NovelToon NovelToon
Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:2.7M
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Rumah tangga Kartika dan Deva sudah 10 tahun dan berjalan baik, walau sering mendapatkan banyak rongrongan dari keluarga Deva, entah itu orang tuanya atau adik-adiknya yang suka bergantung kepadanya.

“Kartika, mulai sekarang kebutuhan rumah tangga kita bagi dua. Karena ibu ingin membeli rumah baru untuk Gavin, setoran tiap bulannya tiga juta setengah,” kata Deva di tengah-tengah kumpulan keluarganya.

Mendengar itu Kartika menahan amarah dan kesal. Gaji Deva sebanyak 25 juta sebagian besar digunakan untuk keluarganya.

“Makanya kamu harus bekerja, jangan cuma mengandalkan uang anakku saja!” ucap Bu Hania, mertuanya.

Karena rasa cinta Kartika yang begitu besar kepada Deva, dia sampai meninggalkan rumah dan harta kekayaannya. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga agar bisa mengurus suami, anak, dan rumah.

“Oke! Kalau begitu, maka mulai sekarang aku pun akan minta bayaran untuk semua hal yang aku kerjakan di rumah,” balas Kartika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Jam istirahat baru saja dimulai ketika Deva keluar dari kantor dengan langkah tergesa. Sejak pagi pikirannya tidak tenang. Tangannya berkali-kali meraih ponsel.

Membuka chat Kartika. Mengetik sesuatu, lalu menghapusnya lagi. Pesan terakhirnya bahkan masih centang satu. Sejak malam nomornya tidak aktif.

“Sayang kamu di mana?” gumam Deva lirih.

Mobil melaju membelah jalanan kota yang mulai ramai. Mata Deva terus bergerak ke kanan dan kiri. Setiap melihat perempuan berhijab dengan dua anak kecil, jantungnya langsung berdebar berharap itu Kartika. Namun setiap kali mobil melewati mereka, ternyata bukan.

Deva menggenggam setir semakin kuat. Bayangan kehilangan Kartika dan kedua anaknya terus menghantui.

Tak lama kemudian mobilnya melambat di depan butik milik Anggun. Mata Deva langsung sedikit berbinar.

“Kenapa aku enggak kepikiran tempat ini, ya?” gumamnya pelan. “Kenapa aku tidak tanya sama Anggun saja? Siapa tahu Kartika ke sini?”

Deva buru-buru turun dari mobil lalu masuk ke butik yang siang itu cukup ramai. Suara musik lembut terdengar mengalun di dalam ruangan. Beberapa pegawai sibuk melayani pelanggan.

Seorang resepsionis langsung menyambut ramah. “Selamat siang, Pak. Ada yang bisa dibantu?”

“Saya mau ketemu Bu Anggun.”

Wanita itu tersenyum sopan. “Bu Anggun sedang enggak ada di tempat, Pak.”

Deva mengernyit. “Lagi keluar?”

“Iya, Pak. Selama seminggu ini Bu Anggun ada kegiatan pertemuan dan pameran desainer di luar kota.”

Seketika harapan kecil di hati Deva runtuh lagi. “Oh...” jawabnya lirih.

“Berarti Kartika tidak di sini. Atau mungkin memang sengaja tidak mau ditemui sama aku.” Pikiran itu langsung membuat Deva terasa nyeri.

“Terima kasih ya, Mbak,” ucap Deva pelan sebelum berbalik pergi.

Begitu keluar butik, Deva berdiri beberapa detik di samping mobil sambil mengusap wajah kasar. 

Panas matahari siang terasa menyengat. Namun, kepalanya terasa jauh lebih panas. Ia tidak tahu harus mencari ke mana lagi. Kartika benar-benar menghilang dan itu membuatnya mulai panik.

Mobil kembali melaju tanpa arah yang jelas. Sampai tiba-tiba Deva melirik sebuah bangunan sekolah dasar di pinggir jalan. Seketika sebuah ide muncul di kepalanya. 

