Abimana Rahardjo adalah putra pemilik sebuah pesantren dan merupakan penerus dari pondok pesantren milik keluarganya karena dia merupakan putra satu-satunya keluarga tersebut.
Sejak kecil dia telah di jodohkan dengan seorang gadis yang merupakan putri asuh keluarga Rahardjo yakni Kemala Putri Dewi yang merupakan putri sahabat kedua orangtuanya.
Kemala yang telah lama jadi yatim piatu sejak usia 10 tahun harus merelakan cita-citanya yang ingin jadi dokter karena sebuah balas budi.
Pernikahan karena dijodohkan itu benar-benar mencekik Kemala dikarenakan sang suami yang rupanya memilih poligami dengan perempuan yang telah lama ada dihati Abimana.
Hati Kemala hancur karena cinta suami yang tak kunjung dia dapatkan dan karena kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga mereka.
Hingga suatu hari, seorang pemuda mampu menggoyahkan hati Kemala.
Laki-laki yang dianggap urakan dan bertato layaknya preman.
simak kisahnya di Memeluk Bayangan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mencoba berbaikan
Kemelut rumah tangga antara Kemala dan Abimana masih mengalami kebuntuan.
Berkali-kali Kirana membujuk Abimana agar berkunjung kerumah Kemala, namun berkali-kali pula Abimana melanggarnya.
Dia memang pamit, tapi langkah kakinya tidak sampai ke depan pintu rumah Kemala namun justru berbelok keruang perpustakaan hingga pagi menjelang. Dan hal itu terus berlangsung hingga di hampir dua bulan pernikahannya dengan Kemala.
Perempuan itu bak orang ketiga di dalam pernikahannya sendiri dimana status istri pertama tidak membuatnya mendapat keadilan layaknya seorang istri meski nafkah lahir dipenuhi oleh Abimana tapi tidak dengan nafkah batinnya.
Pagi ini, Abah sengaja mengumpulkan anak dan kedua menantunya dalam sarapan pagi.
Kemala yang tidak berniat berbasa-basi hanya bersikap sewajarnya dan cenderung dingin terhadap Kirana maupun Abimana.
"Mas... Mau sarapan apa?" tanya Kirana melayani suaminya dimeja makan.
"Roti isi saja..." sahut Abimana yang duduk disisi kanan Abah disusul oleh Kirana disebelahnya.
Kemala masih berdiri diambang pintu pembatas dapur bersih dengan ruang makan dengan semangkuk nasi goreng ditangan, hasil buatan Bi Atik.
"Kemala...Ayo sini, duduk dekat Ummi..." panggil Ummi begitu melihat menantu pertamanya. Dia menepuk kursi kosong disampingnya.
Abimana bahkan tidak menoleh sedikitpun padanya.
Kemala melangkah mendekati meja makan dan meletakkan semangkuk nasi goreng yang dibawanya.
"Abah mau sarapan apa? Biar Kirana ambilkan" kali ini ucapan manis itu tertuju kepada Abah Adi yang masih melirik isi meja makan.
"Tidak perlu... Kamu layani saja suamimu" ucap Abah sedikit dingin.
Tatapan teduh itu kini jatuh pada Kemala yang duduk disisi Ummi.
"Sepertinya nasi goreng yang dibawa Kemala itu enak. Wanginya harum..." ucap Abah yang berhasil menarik atensi Kemala.
"Abah mau sepiring nasi gorengnya..." pintanya memberikan piring kepada Kemala yang sedang menyendokkan nasi goreng ke piring Ummi.
Kemala menyambut piring Abah dengan senyum manisnya yang teduh.
"Segini cukup?" tanya Kemala dengan suara lembut.
"Sudah. Terima kasih..." sahut Abah menerima piring yang disodorkan oleh Kemala.
Abah menyantap nasi goreng itu dengan lahap dan kemudian teh hijaunya.
"Tehnya selalu pas... Tidak manis ataupun pahit..." puji Abah.
"Kan yang seduh Kemala. Dia sudah hafal takaran gula dan airnya..." puji Ummi ikutan.
Kemala tersenyum lega.
Setidaknya ada dua orangtua yang masih bisa menghargai pekerjaannya dan juga kehadirannya dirumah itu.
Abimana yang duduk di seberang Kemala hanya diam namun matanya menatap tajam perempuan yang masih sah istrinya.
"Oh ya... Ada yang mau Abah sampaikan pada kalian semua..."
Abah menatap semua yang ada di meja makan.
"Abimana, apakah kamu ingat dengan temanmu yang selalu buat jantung papa-mamanya serasa mau copot karena hobi balapan tiap hari?" ucap Abah mencoba menggali ingatan Abimana.
Abimana mencoba mengingatnya.
"Sean Wijayakusuma?" sahutnya kemudian menyebut satu nama.
"Ya.. Rupanya kamu masih ingat..." ada hela nafas berat disaat Abah menyahut Abimana.
"Kenapa dengan dia, Abah?" kali ini Ummi yang bertanya.
"Pak Danu, papanya Sean meminta Abah untuk menerima dan mendidiknya disini...."
"Tapi bukankah dari kabar yang saya dengar, jika Sean pindah ke Amerika dan sekolah disana?" timpal Abimana.
"Ya.. Kamu benar. Sean, sejak mereka pindah memang berada di Amerika karena bisnis pak Danu yang berada disana. Namun sejak masa kuliah, Sean melanjutkan studinya di Eropa. Dan karena kurangnya kontrol kedua orangtuanya yang terlalu sibuk, akhirnya pergaulan Sean jadi kacau dan berantakan. Dia sering mab*k-mab*kan, main perempuan, nauzubillahiminzalik.... Balap liar hingga kecanduan obat-obatan terlarang hingga sempat menghancurkan karirnya sebagai pembalap professional..."
