NovelToon NovelToon
Istri Cadangan Sang Mayor

Istri Cadangan Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Ibu Tiri
Popularitas:274.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Tante Kei, mau nggak jadi mamanya Rafka?"
"What!! Berarti jadi Ibu Persit dong? Dan jadi bini Mayor kaku kayak kanebo?"

Mayor Satria Pramudya, 33 tahun, sudah lima tahun menduda, keluarganya sudah mendesaknya untuk menikah lagi. Sementara, Rafka, anaknya sejak lahir sudah dekat dengan adik istrinya–Keisa Azzura, 21 tahun.

"Dek, kamu yakin Kakak boleh nikah lagi?"
"Ya, boleh lah, masa dilarang. Nanti ularnya bisa karatan loh ... lama-lama menduda. Lagian, Rafka juga butuh sosok ibu."
"Kalau begitu Kakak boleh melamar Adek?"
"Eh, Apa! Maksud Kak Satria gimana?

Keisa tak menyangka kakak iparnya meminang, sedangkan ia sudah punya cowok incaran. Apalagi Satria tidak pernah mengucapkan kata cinta dan ada sesuatu...

Bagaimanakah rumah tangga Satria yang kaku menghadapi Keisha yang barbar? Belum lagi ada rahasia Satria yang tiba-tiba...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Hidangan Malam Hari

Setelah seluruh barang bawaan masuk ke dalam rumah, suasana di ruang tengah yang berlantai marmer terasa sangat sejuk. Ayah Isa dan Bu Reni langsung duduk melepas lelah di atas sofa kulit yang empuk. Satria sendiri baru saja kembali dari dapur setelah mengambilkan tiga gelas air putih dingin untuk menyambut mereka.

Ingrid yang baru saja keluar dari kamar tamu setelah merapikan rambutnya yang sedikit berantakan tampak membawa sebuah wadah rantang plastik berukuran sedang dari dalam tas jinjingnya. Ia berjalan mendekati sofa dengan langkah yang teratur, menatap Satria yang sedang berdiri tegak di dekat meja kaca.

"Kak Satria," panggil Ingrid, suaranya mendayu-dayu lembut memecah keheningan ruangan.

Satria mengalihkan pandangan matanya yang sedingin es balok, menatar sepupu jauhnya itu tanpa riak emosi. "Ada apa?"

"Ini ... Ingrid mendadak teringat. Tadi sebelum berangkat dari Yogya, Ibu sengaja memasakkan lauk pauk khas untuk Kak Satria. Ada gudeg kering sama krecek pedas kesukaan Kakak dulu waktu main ke rumah," ucap Ingrid sembari mengangkat rantang plastiknya dengan senyuman ayu yang merekah manis. "Lauknya masih bagus dan segar karena dikemas rapat. Rasanya sayang kalau tidak segera dihangatkan untuk disantap bersama-sama sore ini sebelum kita pergi. Ingrid ... boleh izin menggunakan dapurnya Kak Satria sebentar?"

Mendengar tawaran manis dan perhatian yang begitu besar dari Ingrid, Bu Reni yang duduk di sofa langsung tersenyum sembari menyenggol lengan suaminya. "Wah, iya itu, Satria. Masakan bulemu kan paling top kalau bikin krecek. Biar Ingrid yang hangatkan di dapur."

Satria menatap rantang plastik di tangan Ingrid, lalu beralih menatap wajah gadis itu dengan pandangan yang teramat datar dan kaku—pandangan khas seorang komandan yang sedang meninjau situasi tanpa keterikatan emosional sedikit pun. Fokus utamanya tidak terpengaruh oleh keayuan wajah Ingrid atau perhatian manis yang disodorkan secara cuma-cuma.

"Silakan. Dapurnya ada di sebelah koridor belakang, lurus saja dari sini. Semua peralatan memasak ada di dalam lemari atas. Atau, minta tolong sama Bik Nini," jawab Satria pendek dengan sikap dinginnya yang konstan. Tidak ada nada ramah atau bumbu ketertarikan di dalam suaranya. Pria itu langsung membalikkan tubuhnya tegap, beralih menatap Ayah Isa. "Ayah, kalau begitu saya izin ke kamar atas sebentar untuk membersihkan diri dan bersiap-siap."

