Merelakan masa mudanya merantau demi modal bisnis, Nesa berhasil membangun brand kosmetiknya seorang diri. Sebagai wujud bakti, ia memberikan posisi nyaman di perusahaan untuk kakak kandungnya, Sasya, dan mempercayakan hatinya pada Dika, suami yang dipacarinya sejak SMA.
Namun, dunia Nesa runtuh seketika saat ia mendapati kenyataan paling menjijikkan: Dika berselingkuh dengan Sasya. Di saat yang sama, Sasya memanfaatkan fasilitas perusahaan untuk merintis skincare tandingan di bawah dukungan penuh Dika. Syok luar biasa akibat pengkhianatan berlapis itu merenggut nyawa bayi yang tengah dikandung Nesa.
Berada di titik terendah setelah keluar dari rumah sakit, air mata Nesa berubah menjadi bara. Mengabaikan rasa sakitnya, Nesa bersiap membalas setiap tetes air matanya, membongkar kebusukan suami dan kakak kandungnya, serta merebut kembali apa yang sepenuhnya menjadi hak miliknya.
Satu Atap, Seribu Dusta ketika bakti dibalas duri dan pengkhianatan harus dibayar mahal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SATU ATAP SERIBU DUSTA
Pukul delapan lewat sepuluh menit, suasana di lantai eksekutif gedung pusat NesAura Skincare tampak sibuk seperti biasa. Para staf berjalan cepat membawa dokumen, sementara suara ketukan sepatu hak tinggi beradu dengan dering telepon kantor yang bersahut-sahutan. Namun, di dalam ruang kerja CEO yang berinterior mewah dan elegan, atmosfernya terasa jauh lebih kontras penuh ketenangan yang manis.
Nesa baru saja melangkah masuk ke dalam ruangannya dengan menenteng tas tangan kulit bermerek. Begitu ia membuka pintu dan berjalan menuju meja kerjanya, langkah kakinya mendadak terhenti.
Di atas permukaan meja marmer hitam miliknya, berdiri tegak sebuah buket bunga mawar putih dan eustoma segar berukuran besar yang ditata sangat mewah. Di tengah buket bunga tersebut, terselip sebuah kartu ucapan berhuruf tangan rapi dengan tinta hitam:
"Pagi, Ratu Nes. Jangan lupa sarapan dan minum vitaminmu ya. Kalau hari ini urusan kantor bikin stres, ingat saja ada aku yang siap jadi tempat bersandar sore nanti. Have a great day, My Queen! Arsen."
Sudut bibir Nesa tanpa sadar langsung terangkat membentuk senyuman paling manis yang pernah menghiasi wajahnya. Ini bukan kali pertama Arsen mengirimkan kejutan pagi hari ke kantornya, tetapi intensitas perhatian pemuda itu semakin hari semakin menjadi-jadi. Semenjak hubungan mereka semakin dekat, Arsen seolah ingin memastikan seluruh dunia tahu atau setidaknya Nesa sendiri tahu bahwa dirinya sangat dicintai dan dihargai.
Cklek.
Pintu ruang kerja terdorong pelan, dan Bila melangkah masuk membawa map laporan. Begitu melihat buket bunga raksasa di atas meja atasannya, Bila langsung tersenyum geli sambil menutup mulutnya menahan tawa.
"Wah, wah, wah... Bu Nesa pagi-pagi sudah dikirimi kebun bunga berjalan lagi nih dari Pak Arsen?" goda Bila tanpa ampun. "Kandungan bucin CEO Aethel & Co itu sepertinya sudah mencapai level akut, Bu. Tiap hari kantor Ibu rasanya sudah kayak galeri florist."
Nesa merona tipis, berusaha memasang tampang galak khas CEO untuk menutupi rasa salah tingkahnya. "Bila, berkas laporan bulanan divisi R&D yang kemarin kamu janjikan sudah selesai diverifikasi belum? Malah asyik mengomentari meja atasannya."