"Astaghfirullah.... Ummi tidak bisa bayangkan betapa hancurnya hati pak Danu dan istrinya... Lalu, apakah dia akan berada disini Abah?" ucap Ummi memastikan.
"Iya... Sean dalam masa pemulihan dari kecanduan obat-obat dan demi keberhasilan pengobatannya, pak Danu mengirimnya ke pesantren kita agar kita dapat membantunya.... Apa kamu bersedia mendampinginya Abimana?" tatapan Abah terarah kepada Abimana begitupun Kirana.
"Insyaallah saya bisa Abah... Kapan rencananya dia sampai?" sahut Abimana.
"Kemungkinan lusa.... Dia sekarang berada di sebuah hotel tak jauh dari sini setelah mendarat dari Amerika seminggu lalu..."
"Tugas kamu agak berat kali ini mas... Semangat ya..." seru Kirana menyemangati suaminya.
Prang...
Sendok ditangan Kemala jatuh tepat di atas piring kosongnya.
Perempuan itu melempar senyum kaku.
"Tangan saya licin, jadi jatuh..." ucapnya beralasan padahal sedang menyela kemesraan kedua pasangan dihadapannya yang dibalas tatapan dingin dari Abimana.
"Kemala hari ini ikut Ummi ya..." seru Ummi memandang Kemala.
"Kemana Ummi?" tanya Kemala bingung.
"Temani Ummi cari bahan dapur ke agen...Kamu bawa mobil ya. Mang Asep lagi cuti karena istrinya melahirkan..."
"Baiklah kalau begitu Ummi... Kemala ikut..." senyum merekah dibibir Kemala. Ini kesempatan untuk dirinya bisa rehat dan menjelajah sebentar.
"Kirana boleh ikut juga tidak, Ummi...?" sela Kirana berharap dibawa.
Abimana menoleh, pun dengan Abah.
"Maaf Kirana.. Ummi hanya ingin pergi bersama Kemala. Lagipula, bukankah kamu sedang ada kelas pagi ini. Cepatlah bersiap. Sudah hampir pukul tujuh, jangan sampai telat" ucap Ummi datar.
Kirana melirik jam di dinding. "Ummi benar... Mas, saya berangkat dulu ya... Assalamualaikum semua..." Kirana menyalami suminya serta Abah dan Ummi.
Sementara Kemala sudah melimpir kedapur dengan piring kotor ditangannya sebagai alasan menghindari Kirana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Usai sarapan, Abimana masih berada didapur hanya berdua dengan Kemala yang sibuk dengan piring kotornya. Abah sudah melangkah ke mesjid pondok sementara Ummi sedang bersiap-siap dikamarnya.
Abimana memandangi punggung Kemala yang bergerak kecil.
"Kamu masih marah Kemala?" tanya Abimana hati-hati.
Kemala berhenti sejenak, tapi tidak berbalik kearah Abimana yang masih berdiri dibelakangnya.
Abimana mendekat, meraih piring yang masih berbusa sabun lalu membasuhnya dengan air mengalir.
Kemala membiarkan saja. Toh, tidak ada gunanya dia mengusir laki-laki itu dari rumahnya sendiri.
"Kirana hanya berusaha akrab denganmu... Lagipula, bukankah bagus jika dua istri mas bisa akrab dan bersahabat"
Kemala menahan nafasnya, dan beristigfar dalam hati tanpa berniat menimpali setiap kalimat Abimana yang terkesan memojokkan dirinya karena tidak ingin didekati oleh Kirana.
Begitu pekerjaannya selesai, Kemala memilih pergi dari sana, berniat meninggalkan Abimana disana.
Namun lengan kekar itu mengurung Kemala dari belakang. Mendekap punggungnya.
Wajah Abimana menyuruk di curuk leher Kemala yang tertutup khimar warna mocca.
Ada rasa getir yang dirasakan oleh Kemala saat punggungnya beradu dengan dada bidang Abimana.
"Mas kangen kamu... Malam ini mas nginap dirumah kamu ya..." bisik Abimana tepat disisi kepala Kemala.
Kemala menekan sisi tunik lebarnya.
Baginya, malam-malam tanpa kehadiran Abimana disisinya sudah menjadi hal lumrah dan sangat biasa meski dirinya memiliki suami namun pada kenyatannya dirinya bagai seorang 'janda' karena Abimana yang sibuk menghabiskan malam bersama istri keduanya yang amat dia cintai.
Perlahan, Kemala melepas belitan tangan Abimana diperutnya, kemudian berdiri saling berhadapan dengan Abimana yang berdiri menjulang dihadapan Kemala.
"Tidak perlu memaksakan diri mas... Saya sudah terbiasa tidur dengan sisi ranjang yang dingin... Justru jika kamu tidur dirumah saya, akan membuat istri tercinta mu kehilangan dan kamu akan merayap, mengendap-endap keluar demi menemuinya... " Kemala tersenyum tipis.
"Biarkan terus seperti ini dengan kita memberi batasan... Saya sudah amat sangat terbiasa diabaikan olehmu... Jadi, jangan coba mengubahnya hanya karena menuruti titah Ummi... Berlaku adillah dengan niat tulus dari hatimu bukan paksaan orang lain..." sambungnya.
Kemala pergi begitu saja tanpa memberi kesempatan bagi Abimana membela diri.
Abimana meraup wajahnya.
Penolakan Kemala semakin membuatnya kesal karena egonya kali ini terluka.
bersambung....