"Om mau nyeraikan gue? Bagus dong! Mana drafnya? Gue tanda tangani sepuluh kali kalau perlu!"
Mayor Yudhana (32) mengira ancaman perceraian akan membuat Vina (20) berlutut memohon ampun. Namun, benturan keras di aspal telah menghapus seluruh kenangan penderitaan Vina selama menikah. Vina yang baru adalah gadis barbar usia 18 tahun yang sama sekali tak terintimidasi oleh baret hijau maupun pangkat tiga melati.
Saat Vina memperlakukannya seperti bapak kos galak dan sibuk mencari uang sendiri untuk angkat kaki, Mayor Yudhana terpukul oleh gengsinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Sang Mayor menyadari bahwa hal paling berbahaya bukan lagi kehilangan wibawa di Batalyon—melainkan kehilangan wanita yang baru saja mulai menguasai seluruh sudut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Ampun, Mayor!
Bukan Yudhana yang menceraikan Vina. Melainkan Vina—dengan jiwa barbarnya yang bebas dan tanpa beban masa lalu—yang melempar penawaran perceraian itu ke wajahnya dengan cara yang sangat santai, seolah-olah status sebagai 'Istri Mayor Yudhana' adalah barang murah yang sama sekali tidak bernilai di matanya.
Harga diri Yudhana hancur berkeping-keping. Ada sengatan tidak terima yang meluap kencang di dasar dadanya. Mengapa wanita ini tampak begitu bahagia dan lega saat menawarkan perceraian? Mengapa tidak ada sedikit pun raut penyesalan atau kehilangan di matanya?
"Perceraian militer tidak sesederhana yang ada di otak kamu, Vina," bisik Yudhana, suaranya terdengar makin dingin dan berjarak, berusaha keras menutupi goncangan di hatinya. "Saya perwira Batalyon. Ada prosedur komando, sidang dinas, dan izin dari keluarga besar—termasuk Opa Gema."
Vina memutar bola matanya malas. "Dih, Om yang dari kemarin koar-koar mau nyeraikan gue, begitu gue iyain malah alesan prosedur! Sebenernya niat cerai kagak sih, Om? Jangan-jangan Om gengsi ya gara-gara gue yang minta duluan?"
"Vina!" tegur Yudhana, nadanya meninggi kaku.
"Apa?!" potong Vina galak, menatap Yudhana dengan mata mendelik. "Gue cuma ngomong fakta! Kalau emang Om perwira hebat, urus tuh surat prosedur Om secepatnya. Jangan cuma gertak sambel doang di depan orang sakit. Gue tunggu surat cerainya!"
Vina membalikkan badannya membelakangi Yudhana, melipat selimut putih hingga sebatas dada, lalu memejamkan matanya dengan tenang.
"Ta, usir Om-om gengsian ini keluar," gumam Vina pelan dari balik selimut. "Gue mau tidur siang. Pusing palaku liat orang kaku yang omongannya mencong-mencong."
Ita melangkah cepat membusungkan dada di depan Yudhana. "Anda dengar sendiri kan, Komandan? Tolong tinggalkan ruangan ini sekarang. Pasien tidak boleh stres."
Yudhana berdiri kaku di tempatnya. Pria tegap itu menatap punggung Vina yang terbaring tenang di atas kasur. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang Mayor merasa kerdil, kebingungan, dan terlempar dari kendalinya sendiri.
Dengan jemari yang mengepal kencang hingga buku-buku jarinya memutih, Yudhana membalikkan badan. Langkah sepatu larsnya yang biasanya mantap dan dominan kini berderak berat, meninggalkan kamar inap itu dengan membawa luka harga diri yang tak terobati.
***
"Rumah apaan ini, Ta? Kok sepi kaku kayak museum purbakala?"
Vina menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu utama rumah dinas militer bertipe 90 itu. Hidungnya berkali-kali kembang-kempis, menghirup aroma debu tipis yang menggantung samar akibat tiga minggu rumah ini ditinggal tanpa penghuni.
Ubin keramik putih di bawah alas sandalnya berkilat kaku, bersih tanpa cela. Di dinding ruang tamu, hanya ada bingkai foto besar bersimbol kesatuan batalyon dan jam dinding kayu tua yang berdetak lambat. Tidak ada hiasan bunga, tidak ada warna-warna cerah, apalagi tawa hangat. Semuanya tampak dingin, simetris, dan mati—seperti markas hantu yang dibungkus cat tembok.
