NovelToon NovelToon
Gadis Desa Diremehkan Ternyata Tabib Legendaris

Gadis Desa Diremehkan Ternyata Tabib Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Mobil SUV yang ditumpangi Astiana membelah jalanan ibu kota yang gemerlap.

Lampu-lampu jalan memantul di kaca jendela yang tertutup rapat.

Ini adalah pertama kalinya Astiana duduk di kursi kulit yang sangat empuk.

Aroma pengharum mobil berbau vanilla ini sedikit membuat perutnya mual karena tidak terbiasa.

Pak Darma duduk di kursi depan di sebelah supir yang sedang fokus menyetir.

Pria tua itu tampak sudah pulih total dan sesekali menoleh ke belakang untuk tersenyum pada Astiana.

"Rumah kakek agak jauh di kawasan elit, jadi kamu bisa istirahat dulu, Nak."

"Baik, Kek, terima kasih."

Astiana menjawab singkat lalu kembali membuang pandangannya ke luar jendela.

Di belakang mereka, mobil sport merah milik Raka terus mengikuti dengan jarak yang sangat dekat.

Brummm.

Suara knalpot mobil sport itu terdengar seperti geraman harimau yang sedang mengawasi mangsanya.

"Anak muda itu benar-benar keras kepala dan penuh curiga."

Astiana membatin sambil mendengarkan pikiran-pikiran Raka yang bocor dari mobil di belakangnya.

"Aku harus menyuruh orang mencari tahu dari desa mana gadis gembel ini berasal."

"Kalau dia punya niat buruk pada harta kakek, aku akan membuangnya ke laut malam ini juga."

Suara hati Raka terdengar sangat jelas dan penuh ancaman di telinga Astiana.

Astiana hanya menguap pelan menanggapi ancaman kosong di dalam kepalanya itu.

Dia terlalu lelah untuk meladeni ego seorang tuan muda yang sedang tantrum.

Setengah jam kemudian, kedua mobil mewah itu berbelok memasuki sebuah gerbang besi hitam yang sangat menjulang.

Kriet.

Gerbang itu terbuka secara otomatis tanpa ada satpam yang mendorongnya.

Mata Astiana sedikit melebar melihat pekarangan rumah yang lebih mirip seperti lapangan sepak bola.

Ada air mancur besar dengan patung malaikat di tengah taman yang diterangi lampu sorot taman.

Mobil SUV itu akhirnya berhenti tepat di depan pintu utama sebuah rumah mewah bergaya Eropa klasik.

Ceklek.

Supir dengan sigap membukakan pintu untuk Pak Darma dan juga Astiana.

Astiana turun sambil menyandang tas ransel lusuhnya yang sangat kontras dengan kemewahan tempat ini.

"Selamat datang di rumah kakek, Nak Astiana."

Pak Darma merentangkan tangannya menyambut Astiana di teras rumahnya yang berlapis marmer mengkilap.

"Rumah ini sangat besar sekali, Kek, ini lebih mirip keraton daripada rumah biasa."

Astiana berkomentar jujur dengan nada polos yang membuat Pak Darma tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, kamu ini pandai sekali memuji."

Di saat yang sama, mobil sport Raka ikut berhenti dan pemuda itu keluar dengan wajah tertekuk.

"Nadin, kemari cepat."

Pak Darma memanggil salah satu pelayan perempuan yang sedang berdiri menunduk di dekat pintu masuk.

Seorang gadis muda berseragam hitam putih langsung berlari kecil menghampiri mereka.

Tap tap tap.

"Iya, Tuan Besar, ada yang bisa saya bantu."

Gadis bernama Nadin itu menunduk hormat dengan suara yang sedikit gemetar gugup.

"Tolong antarkan tamu kita ini ke kamar tamu di paviliun belakang."

"Siapkan air hangat dan pakaian ganti yang layak untuknya malam ini."

Nadin mengangkat wajahnya dan menatap Astiana dari atas sampai bawah dengan tatapan bingung.

"Baik, Tuan Besar, mari ikuti saya, Nona."

