Kepindahan Arumi ke sekolah elit di ibu kota membawanya menjadi wali kelas Azzam dan Azzura, si kembar anak konglomerat yang dikenal paling bermasalah. Dengan ketulusan dan kesabarannya, Arumi berhasil mengubah mereka menjadi pribadi yang lebih baik.
Takdir kemudian mempertemukannya kembali dengan Zaky Tanuwijaya, ayah si kembar sekaligus cinta pertama yang pernah menghancurkan hatinya di ambang pernikahan. Kini, Zaky yang telah menjadi duda ingin menebus kesalahan masa lalu dan memenangkan kembali hati Arumi.
Namun, ibunda Zaky terus menanamkan ketakutan kepada Azzam dan Azzura bahwa ibu tiri hanyalah wanita yang mengincar harta. Di tengah penolakan si kembar dan luka lama yang belum sembuh, mampukah Arumi membuka kembali hatinya dan membuktikan bahwa kasih sayang tulus mampu mengalahkan prasangka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
Menjelang sore, Arumi melangkah keluar dari gerbang SMP Chandrakanta dengan sisa-sisa ketegaran yang mulai menipis. Sepanjang perjalanan pulang di atas motor ojek online, angin kota Jakarta yang menerpa wajahnya tak mampu mendinginkan dadanya yang bergemuruh hebat. Perasaannya luluh lantak, luka lama yang telah ia kubur dalam-dalam kini terbuka kembali secara paksa setelah pertemuan tak terduga dengan Zaky.
Pria itu adalah sosok yang paling ingin ia hindari seumur hidupnya, namun takdir justru mempertemukan mereka kembali setelah lebih dari 12 tahun lamanya terpisah. Di atas motor yang melaju membelah kemacetan, ingatan Arumi terlempar ke masa lalu yang kelam.
Kenangan itu berputar secara otomatis. Sesaat setelah lulus SMU, Arumi yang masih polos memantapkan hati untuk menerima pinangan Zaky. Pria kota itu sempat tinggal selama satu tahun di desanya untuk mengurus perkebunan milik keluarga Tanuwijaya. Hari-hari penuh janji manis dan persiapan pernikahan yang dinantikan justru berubah menjadi mimpi buruk paling mengerikan. Pernikahan mereka terpaksa batal di saat undangan telah tersebar. Zaky pergi begitu saja meninggalkan luka mendalam dan rasa malu yang luar biasa bagi keluarga Arumi di kampung, setelah Citra sahabat dekat Arumi sendiri datang sambil menangis dan mengaku telah mengandung darah dagingnya Zaky.
Seketika Arumi tersadar dari lamunan pahitnya saat motor yang ia tumpangi berhenti mendadak. Sepanjang jalan ternyata ia terus saja menangis dalam diam, membuat pundaknya berguncang dan menarik perhatian sang pengemudi ojek melalui kaca spion.
"Bu Guru... Ibu tidak apa-apa, Bu?" tanya si tukang ojek dengan nada suara yang penuh rasa kasihan, melihat mata penumpangnya yang sudah sembap dan merah.
Arumi buru-buru mengusap kasar air mata di pipinya, berusaha mengulas senyum meski terasa getir. "Tidak apa-apa, Pak. Ini Pak ongkosnya... kembaliannya ambil saja," ujarnya lirih sembari menyerahkan selembar uang kertas.
Tanpa menunggu kembalian atau respons dari si tukang ojek, Arumi buru-buru turun dan melangkah cepat masuk ke dalam halaman kontrakan barunya. Ia memutar kunci, bergegas masuk ke dalam rumah, lalu menutup pintu kayu itu dengan rapat.
Brak!
Arumi bersandar di balik pintu, menghembuskan napas panjang yang terasa mencekik. Ia sedikit bersyukur dalam hati karena besok adalah hari Sabtu. Seluruh sekolah di bawah naungan pemerintah kota Jakarta menerapkan kebijakan lima hari kerja, yang berarti besok ia libur. Ia tidak perlu memaksakan diri tampil kuat di depan Azzam, Azzura, dan murid-murid lainnya untuk sementara waktu. Ia punya waktu dua hari untuk menata kembali hatinya yang porak-poranda.
Tak ingin terus-menerus tenggelam dalam kubangan trauma masa lalu, Arumi bergegas menuju kamar mandi. Ia membasuh tubuhnya, membersihkan diri dari debu jalanan ibu kota sekaligus mencoba meluruhkan beban pikiran yang menghimpitnya.
Setelah berganti pakaian yang bersih, Arumi menggelar sajadah di sudut kamar. Ia bersimpuh, mengangkat kedua tangannya untuk menunaikan shalat Ashar. Di atas hamparan kain suci itu, dalam sujud yang panjang, Arumi menumpahkan segala rasa sakit, kecewa, dan bimbang yang bergejolak di dadanya. Ia berserah diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta, memohon kekuatan dan ketenangan jiwa agar mampu melewati ujian takdir yang kembali mempermainkan hidupnya.
*
*
Sepanjang hari Sabtu, Arumi benar-benar mengurung diri di dalam kontrakan. Ia sengaja mengunci pintu rapat-rapat dan enggan melangkah keluar, mencoba menenangkan sisa-sisa badai emosi di hatinya.
Sikap Arumi yang tiba-tiba "menghilang" ini tak pelak membuat Ayu, tetangga sebelah kontrakannya, merasa cemas. Karena tidak melihat tanda-tanda kehidupan dari sebelah sejak pagi, Ayu akhirnya memutuskan untuk mengirimkan pesan singkat via WhatsApp.