"Ya, silakan, Satria," jawab Ayah Isa.

Ingrid yang kembali menerima tanggapan sedingin es kutub dari Satria hanya bisa menelan kekecewaannya secara rapi. Namun, ia tidak menyerah. Dengan senyum yang tetap dipaksakan anggun, ia melangkah menuju dapur belakang, bersiap untuk menunjukkan kemampuan memasaknya demi mengambil hati sang Mayor tampan.

Sementara di dalam kamarnya di lantai atas, Satria mengunci pintu rapat-rapat. Pria itu melepas baret hijaunya, meletakkannya di atas meja, lalu berjalan menuju jendela yang langsung menghadap ke arah jalan raya menuju rumah Keisha. Siasat pertarungan hatinya kini mendadak menjadi lebih kompleks dengan kehadiran Ingrid di rumah ini, namun bagi seorang Mayor Satria Pramudya, tujuan akhir dari komando hatinya tetap mutlak tidak akan pernah bisa bergeser kepada perempuan lain, selain kepada adik iparnya yang barbar.

***

Aroma gurih manis dari gudeg kering dan sengatan wangi perlahan menyebar, memenuhi ruang makan rumah mewah milik Satria. Di balik konter dapur yang bersih, Ingrid bergerak dengan cekatan dan luwes. Tangannya yang halus tampak sangat terampil menata piring-piring porselen, menyusun sendok dan garpu, serta menuangkan air putih ke dalam gelas kristal dengan gerakan yang teramat rapi.

Ketika Satria turun dari lantai atas setelah membersihkan diri—kini sudah berganti pakaian santai berupa kaus polo abu-abu dan celana kain hitam—ia mendapati meja makannya sudah disulap layaknya perjamuan keluarga yang sempurna.

Ingrid yang melihat kehadiran Satria langsung menyunggingkan senyuman manisnya yang paling ayu. Dengan kelakuan layaknya seorang istri yang penuh pengabdian dan perhatian, ia segera menarik kursi utama untuk Satria.

"Silakan duduk, Kak Satria. Ini nasinya sudah Ingrid ambilkan, lauk kreceknya juga sengaja Ingrid taruh di dekat piring Kakak supaya mudah mengambilnya," ucap Ingrid dengan nada suara yang teramat lembut mendayu, seolah hal itu sudah menjadi rutinitasnya sehari-hari di rumah tersebut.

Bu Reni yang duduk di sebelah Ayah Isa menyaksikan pemandangan itu dengan senyuman lebar yang penuh arti. Wanita paruh baya itu tampak sangat terkesan melihat bagaimana telatennya Ingrid menyiapkan keperluan anak laki-lakinya. "Wah, Satria, beruntung sekali ya kita bawa Ingrid ke Jakarta. Rumah kamu yang biasanya kaku seperti barak militer mendadak jadi hangat begini karena ada perempuan yang mengurus meja makan."

Mendengar pujian ibunya serta pelayanan ekstra dari Ingrid, Satria tidak menunjukkan riak perubahan ekspresi sedikit pun. Postur tubuhnya tetap tegap dan kaku saat ia menduduki kursi yang telah ditarik. Sepasang mata hitam pekatnya menatap piring nasi di hadapannya dengan pandangan yang teramat dingin, sedingin es kutub utara yang tidak terpengaruh oleh kehangatan apa pun.

"Terima kasih. Tapi lain kali tidak perlu repot-repot, Ingrid. Di rumah ini ada Bik Nini yang bertugas mengurus meja makan," sahut Satria pendek, suaranya terdengar datar dan formal tanpa ada bumbu keramahan atau ketertarikan maskulin di dalamnya.

Senyum di wajah ayu Ingrid sempat menyusut sedetik mendengarkan penegasan kaku dari sepupu jauhnya itu, namun ia dengan cepat menguasai diri dan kembali tersenyum anggun sembari menduduki kursinya sendiri. "Tidak apa-apa, Kak. Ingrid justru senang bisa membantu."

