Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab23 Nasib Derita Istri kuli bangunan
Malam semakin larut, angin dingin kota menusuk hingga ke tulang. Burhan duduk di bangku taman rumah sakit sembari meremas telepon genggam tuanya yang berlayar retak.
Ia menggeser nama-nama di daftar kontak HP-nya. Beberapa kali ia mencoba menekan tombol panggil ke kerabat dekatnya, namun jawaban yang ia terima selalu sama: nihil. Mereka juga hidup dalam kesulitan yang serupa.
"Harus ke mana lagi aku mencari bantuan?" gumam Burhan frustrasi. Angka di lembaran rincian biaya RSUD seolah menyiksa pikirannya tanpa henti.
Tiba-tiba, pandangannya tertuju pada satu nama di dalam kontaknya: pak Dadang mandor
pak dadang adalah mandor sekaligus kawan sesama kuli bangunan di proyek tempat Burhan bekerja beberapa bulan terakhir.
Dadang orangnya tegas, kadang bicaranya kasar, tetapi dikenal memiliki solidaritas yang tinggi terhadap sesama pekerja kasar.
Burhan ragu. Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 01.30 dini hari. Apakah pantas menghubungi orang di jam seperti ini? Namun, membayangkan istrinya tertahan di rumah sakit karena tidak mampu membayar rincian administrasi membuat Burhan membuang jauh-jauh rasa malunya.
Dengan tangan gemetar, Burhan memanggil nomor DAdang Suara nada dering terdengar lambat, hingga pada dering kelima, panggilan disambungkan.
"Halo... Siapa ini malam-malam begini?" suara Dadang terdengar serak dan berat, khas orang terganggu dari tidur nyenyaknya.
"Kang... Ini saya, Burhan. Maaf sekali, Kang. Maaf mengganggu waktu istirahat Kang Dadang tutur Burhan cepat, suaranya sarat akan kepanikan yang tak lagi bisa disembunyikan.
Terdengar suara kresek di seberang telepon, sepertinya Dadang sedang mengubah posisi duduknya. "Oalah, Burhan. Ada apa, Han? Kok suaranya panik begitu? Ada masalah di proyek?"
"Bukan, Kang... Istri saya, Anisa... baru saja melahirkan," kata Burhan, suaranya mulai tertahan oleh rasa sesak di dada.
"Alhamdulillah! Lah, kok malah panik? Bukannya itu kabar bahagia?"
"Iya Kang, alhamdulillah anak saya laki-laki dan selamat. Tapi... Anisa tadi pendarahan, Kang. Bidan desa tidak sanggup, jadi langsung dirujuk ke RSUD. Kami tidak pakai BPJS, Kang. Uang pegangan saya tidak cukup sama sekali untuk menebus biaya persalinan dan administrasinya..." Burhan akhirnya menumpahkan segala keluh kesahnya. Suaranya tercekat di tenggorokan.
Hening sejenak di seberang telepon. Hati Burhan berdebar kencang, takut jika kawan kulinya itu akan menolak atau merasa keberatan.
"Kamu di RSUD mana sekarang, Han?" tanya dadang nada suaranya berubah menjadi lebih serius dan luput dari kantuk.
"Di RSUD kabupaten, Kang. Di gedung utama."
"Tunggu di sana. Jangan ke mana-mana. Saya ke sana sekarang," ucap Dadang singkat sebelum memutus sambungan telepon secara sepihak.
Burhan terpaku melihat layar ponselnya yang kembali gelap. Ia tidak menyangka Dadang akan merespons secepat itu.
Sekitar empat puluh lima menit kemudian, tampak sosok pria paruh baya bertubuh tegap dengan jaket kulit kusam berjalan tergesa-gesa menyusuri koridor RSUD.
"Kang dadang!" panggil Burhan sambil berlari kecil menghampirinya.
Dadang menepuk bahu Burhan dengan keras. "Kamu ini, Han! Punya masalah sebesar ini kok tidak cerita dari kemarin-kemarin? Harusnya kan bisa disiapkan dari jauh hari!"
"Maafkan saya, Kang. Rencananya mau di bidan desa yang biayanya terjangkau. Saya tidak menyangka bakal ada komplikasi dan dirujuk mendadak seperti ini," sahut Burhan sambil menunduk lesu.
Dadang menghembuskan napas panjang, lalu merogoh saku jaketnya. Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang tampak tebal dan menyodorkannya langsung ke dada Burhan.
"Ini... Apa, Kang?" tanya Burhan kebingungan.
"Pegang," tegas Dadang . "Di dalam situ ada uang simpanan saya, ditambah beberapa sisa kas pinjaman kecil dari anak-anak kuli di barak tadi. Begitu saya dapet telepon dari kamu, saya langsung kontak sebagian kawan-kawan yang belum tidur. Kami kumpulkan seadanya."
Burhan menerima amplop itu dengan tangan gemetar. Matanya berkaca-kaca saat melihat isi amplop tersebut yang berisi gulungan uang kertas ratusan dan puluh ribuan.
"Kang... Ini terlalu banyak... Saya tidak tahu harus ganti pakai apa..." tangis Burhan tak lagi terbendung. Air matanya menetes jatuh ke amplop cokelat itu.
"Hutang uang bisa dicicil nanti dari potong upah mingguanmu di proyek, Han. Tidak usah dipikirkan sekarang," ujar Dadang dengan nada santai namun penuh ketegasan. "Yang penting sekarang, urus administrasi istri dan anakmu. Jangan sampai perawatan mereka terhambat hanya karena urusan uang. Istrimu butuh kamu dalam kondisi tenang."
"Terima kasih banyak, Kang... Terima kasih... Hanya Gusti Allah yang bisa membalas kebaikan Kang Dadang dan kawan-kawan kuli semua," bisik Burhan sambil menggenggam erat tangan Rusdi.
"Sudah, tak perlu cengeng begitu. Kamu itu sudah jadi bapak sekarang. Ayo, saya antarkan ke loket pembayaran," ajak dadang teman gak ozah sembari merangkul pundak Burhan.
Dengan bantuan pinjaman dana darurat dari kawan-kawan sesama buruh kuli bangunan tersebut, Burhan akhirnya berhasil melunasi seluruh biaya persalinan, pengobatan, dan perawatan Anisa serta bayinya di RSUD.
Pagi harinya, mentari menyinar masuk melalui sela-sela jendela kamar perawatan. Burhan berjalan mendekati ranjang Anisa dengan senyuman lega di wajahnya. Ia mencium kening istrinya yang sudah tampak lebih segar.
"Mas... Soal biayanya bagaimana?" tanya Anisa pelan, masih menyimpan kekhawatiran yang sama.
Burhan tersenyum manis, membelai lembut pipi bayinya yang tertidur lelap di sebelah Anisa. "Sudah selesai semuanya, Nisa. Kang Rusdi dan kawan-kawan kuli membantu Mas menebus biayanya. Anak kita dan kamu bisa pulang dengan tenang setelah diizinkan dokter."
Anisa menghembuskan napas lega, matanya berkaca-kaca menatap suaminya penuh rasa syukur. "Alhamdulillah ya Allah... Banyak orang baik di sekitar kita."
"Iya, Nisa. Tugas kita sekarang adalah merawat anak ini dengan baik dan membesarkannya menjadi orang yang berguna," janji Burhan mantap, menatap masa depan keluarga kecil mereka dengan penuh harapan baru.