Aurelia baru saja akan menikmati masa mudanya sebagai gadis single yang bebas, sampai sebuah kecelakaan menyeret jiwanya ke tubuh Nadia Atmaja. Saat terbangun di ranjang rumah sakit, hal pertama yang ia rasakan bukanlah sakit kepala, melainkan beban berat di bagian perutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 6
***
Aurelia atau yang kini harus terbiasa dipanggil Nadia mengerjap-ngerjap saat cahaya sore yang keemasan menembus jendela kamar mewahnya. Ia baru saja melewati tidur siang yang paling nyenyak dalam dua kehidupan yang berbeda. Namun, kenyamanan itu segera digantikan oleh suara keroncongan yang sangat tidak elit dari perutnya.
"Astaga... ini bayi atau monster kecil sih? Baru tadi pagi makan bubur, sekarang udah demo lagi," keluh Nadia sambil mengelus perut buncitnya.
Ia pun bergegas turun. Mansion megah itu tampak lebih tenang sore ini. Begitu sampai di dapur, ia menemukan Bi Sum sedang merapikan rak piring.
"Ibu sudah bangun?" sapa Bi Sum dengan wajah cerah.
"Sudah, Bi. Tidur terlalu lama ternyata tidak bagus untuk kesehatan ya, badan saya rasanya malah pegal semua," jawab Nadia sambil melakukan peregangan kecil.
Bi Sum terkekeh lembut. "Wajar, Bu. Namanya juga sedang berbadan dua, apalagi tadi pagi Ibu sempat syok dan mual. Fisik Ibu pasti terkuras."
Mendengar kata mual, Nadia teringat kembali "kemenangan" besarnya tadi pagi. "Oh iya, Bi... Nyonya Besar sama ulat—eh, maksud saya Siska, sudah pergi?"
"Sudah, Bu. Setelah diusir secara halus... ah, maksud saya secara tegas oleh Bapak, mereka langsung pulang dengan muka yang sangat masam. Non Siska bahkan tidak berhenti menggerutu soal harga parfumnya," cerita Bi Sum dengan nada sedikit berbisik.
Nadia tersenyum puas. "Baguslah. Rumah jadi terasa lebih segar tanpa bau kimia itu. Ngomong-ngomong, Mas Raditya mana?"
"Bapak langsung berangkat ke kantor setelah memastikan Ibu tertidur pulas tadi. Beliau tampak sangat terburu-buru, mungkin ada rapat penting yang tertunda," jawab Bi Sum.
"Ck, kenapa cuek sekali sih? Habis gendong-gendong romantis, langsung kabur," gumam Nadia pelan. Ia menyenderkan tubuhnya di meja dapur. "Untung dia ganteng level dewa, kalau enggak, udah gue bejek-bejek itu laki."
Dug!
Tiba-tiba Nadia merasakan dorongan kuat dari dalam rahimnya. Ia tersentak dan memegangi perutnya.
"Kenapa, Bu? Ada yang sakit?" tanya Bi Sum panik.
"Eh, enggak Bi. Bukan sakit," Nadia tertawa kecil. "Sepertinya anaknya denger ibunya lagi ngomongin Papanya. Tapi yang lebih penting sekarang... Bi, saya laper banget. Tapi saya lagi nggak mau makan nasi."
"Lalu Ibu mau makan apa? Biar saya siapkan semuanya."
Nadia menyunggingkan senyum jahil yang membuat Bi Sum sedikit bingung. "Bi, di kulkas ada mangga muda nggak? Yang asemya minta ampun itu?"
**
Setengah jam kemudian, suasana di gazebo belakang mansion berubah drastis. Jika biasanya area itu sunyi dan formal, sore ini justru riuh dengan tawa. Nadia duduk lesehan di karpet gazebo, dikelilingi oleh Bi Sum, dua orang pelayan muda bernama Siti dan Lilis, serta Pak Slamet si tukang kebun yang tadi membantu memetik mangga.
Di depan mereka tersedia piring besar berisi irisan mangga muda, kedondong, dan jambu air. Sambal kacang dengan cabai rawit yang melimpah menjadi primadonanya.
"Duh, Bu... apa nggak apa-apa makan pedas begini?" tanya Siti khawatir namun tangannya tetap lincah mencocol mangga.
Nadia tertawa renyah, "Nggak apa-apa, Siti! Anak saya ini kayaknya jiwanya jiwa petualang, dia bosen dikasih bubur sehat terus. Dia mau yang greget!"
Siti dan Lilis tertawa. Mereka benar-benar tidak menyangka Nyonya Nadia yang dulu sangat tertutup dan pemalu, kini bisa duduk bersama mereka, bercerita tentang betapa sulitnya mencari buah mangga yang benar-benar kecut di supermarket.
"Iya, Bu! Tadi Pak Slamet sampai harus manjat pohon di belakang tembok pagar karena yang di dalam mansion mangganya sudah pada manis," celetuk Lilis sambil terkikik.
"Kalian ini luar biasa. Besok-besok kalau saya ngidam yang aneh lagi, jangan kapok ya!" ucap Nadia ramah. Ia merasa sangat bahagia.
Di kehidupan lamanya, ia adalah gadis yang supel, dan terperangkap dalam tubuh Nadia yang pasif sungguh menyiksa. Sore ini, ia merasa menjadi dirinya sendiri.
