Sejak zaman dulu, sepuluh padepokan saling serang demi pecahan Cincin Braja Moksa. Kabarnya, siapa pun yang menyatukan sepuluh pecahan itu akan menguasai dunia.
Satrio Caksena hanyalah murid Geni Wening, padepokan paling lemah yang tinggal punya tujuh murid dan seorang guru dengan cakra hancur. Saat Kala Ireng datang menuntut pecahan mereka, Satrio cuma bisa bangun lagi setiap kali dihajar.
Malam itu, ia menemukan kristal merah di bawah lantai pendapa. Kristal itu menyala karena darahnya dan membangunkan sisa jiwa seorang Prabu yang sudah mati ribuan tahun lalu.
Dari sang Prabu, Satrio mengetahui rahasia yang dilupakan semua padepokan. Cincin Braja Moksa ternyata segel. Di dalamnya terkurung Sandawa, raja siluman yang dulu hampir menguasai dunia. Setiap pecahan yang terkumpul membuat segel itu makin lemah.
Satrio harus menghentikan Kala Ireng sebelum cincin itu utuh kembali. Masalahnya, tidak ada yang mau percaya pada murid dari padepokan paling lemah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang Yang Dihina
"Sambal lagi. Tadi pagi sambal, siang sambal, nanti malam pasti sambal juga," gerutu Gandung sambil menyeret sapu lidi di halaman padepokan. "Lama-lama lidahku bisa semerah cabai."
Satrio mengayunkan kapak. Potongan kayu di atas landasan terbelah dua dan jatuh ke kiri dan kanan. "Masih untung ada sambal. Bulan lalu kita cuma makan nasi garam."
"Jadi aku harus senang karena naik pangkat dari garam ke sambal?" Gandung menepuk perutnya yang buncit. "Lihat ini. Isinya tinggal angin."
"Angin kok bisa sebesar itu."
"Itu angin yang sudah naik ranah."
"Perutmu naik ranah, tapi kau sendiri masih tertahan di Olah Raga."
"Itu namanya pengorbanan."
Satrio menggeleng dan meletakkan potongan kayu berikutnya di landasan. "Sapu yang benar. Daunnya malah kau sebar ke mana-mana."
Gandung melirik tumpukan daun kering yang memang tercecer lebih jauh dari sebelumnya. Ia nyengir dan pura-pura tidak mendengar.
Di dekat sumur, dua murid kakak-beradik sedang menimba air. Murid paling muda menjemur kain di tali bambu sambil bersenandung. Padepokan Geni Wening memang hanya terdiri dari sebuah pendopo tua beratap ijuk, deretan bilik murid yang dindingnya mulai keropos, dan gerbang kayu yang engselnya sudah berkarat sejak Satrio masih bocah.
Brakk!
Gerbang itu terbanting ke dalam. Engsel atasnya copot dari tiang, dan daun pintu sebelah kiri roboh menghantam tanah. Debu mengepul. Papan nama bertuliskan Geni Wening yang tergantung di atas gerbang ikut jatuh dan terguling sampai berhenti tidak jauh dari kaki Gandung.
"Waduh!" Gandung melompat mundur sampai sapunya terlepas.
Lima pemuda berpakaian hitam masuk melewati gerbang yang rubuh. Di dada kiri mereka tersulam lambang bayangan berwarna kelabu. Pemuda paling depan bertubuh tinggi dengan rambut diikat ke belakang. Kaki kanannya baru saja turun setelah menendang gerbang.
Satrio menancapkan kapaknya di landasan kayu.
"Kala Ireng," bisik Gandung. Wajahnya pucat. "Yang paling depan itu Bargowo. Kata orang pasar, dia sudah tembus Olah Batin."
Pemuda itu menyapu pandangan ke seluruh halaman, dari sumur, ke bilik-bilik murid, kemudian ke pendopo. Ia terkekeh. "Gerbangnya saja tidak kuat ditendang sekali. Ini padepokan atau gubuk sawah?"
Empat murid di belakangnya tertawa.
Kakak-beradik di dekat sumur berhenti menimba. Murid paling muda melepaskan kain jemurannya dan bergeser ke balik tiang serambi. Dari bilik paling ujung, murid tertua keluar bersama seorang murid perempuan. Begitu melihat lambang di dada para tamu itu, murid tertua langsung menundukkan kepala.
Bargowo berjalan ke tengah halaman dan berhenti tepat di atas papan nama yang tergeletak. Ia menginjaknya dan menggosokkan alas terompahnya ke ukiran huruf di papan itu, seperti orang mengelap lumpur.
"Aku tidak mau lama-lama," katanya. "Guru Besar Mahesa Kalandra meminta pecahan cincin milik Geni Wening. Serahkan, dan kami pulang."
Tidak ada yang menjawab. Murid tertua menatap tanah. Murid perempuan di sebelahnya menggigit bibir dan sempat maju setengah langkah, tapi lengannya ditarik kembali. Kakak-beradik itu hanya saling pandang dan ikut menunduk.
