NovelToon NovelToon
Istriku Akhirnya Setuju Bercerai

Istriku Akhirnya Setuju Bercerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Diam-Diam Cinta
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Selama 365 hari, Arga hanya memiliki satu tujuan: menceraikan Nisa.
​Terjebak dalam perjodohan keluarga yang tak diinginkannya, Arga secara sepihak menganggap pernikahan mereka tak lebih dari sekadar "kontrak". Baginya, Nisa hanyalah penghalang yang merampas kebebasannya untuk bersama Adelia—satu-satunya wanita yang benar-benar ia cintai. Segala sikap dingin, pengabaian, hingga wacana perpisahan Arga lemparkan demi membuat Nisa menyerah.
​Dan malam itu, doa Arga terkabul.
​Sadar bahwa memperebutkan hati pria yang jelas-jelas dimiliki wanita lain adalah sebuah kesia-siaan, Nisa akhirnya berhenti berjuang. Tanpa air mata, tanpa perdebatan, dan tanpa drama, ia menandatangani surat cerai itu dan melangkah pergi membawa sisa harga dirinya.
Anehnya, saat keinginannya benar-benar terkabul, Arga justru menyadari satu hal. Dia tak bisa hidup tanpa Nisa.
​

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Makan malam keluarga itu diwarnai dengan denting sendok yang beradu dengan piring keramik, diselingi tawa hangat yang memenuhi ruang makan. Namun, suasana santai itu mendadak berubah sedikit serius ketika Mami Kintan meletakkan sendoknya. Wanita paruh baya itu menatap Arga dan Nisa secara bergantian dengan senyum penuh harap.

"Kalian ini sudah setahun menikah, lho. Rumah sebesar ini rasanya terlalu sepi kalau cuma diisi kalian berdua," ucap Mami lembut, membuka topik yang seketika membuat tangan Arga membeku di atas piringnya. "Mami dan Papi rasa... sudah saatnya kalian memberi kami cucu."

Mendengar kata 'cucu', Kakek yang duduk di ujung meja langsung meletakkan cangkir tehnya. Matanya yang mulai rabun tiba-tiba memancarkan binar antusias yang luar biasa.

"Benar kata ibumu, Ga," timpal Kakek, suaranya yang serak bergetar karena semangat. Pria sepuh itu menatap Nisa lekat-lekat. "Kakek ini sudah bau tanah, umurnya tidak akan lama lagi. Sebelum Kakek menutup mata selamanya, Kakek sangat berharap bisa menggendong cicit dari kalian. Nisa... Kakek titip harapan besar sama kamu, ya, Nduk."

Arga menelan ludah dengan susah payah. Sepotong daging sapi di kerongkongannya mendadak terasa seperti kerikil tajam. Rasa bersalah dengan cepat menggulung hatinya. Berulang kali mata pria itu mencuri pandang ke arah Nisa yang duduk tenang di sebelahnya.

Arga cemas. Ia berusaha mencari tahu bagaimana reaksi wanita yang siang tadi menolak mentah-mentah kalung berlian darinya itu. Apakah Nisa akan menangis? Ataukah wanita itu akan muak dan membeberkan rahasia perceraian mereka di meja ini sekarang juga?

Namun, ketakutan Arga tidak terjadi.

Nisa mengambil serbet, mengelap sudut bibirnya dengan anggun. Tidak ada raut amarah atau kesedihan di wajah cantiknya. Wanita itu menoleh menatap Kakek, lalu tersenyum sangat lembut.

"Nisa dan Mas Arga belum diberi rezeki, Kek," jawab Nisa tenang, suaranya mengalun sopan dan menyejukkan hati. "Mohon doanya saja, ya. Mungkin Tuhan merasa Nisa belum siap memikul tanggung jawab sebesar itu sekarang."

Papi Tommy mengangguk maklum, tersenyum kebapakan. "Tidak apa-apa, Nak. Jangan dijadikan beban pikiran. Papi dan Mami sangat mengerti. Jangan stres, yang penting kalian berdua rukun dan saling menyayangi."