Nadin berjalan mendahului Astiana menuju lorong samping rumah yang sangat panjang.

Astiana menunduk sopan pada Pak Darma sebelum mengikuti langkah pelayan muda tersebut.

Saat melewati Raka, pemuda tampan itu sengaja menabrakkan bahunya ke bahu Astiana.

Tuk.

"Ingat tempatmu, gembel."

Raka berbisik sinis tanpa melihat ke arah Astiana sama sekali.

Astiana tidak merespons dan terus berjalan dalam diam mengikuti Nadin.

Sepanjang lorong, Nadin sesekali menoleh ke belakang untuk mencuri pandang ke arah tas lusuh Astiana.

"Ya ampun, bau apa ini, bajunya apek sekali."

"Tuan Besar pasti salah membawa orang pulang, jangan-jangan dia pemulung yang tersesat."

Suara hati Nadin yang polos dan ceplas-ceplos membuat Astiana menahan senyumnya.

Pelayan ini sepertinya tidak punya niat jahat, dia hanya sangat cerewet di dalam kepalanya.

"Maaf kalau bau bajuku mengganggumu ya."

Astiana tiba-tiba bersuara memecah keheningan lorong yang sepi itu.

Nadin langsung menghentikan langkahnya dan menoleh dengan wajah pucat pasi.

"Eh, Nona bilang apa tadi."

"Aku tahu bajuku sangat apek karena aku belum mandi sejak dari kereta."

Astiana beralasan dengan cepat agar Nadin tidak curiga tentang kemampuannya membaca pikiran.

"Ah, tidak apa-apa kok, Nona, saya sama sekali tidak merasa terganggu."

Nadin mengibaskan tangannya dengan panik dan wajahnya memerah karena malu.

"Gila, apa gadis ini bisa membaca pikiranku."

Suara hati Nadin berteriak panik membuat Astiana hampir tertawa mendengarnya.

"Ini kamarnya, Nona, silakan masuk."

Nadin membuka sebuah pintu kayu jati berukir indah di ujung paviliun belakang.

Kamar itu lebih besar dari rumah Astiana dan kakeknya di desa.

Ada ranjang berukuran sangat besar dengan seprai putih yang terlihat selembut kapas.

Sebuah lampu gantung kristal kecil menyala redup memberikan kesan mewah dan hangat.

"Kamar mandinya ada di sebelah sana, Nona."

Nadin menunjuk ke sebuah pintu kaca buram di sudut ruangan.

"Saya akan menyiapkan air hangatnya dulu, Nona silakan duduk dan istirahat."

Nadin segera berlari ke kamar mandi dan terdengar suara gemericik air mengalir.

Syuuur.

Astiana meletakkan tasnya di lantai dan duduk di tepi kasur empuk tersebut.

Tubuhnya langsung tenggelam ke dalam kasur itu seolah ditarik oleh awan yang lembut.

"Wah, pantas saja orang kaya betah tidur seharian."

Astiana bergumam pelan sambil mengelus seprai sutra yang terasa dingin di kulitnya.

Tidak lama kemudian, Nadin keluar dari kamar mandi dengan membawa handuk putih bersih.

"Airnya sudah siap, Nona, dan ini ada pakaian tidur yang belum pernah dipakai sama sekali."

Nadin meletakkan satu setel piyama berbahan satin di atas kasur.

"Terima kasih banyak, Nadin."

"Sama-sama, Nona, omong-omong Nona ini siapanya Tuan Besar Darma ya."

Nadin akhirnya tidak bisa menahan rasa penasarannya yang sedari tadi meledak-ledak di kepalanya.

"Saya cuma kebetulan menolong Pak Darma di jalan tadi."

Astiana menjawab jujur sambil berdiri dan mengambil handuk dari tangan Nadin.

"Menolong bagaimana, Nona."

Nadin memiringkan kepalanya dengan ekspresi semakin bingung.

"Tuan Besar kan punya pengawal dan supir, masa harus ditolong sama Nona yang... eh maaf."

Nadin menutup mulutnya menyadari dia hampir mengatakan kata yang tidak sopan.

