Alisha Amanda hanyalah seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah toko roti demi menghidupi dirinya dan sang ibu. Sejak kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, hidup Alisha berubah ketika penyakit sang ibu semakin parah. Operasi dengan biaya yang sangat mahal menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai. Sayangnya, tabungan Alisha tidak cukup, bahkan untuk membayar sebagian kecil dari biaya tersebut.
Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran tak terduga datang kepadanya.
Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa, membutuhkan seorang istri demi mempertahankan posisinya di perusahaan keluarga. Terdesak oleh tuntutan orang tuanya dan ancaman kehilangan jabatan, Adrian menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Alisha.
Sebagai gantinya, Alisha akan mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi ibunya.
Bagi Adrian, pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaa Kezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Jarak yang Terlalu Dekat
"Pak Adrian, boleh berdiri sedikit lebih dekat dengan Bu Alisha?"
Adrian menghentikan langkahnya dan menoleh kepada fotografer yang berdiri di depan kamera. Laki-laki itu kemudian mengalihkan pandangan kepada Alisha yang berada di sampingnya.
Alisha terlihat cantik dalam gaun pengantinnya. Rambutnya ditata rapi, dengan beberapa helai rambut yang sengaja dibiarkan membingkai wajahnya. Riasan tipis di wajahnya membuat penampilannya terlihat anggun, tetapi ekspresinya menunjukkan bahwa dia masih merasa canggung.
Adrian menggeser posisi berdirinya satu langkah mendekati Alisha.
Fotografer memperhatikan mereka melalui layar kamera, kemudian menggeleng kecil.
"Sedikit lagi, Pak. Jangan terlalu jauh. Kalian sekarang sudah menjadi pasangan suami istri."
Alisha menundukkan pandangannya sebentar.
Kalimat itu sebenarnya sederhana, tetapi entah mengapa membuatnya semakin gugup.
Pasangan suami istri.
Dua kata yang sekarang melekat pada dirinya dan Adrian, meskipun keduanya belum benar-benar terbiasa dengan status baru tersebut.
Adrian kembali menggeser posisinya.
"Bagus," ujar fotografer. "Sekarang kita coba beberapa pose yang lebih natural."
Dia mengangkat kamera, lalu memberikan arahan berikutnya.
"Pak Adrian, silakan letakkan tangan Anda di pinggang Bu Alisha."
Alisha spontan menoleh kepada Adrian.
Adrian juga terdiam sejenak.
Keduanya saling memandang, seolah ingin memastikan bahwa mereka mendengar instruksi yang sama.
Fotografer yang tidak mengetahui kecanggungan di antara mereka kembali berbicara.
"Silakan, Pak. Kita mulai dari pose sederhana terlebih dahulu."
Adrian mengalihkan pandangan kepada Alisha.
"Apakah kamu keberatan?"
Alisha sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu.
Dia tidak menyangka Adrian akan menanyakan pendapatnya terlebih dahulu, padahal fotografer sudah menunggu mereka.
Alisha menggeleng pelan.
"Tidak."
"Baik."
Adrian kemudian meletakkan tangannya di pinggang Alisha dengan hati-hati, mengikuti arahan fotografer tanpa melakukan gerakan berlebihan.
Alisha langsung menegakkan punggungnya.
Dia berusaha tersenyum ke arah kamera, tetapi senyum yang muncul justru terlihat kaku.
"Bu Alisha, rileks saja," kata fotografer. "Tidak perlu terlalu tegang."
"Iya," jawab Alisha pelan.
Dia mencoba mengendurkan bahunya.
Namun, berdiri sedekat ini dengan Adrian membuatnya sulit bersikap seperti biasa.
Selama ini, setiap kali mereka bertemu, pembicaraan mereka selalu berkaitan dengan urusan pernikahan, persiapan acara, atau hal-hal yang perlu diselesaikan. Mereka tidak pernah menghabiskan waktu bersama hanya untuk saling mengenal.
Sekarang, mereka justru diminta berpose seolah-olah telah menjadi pasangan yang dekat selama bertahun-tahun.
"Baik, kita ambil foto pertama."
Suara kamera terdengar beberapa kali.
Fotografer kemudian menurunkan kameranya dan memeriksa hasil jepretan.
Dia terdiam beberapa saat.