Mungkin Kalingga tetap masuk sekolah. Mungkin Kartika hanya pergi sebentar untuk menenangkan diri. Harapan kecil itu membuat Deva langsung membelokkan mobil masuk ke area sekolah putranya.

Setelah berbicara sebentar dengan satpam, ia diizinkan masuk. Suasana sekolah siang itu cukup ramai. Suara anak-anak terdengar riuh dari kejauhan.

Biasanya suasana seperti ini membuat Deva tersenyum. Namun, sekarang hatinya malah terasa makin kosong. Langkahnya berhenti di depan ruang guru.

Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya keluar sambil tersenyum ramah. “Eh, Pak Deva.” Bu Reni, wali kelas Kalingga.

“Ada yang perlu dibantu lagi, Pak?”

Alis Deva langsung berkerut bingung. “Lagi?”

“Iya.” Bu Reni terlihat heran. “Bukannya tadi pagi semua administrasi sudah selesai urusannya?”

Jantung Deva mulai berdetak aneh. “Bu, apa Kalingga masuk sekolah hari ini?”

Bu Reni tampak bingung melihat ekspresi Deva. Wanita itu berkedip beberapa kali.

“Loh, bukannya Kalingga pindah sekolah ya, Pak?”

Tubuh Deva langsung membeku. “Apa?” suaranya hampir tidak keluar.

“Tadi pagi Bu Kartika datang ke sini,” lanjut Bu Reni hati-hati. “Ngurus surat pindah sekolah Kalingga ke kota sebelah.”

Dunia Deva seperti runtuh saat itu juga. Tangannya perlahan turun lemas ke samping tubuh. Kartika benar-benar pergi. Istrinya itu bukan hanya sekadar marah atau menghindar sebentar, tetapi benar-benar pergi jauh membawa anak-anaknya. Bahkan sekolah Kalingga sudah dipindahkan.

Deva sampai sulit bernapas beberapa detik. Bayangan Kartika berjalan keluar rumah semalam tiba-tiba kembali memenuhi kepalanya. Tatapan dingin istrinya, nada kecewanya. Ucapan wanita itu yang masih terngiang jelas—

"Mas tahu sendiri aku sudah lelah menghadapi keluargamu itu. Jika Mas Deva masih mau bertahan di sini sama mereka, aku tidak masalah. Namun, jika ingin ikut sama aku, maka bersiaplah untuk tidak terlibat apa pun lagi sama mereka!" ucap Kartika tegas. 

Deva memejamkan mata kuat-kuat. Dadanya terasa diremas, sakit sekali.

“Segitu marahnya kah kamu sama aku, Kartika?” batin Deva hancur. “Sampai pergi sejauh ini membawa anak-anak.”

Bu Reni mulai merasa tidak enak melihat wajah Deva yang pucat. “Apa, Bu Kartika belum bilang sama Bapak?” tanyanya pelan.

Deva hanya menggeleng lemah. Bibirnya terasa berat bahkan untuk sekadar menjawab. Ia tidak tahu harus merasa marah atau takut.

Karena Kartika memilih meninggalkan dirinya. Dan yang paling membuat Deva terpukul, istrinya pergi tanpa meminta untuk ditahan.

Bu Reni menghela napas kecil. “Semoga masalah rumah tangga Bapak cepat selesai ya,” katanya hati-hati. “Kasihan anak-anak kalau sampai orang tuanya pisah.”

Kalimat itu seperti pisau yang menusuk tepat ke dada Deva. Pisah, kata itu terdengar mengerikan sekali.

Deva langsung menunduk. “Terima kasih, Bu,” jawabnya lirih.

Langkah pria itu terasa berat saat keluar dari sekolah. Setiap sudut sekolah tiba-tiba mengingatkannya pada Kalingga. Tempat anak itu biasa berlari. Tempat Kartika menunggu sepulang sekolah. Sekarang semuanya kosong.

Sementara itu di kota sebelah, sebuah mobil hitam berhenti pelan di depan rumah besar bergaya klasik modern. Kalingga langsung melongo dari balik jendela.

