**Perjodohan Pembunuh Naga dan Putri Naga**
Veronica, seorang naga setengah manusia, harus menikah dengan Altres Vanguard, kesatria terkenal yang dijuluki pembunuh naga. Pernikahan mereka merupakan syarat perdamaian antara bangsa naga dan manusia yang telah lama bermusuhan. Namun, menyatukan dua makhluk dari ras berbeda bukanlah perkara mudah. Veronica yang tidak memahami kehidupan manusia sering berselisih dengan Altres, sementara Altres sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi istrinya adalah seekor naga.
Di balik pertentangan mereka, tersimpan luka masa lalu yang perlahan terungkap. Veronica kehilangan ibunya yang seorang manusia, menyaksikan bagaimana usia singkat sang ibu memisahkan mereka untuk selamanya. Sementara itu, Altres kehilangan ayah dan kedua kakaknya dalam perang melawan bangsa naga, meninggalkan kebencian yang sulit dihapuskan.
Seiring waktu, keduanya mulai memahami kesedihan dan ketakutan masing-masing. Di antara perbedaan, dendam, dan luka masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMPIRE RAJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 naga yang tidak berubah
Dua bulan berlalu, dan Veronica yang dulu angkuh serta tak mengerti apa pun tentang manusia kini telah menjadi sosok yang berbeda. Langkahnya di lorong kediaman Vanguard tak lagi menghentak seperti seekor naga yang menginjak tanah gunung, melainkan ringan dan teratur dengan punggung yang tegak, sementara ujung gaunnya bergerak halus mengikuti tiap ayunan kakinya. Di meja makan, ia memegang pisau dan garpu dengan jari-jari yang luwes, memotong daging sekecil yang diajarkan, lalu mengunyahnya dengan bibir tertutup tanpa terburu-buru. Suaranya pun melembut, terutama saat berbicara dengan Erin, ibu mertua yang sabar mengajarinya begitu banyak hal. Erin memperhatikan semua itu dari seberang meja sambil menyembunyikan senyum di balik cangkir tehnya, bangga karena berhasil mengubah naga yang mengerikan menjadi naga yang anggun. Para pelayan yang dulu gemetar tiap kali Veronica lewat kini bahkan berani menyapanya sambil menunduk hormat, dan Veronica membalasnya dengan anggukan kecil yang sempurna.
"Ibu, apakah cara dudukku sudah benar pagi ini?" tanya Veronica sambil meluruskan bahunya, menunggu penilaian dengan wajah yang sungguh-sungguh.
"Sudah sangat baik, Veronica. Kurasa pelajaran tata krama sudah cukup untuk saat ini," jawab Erin sambil meletakkan cangkirnya perlahan. "Mulai hari ini kita belajar hal lain. Sebagai Duchess Vanguard, kau harus mengatur anggaran rumah dan para pekerjanya, dan kau juga harus tahu apa saja yang dibutuhkan untuk menjaga kehormatan keluarga ini."
Veronica menghela napas lega, bahunya yang kaku turun seketika. Dua bulan terakhir terasa seperti siksaan yang tak ada habisnya baginya, dan kabar bahwa semuanya selesai membuat matanya berbinar. Namun binar itu meredup begitu Erin meletakkan setumpuk kertas di hadapannya, daftar kebutuhan rumah yang memuat bahan makanan hingga peralatan, berbaris panjang dari atas sampai bawah. Ia menyipitkan mata menatap deretan tulisan itu, lalu jarinya berhenti pada bagian bahan makanan. Menurutnya, kebutuhan paling penting dalam sebuah rumah jelas makanan, sehingga tanpa ragu ia mengambil pena dan menaikkan jumlah anggaran untuk daging kesukaannya, menggoreskan angka baru itu dengan mantap seolah baru memecahkan masalah terbesar di rumah itu.
Erin hanya bisa menarik napas panjang melihatnya. Naga yang ia kira sudah berubah itu ternyata tetap naga yang sama. "Itu tidak masalah," katanya akhirnya sambil memijat pelipis, "tapi kau juga harus membaca semua laporan yang ada di meja ini. Ada perawatan taman, ada kebutuhan para pekerja yang harus kau pikirkan, lalu kau hitung semuanya dari anggaran bulanan yang diberikan suamimu. Kau harus bisa mengaturnya dengan baik supaya semuanya efisien."
Veronica menarik satu laporan dari tumpukan itu dan membacanya dengan dahi berkerut. Isinya tentang perawatan taman, pemangkasan pagar tanaman, upah tukang kebun, hingga persediaan kayu bakar dan selimut tambahan untuk para pekerja yang tinggal di bangunan belakang. Ia membaca baris demi baris dengan bibir bergerak pelan, jelas tak terbiasa memikirkan hal sekecil itu, lalu bibirnya langsung mengerucut saat matanya sampai pada jumlah anggaran yang tertulis di bagian bawah. "Anggaran rumah ini sedikit sekali," keluhnya dengan nada kesal, jarinya mengetuk-ngetuk kertas. "Padahal gudang harta sudah kuisi penuh dengan emas dari gua. Kenapa Altres memberiku anggaran sekecil ini?"
"Karena anggaran itu disesuaikan dengan pendapatan keluarga, bukan dengan isi gudang," jawab Erin lembut. "Keluarga Vanguard memiliki banyak tanah untuk bertani dan berkebun. Dari sana kita mendapatkan buah, gandum, daging, dan susu. Semuanya sudah dihitung Altres dengan baik, termasuk berapa yang perlu disimpan untuk musim paceklik dan berapa yang cukup untuk dimakan seisi rumah." Erin menggeser laporan itu sedikit ke arah menantunya, memastikan Veronica melihat deretan angka yang tersusun rapi di sana. "Jadi tugasmu bukan menambah angka sesukamu, melainkan membuat angka-angka ini cukup untuk semua orang."
