berhati emas & menjadi pelindung setia keduanya. Ketiganya anak dari keluarga terpandang, tumbuh bersama, berjanji tak akan pernah terpisahkan.
Namun seiring berjalannya waktu, rasa persahabatan itu perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam. Baik Orion maupun Rexy sama-sama menyayangi Aluna lebih dari sekadar sahabat. Ketika hati Aluna akhirnya harus membuat pilihan sulit, ia menyadari bahwa memilih satu berarti menyakiti yang lain.
Di antara cinta & persahabatan, di antara kebersamaan & pengorbanan, ketiganya belajar: cinta sejati tidak harus memiliki, & persahabatan tulus adalah harta yang abadi selamanya. Sebuah kisah hangat tentang perjalanan hati, keikhlasan, & kebersamaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rexy dan Reputasinya di Sekolah
Suasana kantin siang itu riuh banget. Meja-meja penuh, suara tawa bertumpuk, dan di pojok ruangan, ada satu meja yang sengaja dikosongkan oleh banyak orang. Bukan karena kotor, tapi karena di sanalah Rexy duduk sambil memutar-mutar botol minumannya dengan jari, wajahnya datar banget, seolah dunia di sekitarnya nggak menarik perhatiannya sedikit pun.
Dari kejauhan, sekelompok anak kelas sebelah berbisik-bisik sambil melirik ke arah sana.
"Itu Rexy kan? Katanya kemarin dia berkelahi di luar sekolah sampai luka-luka, terus dia ditutupi sama teman-temannya."
"Iya, dengar-dengar dia itu sering bikin masalah, cuma karena dia anak orang kaya, guru nggak berani ngapa-ngapain."
"Lihat deh tatapannya, serem banget. Kayak orang yang siap pukul siapa aja yang lewat."
Kata-kata itu terdengar samar, tapi cukup jelas buat Aluna yang baru aja datang dengan nampan berisi tiga piring makanan. Langkahnya terhenti sejenak. Hatinya perih mendengar semua itu. Mereka nggak tahu apa-apa, tapi mulut mereka berani banget bilang apa saja seolah itu kebenaran mutlak.
Aluna melangkah mendekat, meletakkan nampan di meja agak keras. "Makan siang kalian sudah siap, Tuan-tuan yang lapar!" serunya ceria, berusaha menutupi perasaannya sendiri.
Rexy mendongak, wajahnya langsung berubah sedikit lebih lembut saat melihat Aluna. "Kamu lama banget, aku pikir kamu antre sampai besok pagi."
"Macet antreannya, banyak yang lapar kayak kamu nih," jawab Aluna sambil duduk di sebelah Orion, tepat di hadapan Rexy.
Orion menatap sekeliling dengan tenang. Dia jelas mendengar bisikan-bisikan tadi. "Kalian sadar nggak sih, kalau semua yang mereka omongin itu cuma omong kosong?" katanya pelan, tapi cukup terdengar oleh mereka berdua.
Rexy menyendok nasi pelannya tanpa terlihat terganggu. "Biarin aja. Biarkan mereka bicara apa yang mereka mau. Reputasi itu dibangun oleh orang yang nggak kenal kita, bukan oleh diri kita sendiri. Jadi kenapa harus peduli?"
"Gampang banget kamu ngomongnya! Mereka bilang kamu preman sekolah, berandalan, anak yang nggak bisa diatur! Padahal kamu cuma… kamu cuma melindungi aku!" Aluna menunduk, suaranya sedikit bergetar. "Kalau aku nggak nekat kemarin, kamu nggak akan terluka, dan nggak akan ada yang ngomongin kamu kayak gini."
Rexy meletakkan sendoknya perlahan, lalu menatap lurus ke mata Aluna. "Hei, tatap aku sebentar ya."
Aluna mengangkat wajah.
"Dengar aku baik-baik. Keputusan untuk ikut kamu kemarin itu keputusanku sendiri. Keputusan untuk menahan jatuhmu juga pilihanku sendiri. Aku nggak pernah merasa dirugikan sama sekali. Bahkan kalau semua orang di sekolah ini salah paham soal aku, yang penting kalian berdua tahu kebenarannya. Itu udah lebih dari cukup buat aku. Mengerti?"
"Tapi tetap aja… rasanya nggak adil," gumam Aluna.
"Dunia ini emang nggak selalu adil, Lun. Tapi bukankah lebih baik dianggap salah oleh banyak orang, tapi di hati orang yang kita sayangi kita tetap benar? Daripada dipuji semua orang, padahal mereka nggak tahu siapa kita sebenarnya?" Rexy tersenyum tipis, senyum yang terasa dewasa banget meski dia dikenal sebagai anak yang paling berisik di sekolah.
Belum lama selesai makan, masalah itu justru makin memanas. Saat Aluna berjalan ke toilet sendirian, dia berpapasan dengan ketua kelas yang dikenal suka ikut campur urusan orang lain.
"Hei, Aluna. Kamu kok akrab banget sama si preman itu? Hati-hati ketularan sifatnya lho. Nanti namamu ikut kotor," katanya sambil menyenggol bahu Aluna pelan tapi sengaja.
Aluna berhenti berjalan. Dia menarik napas panjang, berusaha menahan amarahnya. "Rexy itu bukan preman. Dia sahabatku. Dan dia jauh lebih baik daripada banyak orang yang kelihatan sopan tapi mulutnya jahat."