"Bagus, tetapi masih terlihat seperti dua orang yang baru pertama kali bertemu."
Alisha hampir tertawa mendengar komentar itu.
Dia segera menahan ekspresinya, takut senyumnya justru terlihat semakin aneh.
Adrian menatap fotografer dengan tenang.
"Apa yang perlu diperbaiki?"
Fotografer tersenyum.
"Tidak ada yang salah, Pak. Hanya saja, kalian bisa sedikit lebih santai. Coba saling menatap sebentar sebelum melihat kamera."
Adrian mengangguk.
"Baik."
Alisha meliriknya dari sudut mata.
Laki-laki itu tampak begitu tenang, seolah sesi foto pernikahan ini hanyalah salah satu agenda pekerjaan yang harus diselesaikan.
Sementara dirinya sudah merasa pegal karena terus mempertahankan senyum.
Bagaimana dia bisa setenang itu? pikir Alisha.
Fotografer kembali mengangkat kamera.
"Kali ini, jangan langsung melihat kamera. Pak Adrian, lihat Bu Alisha terlebih dahulu."
Adrian menoleh kepada Alisha.
"Bu Alisha, Anda juga bisa melihat suami Anda."
Alisha perlahan mengangkat wajahnya.
Tatapan mereka bertemu.
Adrian memiliki tatapan yang tenang dan sulit ditebak. Tidak ada senyum lebar di wajahnya, tetapi dia juga tidak menunjukkan ketidaksabaran.
Alisha mencoba membalas tatapan itu.
Satu detik.
Dua detik.
Kemudian dia buru-buru mengalihkan pandangan.
"Maaf," gumamnya.
Fotografer menurunkan kamera.
"Tidak apa-apa, Bu. Kita coba lagi."
Adrian sedikit memiringkan kepalanya ke arah Alisha.
"Kalau tidak nyaman, lihat saja ke arah bahuku," bisiknya.
Alisha menoleh.
"Apa?"
"Kalau kamu kesulitan menatap kamera atau merasa canggung, lihat ke arah bahuku saja. Dari depan, hasilnya mungkin tetap terlihat seperti kamu sedang menatap saya."
Alisha terdiam.
Dia tidak menyangka Adrian akan memberikan saran seperti itu.
"Memangnya boleh?" tanyanya pelan.
"Selama fotografer tidak keberatan."
Alisha menahan senyum.
"Baiklah."
Fotografer kembali mengambil beberapa gambar.
Kali ini, Alisha mengikuti saran Adrian. Dia tidak lagi memaksakan diri untuk terus menatap mata laki-laki itu.
Hasilnya ternyata lebih baik.
"Bagus! Nah, seperti itu!" seru fotografer.
Alisha mengembuskan napas lega.
Setidaknya, satu bagian dari sesi foto itu berhasil dilewati.
Namun, dia belum tahu bahwa masih banyak pose lain yang harus mereka lakukan.
---
Setelah beberapa foto diambil, fotografer mengajak mereka berpindah ke sisi lain ruangan.
Di sana terdapat sebuah sofa berwarna krem dengan dekorasi bunga putih di kedua sisinya. Tirai berwarna lembut menjadi latar belakang, membuat tempat itu terlihat cocok untuk foto pasangan pengantin.
"Untuk pose berikutnya, Bu Alisha duduk di sofa. Pak Adrian berdiri di sampingnya."
Alisha berjalan menuju sofa dan duduk dengan hati-hati. Dia merapikan bagian bawah gaunnya agar tidak terlipat.
Adrian berdiri di samping sofa dengan kedua tangan berada di sisi tubuhnya.
Fotografer memperhatikan posisi mereka.
"Pak Adrian, bisa sedikit mendekat?"
Adrian menggeser kakinya.
"Sedikit lagi, Pak."
Adrian kembali mendekat.
"Ya, seperti itu."
Fotografer mengarahkan kameranya kepada mereka.
"Bu Alisha, silakan melihat ke arah kamera. Pak Adrian, Anda bisa melihat Bu Alisha."
Adrian mengikuti arahan tersebut.
Alisha berusaha tersenyum.
"Bagus. Sekarang, Bu Alisha, Anda bisa memegang tangan Pak Adrian."
Senyum Alisha perlahan menghilang.
Dia menatap tangan Adrian yang berada di samping tubuhnya.