"Tidak apa-apa, aku tahu penampilanku memang sangat berantakan."

Astiana tertawa kecil melihat tingkah pelayan muda yang seumuran dengannya ini.

"Tuan Darma tadi pingsan, dan aku kebetulan tahu sedikit tentang pengobatan tradisional."

"Jadi aku hanya memberinya sedikit pijatan sampai dia sadar kembali."

Astiana berbohong sedikit untuk menutupi fakta tentang jarum peraknya.

"Wah, Nona hebat sekali, pantas saja Tuan Muda Raka kelihatan sangat kesal."

Nadin bertepuk tangan pelan dengan mata berbinar kagum.

"Kenapa Raka kesal."

Astiana memancing obrolan untuk mengumpulkan informasi tentang keluarga ini.

"Tuan Muda Raka itu sangat protektif pada kakeknya, dia tidak suka ada orang asing yang mendekat."

Nadin mulai bercerita panjang lebar tanpa diminta lagi.

"Apalagi sejak kejadian tahun lalu, saat Tuan Besar hampir diracun oleh rekan bisnisnya."

"Oh, begitu ya."

Astiana mengangguk paham dan mulai mengerti alasan di balik sikap arogan Raka.

Ternyata pemuda itu memiliki trauma masa lalu yang membuatnya selalu waspada.

"Iya, Nona, jadi Nona harus hati-hati kalau berurusan dengan Tuan Muda Raka."

"Dia itu kalau sudah marah, suaranya bisa menggetarkan seluruh kaca di rumah ini."

Nadin memperagakan orang yang sedang menggigil ketakutan.

"Aku akan mengingatnya, terima kasih infonya, Nadin."

"Sama-sama, Nona, ya sudah saya pamit ke dapur dulu ya."

Nadin menunduk pamit dan berjalan keluar dari kamar meninggalkan Astiana sendirian.

Ceklek.

Pintu tertutup rapat dan suasana kamar menjadi sangat hening.

Astiana menghela napas panjang dan berjalan menuju kamar mandi.

Dia perlu membersihkan diri dari debu jalanan dan polusi ibu kota yang menempel di tubuhnya.

Air hangat dari pancuran langsung membasuh kelelahannya seketika.

Setelah mandi, Astiana memakai piyama satin yang terasa sangat licin di kulitnya.

Dia berjalan menuju jendela kamar yang menghadap langsung ke arah taman belakang rumah.

Dari lantai dua sebuah balkon yang agak jauh, Astiana melihat sosok Raka sedang berdiri merokok.

Pemuda itu sedang memegang ponsel di telinganya dengan ekspresi yang sangat serius.

Astiana memfokuskan pendengarannya untuk menyadap percakapan jarak jauh tersebut.

Kemampuan pendengarannya memang di atas rata-rata manusia normal.

"Aku tidak peduli butuh berapa banyak uang, cari tahu latar belakang gadis bernama Astiana itu."

Suara bariton Raka terdengar samar namun sangat jelas maknanya di telinga Astiana.

"Periksa stasiun kereta, periksa kamera CCTV, cari tahu dia turun dari kereta dari daerah mana."

"Kalau besok pagi laporannya belum ada di mejaku, kalian semua aku pecat."

Raka menutup teleponnya dengan kasar dan membuang puntung rokoknya ke bawah.

Pemuda itu menatap tajam ke arah paviliun tamu tempat Astiana berada sekarang.

Meskipun terhalang jarak dan gelapnya malam, Astiana tahu Raka sedang mengincarnya.

"Tuan Muda ini benar-benar tidak sabaran dan sangat gigih."

Astiana menutup tirai jendelanya rapat-rapat dan kembali ke tempat tidur.

Dia berbaring menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berkecamuk.

"Besok aku harus bersiap menghadapi semua introgasi dan kecurigaannya."

Astiana menyentuh liontin kristal di lehernya yang saat ini terasa sangat dingin.

"Kuharap menginap di sini benar-benar bisa membawaku lebih dekat dengan pemilik mobil sedan hitam itu."

