Mita Septia, seorang gadis manis yang berprofesi sebagai Guru PJOK di sekolah terpencil Kecamatan Entikong, kabupateng Sanggau perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran Malaysia. Ia telah menjalin hubungan asmara dengan Denis yang menjabat sebagai CSR Supervisor di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Kalimantan Barat. Hubungan yang telah berjalan hampir 3 tahun, membuat keduanya berencana meresmikan di akhir tahun. Tetapi kenyataan tak sesuai harapan Mita. Denis telah berpaling hati, hingga membuat rekan kerjanya hamil. Tak bisa menghindari tanggung jawab, Denis melupakan janji yang telah ia susun bersama Mita. Keputusan Denis tentu saja menghancurkan hati Mita, dalam kelukaan atas kabar yang dikirim Denis mempertemukan ia dengan seorang Abdi Negara berpangkat Kapten yang bernama Reihan. Akan kah Kapten Reihan mampu menyembuhkan segala luka yang dialami Mita....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Ketika Janji Kalah oleh Kepentingan
Ruang tamu keluarga Hendro terasa lebih sunyi daripada biasanya. Mita duduk di salah satu sofa dengan kedua tangan saling bertaut di pangkuan. Di hadapannya, Denis berdiri dekat jendela.
Mita menatap Denis, “Sekarang mas bisa mengatakan padaku,” katanya. “Aku ingin mendengar semuanya tanpa ada yang ditutupi.”
Denis menarik napas Panjang, “Aku sudah menjelaskan lewat pesan, Mit. Siska hamil. Aku harus bertanggung jawab atas anak itu.”
“Aku tahu dia hamil. Yang ingin aku tahu, bagaimana semua ini bisa terjadi?” Mita berusaha mempertahankan ketenangannya. “Kita masih berhubungan. Kita masih membicarakan rencana pernikahan. Beberapa minggu lalu kamu bahkan mengatakan bahwa orang tuamu akan datang membicarakan lamaran.”
Denis terdiam. Menarik nafas perlahan dan menghelanya dengan berat, berharap beban yang ia pikul karena telah menduakan Mita bisa berlalu dengan segera.
“Apakah selama ini mas menjalin hubungan dengan Siska di belakangku?”
Pertanyaan itu membuat Denis mengalihkan pandangan, “Aku tidak merencanakan semuanya seperti ini.”
“Bukan itu jawaban yang ingin ku dengar,” ita menggeleng pelan.
Ia tidak pernah membayangkan harus memaksa seseorang yang dicintainya untuk berbicara jujur. Selama ini, ia percaya bahwa Denis adalah laki-laki yang cukup dewasa untuk bertanggung jawab atas perkataan dan perbuatannya.
“Aku tidak meminta kamu mengarang alasan. Aku hanya ingin tahu kebenarannya.”
Denis akhirnya duduk di kursi Seberang, “Hubunganku dengan Siska awalnya hanya sebatas rekan kerja. Kami sering bepergian bersama. Lalu, semuanya menjadi semakin dekat.”
“Sejak kapan?”
Denis mengusap wajahnya, “Beberapa bulan terakhir.”
Mita merasa dadanya semakin sesak, “Beberapa bulan terakhir…”
Pada waktu itu, mereka masih saling mengirim kabar, membicarakan pertemuan keluarga, dan menyusun rencana untuk masa depan. Denis masih memanggilnya dengan sebutan kesayangan. Ia bahkan pernah berjanji akan menghabiskan liburan akhir pekan bersamanya.
Sementara itu, di tempat lain, hubungan Denis dengan perempuan lain telah berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih intens.
“Jadi, ketika mas mengatakan sibuk dengan pekerjaan, sebenarnya mas juga sedang bersama Siska?”
“Mit, jangan membuat semuanya semakin sulit.”
Mita tersenyum getir, “Aku yang membuat semuanya sulit? Aku datang dari Perbatasan untuk mencari jawaban, Mas. Aku tidak datang untuk bertengkar. Aku hanya ingin memahami bagaimana seseorang bisa berubah begitu jauh tanpa pernah memberi kesempatan kepada pasangannya untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.”
Denis tidak menjawab.
Mita mengusap pipinya yang mulai basah, “Apakah mas pernah berpikir tentang perasaanku? Tentang kedua orang tuaku? Tentang Om Hendro dan Tante Sarah yang selama ini merestui hubungan kita?”
Sarah yang datang membawa minuman dan berdiri di antara mereka terhenyak. Ia tak sanggup menatap wajah Mita terlalu lama.