Dada Arga berdesir nyeri mendengar kata 'rukun dan saling menyayangi'. Kebohongan ini perlahan-lahan menggerogoti kewarasannya.

Tiga jam kemudian, pintu kamar utama tertutup rapat. Kehangatan ruang keluarga tertinggal di luar, digantikan oleh hawa dingin pendingin ruangan yang mencekam.

Nisa berjalan tanpa suara menuju sofa di sudut kamar, mengambil bantal dan memeluknya.

"Nis," panggil Arga. Ia berdiri kaku di sisi ranjang, menatap punggung rapuh istrinya lekat-lekat.

Langkah Nisa terhenti. Ia tidak menoleh. "Ya?"

"Soal obrolan di meja makan tadi..." Arga menelan ludah, suaranya terdengar ragu namun didorong oleh sebuah keputusasaan yang tak terjelaskan. "Kakek, Papi dan Mami sangat menginginkan cucu dari kita."

Nisa membalikkan badannya. Ia menatap Arga dengan sebelah alis terangkat, menunggu pria itu melanjutkan kalimatnya.

"Mungkin... mungkin perceraian kita sebaiknya dipikirkan ulang, Nis," ucap Arga pelan, memangkas jarak satu langkah mendekati istrinya. "Bagaimana kalau kita membatalkan perceraian itu, dan... kita kabulkan keinginan mereka? Kita beri Kakek seorang cicit."

Mata Nisa sedikit melebar. Selama beberapa detik ia terdiam, menatap suaminya seolah pria itu baru saja menumbuhkan dua tanduk di kepalanya. Lalu, perlahan, sebuah senyum sinis yang teramat pedih terukir di bibirnya.

"Kamu gila, Mas," desis Nisa pelan, menggelengkan kepalanya tak percaya. "Kamu menganggap anak itu apa? Mainan boneka untuk menyenangkan hati orang tuamu?"

"Bukan begitu maksudku, Nis—"

"Lalu apa?!" Nisa menyela tajam, suaranya tertahan namun bahunya bergetar hebat menahan luapan emosi. "Kamu mau kita membawa satu nyawa tak berdosa ke tengah pernikahan yang hancur lebur ini? Hanya demi membuat Kakek tersenyum?!"

Nisa mencengkeram erat bantal di dekapannya. "Memiliki anak bukan pilihan yang tepat, Mas! Apalagi jika niatnya hanya untuk menyenangkan keluargamu. Lantas, bagaimana dengan perasaan anak itu sendiri nanti? Saat dia tumbuh besar dan sadar kalau ayahnya sama sekali tidak pernah mencintai ibunya, apa yang akan dia pikirkan? Kamu mau mewariskan luka batin seumur hidup untuk darah dagingmu sendiri?!"

Arga terbungkam. Rentetan kalimat Nisa menamparnya tepat di ulu hati.

"Dan jika pada akhirnya kepura-puraan ini tidak bisa dipertahankan, lalu kita tetap bercerai... apa yang akan terjadi dengan nasib anak itu?" lanjut Nisa, air matanya mulai menggenang di pelupuk, memantulkan kepedihan yang luar biasa, namun ia menolak keras untuk membiarkannya jatuh. "Dia harus hidup mondar-mandir antara rumah ayah dan ibunya. Haruskah dia mendapatkan ibu atau ayah tiri kelak?"

Nisa maju selangkah, menunjuk dada Arga dengan telunjuknya yang bergetar. "Di luar sana, Mas, banyak sekali ibu dan ayah tiri yang tidak bisa menerima anak bawaan dari pasangan mereka! Mereka disiksa secara mental, diabaikan, dibuang! Dan... Aku tidak akan pernah membiarkan anakku kelak merasakan penderitaan dan ketakutan seperti itu. Tidak akan pernah!"

Napas Arga memburu. Ketakutan luar biasa yang memancar dari sepasang mata Nisa menyadarkannya betapa dalam trauma yang telah ia ciptakan di hati wanita itu. Insting keibuan Nisa bahkan telah melindungi seorang anak yang belum pernah ada.