Untuk beberapa saat, dia ragu.
Adrian menyadari hal itu.
Dia mengulurkan tangannya sedikit, memberikan kesempatan kepada Alisha untuk menentukan sendiri apakah dia ingin menyambutnya.
Alisha akhirnya meletakkan tangannya di tangan Adrian.
Jari-jari mereka bersentuhan.
Alisha kembali merasa canggung.
Sentuhan itu sebenarnya tidak memiliki arti khusus. Mereka hanya sedang mengikuti arahan fotografer.
Namun, tetap saja, Alisha belum terbiasa melakukan hal-hal semacam itu bersama Adrian.
"Bagus," ujar fotografer. "Sekarang, kalian saling melihat."
Alisha mengangkat wajah.
Adrian menoleh kepadanya.
"Bagus. Sekarang tersenyum sedikit."
Alisha berusaha mempertahankan senyumnya.
Adrian menunjukkan perubahan tipis pada ekspresinya.
Fotografer mengambil gambar, kemudian memeriksa hasilnya.
"Pak Adrian, boleh tersenyum sedikit lagi?"
Adrian menatapnya.
"Saya sudah tersenyum."
Ruangan itu mendadak hening selama satu detik.
Alisha langsung menundukkan kepala.
Dia berusaha keras menahan tawa yang hampir keluar dari mulutnya.
Fotografer menatap Adrian, lalu melirik layar kameranya.
"Baiklah, Pak. Kalau begitu, kita pertahankan senyum itu."
Adrian tidak memberikan tanggapan.
Dia kembali menghadap kamera seolah tidak ada sesuatu yang lucu dalam percakapan tadi.
Sementara itu, Alisha masih berusaha mengendalikan tawanya.
Dia baru menyadari bahwa Adrian memang memiliki cara bicara yang sangat serius, bahkan ketika menjawab sesuatu yang sebenarnya bisa ditanggapi dengan santai.
"Bu Alisha, ada yang lucu?" tanya fotografer.
Alisha segera menggeleng.
"Tidak."
"Kalau begitu, kita lanjutkan."
Alisha mengangguk cepat.
Adrian meliriknya.
"Kamu tertawa?"
Alisha menoleh kepadanya.
"Tidak."
"Tadi kamu hampir tertawa."
Alisha menahan senyum.
"Karena jawabanmu."
"Apa yang salah dengan jawaban saya?"
Alisha terdiam.
Dia tidak mungkin mengatakan bahwa suaminya terdengar lucu ketika mengaku sudah tersenyum, padahal ekspresinya hampir tidak berubah.
"Tidak ada," jawabnya akhirnya.
Adrian memandangnya sebentar sebelum kembali menghadap kamera.
"Kalau begitu, lanjutkan saja."
Alisha kembali menunduk, kali ini benar-benar berusaha menahan senyum.
Entah mengapa, percakapan singkat itu membuat suasana terasa sedikit lebih ringan.
Bukan karena mereka tiba-tiba menjadi dekat.
Hanya saja, untuk pertama kalinya sejak acara pernikahan dimulai, Alisha merasa tidak terlalu tertekan ketika berada di samping Adrian.
---
"Baik, untuk pose terakhir, saya ingin kalian berdiri berhadapan."
Alisha kembali berdiri di samping Adrian.
Dia mulai merasa lelah, tetapi berusaha tidak menunjukkannya.
Fotografer mengarahkan mereka ke tengah ruangan.
"Silakan saling berhadapan."
Adrian berbalik menghadap Alisha.
Alisha melakukan hal yang sama.
"Bagus. Sekarang, Pak Adrian, pegang kedua tangan Bu Alisha."
Adrian mengulurkan kedua tangannya.
Alisha menyambutnya dengan gerakan perlahan.
Mereka berdiri berhadapan, sementara fotografer memperhatikan posisi mereka.
"Bu Alisha, lihat wajah suami Anda."
Alisha mengangkat pandangan.
"Pak Adrian, tatap mata istri Anda."
Adrian mengikuti instruksi itu.
Fotografer tersenyum puas.
"Nah, seperti itu. Sekarang saya ingin kalian terlihat lebih dekat. Pak Adrian bisa sedikit menunduk, sementara Bu Alisha mengangkat wajah."
Alisha langsung merasa gugup lagi.