“Mita, Tante minta maaf,” ucapnya lirih, membuat Denis dan Mita terkejut menyadari kehadirannya.
Mita berpaling kepadanya, “Maaf untuk apa, Tante?”
Sarah tampak kesulitan merangkai kata, “Untuk keadaan ini. Tante tahu kalian sudah lama bersama. Tante juga tahu orang tuamu berharap banyak pada hubungan kalian.”
“Lalu, apakah Tante dan Om juga sudah mengetahui semuanya sejak awal?” kejar Mita seketika.
Pertanyaan itu membuat suasana semakin tegang.
Sarah terdiam cukup lama sebelum menjawab, “Om dan tante baru mengetahui masalah ini ketika Denis memberi tahu kami tentang kehamilan Siska, dan keinginannya menikahi perempuan itu.”
“Apakah Tante menyetujui pernikahan mereka?” Mita terus mencecar perempuan yang sudah ia anggap ibu kedua.
Sarah menghela napas, “Denis mengatakan dia harus bertanggung jawab. Kami tidak mungkin meminta dia mengabaikan anak yang akan lahir. Tetapi, Ta... Tante tahu keputusan ini menyakitkanmu.”
Mita menatap perempuan yang selama bertahun-tahun dianggapnya seperti keluarga sendiri. Ia tidak menyalahkan seorang anak yang belum lahir. Ia juga memahami bahwa kehamilan membawa tanggung jawab yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Namun, ia tetap tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa Denis telah mengkhianati kepercayaan yang diberikan kepadanya.
“Tante, saya tidak pernah meminta mas Denis meninggalkan tanggung jawabnya. Kalau memang dia telah melakukan kesalahan, dia harus bertanggung jawab. Tetapi, mengapa saya harus mengetahui semuanya melalui pesan? Mengapa tidak ada satu pun dari kalian yang merasa perlu berbicara kepada saya sebelumnya?”
Sarah menutup wajahnya sejenak.
Tidak lama kemudian, terdengar langkah kaki dari arah tangga.
Hendro memasuki ruang tamu. Wajahnya tampak serius ketika melihat Mita. Ia telah mendengar sebagian percakapan mereka dari lorong dan memahami bahwa kedatangan perempuan itu bukan sekadar kunjungan biasa.
“Ta, kamu sudah datang,” katanya berbasa-basi.
Mita berdiri dan menyalami laki-laki yang selama ini dihormatinya, “Iya, Om.”
Hendro mempersilakannya duduk kembali. Setelah mengambil tempat di samping Sarah, ia memandang Mita dengan tatapan yang sulit dibaca.
“Om sudah mendengar pembicaraan kalian. Om tahu kamu kecewa. Tetapi, ada beberapa hal yang harus kita pikirkan secara dewasa.”
Mita mengangguk, meskipun hatinya terasa tidak tenang, “Silakan, Om.”
Hendro menyatukan kedua tangannya di atas pangkuan, “Denis telah mengambil keputusan. Siska sedang mengandung anaknya. Sebagai orang tua, kami tidak ingin dia menghindari tanggung jawab. Mereka berdua harus menikah.”
Mita menatap Hendro, menunggu kelanjutan kalimatnya.
“Karena itu,” lanjut Hendro, “Om berharap kamu bisa menerima kenyataan ini dan tidak lagi menggantungkan harapan pada Denis.”
Kalimat tersebut terasa seperti pintu yang ditutup tepat di hadapannya.
Mita berusaha menahan air matanya, “Om, apakah selama ini hubungan saya dan mas Denis tidak pernah dianggap serius oleh keluarga ini?”
“Bukan begitu, Nak.”
“Lalu, mengapa saya diminta mundur begitu saja? Kami sudah merencanakan masa depan bersama. Kedua orang tua saya juga sudah mengetahui rencana pertemuan keluarga. Saya datang ke sini karena ingin menyelesaikan semuanya dengan baik.”
Hendro menghela napas.
“Om memahami itu. Tetapi, keadaan sudah berubah. Denis akan menjadi ayah. Dia harus menikahi Siska. Kami berharap kamu tidak memperpanjang persoalan ini.”
Mita menoleh kepada Denis, “Apakah itu juga keinginanmu Mas?”
Denis menatap lantai sebelum menjawab, “Iya, Ta. Aku harus menikahi Siska.”