Arga melangkah maju, membuang seluruh gengsi dan arogansinya malam itu.

"Kalau begitu, kita tidak usah berpisah," ucap Arga cepat. Nadanya terdengar memohon, nyaris putus asa. "Bagaimana kalau kita nggak usah bercerai selamanya, Nis? Kita tetap bersama. Aku berjanji... aku berjanji tidak akan ada perceraian. Anak itu akan tumbuh dengan keluarga yang utuh."

Ruangan itu mendadak hening. Deru mesin pendingin ruangan terasa mendengung di telinga Arga, menemani detak jantungnya yang berdebar tak karuan menunggu jawaban Nisa.

Nisa mematung. Matanya menatap Arga lekat-lekat, menelisik setiap inci wajah pria yang baru saja meruntuhkan arogansinya itu. Tidak ada binar bahagia di wajah Nisa saat mendengar permohonan suaminya. Ia membuang napas panjang yang terdengar sangat lelah.

Nisa diam cukup lama, membiarkan keheningan mencekik leher Arga, sebelum akhirnya membalas ucapan suaminya dengan suara yang sangat tenang namun sanggup menghentikan detak jantung Arga seketika.

"Kalau kita nggak bercerai selamanya..." Nisa menjeda kalimatnya, menatap lurus menembus dasar manik mata Arga, "...Adelia mau kamu apakan, Mas?"

1
Bella. pr1ncess
males thor kalau nisa mau kembali sama arga padahal kan arga udah berzina sama adel kenapa tidak ada tokoh wanita yg trgas disetiap cerita sih. yg ada hanya wanita yg mengalah menye menye bosan
Bella. pr1ncess
tolong jangan k mbalikan nisa sama arga thor kalau nnti nisa balek sama arag aku udah gak minat baca
Bella. pr1ncess
bangkitlah nisa kamu masih muda jemputlah takdirmu sendiri lepaskan bebanmu semoga kamu sudah tidak mau kembali pada laki2 durjana seperti arga
Bella. pr1ncess
heh laki2 bulshit dia yg minta cerai setelah nisa mengabulkan malah marah memang laki2 hanya kamu semoga nisa vertemu laki2 baik setelah berpisah dari arga
Bella. pr1ncess
bagus nisa jadilah wanita yg tegar jangan menye2 raihlah bahagiamu sendiri jangan terus mau diinjak lelaki durjana
Turi77 Turi77
Next selanjutnya thor 🥰
merry
jgn mau rujuk nisa laki murahan kyk segala gk pnts di perjuangkan,,
Adinda
bongkar aja lngsung sama keluarganya arga jangn mau dimanfaatin
Turi77 Turi77
skrng Arga bkn,suami km lg Nisa dri pda menutupi lbh baik jujur apapun kondisi Kakek Arga,
biar kedua orang tuanya thu kelakuannya selama mnjdi suami km nis😡
Mundri Astuti
ancem aja nis....kamu beberin selingkuhan Arga klo ga ngomong sama keluarganya
ryuka
baguussss.. dijamin seruu..
aku suka karya2 mu thoorrr
semangat berkarya terus ya thorrrr
ryuka
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥 semangat nisaa 👍👍👍👍👍
Aidil Kenzie Zie
bagus Nis harus tegas👍🏻👍🏻👍🏻
Adinda
buat keluarga arga tau biar arga dimiskinkan biar belang pelakor ketahuan
Turi77 Turi77
Alhamdulillah akhirnya cerai jga, semoga setelah ini hari mu selalu bahagia lahirdan batin Nisa 🫰🥰....janda rasa perawan mkn kedepan 🥰🥰🥰💪💪💪
MamDeyh
Nahhhhh mantaap ortu sama kakek nya dtg
ryuka
kamu ga akan pernah menang batu kali/Puke//Puke//Puke//Puke//Puke/
Sri Widiyarti
Alhamdulillah ketahuan....
Enz99
Bagus
Heni Fitoria
nah lho ketahuan....
asyik....
hajar Bu, Pak anakmu perlu dikasih pelajaran klu perlu usir dr rumah , sita semua aset si Arga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!