"Tapi hartaku juga seharusnya dihitung," bantah Veronica sambil menegakkan punggungnya dengan dagu terangkat. "Emas itu sudah menjadi milik keluarga Vanguard, bukan? Kalau begitu, tentu boleh dipakai untuk membeli lebih banyak daging."
Erin tersenyum mendengarnya. Apa pun yang ia lakukan, Veronica tetaplah naga yang polos, pikirnya sambil menatap wajah menantunya yang menunggu jawaban dengan penuh keyakinan. Namun ia tidak akan menyerah. Ia bertekad mendidik naga itu hingga menjadi wanita yang hebat, sekalipun itu memakan waktu bertahun-tahun. "Kita akan membahasnya pelan-pelan," katanya sambil menepuk tangan Veronica, "karena menghitung anggaran jauh lebih sulit daripada memegang cangkir teh." Veronica mengerjap bingung, tak yakin apakah itu pujian atau peringatan.
Suara langkah sepatu bot terdengar dari lorong, dan Altres muncul di ambang pintu dengan jubah perjalanan yang sudah terpasang rapi di bahunya. Pedang Carax tergantung di pinggangnya, dan raut wajahnya menunjukkan bahwa ia punya urusan yang tidak bisa ditunda. "Ibu, Veronica, aku datang untuk pamit," ucapnya sambil menunduk sedikit pada ibunya. "Ada kepentingan di perbatasan. Aku harus membantu membasmi monster di sana."
Mata Veronica langsung berbinar, dan ia menegakkan duduknya dengan penuh rasa ingin tahu. "Monster? Apakah kau membutuhkan bantuanku?"
Altres menatap istrinya dari ujung kepala sampai kaki, pada gaun anggun dan rambut merah yang tertata rapi, lalu menggeleng pelan sambil menahan senyum. Ia membayangkan Veronica menerjang barisan monster dengan sanggul tertata dan rok sepanjang lantai. "Kurasa bantuan dari seorang nona yang anggun adalah hal yang mustahil."
"Aku tetap seekor naga yang hebat," sahut Veronica dengan dagu terangkat tinggi, tersinggung sampai ujung telinganya. "Aku bahkan bisa melenyapkan seluruh monster itu dalam satu semburan apiku."
"Justru itu masalahnya," balas Altres sambil mengangkat sebelah tangan untuk menghentikannya, sudut bibirnya bergerak menahan tawa. "Aku sudah membayangkan perbatasan yang rata dengan tanah hanya dalam sekali tarikan napasmu. Semburan apimu akan merusak wilayah perbatasan dan menghanguskan semuanya, termasuk desa-desa di dekatnya. Tidak, terima kasih. Biar para kesatria yang mengurus monster, kau urus saja laporan di meja itu."
Veronica mendengus pelan, melipat kedua tangannya di dada seperti anak kecil yang permintaannya ditolak, dan ekornya yang tersembunyi seolah ikut mengibas kesal di balik gaun. "Padahal aku hanya ingin membantu," gumamnya. Erin segera berdiri dan menghampiri putranya, merapikan kerah jubah Altres dengan gerakan lembut seorang ibu yang cemas. "Berhati-hatilah dalam tugasmu, Altres. Dan kembalilah dengan selamat dari wilayah berbahaya itu."
"Aku akan kembali, Ibu. Jangan khawatir," jawab Altres sambil menggenggam tangan ibunya sebentar, lalu menepuk punggung tangan itu dengan lembut. "Selama aku pergi, tolong awasi rumah ini. Dan awasi juga isi dapurnya."
Namun Veronica tak mau kalah dalam perhatiannya sendiri. Sambil mengangkat kertas anggaran yang tadi dicoretnya, ia menyela dengan suara tegas, "Dan sebelum kau pergi, naikkan anggaran bahan makanan rumah ini. Daging di gudang tidak akan cukup kalau kau terus membatasi uangnya."
Altres menggelengkan kepala mendengar permintaan itu, setengah heran dan setengah lelah. "Soal itu akan kita bicarakan lagi nanti. Ada sedikit masalah yang harus diselesaikan lebih dulu."
Erin menoleh pada menantunya sambil mengangguk ke arah pintu. "Veronica, antar suamimu sampai ke depan."
Veronica bangkit dengan wajah yang masih ditekuk karena anggaran yang belum naik, lalu berjalan di samping Altres sepanjang lorong dengan langkah anggun yang tampak dipaksakan, rok gaunnya berdesir pelan di lantai marmer. Altres sempat melirik ke samping beberapa kali, menunggu istrinya mengatakan sesuatu, tetapi Veronica terus berjalan dengan bibir terkatup rapat. Di depan pintu utama, saat kuda Altres sudah menunggu dan para kesatria berbaris di halaman, Veronica berhenti dan menatap suaminya lurus-lurus tanpa berkedip, seperti saat ia menatap mangsa di balik semak.
"Kau harus kembali dengan selamat," ucapnya dengan nada datar. "Kalau tidak, aku akan menghancurkan seluruh wilayah perbatasan itu."
Altres yang sudah memegang tali kekang terdiam sejenak, tak menyangka perpisahan mereka akan sesingkat dan seancam itu, lalu tersenyum heran sambil menggeleng pelan. Apakah memang tidak ada kata-kata lain yang lebih pantas untuk melepas kepergian seorang suami?