NovelToon NovelToon
Isteri Sah Di Balik Bayangan

Isteri Sah Di Balik Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: christinsenia seranica

**Isteri Sah di Balik Bayangan**

Sepuluh tahun menikah, Aina, PNS di Kantor Camat Pujut, Lombok Tengah, akhirnya hamil. Ia berniat memberi kejutan pada suaminya, Lalu Raka. Namun di dekat Pantai Kuta Mandalika, ia justru melihat Raka menggendong seorang bocah yang memanggilnya "Bapak", ditemani wanita bernama Baiq Sekar.

Hari itu juga, dari data kependudukan yang setiap hari ia urus, Aina menemukan kebenaran paling pahit: Sekar adalah istri pertama. Selama ini, dialah istri kedua yang hidup di balik bayangan.

Bertahan dalam kebohongan, atau pergi membawa buah hati yang telah lama ia nantikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Laporan dari Rumah Sekar

"Bu Aina? Ibu masih di sana?"

Suara Pak Mahsun menyadarkan Aina. Ia baru sadar bahwa sejak tadi ia hanya diam, menatap sawah tembakau tanpa benar-benar melihatnya.

"Masih Pak," jawabnya pelan. "Maaf,Saya hanya terkejut."

"Saya mengerti." Pak Mahsun menghela napas. "Dengarkan saya baik-baik, Bu. Laporan ini memang serius, tetapi Ibu tidak perlu panik. Laporan Ibu masuk lebih dahulu, lengkap dengan bukti dan keterangan tertulis dari Saudara Raka. Semua itu sudah ada di kabupaten. Senin nanti, Ibu cukup menjelaskan apa adanya."

"Baik, Pak. Terima kasih."

"Satu lagi. Siapkan saksi kalau ada. Orang yang bisa menjelaskan bahwa Ibu benar-benar tidak tahu tentang pernikahan pertama suami Ibu."

Sambungan terputus. Aina menurunkan ponselnya perlahan.

Di berugak, semua orang menatapnya. Tawa Raka sudah hilang. Inaq Sumi berhenti bercerita. Bahkan Lale Rukmini, yang sejak tadi menunduk, kini mengangkat wajahnya.

"Ada apa, Na?" tanya Raka.

Aina menceritakan isi telepon itu dengan suara yang ia usahakan tetap tenang. Pemeriksaan pada hari Senin. Laporan baru dan nama pelapornya.

Ketika nama Lalu Mustiadi disebut, wajah Raka berubah pucat.

"Mamik Sekar?" Ia berdiri dari berugak. "Tidak mungkin. Sekar tidak akan membiarkan ayahnya melakukan itu."

"Mungkin Sekar tidak tahu," kata Hamdan. Ia mendekat dengan wajah serius. "Yang jelas, laporan itu sekarang sudah tercatat. Kita harus menyiapkan jawaban."

Lale Rukmini bangkit perlahan. "Mustiadi bukan orang yang suka berbuat sesuatu tanpa perhitungan," katanya. "Aku sudah mengenalnya lebih dari dua puluh tahun. Kalau dia melapor secepat ini, pasti ada alasannya."

"Alasannya jelas Ibu," sahut Raka. "Dia marah karena aku menyakiti anaknya."

Lale Rukmini menggeleng. "Kalau dia hanya marah padamu, dia akan melaporkanmu. Bukan Aina."

Kalimat itu membuat semua orang terdiam.

Inaq Sumi meraih tangan Raka dan menggenggamnya. "Bayu, telepon istrimu yang pertama. Tanyakan baik-baik. Jangan dengan marah."

Raka menatap ibunya sejenak, lalu mengangguk. Ia mengeluarkan ponsel dan berjalan menjauh ke dekat pagar bambu.

Aina tidak bisa mendengar percakapan itu. Ia hanya bisa melihat Raka dari kejauhan. Mula-mula Raka berbicara pelan. Lalu ia diam lama, mendengarkan. Lalu tangannya yang bebas memegang kepalanya, seolah menahan sesuatu yang terlalu berat.

Lima menit kemudian, Raka kembali ke berugak. Wajahnya lebih pucat daripada sebelumnya.