Mata Astiana perlahan terpejam dan dia langsung tertidur lelap karena kelelahan yang luar biasa.

Malam pertama di ibu kota berhasil dilewati dengan tidur yang sangat nyenyak.

Namun dia tahu, besok pagi badai yang sesungguhnya baru akan dimulai di rumah mewah ini.

1
Was pray
ngapainn membocorkan identitasmu pada tuan Kusuma sih astiana? kan itu beresiko buat keluarga darma... jamu gak berbakat jadi agen rahasia/ intelijen. kemampuanotakmu gak memenuhi syarat
Was pray
yeee ... jangan samakan kita metropolitan dengan kampung di puncak gunung yg primitif astiana... makanya punya HP gunakan untuk update pengetahuan bukan cuma buat ngisi kantong bututmu.... biar kuoeng... 🤣
Was pray: kampung it's oke.... tapi jangan sampai rampungan... malu maluin orang asal pedesaan .
total 4 replies
kiyoe
okeii Kaka terima kasih yaaa 🥰
Diana Lely
lanjut thor...makin rame aja...
Was pray
ternyata astiana benar-benar bodoh... seharusnya jam tangan bima jangan dia yang ambil .. bisa minta agar Raka yg mengambil jam itu dari semak2, kalau jam itu ditangan astiana ya otomatis menjadi bukti bahwa astiana benar2 mencuri .. dan bima juga tolol, udah jelas barang bukti ada ditangan astiana seharusnya itu jadi bukti kalau tuduhan mencuri itu benar..ha... ga... ga.... alur ceritanya jadi aneh.
Was pray
buat masalah tapi gak becus menyelesaikan masalah yg ditimbulkannya, idan menyeret orang lain dalam lingkaran permasalahan itu ciri-ciri pengecat
Was pray
hatimu penuh empati tapi otakmu tebal astiana
Was pray
astiana terlalu berani apa bodoh sih sebenarnyar? keberanian tanpa berpikir panjang bukan menyelesaikan masalah , tapi memicu permasalahan yg lebih besar resikonya, tujuan utama dikesampingkan cuma gara sok bijak dengan ikut campur urusan yg bukan urusannya
Was pray
emang burung elangnya terbuat dari karet?, kok bisa melilit ? kecuali kalau burung elang ya lagi lapar ... terus perut elang melilit .. karena perut si elang lapar. .🤭🤭🤣
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
rasakan, akhirnya tempat kasino itu hancur 🤣

selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣
Anisa
gila² thor😄
kiyoe: Hehehe 🤭
total 1 replies
Was pray
jakarta jadi surga buat orang kaya, tapi neraka bagi orang miskin
kiyoe: heheheh iyaa bener Kak
total 3 replies
Was pray
hati manusia bisa sekeras baja jika privasinya terusik, tapi bisa jadi selembut salju jika hatinya tersentuh oleh hutang Budi / nyawa
kiyoe: iyaa bener kak 🤭
total 1 replies
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
Astiana yang menyamar, tapi, aku malah ikut deg degan /Scream/
kiyoe: wkwkw tembak tembak dor dor dor
total 5 replies
Was pray
gak sekolah dari SD - SMA langsung kuliah..... wao... amazing... gak sekalian ambil gelar doktor tuh astiana....? 🤣🤣🤣
Was pray
Adrian cuma lulus TK doang Raka... 🤣🤣
Was pray
baru tau dan nyadar ya astiana?
Was pray
mencari seseorang /keluarga di jakarta tanpa alamat yg pasti kayak mencari jarum di lapangan sepakbola... hadeh... capek deh Nemu orang kayak model astiana ini
kiyoe: heheheh iyaa kak untung gak jadi gembel
total 5 replies
Anisa
wihh deg-degan thor😄
kiyoe: hehehe tunggu bab selanjutnya kak pasti deg-degan juga 🤭
total 1 replies
Siskasuryaningsih
knpa bibi nya gk di hajar tadi sebentar, kan enak tu
kiyoe: kan Astiana di suruh baik hati sama alm kakek yang merawat Astiana dari kecil kak hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!