Satrio melirik ke arah pendopo. Belum ada siapa-siapa di sana.
Bargowo mendecak. Ia menekan papan nama itu lebih keras sampai terdengar bunyi retak. "Tujuh murid, satu guru tua, dan tidak ada yang berani mengangkat kepala. Dayangkara macam apa kalian ini?" Ia meludah ke samping. "Tempat begini lebih cocok jadi kandang kambing. Pecahan cincin sakti tidak pantas disimpan di kandang kambing."
Gandung memungut sapunya. Ia mengendus udara dua kali dengan wajah serius.
"Pantas dari tadi bau prengus," katanya. "Ternyata kambingnya baru datang."
Salah satu dari kakak-beradik itu tersedak menahan tawa.
Senyum di wajah Bargowo hilang. Ia bergerak, dan jarak lima langkah di antara mereka habis dalam satu kedipan mata. Tinjunya terbenam di perut buncit Gandung.
Bugh!
"Arghh!"
Gandung membungkuk seperti udang rebus. Sapunya terpental. Sebelum tubuhnya sempat jatuh, lutut Bargowo menghantam dadanya. Gandung terlempar ke belakang, menabrak tumpukan kayu bakar, kemudian berguling di tanah sambil memegangi perut. Murid perempuan di serambi memekik tertahan.
"Ugh... arghh... perutku..." Gandung meringkuk. Wajahnya merah padam, dan air liur bercampur darah menetes dari bibirnya.
Bargowo mengangkat kaki kanannya tinggi-tinggi, tepat di atas kepala Gandung.
Satrio menerjang. Bahunya menabrak kaki itu, dan injakan Bargowo meleset, menghantam tanah sejengkal dari telinga Gandung. Tanah di sana amblas membentuk cekungan sedalam mata kaki. Kakak-beradik itu terbelalak.
Satrio berdiri di depan Gandung dengan napas terengah.
Bargowo memiringkan kepala, memperhatikan Satrio dari atas ke bawah. "Olah Napas," katanya, lalu tertawa pendek. "Olah Cakra saja belum, sudah berani menghalangiku?"
"Dia cuma bercanda," kata Satrio. "Kau yang menendang gerbang kami."
"Lalu?"
Satrio tidak menjawab. Ia menarik napas panjang dan menahannya di perut. Tenaga itu ia alirkan ke telapak tangan kanan, seperti yang diajarkan Ki Arya setiap subuh. Jari telunjuk dan jari tengahnya merapat, ibu jarinya ditekuk ke dalam. Telapak tangannya memerah dan memancarkan cahaya jingga sebesar bara tungku.
"Tapak Bara!"
Ia menghantamkan telapak itu ke dada Bargowo.
Bargowo tidak menghindar. Tepat sebelum serangan itu menyentuh bajunya, selapis bayangan hitam muncul di permukaan dadanya. Cahaya jingga di telapak Satrio padam dan hanya menyisakan asap tipis yang langsung buyar.
"Apimu bahkan tidak cukup untuk merebus air," kata Bargowo.
Duakk!
Tinjunya menghantam rahang Satrio. Satrio terpelanting dan punggungnya membentur tanah keras. Telinganya berdenging. Rasa asin memenuhi mulutnya, dan saat ia mengusap bibir, punggung tangannya merah oleh darah.
'Bangun. Kalau aku diam di sini, Gandung yang diinjak,' batin Satrio.
Ia menekan tanah dengan kedua telapak tangan dan bangkit.
Bargowo mengangkat alis. "Masih mau?"
Satrio memasang kuda-kuda. Kedua tangannya terangkat di depan dada, meski bahu kirinya tidak lagi bisa naik setinggi bahu kanan.
Bargowo maju dan menendang lutut kanannya.
"Ugh!" Satrio jatuh berlutut. Satu pukulan lagi mendarat di pelipisnya. Pandangannya berputar, dan ia ambruk dengan pipi menempel ke tanah.
Dari balik tiang serambi, murid paling muda menutup mulut dengan kedua tangan.
Satrio bangun lagi.
Kali ini lebih lambat. Kedua lututnya gemetar, dan napasnya keluar masuk dengan bunyi tersengal. Darah dari sudut bibirnya menetes ke kerah baju. Ia meludahkan darah ke samping dan kembali mengangkat tangan.
"Satrio, sudah!" seru Gandung yang masih meringkuk. "Tiduran saja! Lihat aku, dari tadi tiduran!"
Satrio tidak menoleh.
Kedua telapak tangan Bargowo bertemu di depan dada, dan jari-jarinya berputar membentuk segel. Bayangan di sekitar kakinya merayap naik ke betis dan pinggang, lalu berkumpul di telapak tangan kanannya hingga tangan itu terbungkus asap hitam.
"Ajian Tapak Wewayangan!"
Satrio menyilangkan kedua lengan di depan wajah.