Dia mengangkat wajahnya sedikit.
Adrian menunduk seperlunya.
Jarak di antara mereka kini cukup dekat untuk membuat Alisha sadar bahwa dia sedang berdiri tepat di hadapan suaminya sendiri.
"Bagus," ujar fotografer. "Pertahankan posisi itu."
Alisha mencoba tersenyum.
Namun, semakin lama dia menatap Adrian, semakin sulit baginya untuk mempertahankan ekspresi santai.
Adrian menyadari perubahan pada wajahnya.
"Jangan terlalu dipaksakan," bisiknya.
Alisha menatapnya sebentar.
"Apa?"
"Senyummu. Kalau dipaksakan, wajahmu justru terlihat semakin tegang."
Alisha menahan napas sejenak.
Dia sedang berusaha mengikuti arahan fotografer, tetapi suaminya malah mengomentari senyumnya.
"Aku sedang berusaha," bisiknya kembali.
"Saya tahu."
"Kalau begitu, jangan mengganggu konsentrasiku."
Adrian terdiam.
Alisha juga terdiam setelah menyadari apa yang baru saja dikatakannya.
Dia baru saja menyuruh suaminya sendiri untuk tidak mengganggu konsentrasinya di tengah sesi foto pernikahan mereka.
Namun, Adrian tidak terlihat tersinggung.
Dia hanya menjawab singkat.
"Baik."
Alisha hampir tertawa lagi.
Kali ini, senyumnya muncul dengan sendirinya.
Fotografer segera mengangkat kamera.
"Bagus! Jangan bergerak!"
Suara kamera terdengar beberapa kali.
Fotografer kemudian menurunkan kamera dan memeriksa hasilnya.
"Ini salah satu foto terbaik hari ini."
Alisha mengembuskan napas lega.
"Syukurlah."
Adrian melepaskan tangannya setelah fotografer menyatakan sesi tersebut selesai.
"Sudah selesai?" tanyanya.
"Sudah, Pak. Terima kasih. Foto-fotonya akan diproses terlebih dahulu."
Adrian mengangguk.
"Baik."
Alisha hampir merasa ingin berterima kasih kepada fotografer karena telah mengakhiri sesi itu.
Berdiri di depan kamera ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang dibayangkannya.
Terlebih lagi, dia harus berpose seolah-olah memiliki hubungan yang dekat dengan laki-laki yang baru saja resmi menjadi suaminya.
Ketika mereka berjalan meninggalkan area pemotretan, Alisha tanpa sadar menghela napas panjang.
Adrian menoleh.
"Capek?"
"Sedikit."
"Kalau begitu, istirahatlah setelah kita sampai di rumah."
Alisha mengangguk.
"Iya."
Percakapan mereka kembali berhenti.
Namun, kali ini keheningan itu tidak terasa seberat sebelumnya.
---
Daniel sedang berdiri di dekat pintu ketika Adrian dan Alisha selesai menjalani sesi foto.
"Pak, Bu Alisha, semuanya sudah selesai?"
Adrian mengangguk.
"Sudah."
Daniel tersenyum sopan kepada Alisha.
"Kalau begitu, saya akan memastikan kendaraan sudah siap."
"Terima kasih, Daniel," jawab Alisha.
Daniel mengangguk sebelum beranjak pergi.
Dia tahu bahwa pernikahan ini tidak berlangsung karena cinta. Namun, dia juga memahami bahwa selama keduanya menjalankan kesepakatan mereka, tidak ada alasan baginya untuk mencampuri urusan pribadi mereka.
Beberapa menit kemudian, Adrian dan Alisha berpamitan kepada keluarga.
Ratna Mahendra menghampiri mereka dengan senyum hangat.
"Alisha, bagaimana sesi fotonya?"
Alisha tersenyum kecil.
"Lumayan, Tante."
"Lumayan?" Ratna mengangkat alis. "Bukankah kalian seharusnya menikmati sesi foto itu?"
Alisha tidak langsung menjawab.
Dia melirik Adrian sebentar.
Ratna mengikuti arah pandangannya, lalu tersenyum seolah memahami sesuatu.
"Ah, kalian mungkin masih malu-malu."
Alisha hanya tersenyum canggung.
Adrian tidak menanggapi perkataan ibunya.
Ratna kemudian memeluk Alisha dengan hangat.