“Mama,” gumamnya pelan. “Rumahnya gede banget!”

Kaivan bahkan sampai membuka mulut kecilnya lebar-lebar. “Waaaah ...!”

Gerbang tinggi perlahan terbuka otomatis. Halaman rumah itu luas sekali dengan taman hijau yang rapi dan kolam kecil di samping teras.

Kartika turun dari mobil sambil menarik napas pelan. Sudah lama sekali ia tidak pulang ke rumah itu. Rumah tempat ia tumbuh besar.

“Non Kartika!” Suara parau penuh haru terdengar dari arah pintu depan.

1
Anre1201
Berpisah baik untuk koreksi + Introspeksi diri masing-masing, kalau masalah benar-benar tidak bisa di selesaikan, tidak ada yang mau mengalah, menurunkan ego, berpikir jernih, melihat jauh ke depan..
Lebih baik berpisah dulu, sebulan - dua bahkan 1 tahun.. Tidak masalah...
Maka kalau harus bercerai.. Mungkin sudah final 🤔
Anre1201
Mending Kartika pura-pura bodoh dan bilang : ya sudah mas, ganti pakai simpanan kita dulu 35jt, tapi Gavin harus bayar setiap bulan karna itu di anggap Hutang
Anre1201
Banyak orangtua yang bilang, setelah nikah, anak-anak wajib bantu orangtua. Malah keluarga pihak suami / istri kadang jadi parasit dan benalu.
Kalau tidak ada ketegasan, maka rumah tangga akan hancur
Anre1201
Bucin ga salah, yg salah tuh kalau jadi Goblok karna Bucin
Anre1201
Jadi inget waktu Ibu-ibu Konoha Bilang kalau gaji 3 juta itu cukup buat keluarga dengan 2 anak. Jadi harus bersyukur. Jangan banyak nuntut😃
sherly
novel yg bagus, alur ceritanya menarik...
sherly
cerita yg luar biasa, sampai ngk bisa coment ditiap bab karna terlalu fokus... tq untuk kisah hidup mereka yg begitu nyata dengan segala masalahnya, apalgi dikisah ini Deva yg sangat setia dan Kartika yg penuh pengertian dan perhatian... 👍👍
sherly
sejauh ini aku suka ceritanya sebab TDK ada pelakor seperti di novel2 lain ...hanya keluarga yg toxic... 👍
Umi Fitriani
mampir Thor
yuni ati
Mantap
Mama lilik Lilik
ceritanya bagus kak Santi,suka banget, terimakasih buat ceritanya🙏
🌸 Sunshine 🌸: Sama-sama, Kak. Terima kasih sudah baca karya aku ini ❤️
total 1 replies
Wirly Pena
karya yang bagus thor 👍

halo kakak2, jangan lupa mampir di karya pertamaku.
judul : aku istrimu bukan babu mu

terimakasih 🙏
Wirly Pena
semangat thor 💪

halo temen2, dukung dam baca karya pertamaku.
judul : Aku istrimu bukan babu mu

terimakasih 🙏
Alfia Amira
orang ketiga dalam rumah tangga tuh bukan hanya pelakor , tpi dari keluarga sendiri juga
Alfia Amira
selama ini istrimu adalah CEO dari keluarga Santoso , dia menyamar sebagai cleaning service di perusahaan nya sendiri 😂😂😂
Tatan Utari
cerita nya bagus banget, bukan perselingkuhan, suami idaman, semoga keluarganya tidak merongrong lagi
Tatan Utari
Bab 36 sedih banget aku sampai nangis, terharu semoga mereka kumpul lagi bersama
Aluna zapirgon
mknya Deva mikir dulu yah buat keluarga sendiri , mau berbakti boleh TPI usahain istri dan anak dulu yang di utamain ,, Bhkan istri mu aj rela melepas bnyak hal untuk bersama mu ,, bukan harga diri keluarga mu aj dia sanggup beli ,, TPI karena kmu dia milih bertahan
echa purin
👍👍
Anju Toreg
ceritanya jalan di tempat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!