Suasana makan malam itu berlangsung dengan tenang, hanya diselingi obrolan ringan antara Bu Reni dan Ayah Isa mengenai perkembangan saudara-saudara mereka di Yogyakarta. Satria sendiri menikmati makanannya dengan ritme yang teratur dan rapi khas didikan militer, tetap membentengi dirinya dengan sikap dingin yang tidak tersentuh.

***

Usai makan malam diselesaikan dengan tertib, suasana rumah berangsur sunyi kembali. Satria meletakkan serbetnya, lalu bangkit berdiri dengan tegap. Ia menatap kedua orang tuanya dengan sorot mata yang teramat serius, sebuah pandangan yang menandakan bahwa ada agenda penting yang harus segera digelar.

"Ibu, Ayah ... kalau sudah selesai, mari kita pindah ke ruang tengah. Ada hal serius yang ingin aku bicarakan dengan Ibu dan Ayah malam ini," ucap Satria dengan nada komando yang rendah namun mutlak.

Ayah Isa yang menangkap sinyal keseriusan dari anaknya langsung mengangguk. "Ya, Satria. Mari."

Sementara Satria memandu kedua orang tuanya menuju sofa kulit di ruang tengah, Ingrid di area meja makan segera memberikan isyarat pada Bik Nini yang baru saja muncul dari dapur belakang.

"Bik, mari saya bantu rapikan piring-piring kotornya ke belakang," bisik Ingrid dengan volume suara yang sengaja agak dikeraskan, memastikan agar suaranya terdengar sampai ke ruang tengah.

Ia sengaja pura-pura sibuk sendiri merapikan meja makan dan mengelap sisa air bersama Bik Nini, bergerak bolak-balik agar penampilannya yang rajin dan penuh bakti itu tetap terkesan dengan jelas di depan mata Satria. Ingrid ingin menanamkan citra di kepala keluarga ini bahwa dialah spek perempuan idaman yang paling pantas berada di dalam rumah mewah ini.

Bersambung....

1
yuni ati
Inggid gigit jari🤭
yuni ati
Satria luar biasa👍
Teh Euis Tea
syukurinnnnn udah ga ada celah buat km ingrid bu reni udah berpuhak sm keusha
Zalmah Adiwi
👍👍👏👏sdh dpt sekutu dr mertua..🥰🥰🥰
Zalmah Adiwi
si ular berbisa bikin ulah lg..🤣🤣
Ruwi Yah
ditunggu bab selanjutnya
Ruwi Yah
mungkin kecebong satria udah tumbuh di rahim keisha
Nar Sih
kasihan ingrid🤣🤣sdh di tolak mentah,,oleh ibu nya satria jht sih
Nar Sih
sip 👍👍satria ,ditunggu pulang nya stlh selesai tugas negara cpt cri tau biang kerok yg sdh bikin istri kecil mu nangis
Nar Sih
sedih ya satria ,mesti nahan rindu berat ,sama,,kangen rsa nya pasti tersiksa,sabarr ya
Mutaharotin Rotin
🌹🌹🌹
Engkar Sukarsih
kacau... kacau....silampir🤣🤣🤣
Engkar Sukarsih
jangan di dengerin Mak Lampir Inggrid ngomong Keysa,anggap aja angin lalu 🙄🙄🙄
Engkar Sukarsih
rindu aku.. rindu kamu...cinta kita Keysa 🥰🥰🥰🥰
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰 laaannjjuut Mak ghin
Mutaharotin Rotin
🤭🤭🤭🤭🤣🤣 Ayam gosong
Lilis Suryani
siap mommy 👍
Mutaharotin Rotin
😭😭😭😭😭
Mutaharotin Rotin
jangan percaya SM racunnya si ular betina key🥰🥰
Wiek Soen
🤣🤣🤣🤣🤣 calon pelakor langsung pucat ... mommy kira2 Ingrid kerja apa ya kok sdh bawa mobil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!