Namun, keceriaan itu mendadak menguap seperti embun terkena api.
Langkah kaki yang berat dan tegas terdengar di jalan setapak marmer menuju gazebo. Suara itu begitu dominan, membuat Siti, Lilis, dan Pak Slamet seketika mematung. Wajah mereka berubah pucat pasi, lalu serentak berdiri dan menunduk dalam.
Nadia terkejut melihat perubahan suasana itu. Ia menoleh dan mendapati suaminya, Raditya Hadiwinata, berdiri di sana. Raditya masih mengenakan kemeja putihnya yang lengannya digulung setengah, tapi matanya menatap tajam ke arah piring-piring rujak di depan Nadia.
"Mas Radit? Mas sudah pulang? Tumben jam segini sudah di rumah," sapa Nadia, mencoba mencairkan suasana meski jantungnya berdegup kencang karena aura dingin yang dibawa suaminya.
Raditya tidak menjawab sapaan itu. Ia menatap para pelayan dengan tatapan yang bisa membekukan air terjun. "Kenapa kalian masih di sini? Kembali bekerja," perintahnya dengan suara bariton yang rendah namun sarat ancaman.
"Ba-baik, Bapak!" Para pelayan itu lari terbirit-birit, menyisakan Nadia sendirian di gazebo dengan sisa-sisa mangga mudanya.
Raditya melangkah masuk ke gazebo, berdiri tepat di depan Nadia yang masih duduk. "Apa yang sedang kamu lakukan?"
"Makan mangga muda, Mas. Ini... rujak," jawab Nadia pelan, sedikit merasa terintimidasi.
"Apakah kamu tahu itu tidak ada nutrisinya sama sekali, Nadia? Kamu baru saja keluar dari rumah sakit karena jatuh dari tangga, dan sekarang kamu makan makanan asam dan pedas seperti ini?" suara Raditya naik satu oktav. "Kamu pikir ini main-main?"
Nadia tersentak. Ia merasa hatinya mencelos. Padahal ia baru saja merasa bahagia. Kenapa pria ini selalu punya cara untuk merusak suasana?
"Tapi Mas... ini anaknya yang mau," ucap Nadia dengan suara yang mulai bergetar. Efek hormon kehamilan membuat perasaannya sepuluh kali lipat lebih sensitif. "Aku juga sebenarnya nggak suka buah asam, tapi tiba-tiba saja pengin banget makan mangga muda. Aku cuma... aku cuma mau ngerasain ini sebentar."
Raditya mendengus kasar. "Alasan klasik. Kamu hanya mengikuti keinginan konyolmu tanpa memikirkan resiko bagi janin itu. Jangan egois, Nadia."
Mata Nadia mulai berkaca-kaca. Perasaan hangat dari kebersamaannya dengan para pelayan tadi hilang seketika, digantikan oleh rasa sesak di dada. "Egois? Mas bilang aku egois? Aku yang bawa beban ini setiap hari, Mas! Aku yang ngerasain mual, aku yang ngerasain pinggang mau patah, dan Mas dengan gampangnya bilang aku egois cuma karena aku pengen makan mangga?"
Air mata Nadia jatuh tanpa bisa ditahan. Ia berdiri dengan susah payah, memegangi perutnya yang tiba-tiba terasa tegang lagi kali ini bukan karena bayi, tapi karena stres.
"Mas nggak pernah tahu rasanya jadi aku! Mas cuma tahu kerja, kerja, dan kerja! Kalau Mas nggak suka lihat aku makan ini, ya sudah!" Nadia melempar garpu kecilnya ke piring dengan bunyi berdenting nyaring.
Raditya terpaku. Ia tidak menyangka Nadia akan meledak seperti itu. Biasanya, istrinya itu hanya akan diam dan meminta maaf sambil menunduk. Melihat air mata yang mengalir deras di pipi istrinya yang cantik, ada sesuatu yang berdenyut aneh di dada Raditya. Sebuah rasa bersalah yang ia sendiri tidak paham dari mana asalnya.
"Nadia, saya bukan maksud—"
"Terserah Mas Radit saja! Mas memang egois, nggak punya perasaan!" Nadia berjalan melewati Raditya dengan langkah cepat meski sedikit goyah, meninggalkan suaminya yang berdiri mematung di gazebo yang kini terasa sangat sunyi.
Raditya melihat piring rujak yang ditinggalkan. Ada rasa penyesalan yang samar saat ia menyadari bahwa untuk pertama kalinya, ia melihat Nadia tampak begitu "hidup" saat bersama para pelayan tadi, dan ia baru saja menghancurkan binar di mata itu.
****
Bersambung
Ehemm, gimana nih lanjut engga ya ,,,,
🫣🫣🫣🫣
kl d blangin sm suami tu nurut...
udh tau bnyak msuh,mlah sntai bgt kluar sndrian.....mnimal ingt lh sm perutmu yg ada bayi d dlm,jgn cma mkirin diri sndri......
aku udh mmpir....slm knal....
Aku syuka crtanya........tipe istri yg ga menye2,trs suami posesif.....mskpn d awl dia acuh,tp akhrnya jd bucin.....
d tnggu up'ny.....smngtt.....😘😘😘
ehhhh
suka semua ceritamu deng🤣
tunggu aksi luar biasa bumil thor