"Sekar tidak tahu," katanya. "Dia baru tahu sekarang, dari aku. Dia menangis. Dia bilang dia sudah memberi tahu ayahnya bahwa dia tidak menyalahkan Aina sedikit pun."

"Lalu kenapa ayahnya tetap melapor?" tanya Ibu Aina.

Raka menggeleng. "Sekar juga tidak mengerti. Dia minta bertemu. Malam ini, di rumah kita di Sengkol, Na. Kalau kamu mengizinkan."

Aina berpikir sejenak. Tubuhnya lelah. Dokter memintanya beristirahat dan menghindari tekanan. Tetapi ia tahu, pertemuan ini tidak bisa ditunda.

"Suruh dia datang," katanya akhirnya.

Sebelum mereka pamit, Inaq Sumi memeluk Raka lama sekali. Ia berbisik sesuatu di telinga anaknya yang membuat Raka mengangguk sambil menahan tangis. Lalu perempuan tua itu memeluk Aina dan mengusap perutnya sekali lagi.

"Datanglah lagi," pesannya. "Bawa cucuku nanti kalau dia sudah lahir. Aku akan menunggu. Aku sudah terbiasa menunggu."

Setelah itu, Rombongan itu pun meninggalkan halaman rumah ibu Sumiati. Sepanjang perjanan tampak hening, Tak sepatah kata pun yang keluar dari mulut rombongan itu. Jarak dari Kawo ke sengkol tidak terlalu jauh, Hanya butuh beberapa menit untuk sampai. Beberapa menit setelahnya mobil yang dikemudikan Hamdan itu telah sampai didepan halaman rumah Aina. Mereka sampai disana saat matahari sudah terbenam.

Didepan halaman rumah itu terlihat seorang wanita yang mengenakan gamis sederhana dan kerudung hitam tengah berdiri didepan sebuah mobil. Wanita itu tidak lain dan tidak bulan adalah Sekar isteri pertama Raka. Dari kejauhan mata Sekar terlihat sembap, dan wajahnya tampak lelah. Di tangannya ada sebuah map plastik berwarna merah.

Arsya tidak ikut. Sekar menitipkannya di rumah adiknya.

Lalu Aina pun segera turun dari mobil itu kemudian berjalan menghampiri Sekar.

"Ayo masuk kedalam!" Ujar Aina tampak mempersilahkan Sekar untuk masuk kedalam

Didalam rumah itu, Kedua perempuan itu saling menatap sejenak. Lalu tanpa banyak kata Sekar memeluk Aina.

"Maafkan aku," bisiknya. "Aku benar-benar tidak tahu ayahku akan melakukan ini."

"Aku percaya," jawab Aina.

Setelah itu keduanya terlihat duduk ruang tamu. Disana juga terlihat Hamdan bersama Raka yang duduk disebelah Sekar. Kemudian terlihat Ibu Aina menyiapkan teh hangat di dapur. Sementara Lale Rukmini memilih pulang ke Kuta. Ia berkata tidak pantas hadir dalam urusan ini.

Sekar duduk di kursi rotan. Ia meletakkan map merah itu di atas meja, tetapi belum membukanya.

"Tadi siang, setelah Abang menelepon, aku langsung ke rumah orang tuaku," katanya. "Aku bertanya kepada Mamik kenapa dia melaporkan Aina. Aku bilang Aina juga korban. Aku bilang aku sendiri yang menemui Aina di Tanjung Aan."

"Apa jawabannya?" tanya Hamdan.

"Mamik marah besar. Dia bilang aku bodoh. Dia bilang aku tidak mengerti apa-apa." Suara Sekar bergetar. "Dia bilang kalau Aina tidak segera diberhentikan dan pergi dari Lombok, nama keluarga kami akan hancur."

"Nama keluarga kalian?" Aina mengerutkan dahi. "Kenapa nama keluargamu yang hancur? Aku tidak pernah menyebut keluargamu dalam laporanku."

Sekar menunduk. Tangannya meremas ujung kerudung.

"Aku juga bertanya begitu. Tapi Mamik tidak mau menjawab. Dia langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu." Ia menarik napas panjang. "Lalu aku teringat sesuatu. Waktu kecil, aku sering bermain di ruang kerja Mamik. Dia menyimpan berkas-berkas lama di lemari besi. Kuncinya selalu dia sembunyikan di bawah pot bunga di jendela."

