Anindya Maheswari, menikah dengan Raditya Wicaksono tanpa restu dari orang tua Radit karena Anindya hanya seorang yatim piatu dan besar di panti asuhan.
Cinta tulus dari Radit membuat Anindya bertahan, berjuang bersama, banting tulang, memeras otak dan keringat. Memulai segalanya dari nol hingga akhirnya sukses.
Namun, siapa sangka setelah sukses Radit malah berkhianat? Menjalin hubungan dengan gadis yang lebih muda, memiliki seorang anak, dan bahkan selingkuhan itu sedang hamil lagi.
Membawa amarahnya yang membara, Anindya bertekad mengembalikan Radit dan keluarga nya ke keadaan semula.
“Kamu lupa satu hal. Jika aku bisa membuatmu sukses, aku juga bisa membuatnu hancur!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
.
Amarah Raditya benar-benar sudah mencapai ubun-ubun mendengar hinaan yang terlontar dari mulut istrinya. Harga dirinya diruntuhkan habis-habisan. Namun, ia terpaksa menahan diri karena saat ini benar-benar membutuhkan bantuan wanita itu.
“Sayang, kamu benar. Aku tidak bisa apa-apa tanpamu,” ucap Raditya terpaksa merendahkan diri. "Tapi perusahaan kita sedang terkena masalah besar! Kita lupa belum membayar pajak."
Raditya menatap Anindya dengan wajah memelas. "Aku mohon, tolong bantu aku membayarnya. Perusahaan ini adalah hasil jerih payahnya kita berdua. Apa kamu rela melihatnya hancur begitu saja?”
Anindya tertawa terkekeh mendengar permintaan Raditya. Matanya memicing menatap suaminya.
"Apa kamu tidak salah bicara?" ejek Anindya sinis. "Kamu suruh aku yang bayar pajak? Apa kamu lupa aku sudah lama tidak memegang perusahaan? Aku bahkan tidak punya uang sepeserpun. Kamu sebelum ngomong mikir dulu ngakak sih?”
"Jangan berbohong!!" bentak Raditya mulai hilang kesabaran. "Kalau kamu benar-benar tidak punya uang, lalu bagaimana caranya kamu bisa menginap di hotel semewah ini?!" tunjuknya ke sekeliling. "Kamu pasti diam-diam menyimpan tabungan pribadi tanpa sepengetahuan aku, kan?! Akui saja!"
Anindya menghela napas panjang pelan, lalu tersenyum miring penuh arti.
"Kamu lupa aku ada di sini sama kakakku? Tentu saja kakakku yang membiayai semuanya," jawab Anindya santai sambil menoleh ke arah Adrian dan mengedipkan sebelah matanya. "Iya kan, Kak?"
"Tentu saja. Untuk adikku tersayang, apa sih yang tidak?" jawab Adrian sambil melingkarkan tangan di belakang pundak Anindya.
Raditya tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata Anindya. "Hahaha… Kamu pikir aku sebodoh itu untuk percaya omong kosong macam ini? Kalian pasti bersekongkol untuk membohongi ku!”
"Kalau memang benar apa yang kamu katakan..." Raditya menengadahkan tangannya pada Anindya. "Sini berikan ponselmu padaku! Apa kamu berani membiarkan aku memeriksa saldo di rekeningmu?!"
Tanpa diduga, Anindya dengan santainya membuka tas yang tergantung di pundaknya, mengambil ponsel pintarnya, dan langsung melemparkan dengan keras ke dada Raditya.
Bahkan Adrian di sampingnya pun ikut terbelalak melihatnya. “Putri kecilku yang bodoh!” gumam Adrian sambil memejamkan mata erat. “Kenapa dia malah memberikan ponselnya? Itu sama saja bunuh diri!”
Raditya meringis kesakitan kala ponsel Anindya menghantam dadanya. Namun, pria itu tersenyum miring dan tanpa membuang waktu, menyambar ponsel itu dan membukanya. Sangat mudah, karena Anin tidak pernah memasang sandi pada layar ponselnya.
Dengan cepat Raditya membuka aplikasi mobile banking. Jarinya menari di layar mencari informasi saldo.
Namun... senyum di wajah Raditya perlahan memudar. Dua matanya terbelalak tak percaya. Saldo di rekening istrinya ternyata…
KOSONG
Hanya ada beberapa rupiah untuk biaya admin. Raditya mengecek rekening lain, hasilnya sama saja. Benar-benar nol besar.
"Gimana? Masih mau nuduh aku nyimpan duit?" tanya Anindya dengan nada mengejek.
Raditya menatap layar ponsel itu lagi dan lagi, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihat matanya. Ia benar-benar kecewa. Tidak ada apa-apa. Istrinya benar-benar tak memiliki sepeser pun uang saat ini.
"Tidak mungkin..." gumam Raditya pelan, tubuhnya terhuyung mundur selangkah. Wajahnya pucat pasi.