"Jangan lupa istirahat setelah sampai di rumah, ya."
"Iya, Tante."
Ratna beralih kepada Adrian.
"Jangan langsung sibuk bekerja begitu sampai di rumah."
Adrian menghela napas kecil.
"Ma, saya hanya perlu memeriksa beberapa hal."
"Adrian."
"Iya, Ma. Saya mengerti."
Ratna menggeleng pelan, tetapi akhirnya membiarkan putranya pergi.
Hendrik Mahendra yang sejak tadi berdiri di dekat istrinya hanya tersenyum melihat percakapan mereka.
"Hati-hati di jalan," katanya.
Adrian mengangguk.
Setelah berpamitan, Adrian dan Alisha berjalan menuju kendaraan yang akan membawa mereka pulang.
---
Perjalanan menuju rumah berlangsung cukup tenang.
Alisha duduk di kursi penumpang sambil memandang keluar jendela. Sesekali, dia mengubah posisi duduk karena tubuhnya masih terasa pegal setelah mengenakan gaun pengantin selama berjam-jam.
Adrian memperhatikan jalan dengan saksama.
Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya dia membuka suara.
"Kamu lapar?"
Alisha menoleh.
"Sedikit."
"Kamu ingin makan sesuatu sebelum sampai di rumah?"
Alisha berpikir sejenak.
"Tidak perlu. Nanti saja setelah sampai."
Adrian mengangguk.
"Baik."
Percakapan itu kembali berhenti.
Alisha memandang jalanan di luar, kemudian melirik Adrian sekilas.
Dia masih belum terbiasa dengan kenyataan bahwa laki-laki yang sedang menyetir di sampingnya itu sekarang adalah suaminya.
Mereka tidak pernah menjalani masa pacaran.
Tidak ada kencan pertama, tidak ada percakapan panjang tentang kesukaan masing-masing, dan tidak ada kenangan romantis yang bisa mereka ceritakan kembali.
Yang mereka miliki hanyalah beberapa pertemuan, keputusan yang telah disepakati, dan sebuah pernikahan yang kini sudah terlaksana.
Alisha mengalihkan pandangan ke jendela.
Dia tidak ingin terlalu banyak memikirkan sesuatu yang belum bisa dijawabnya.
Untuk sementara, dia hanya perlu menjalani hari-harinya dengan baik.
---
Ketika mobil memasuki halaman rumah Adrian, Alisha memperhatikan bangunan besar di hadapannya.
Dia pernah datang ke rumah itu sebelumnya, tetapi kali ini perasaannya berbeda.
Mulai hari ini, tempat itu juga akan menjadi rumahnya.
Adrian memarkir mobil, lalu turun lebih dahulu.
Dia membuka pintu untuk Alisha.
"Hati-hati."
Alisha turun sambil membawa tas kecilnya.
"Terima kasih."
Mereka berjalan memasuki rumah.
Beberapa pegawai rumah menyambut dengan sopan. Salah seorang dari mereka kemudian membantu membawa barang-barang Alisha ke lantai dua.
Adrian berhenti di ruang tengah.
"Kamar kamu sudah disiapkan."
Alisha menoleh.
"Kamar saya?"
Adrian mengangguk.
"Ya. Daniel sudah mengatur semuanya. Kamu bisa beristirahat di sana."
Alisha mengangguk pelan.
"Baik."
Adrian melanjutkan penjelasannya.
"Kamar saya berada di bagian lain lantai ini. Kalau ada keperluan rumah yang perlu diurus, kamu bisa menghubungi Daniel."
Alisha memahami maksudnya.
Mereka akan tinggal di rumah yang sama, tetapi tetap memiliki kamar masing-masing.
Hal itu memang sudah mereka sepakati sejak awal.
"Baik, Adrian."
"Kalau begitu, saya akan ke ruang kerja."
Alisha mengangguk.
"Iya."
Adrian berjalan meninggalkan ruang tengah tanpa menunggu jawaban lain.
Alisha memperhatikan punggung suaminya sampai menghilang di balik pintu ruang kerja.
Dia kemudian mengembuskan napas panjang.
Tidak ada yang salah dengan sikap Adrian. Laki-laki itu hanya memperlakukan segala sesuatu dengan cara yang praktis, termasuk pernikahan mereka.