Mita memejamkan mata. Ada bagian dalam dirinya yang masih berharap Denis akan berubah pikiran, menjelaskan bahwa semuanya terjadi karena kekeliruan, atau setidaknya menunjukkan penyesalan yang sungguh-sungguh. Namun, laki-laki itu tetap bertahan pada keputusannya.
“Apakah mas masih mencintaiku?” tanyanya lirih.
Denis tampak gelisah, “Perasaan itu tidak sesederhana yang kamu pikirkan.”
Mita tersenyum pahit, “Jadi, mas bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana itu.”
“Ta, jangan membuat keadaan semakin rumit,” potong Hendro. “Kalian sudah dewasa. Tidak semua hubungan akan berakhir seperti yang kamu inginkan.”
Mita menatap laki-laki itu dengan mata berkaca-kaca, “Benar, Om. Tidak semua hubungan berakhir seperti yang kita inginkan. Tetapi, bukankah seharusnya hubungan diakhiri dengan kejujuran, bukan dengan pengkhianatan dan keputusan sepihak?”
Tidak ada yang menjawab.
Di luar rumah, suara kendaraan sesekali terdengar melewati jalan perumahan. Dunia tetap berjalan, sementara Mita merasa waktu berhenti di ruang tamu itu.
Akhirnya, ia berdiri dan meraih tasnya, “Saya mengerti, Om. Tante, Mas Denis. Saya tidak akan menghalangi pernikahan kalian. Saya juga tidak akan meminta mas Denis kembali kepada saya.”
Sarah segera berdiri, “Mita, Nak....”
Mita mengangkat tangannya pelan, memberi isyarat bahwa ia perlu menyelesaikan kalimatnya, “Saya datang karena ingin mendapatkan kepastian. Sekarang saya sudah mendapatkannya. Saya hanya berharap, suatu hari nanti, kalian bisa memahami bahwa saya juga manusia yang memiliki perasaan.”
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan, “Saya pernah menganggap rumah ini sebagai rumah kedua saya. Saya pernah membayangkan akan menjadi bagian dari keluarga ini. Karena itu, saya tidak pernah menyangka harus datang ke sini untuk mendengar bahwa semua rencana itu sudah tidak berarti.”
Sarah menangis pelan. Hendro menundukkan kepala, sedangkan Denis tetap diam.
Mita menatap laki-laki yang pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya, “Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu, Mas. Semoga kamu benar-benar siap menjalani kehidupan yang sudah kamu putuskan sendiri.”
Ia tidak menunggu jawaban. Dengan langkah yang terasa berat, Mita berjalan menuju pintu. Sarah mengikutinya sampai teras, tetapi Mita hanya berhenti sebentar.
“Tante, saya pamit.”
“Maafkan kami, Nak.”
Mita menatap Sarah. Ada begitu banyak kenangan baik di antara mereka, dan justru itulah yang membuat perpisahan ini terasa semakin menyakitkan.
“Saya tidak tahu apakah saya bisa menerima semuanya hari ini, Tante. Tetapi, saya tidak ingin menyimpan kebencian.”
Ia melangkah keluar pagar. Di hadapannya, jalanan tampak sama seperti ketika ia datang. Pohon-pohon di tepi jalan masih berdiri, kendaraan tetap berlalu-lalang, dan beberapa anak kecil bermain di halaman rumah tetangga.
Tidak ada yang berubah di luar sana. Hanya dirinya yang merasa telah kehilangan sesuatu yang tidak mungkin dikembalikan seperti semula.
Mita menghubungi ibunya dan menanyakan keberadaan mereka, begitu keluar dari pekarangan rumah megah itu. Rumah Denis dan rumah mereka hanya dibatasi 7 rumah di komplek yang cukup terkenal di kota Pontianak itu.
Ketika Riani menanyakan apakah pertemuannya berjalan baik, Mita hanya mampu menjawab singkat.
“Ma, aku sudah mendapatkan jawabannya.”
“Lalu bagaimana, Nak?” Riani sudah tak sabar mendengar jawaban.
Mita menatap rumah Denis dari kejauhan setelah ia sudah sampai di halaman rumahnya yang kelihatan masih sepi.
“Mereka memilih untuk menikahkan mas Denis dengan Siska. Aku diminta mundur dari semua rencana yang pernah kami buat.”
Riani terdiam.
Mita menutup mata, membiarkan air matanya kembali mengalir
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Mita menyadari bahwa ia harus belajar melepaskan seseorang yang pernah diyakininya akan menjadi teman hidup sampai akhir usia.