Hantaman itu menjebol pertahanannya. Tubuh Satrio terlempar dan menghantam gentong air di dekat sumur hingga pecah.
"Arghh!"
Air tumpah membasahi tanah. Satrio terbatuk-batuk di tengah genangan. Dadanya seperti ditindih batu, dan setiap tarikan napas membuat rusuknya nyeri.
Salah satu murid Kala Ireng maju selangkah. "Kakang Bargowo, Guru Besar bilang jangan sampai ada yang mati."
"Aku tahu." Bargowo mengibaskan tangannya yang masih berasap. "Aku cuma mengajari anak ini cara berlutut."
Satrio meraih bibir sumur dan menarik tubuhnya ke atas. Ia berdiri lagi. Lututnya gemetar begitu keras sampai kain celananya ikut bergoyang. Air menetes dari rambutnya, bercampur darah di dagu.
Tawa di belakang Bargowo berhenti. Salah seorang murid Kala Ireng bahkan melongo.
Bargowo menatap Satrio beberapa saat. Ia mengangkat tangan kanan sekali lagi, dan bayangan hitam kembali berkumpul di telapaknya, lebih pekat dari sebelumnya.
"Bargowo."
Suara itu datang dari arah pendopo. Tidak keras, tapi tangan Bargowo berhenti di udara.
Satrio menoleh dengan pandangan yang masih berkunang-kunang.
Ki Arya Sembada berdiri di undakan pendopo. Tubuhnya kurus, rambut putihnya diikat seadanya, dan jubah cokelatnya sudah pudar di bagian bahu. Ia menuruni undakan satu per satu dengan kedua tangan terselip di balik lengan jubah. Tatapannya jatuh pada Bargowo dan berhenti di telapak tangan pemuda itu yang masih diselimuti asap hitam.
Murid tertua mengangkat kepala untuk pertama kalinya sejak Kala Ireng datang.
"Turunkan tanganmu," kata Ki Arya. "Selagi aku masih memintanya baik-baik."
Dua murid Kala Ireng mundur setengah langkah. Yang paling kanan melepaskan genggaman dari gagang golok di pinggangnya. Keduanya saling lirik dan memandang punggung Bargowo.
Bargowo menoleh ke belakang dan menatap adik-adik seperguruannya satu per satu. Ia mendengus. Tangannya turun, dan asap hitam di telapaknya buyar. Senyumnya kembali.
"Kalian takut pada orang tua ini?" Ia memandangi Ki Arya dari ujung rambut sampai ujung kaki dan mencibir. "Kami tahu cakramu sudah hancur, Ki."
Ki Arya tidak menjawab. Ia berdiri di tengah halaman, di antara Bargowo dan murid-muridnya yang terkapar, dan matanya tidak berkedip sedikit pun.
Bargowo menahan tatapan itu sebentar, kemudian membuang muka.
"Hari ini aku cuma disuruh mengetuk pintu," katanya sambil berbalik. Saat melewati papan nama Geni Wening, ia menginjaknya sekali lagi, dan kali ini papan itu patah menjadi dua. "Guru Besar akan mengirim kabar resmi. Siapkan jawaban kalian baik-baik."
Lima murid Kala Ireng keluar melewati gerbang yang rubuh. Tawa mereka masih terdengar beberapa saat sebelum hilang di balik rumpun bambu.
Yang tersisa hanya erangan Gandung dan tetes air dari pecahan gentong.
Murid perempuan itu berlari menghampiri Gandung dan berlutut di sampingnya.
"Jangan pegang perutku dulu," rintih Gandung. "Dia sedang berduka."
Murid paling muda keluar dari balik tiang dengan mata merah. Murid tertua masih berdiri di tempatnya, memandangi papan nama yang patah.
Satrio menyeka darah di dagunya dengan lengan baju. Pipinya bengkak, dan mata kirinya mulai menyipit karena lebam. Ia menyeret kakinya mendekati Ki Arya.
"Guru..."
Ki Arya sudah berbalik menuju pendopo. Kedua tangannya masih tersembunyi di balik lengan jubah. Dari jarak sedekat itu, Satrio bisa melihat ujung lengan jubah gurunya bergoyang kecil. Di celah kain, jemari kurus Ki Arya gemetar, dan gemetar itu tidak berhenti sampai sosoknya hilang di balik tiang pendopo.
****
Hai semuanya, apa kabar? sudah cukup lama ni aku gak nulis disini, dan akhirnya kembali setelah berhasil merebut juara di sebelah 🤭. Tapi kali ini aku kembali dengan Cerita baru, Fantasi Nusantara dengan nama baru sebagai pengganti kata Kultivator, yaitu: DAYANGKARA. semoga kalian terhibur dengan gaya baru ini dan lebih akrab.
Jika ada yang pernah membaca cerita Sistem Undian di sebelah, mungkin kalian tidak merasa asing dengan sebutan Dayangkara ini.