Namun, Alisha tidak bisa menyangkal bahwa berada di rumah besar itu masih terasa asing.
Dia mengambil tasnya dan berjalan menuju kamar yang telah disiapkan.
Kamar tersebut cukup luas, dengan tempat tidur besar, lemari pakaian, meja kecil, dan jendela yang menghadap taman.
Alisha meletakkan tas di atas kursi, kemudian memeriksa beberapa barang yang telah disusun di dalam lemari.
Semuanya sudah dipersiapkan dengan rapi.
Dia duduk di tepi tempat tidur dan mengamati sekeliling kamar.
Mulai malam ini, dia akan tidur di kamar itu seorang diri.
Sementara Adrian akan beristirahat di kamar pribadinya sendiri.
Alisha merasa sedikit lega karena mereka tidak harus langsung berbagi ruang pribadi ketika masih sama-sama menyesuaikan diri.
Dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi ibunya.
Panggilan itu segera dijawab.
"Alisha?"
"Iya, Bu."
"Bagaimana acaranya tadi?"
Alisha tersenyum.
"Semuanya berjalan lancar."
"Syukurlah. Kamu sudah sampai di rumah?"
"Sudah, Bu."
Ratih terdengar lega.
"Kalau begitu, kamu istirahat saja. Jangan terlalu lelah."
"Iya. Ibu juga harus istirahat."
Ratih terdiam sebentar sebelum kembali berbicara.
"Alisha, Ibu cuma ingin kamu ingat satu hal."
Alisha duduk lebih tegak.
"Apa, Bu?"
"Walaupun sekarang kamu sudah menikah, jangan lupa menjaga dirimu sendiri. Tetaplah menjadi dirimu yang Ibu kenal."
Alisha menggenggam ponselnya sedikit lebih erat.
"Iya, Bu."
"Kalau ada masalah, jangan selalu dipendam sendiri."
Alisha menunduk.
Dia tidak ingin membuat ibunya khawatir, apalagi ketika kondisi Ratih masih dalam masa pemulihan.
"Iya. Ibu jangan terlalu memikirkan aku. Fokus saja untuk sembuh."
Ratih tertawa pelan.
"Kamu ini selalu begitu."
Alisha ikut tertawa kecil.
Mereka berbincang beberapa menit sebelum akhirnya mengakhiri panggilan.
Setelah meletakkan ponselnya, Alisha merebahkan tubuh di atas tempat tidur.
Hari ini terasa panjang.
Dia telah menikah, bertemu banyak orang, menjalani acara resmi, dan berpose di depan kamera bersama seorang laki-laki yang kini menyandang status sebagai suaminya.
Namun, setelah semuanya selesai, kehidupannya tidak langsung berubah menjadi seperti cerita romantis yang sering dibacanya.
Tidak ada suami yang duduk di samping tempat tidurnya untuk menanyakan bagaimana perasaannya.
Tidak ada percakapan panjang sebelum tidur.
Adrian bahkan sudah kembali bekerja di ruang kerjanya.
Alisha tidak merasa berhak menuntut lebih.
Dia sudah mengetahui sejak awal bahwa Adrian adalah laki-laki yang mengutamakan tanggung jawab dan pekerjaannya.
Untuk sekarang, dia hanya ingin menyesuaikan diri dengan rumah itu, tetap bekerja, dan memastikan ibunya mendapatkan perawatan terbaik.
---
Di ruang kerja, Adrian membuka laptopnya.
Beberapa dokumen sudah menunggu untuk diperiksa.
Dia melepas jam tangannya, meletakkannya di atas meja, lalu mulai membaca laporan yang dikirimkan oleh tim perusahaan.
Ponselnya bergetar beberapa kali karena pesan pekerjaan.
Adrian membalas pesan yang penting, kemudian kembali menatap layar laptop.
Pernikahan telah selesai.
Sekarang, dia kembali pada rutinitasnya.
Namun, ketika hendak mengambil segelas air, Adrian sempat teringat ekspresi Alisha selama sesi foto tadi.
Perempuan itu terlihat begitu gugup ketika fotografer memintanya berdiri lebih dekat.
Bahkan, dia beberapa kali kesulitan mempertahankan senyumnya.
Adrian mengembuskan napas pelan.
Dia memahami bahwa keadaan ini mungkin tidak mudah bagi Alisha.