Bila terkekeh renyah, sama sekali tidak merasa takut dengan gertakan setengah hati Nesa. "Sudah beres di meja saya, Bu! Nanti saya antar ke sini. Tapi ngomong-ngomong, jujur deh, Bu... rasanya gimana sih dicintai sama CEO muda papan atas yang bucinnya nggak ada obat begitu? Kelihatan banget kalau Ibu sekarang jauh lebih bahagia dan glowing tiap hari."
Nesa menggelengkan kepalanya perlahan, berjalan menuju kursi kerjanya dan duduk dengan anggun. Ia merapikan letak buket bunga tersebut agar tidak mengganggu tumpukan berkas. "Sudah, jangan menggoda saya terus. Cepat selesaikan tugas-tugasmu sebelum saya potong uang lembur bulan ini."
"Siap, Bu CEO galak!" balas Bila riang, lalu berbalik melangkah keluar ruangan sambil tersenyum lebar.
Meskipun ia sempat melontarkan ancaman bercanda kepada asistennya, Nesa tidak bisa memungkiri kebenaran di balik ucapan Bila. Di usianya yang matang dan setelah sekian lama hidup dalam tekanan batin serta pengkhianatan keji di masa lalu, kehadiran Arsen memberikan warna dan kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Setiap pagi ada buket bunga, setiap siang ada pesan pengingat makan, dan setiap malam ada pelukan hangat yang menenangkan. Perlakuan itu membuatnya merasa benar-benar dihargai sebagai seorang ratu.
Sementara itu, di tempat yang berbeda, kesibukan luar biasa juga tengah melanda markas besar korporat Aethel & Co.
Di dalam ruang kerja utamanya yang berdesain modern minimalis di lantai atas gedung pencakar langit kawasan Sudirman, Arsen duduk di balik meja kerja kaca besar. Mengenakan kemeja putih berbalit rompi jas formal dengan lengan kemeja yang digulung rapi sampai siku, fokus pemuda itu tampak sangat tajam menatap layar monitor ganda di hadapannya. Sebagai seorang CEO muda yang memimpin perusahaan teknologi dan investasi terkemuka, jadwal harian Arsen dipenuhi oleh rentetan rapat direksi, penandatanganan kontrak kerja sama internasional, hingga evaluasi strategi bisnis.
Namun, di sela-sela kesibukannya yang padat sebagai eksekutif muda, Arsen juga dikenal sebagai figur publik di media sosial yang sering membagikan konten-konten inspiratif seputar dunia bisnis, gaya hidup urban, dan tips kepemimpinan yang disukai jutaan pengikutnya.
Ponsel pintar di samping mejanya berdering pelan, menampilkan notifikasi dari berbagai platform digital. Selama beberapa minggu terakhir, selain sibuk mengurus ekspansi bisnis Aethel & Co, kolom komentar di akun media sosial pribadi Arsen dipenuhi oleh rasa penasaran para penggemarnya mengenai satu hal: kehadiran sosok wanita misterius yang sering tak sengaja tersorot di konten-konten kesehariannya.
Meskipun Arsen tidak pernah memperlihatkan wajah Nesa secara utuh di konten-kontennya, para pengikut setianya yang memiliki mata jeli mulai menyadari berbagai petunjuk kecil. Mulai dari bayangan siluet wanita berambut panjang anggun di sudut ruang kerja, suara langkah kaki elegan, hingga cangkir kopi berdesain khusus yang sering muncul di meja live streaming kantornya.
Kolom komentar di akun media sosial Arsen kini berubah menjadi medan diskusi yang sangat riuh:
"Guys, kalian sadar nggak sih? Akhir-akhir ini vibes postingan Pak CEO itu beda banget. Kayak lagi jatuh cinta beneran!" tulis seorang netizen di kolom komentar video pendek terbaru Arsen.