"Yakin? Semua orang tahu dia itu sering berantem. Mungkin dia cuma pura-pura baik sama kamu biar kamu dibela terus," jawab gadis itu sinis, lalu pergi begitu saja.
Aluna gemetar menahan tangis. Dia berjalan cepat kembali ke kelas, dan dari kejauhan dia melihat Rexy berdiri di depan sekelompok siswa yang sedang menunjuk-nunjuk arah punggungnya sambil tertawa sinis.
"Hei! Kalian ngomong apa di belakangku? Bilang aja di muka kalau berani!" bentak Rexy, suaranya menggelegar. Anak-anak itu langsung diam dan bubar seketika, ketakutan melihat tatapan tajam Rexy.
Saat mereka pergi, Rexy menghela napas kasar, menekan pelipisnya yang terasa berdenyut. Dia benci ini. Dia benci harus terlihat menakutkan. Tapi dia nggak tahu cara lain supaya orang-orang berhenti menyebarkan omongan yang salah.
Aluna berlari menghampirinya, menarik lengan Rexy pelan. "Rex, jangan marah terus-terusan dong. Semakin kamu marah, semakin mereka takut dan semakin mereka yakin kalau dugaan mereka benar."
"Lalu aku harus diam aja? Biarkan mereka menghakimiku tanpa tahu apa-apa? Biarkan mereka bilang aku orang jahat ke semua orang? Aku nggak sekuat itu, Lun!" suara Rexy meninggi, tapi bukan karena marah ke Aluna — melainkan karena dia merasa lelah banget.
Orion muncul dari balik lorong, berdiri di samping mereka. Dia meletakkan tangan di bahu Rexy. "Rex, aku tahu berat banget. Tapi kemarahanmu itu seperti bahan bakar buat cerita mereka. Semakin kamu meledak, semakin mereka punya bahan buat ngomong."
"Terus aku harus apa Rio? Tersenyum dan bilang terima kasih?" sarkas Rexy, tapi dia nggak menepis tangan Orion di bahunya.
"Kamu nggak perlu tersenyum. Kamu cuma perlu tetap jadi dirimu yang sebenarnya. Biarkan waktu yang menjawab. Orang yang benar, nggak perlu teriak-teriak supaya didengar. Perbuatanmu yang akan bicara lebih keras dari pada mulut mereka," ucap Orion tenang, seperti selalu.
Hari-hari berikutnya nggak mudah. Omongan itu nggak hilang begitu saja. Rexy tetap dijauhi banyak orang. Guru-guru juga sering mengawasinya dengan curiga, seolah menunggu dia melakukan kesalahan berikutnya. Tapi yang membuat Rexy bertahan bukan dirinya sendiri — melainkan dua orang yang selalu ada di sisinya, tanpa peduli apa yang dunia katakan tentangnya.
Suatu sore saat sekolah sudah sepi, ketiganya duduk di bangku taman favorit mereka di bawah pohon besar itu. Rexy terlihat lebih tenang dari biasanya, memandang langit yang mulai berwarna jingga keunguan.
"Kalian tahu nggak, kenapa aku sering terlihat galak dan berantem?" tiba-tiba Rexy bertanya pelan, tanpa menoleh ke mereka.
Aluna dan Orion saling melirik, lalu menggeleng pelan.
"Sejak kecil aku sering dibilang anak yang kasar karena aku nggak terlalu pandai mengungkapkan perasaanku. Kalau aku sedih, aku malah diam. Kalau aku takut, aku malah terlihat marah. Sampai akhirnya aku sadar — kalau orang sudah takut sama kamu, mereka nggak akan berani menyakiti orang yang kamu lindungi. Jadi aku mulai membiarkan citra itu terbentuk. Biarkan mereka pikir aku preman, biarkan mereka pikir aku menyeramkan. Selama kalian berdua aman dari gangguan mereka, aku rela dianggap siapa pun," pengakuan itu keluar begitu saja, berat tapi lega sekaligus.
Aluna merasa dadanya sesak. Dia menggeser duduknya, lalu memeluk lengan Rexy erat-erat. "Kamu nggak perlu jadi orang menakutkan buat melindungi kami. Cukup jadi Rexy kami — sahabat yang berisik, kadang nyebelin, tapi yang paling tulus sedunia. Itu udah cukup banget buat kami."
Orion tersenyum tulus. "Dan untuk catatanmu, reputasi di sekolah ini akan hilang begitu kita lulus nanti. Tapi persahabatan kita? Itu nggak akan berubah walau dunia membalikkan wajahnya ke kita. Ingat itu ya."
Rexy terdiam lama, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang tulus banget — senyum yang jarang dia tunjukkan ke siapa pun selain mereka berdua. "Terima kasih. Untuk tetap bertahan di sampingku, walau banyak yang bilang itu keputusan bodoh."
"Kita ini tim kan? Tim nggak pernah ninggalin anggotanya cuma karena orang lain bilang dia bermasalah," kata Aluna yakin banget.
Sore itu di bawah pohon besar itu, Rexy belajar sesuatu yang berharga — bahwa satu orang yang percaya padamu jauh lebih berharga daripada seratus orang yang memujimu tapi takut padamu. Selama ada dua orang ini di sisinya, apa pun yang dikatakan dunia luar, itu nggak penting lagi.
😊