Raka menatap istrinya dengan cemas. "Dinda, kamu membuka lemari itu?"

Sekar mengangguk pelan. "Waktu Mamik salat Magrib di masjid."

Ia membuka map merah di atas meja dan mengeluarkan beberapa lembar kertas. Kertas-kertas itu sudah menguning, dengan stempel yang mulai pudar.

"Mamik pensiun dari Kantor Urusan Agama dua tahun lalu," kata Sekar. "Sebelum pensiun, dia bekerja di sana hampir tiga puluh tahun. Termasuk sepuluh tahun yang lalu."

Hamdan langsung meraih kertas-kertas itu dan membacanya dengan teliti. Wajahnya berubah serius.

Aina memandang lembaran yang paling atas. Ia mengenali formulir itu. Ia sering melihat formulir serupa di kantornya. Surat keterangan status untuk keperluan menikah.

Di kolom nama tertulis Lalu Raka.

Di kolom status tertulis Belum Kawin.

Di bagian bawah, di samping stempel, ada sebuah tanda tangan yang tidak asing bagi Sekar.

"Itu tanda tangan Mamik," bisik Sekar. Air matanya jatuh. "Mamik yang membantu Abang memalsukan status itu. Mamik yang memastikan pernikahan Abang dengan Aina bisa dicatat, padahal Abang sudah menikah dengan aku."

Ruang tamu itu menjadi sangat sunyi.

Aina menatap Raka. Raka menunduk dalam-dalam, tidak sanggup membalas tatapannya.

"Mas," ucap Aina pelan. "Kenapa kamu tidak pernah bilang ini kepada Pak Camat?"

"Karena aku sudah berjanji kepadanya," jawab Raka dengan suara serak. "Sepuluh tahun yang lalu, Mamik Mustiadi bilang dia akan membantu, asal aku tidak pernah menceraikan Sekar dan tidak pernah menyebut namanya kepada siapa pun. Dia bilang Sekar tidak boleh menjadi janda. Itu akan mempermalukan keluarganya."

Sekar menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Hamdan meletakkan kertas-kertas itu di atas meja. "Sekarang semuanya masuk akal," katanya. "Mustiadi tahu pengakuan Raka akan diperiksa. Kalau pemeriksaan itu sampai menelusuri siapa yang membuat surat palsu ini, dia yang akan terseret. Jadi dia melapor lebih dahulu. Dia ingin semua orang sibuk membicarakan Aina, supaya tidak ada yang bertanya tentang dirinya."

Aina memandang lembaran-lembaran itu. Selama ini ia mengira kebohongan itu hanya milik Raka dan ibunya. Ternyata ada tangan lain yang ikut membangunnya, tangan seorang pejabat yang seharusnya menjaga kebenaran setiap pernikahan.

Sekar menurunkan tangannya. Matanya merah, tetapi suaranya tegas.

"Aina, hari Senin nanti aku akan ikut ke kabupaten."

Aina menatapnya, terkejut. "Sekar, kamu tidak perlu…"

"Aku perlu." Sekar menggenggam tangan Aina. "Kata Pak Camat, kamu butuh saksi. Akulah saksi yang paling tepat. Aku istri pertama Abang. Aku yang bisa menjelaskan bahwa kamu tidak pernah tahu."

Lalu Sekar tampak mendorong map merah itu ke arah Aina.

"Aku akan membawa ini. Walaupun yang akan diperiksa nanti adalah ayahku sendiri."

1
falea sezi
si aina di jadikan ban serep saat istri. pertama gugat cerai🤣 najis amat bloon
niaww
semngat kak mampir cerita aku juga ya🥰
falea sezi
pake pengacara lah bodoh
falea sezi
🤣🤣🤣 goblok si aina suami berbagi aja dia mau
Emily: kesel ya klo ada istri oon
total 1 replies
falea sezi
cerai aina bloon🤣
falea sezi
cerai aina enak y berbagi batangan satu itu🤣🤣 cari batangan yg gk usah di bagi😒 begooo🤭
falea sezi
aina tololl menye menye
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!