"Iya benar! Waktu video Q&A bisnis kemarin, ada bayangan cewek lewat pakai blazer chic, dan suaranya pas ngomong di belakang kamera itu dewasa banget. Siapa sih sebenarnya wanita itu? Bikin penasaran setengah mati!" timpal fans lainnya.
"Jangan bilang CEO idola kita beneran lagi dekat sama wanita dewasa dari dunia korporat? Aduh, patah hati nasional nih!" protes fans garis keras yang mulai menebak-nebak.
Melihat berbagai komentar penasaran, spekulasi liar, hingga rasa cemburu dari para pengikutnya, Arsen justru tersenyum tipis di balik layar mejanya. Ia tidak merasa terganggu; sebaliknya, ia sengaja membiarkan rasa penasaran itu tumbuh perlahan di benak publik. Bagi Arsen, melindungi privasi Nesa adalah prioritas mutlak, tetapi memberikan sedikit petunjuk visual adalah cara halusnya untuk melatih mental publik sebelum ia benar-benar memperkenalkan sang Ratu ke hadapan dunia secara resmi.
Pintu ruang kerja terketuk dua kali, dan manajer operasional kepercayaannya, Pak Baskara, melangkah masuk membawa tablet jadwal dan berkas kontrak kerja sama.
"Arsen, persiapan rapat pemegang saham untuk ekspansi divisi teknologi kuartal depan sudah siap di ruang rapat utama. Semua direksi sudah menunggu," lapor Pak Baskara serius.
Arsen merapikan dokumen di mejanya lalu berdiri tegak dengan penuh wibawa. "Baik, Pak Baskara. Kita langsung ke sana sekarang."
Sesaat sebelum beranjak, Arsen melirik sekilas ke arah layar ponselnya yang menampilkan deretan komentar warganet. Manajer senior itu menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum kecil melihat tingkah sang bos muda yang gemar menebar misteri romantis di internet.
"Omong-omong, Pak CEO, konten vlog kantor yang rilis kemarin penontonnya menembus angka jutaan. Tapi isi komentarnya hampir seratus persen membahas siluet wanita di sudut ruanganmu. Kamu nggak berniat bikin klarifikasi atau sekadar memberi sedikit bocoran?" goda Pak Baskara halus.
Arsen menyunggingkan senyuman penuh arti. "Biar saja mereka menebak-nebak, Pak. Waktunya belum pas buat go public secara total. Yang penting, orang yang harus tahu posisinya di hatiku sudah sangat paham."
Pak Baskara tertawa maklum. "Terserah strategi humasmu saja, Arsen. Yang penting target ekspansi perusahaan kita tercapai."
Kembali ke kantor NesAura Skincare, jarum jam dinding kini menunjuk pukul dua belas siang.
Nesa baru saja merampungkan penandatanganan dokumen terakhir di meja kerjanya ketika layar ponsel di sampingnya bergetar pelan. Sebuah pesan singkat dari Arsen muncul di layar:
"Ratu Nes, jam istirahat siang ini jangan menolak ajakan makanku ya. Aku sudah di lobby bawah. Kalau kamu telat turun lima menit saja, aku bakal naik sendiri nyamperin kamu ke ruangan dan ngajak kamu makan pake seragam kantorku."
Mendengar pesan bernada posesif khas brondong itu, tawa kecil yang merdu lolos dari bibir Nesa. Ia menggelengkan kepala pelan, merasa gemas bercampur geli dengan tingkah kekasih mudanya yang tidak pernah kehabisan akal untuk menculik waktu istirahatnya.
Tanpa membuang waktu lebih lama, Nesa merapikan sedikit penampilannya, menyemprotkan sedikit parfum mewah beraroma vanilla floral di pergelangan tangannya, lalu melangkah keluar meninggalkan ruang kerja untuk menyambut sang kekasih di bawah. Hari baru ini berjalan begitu sempurna, membuktikan bahwa setelah badai terhebat, kebahagiaan sejati akhirnya benar-benar berpihak kepadanya menjalani hari-hari penuh cinta bersama sang CEO muda yang bucin luar biasa.