Ita, yang berjalan di sampingnya sambil membawakan tas pakaian Vina, berdeham canggung. "Ya ... kan ini rumah dinas tentara, Vin. Memang sengaja ditata rapi begini."
"Rapi sih rapi, tapi kagak ada jiwa kehidupan banget!" celetuk Vina santai, melangkah masuk tanpa canggung.
Langkah kaki santai Vina berpatukan kencang dengan lantai kayu di koridor tengah. Setelah dua minggu menjalani terapi jalan di rumah sakit untuk memulihkan otot kakinya yang sempat kaku pasca koma, gerakan Vina kini jauh lebih lincah—lengkap dengan jiwa barbarnya yang bebas lepas tanpa beban memori masa lalu.
Dari arah teras luar, derap sepatu lars yang kaku dan teratur terdengar mendekat. Mayor Yudhana melangkah masuk dengan bahu kaku terpancang tegak. Pria itu baru saja memindahkan sisa barang-barang Vina dari bagasi mobil dinasnya. Sorot matanya pekat, menatap tajam pada Vina yang sedang memiringkan kepala, mengkritik foto-foto resmi di dinding ruang tamu.
Hampir sebulan berlalu sejak hari kecelakaan itu. Selama seminggu terakhir masa terapi jalan Vina, Yudhana terpaksa menahan gelombang kejengkelan dan kebingungan yang makin menggulung di dadanya. Semua laporan staf hukum Batalyon yang ia siapkan untuk proses perceraian mendadak tertahan kaku, karena Opa Gema menolak keras menandatangani persetujuan keluarga sebelum melihat langsung kondisi Vina yang baru pulih.
"Jaga sikap kamu, Vina," tegur Yudhana, suara baritonnya yang berat memenuhi ruangan, mencoba menegakkan wibawanya yang terus tergerus. "Ini rumah dinas kesatuan. Semua barang di sini ditata sesuai aturan kedinasan, bukan tempat buat kamu mencela."
Vina memutar badannya mendadak, melipat kedua tangan di dada sambil menatap Yudhana dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Elah, Si Om datang-datang langsung pamer Aturan," cibir Vina dengan binar mata yang mengejek. "Rumah kaku kayak begini mah bikin pusing pala. Kalau gue tinggal di sini lama-lama, bisa-bisa muka gue ikut melar kaku kayak muka Om!"
Yudhana menyentak napasnya kasar. Rahang tegasnya menegang kencang hingga otot pautnya menonjol. Namun sebelum ia sempat melontarkan balasan, Vina sudah berbalik, melangkah santai menyusuri lorong menuju deretan kamar tidur.
"Mana kamar gue?" tanya Vina pada Ita.
Ita menunjuk pintu di sebelah kanan. "Kamar kamu yang itu, Vin. Yang di sebelah kamar utama."
Vina berhenti di depan pintu kamar sebelah kanan, lalu melirik ke arah pintu kayu jati tebal kamar utama di sebelahnya yang terbuka sedikit. Matanya menangkap kasur king size yang empuk dengan seprai abu-abu rapi dan pendingin udara yang sejuk.
Tanpa ragu sedikit pun, Vina memutar arah langkahnya. Ia menerobos masuk ke dalam kamar utama milik Yudhana, lalu melempar tas pakaian yang dipegangnya begitu saja ke atas kasur empuk itu hingga merusak lipatan selimut yang rapi.
"Eh!Tas gue ditaruh di sini aja!" seru Vina, lalu menepuk-nepuk kasur luas itu dengan raut gembira. "Nah, ini baru kamar! Kasurnya luas, AC-nya dingin! Mulai hari ini gue tidur di sini ya!"
Yudhana yang menyusul ke depan pintu kamar utama mendadak membeku di tempat. Wajahnya memerah padat oleh kombinasi rasa syok dan amarah yang meluap.
"Vina! Keluar kamu dari kamar saya!" bentak Yudhana, jarinya menunjuk lurus ke arah pintu. "Kamar kamu di sebelah! Sejak awal kita menikah, kita tidak pernah tidur satu kamar! Kamu paham?!"
Penegasan dingin itu memantul kencang di dinding kamar. Ita di luar pintu menahan napasnya, mengingat betapa dulu aturan 'pisah kamar' ini menjadi cambuk terselubung yang selalu membuat Vina menangis diam-diam di kamar sebelahnya setiap malam.
Namun, Vina yang ada di depan Yudhana saat ini adalah Vina—gadis barbar usia delapan belas tahun yang sama sekali tidak memiliki kenangan akan rasa sakit hati itu.
bersambung...
Alhamdulillah 🤲