“Mbak Arumi, kamu di dalam? Kok dari pagi enggak kelihatan keluar rumah? Kamu enggak apa-apa, kan?”
Tak butuh waktu lama, ponsel Ayu bergetar menerima balasan dari Arumi.
'Enggak apa-apa kok, Mbak Ayu. Aku cuma mau istirahat total saja akhir pekan ini, lagi malas keluar rumah. Hehehe.”
Membaca jawaban tersebut, Ayu spontan tertawa cekikikan di depan ponselnya. Ia tahu betul watak tetangganya itu. "Dasar Arumi wong deso, kalau libur malah hobinya mendekam di kamar," gumam Ayu menggeleng-gelengkan kepala. Namun, sebuah ide mendadak melintas di kepalanya. "Besok hari Minggu aku ajak jogging ah, kebetulan kan ada Car Free Day (CFD). Biar dia enggak kuper-kuper amat di Jakarta!"
Sementara itu, suasana di kediaman mewah Tanuwijaya justru terasa sangat berbeda dari biasanya. Zaky baru saja pulang ke rumah setelah semalam tidak pulang karena sibuk mengawal anak buahnya mencari informasi mengenai Arumi. Begitu berkas lengkap mengenai alamat kontrakan dan kehidupan Arumi kini berada di tangannya, perasaan bahagia yang amat sangat membuncah di dada sang CEO.
Efek dari rasa bahagianya itu, Zaky mendadak melupakan amarahnya pada Azzam. Ia sama sekali tidak membahas atau mempermasalahkan lagi drama kebohongan soal lem di kursi sekolah kemarin. Bahkan, sore harinya Zaky memberikan sebuah kejutan besar yang membuat seisi rumah terkejut. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Zaky mengajak Azzam dan Azzura untuk pergi berolahraga bersama keesokan harinya.
"Besok hari Minggu, jadwal Papah kosong. Kita pergi olahraga naik sepeda di area Car Free Day, ya," ujar Zaky sore itu dengan nada yang jauh lebih lembut.
Mendengar ajakan tersebut, Azzam dan Azzura sempat saling pandang tak percaya. Dada mereka dipenuhi rasa bahagia yang meletup-letup. Mereka tidak menyangka sosok ayah yang selama ini selalu cuek, dingin, dan tenggelam dalam tumpukan pekerjaan, tiba-tiba mulai memberikan perhatian kecil yang sangat mereka dambakan. Malam itu, baik Azzam maupun Azzura sama sekali tidak bisa tidur nyenyak karena sudah tidak sabar menunggu hari esok.
*
*
Keesokan paginya, suasana di halaman mansion Tanuwijaya tampak cerah. Azzam dan Azzura sudah tampil rapi dan sporty, siap dengan sepeda lipat mahal mereka masing-masing. Di ambang pintu, Bu Maya sang nenek berdiri sembari menyunggingkan senyum haru yang amat dalam. Air matanya hampir menetes melihat pemandangan langka itu. Ia merasa sangat bahagia karena pada akhirnya, Zaky mulai membuka hati dan mau merangkul kehadiran darah dagingnya sendiri.
Di belahan kota yang lain, jarum jam baru menunjukkan pukul enam pagi ketika Ayu sudah berdiri di depan pintu kontrakan Arumi, menggedornya dengan semangat membara.
Tok! Tok! Tok!
"Mbak Arumi! Banguuun! Udah siap belum?!" seru Ayu antusias dari luar.
Pintu kayu itu perlahan terbuka. Sosok Arumi muncul dari balik pintu dengan langkah gontai, mengenakan kaos santai dan celana training. Mulutnya masih menguap lebar, sementara matanya mengerjap-ngerjap setengah watt karena masih mengantuk.
Melihat penampilan Arumi yang jauh dari kata semangat, Ayu langsung berkacak pinggang dan menggelengkan kepalanya pasrah. "Hadeuhhh... Anak gadis yang sudah berumur ini benar-benar ya! Saham malasnya tinggi banget!"
Mendengar ejekan menohok tentang status dan usianya dari mulut Ayu, kesadaran Arumi seketika terkumpul penuh. Sepasang matanya langsung melotot tajam ke arah Ayu.
"Nah, gitu dong! Melotot, Mbak Arumi! Biar matanya melek terus dan enggak nguap lagi!" ejek Ayu kembali tanpa rasa berdosa, malah tertawa puas melihat korbannya berhasil terpicu.
Arumi hanya bisa mendengus pasrah sembari mencibir pelan. Mau tidak mau, ia akhirnya menuruti kemauan Ayu untuk pergi ke CFD. Bagaimanapun, Ayu adalah orang pertama yang menyambutnya dengan sangat ramah dan tulus sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di kerasnya ibu kota. Tanpa Arumi sadari, langkah kakinya menuju area Car Free Day pagi ini akan membawanya masuk ke dalam lingkaran takdir yang sudah digariskan untuk mempertemukannya kembali dengan keluarga Tanuwijaya.
Bersambung...
sekarang si tinggal terserah lu
masih mau ga berjuang
Arumi mah udah pasrah Ama takdir
toh...gw juga bisa kok selama ini tanpa lu
dasar nenek lampir
Arumi lawan jgn diam aj, cabein aj mulut kotor Bu Maya klu ga berani suruh othor yg maju duluan ntar aku bantuin doa dari jauh 🤣🤣🤣🤣🤣🤣