Kalau benar Anindya tidak punya uang, dan kas perusahaan juga kosong... lalu bagaimana nasibnya sekarang? Apa dia harus membiarkan aset-asetnya disita begitu saja?
Hingga kemudian, "Kalau hanya masalah pajak... sebenarnya ada satu solusi," ucap Adrian santai, kedua tangannya masih tersimpan rapi di saku celana. "Bahkan kamu tidak perlu lagi membayar sepeser pun pajak itu."
Raditya seketika menoleh tajam, matanya berbinar penuh harap. "Bagaimana caranya?!"
Adrian tersenyum menyeringai, tatapannya tajam menusuk jantung Raditya.
"Gampang. Datang ke Pengadilan Niaga, lalu ajukan permohonan PERNYATAAN BANGKRUT."
Duar!
Bagai petir menyambar tepat di atas kepala Raditya. Seluruh tubuhnya menegak kaku, napasnya tercekat di tenggorokan.
"Pe... pernyataan bangkrut?!" serunya tak percaya, suaranya bergetar hebat. "Kamu gila ya?! Mana mungkin aku rela melakukan hal itu! Perusahaan ini adalah hasil kerja kerasku! Nama baikku! Harga diriku akan hilang kalau sampai perusahaan dinyatakan bangkrut!"
Raditya benar-benar marah. Saran itu terdengar begitu gila dan mustahil. Tidak mungkin dia mengakui kekalahan dan kehancuran di depan umum!
"Dasar orang kampung! Kelihatannya saja keren, tapi tidak tahu apa-apa malah banyak omong!" umpat Raditya dalam hati, meski tak berani mengatakannya lantang karena masih butuh harapan.
"Yaa kalau tidak mau seperti itu..." Adrian kembali bersuara, membuat Raditya seketika menatapnya penuh harap, menunggu apa lagi solusi yang akan diajukan pria itu.
"Berarti hanya ada satu jalan keluar," ucap Adrian pelan namun terdengar jelas. "Ajukan pinjaman pada bank ilegal. Kamu bisa meminjam uang di sana untuk membayar pajak itu sekarang juga, dan bayarlah kembali nanti setelah perusahaanmu kembali bangkit dan berjalan lancar," lanjut Adrian seolah menawarkan jalan keselamatan.
“Tapi… aku tidak pernah melakukan peminjaman seperti itu,” gumam Raditya lemah.
"Kalau kamu mau, aku bisa memperkenalkan kamu kepada orang-orang tersebut. Kamu akan sangat mudah mendapatkan pinjaman dalam jumlah besar untuk menutupi utang pajakmu itu," tawar Adrian lagi. "Tapi ingat... bunganya memang besar, dan kamu harus membayarnya tepat waktu sesuai kesepakatan."
Seketika mata Raditya berbinar. Pikiran tentang bahayanya rentenir atau bank gelap ia abaikan. Yang ada di kepalanya sekarang hanyalah bagaimana caranya agar masalah 8 miliar itu segera selesai, dan aset perusahaan tidak disita.
"Benarkah?!" seru Raditya antusias. "Aku bisa dapat uang tunai sekarang juga?!"
"Tentu saja," jawab Adrian singkat.
Tanpa berpikir panjang, tanpa mempertimbangkan resiko apa yang akan menimpanya nanti, Raditya langsung mengangguk setuju berkali-kali.
"Aku setuju! Tolong perkenalkan aku pada mereka sekarang juga!" seru Raditya dengan semangat.
Di samping Adrian, mata Anindya memicing tajam menatap setiap perubahan raut kakak angkatnya.
Sebagai wanita yang cerdas, Anindya langsung paham betul apa maksud tersembunyi di balik tawaran "baik hati" itu.
'’Kak Rian… Kenapa aku baru tahu kalau kamu ternyata sekejam ini? Kamu bukan mau menyelamatkannya, tapi justru menjerumuskan dia lebih dalam ke lubang neraka?'’
Anindya tahu betul apa itu "bank ilegal" atau rentenir. Bunganya mencekik, caranya kejam, dan sekali masuk ke sana, sulit untuk keluar dengan selamat.
Tapi anehnya... Anindya sama sekali tidak merasa ingin menolong Raditya. Justru di sudut hatinya yang terdalam, ia setuju dengan apa yang dilakukan Adrian.
‘'Biarlah...'’ pikirnya dingin. '’Itu hukuman yang pantas untuknya. Dia sudah menghancurkan kepercayaanku. Biar dia rasakan sakitnya jatuh tak bisa berdiri!”
Orng lain aja tau spa yg lbih pntr,tp dia msih bs songong tnpa tau kl dia ga bsa apa2 tnpa anin.....
heraaaannn....sbnrnya pas pmbgian otak,dia kbgian ga sihhhh?????🤣🤣🤣