Bagi Amanda Millen, patah hati terburuknya bukanlah saat melihat tunangannya berselingkuh di depan mata. Patah hati itu hanyalah awal mula dari sebuah bencana yang jauh lebih gelap. Dalam pelariannya mencari pelampiasan di kelab malam paling terlarang di kota, Amanda melakukan satu kesalahan fatal: ia menampar pria yang salah.
Pria itu bukan mantan kekasihnya yang brengsek. Pria itu adalah Aldebaran Hendrick.
Pemimpin The Iron Crown, klan mafia paling kejam, berdarah dingin, dan tak tersentuh oleh hukum mana pun. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol dan keputusasaan, Amanda menyerahkan dirinya pada sang iblis. Pagi harinya, ia terbangun sendirian dalam kehampaan, hanya ditemani memori kabur, sebuah kartu platinum tanpa limit, dan cincin berkepala tengkorak yang dingin di atas bantal.
Lima tahun berlalu. Amanda mengubur malam gila itu dalam-dalam, menganggapnya sebagai musibah yang tak akan pernah terulang. Ia membangun hidup baru, menyembunyikan Lily—buah dari benih sang penguasa ke
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Dentang jam lantai grandfather antik di sudut ruangan menjadi satu-satunya suara yang berani memecah keheningan mencekam di dalam ruang kerja Aldebaran Hendrick. Malam telah larut, badai di luar sana meronta-ronta menampar kaca jendela raksasa pencakar langit, namun amarah badai itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan badai gelap yang bergemuruh di dalam dada sang pemimpin The Iron Crown.
Aldebaran menuangkan cairan wiski single malt ke dalam gelas kristalnya untuk yang ketiga kali. Kemeja hitamnya sudah digulung hingga siku, menampilkan tato naga dan mahkota besi yang merambat di lengan berototnya. Lima tahun. Lima tahun pencarian tanpa ujung. Wanita itu seolah tidak pernah eksis, menguap bagai kabut di bawah sinar matahari. Kefrustrasian mulai menggerogoti kewarasannya.
Tok... tok...
Ketukan pelan itu disusul dengan terbukanya pintu oak ganda. Dante melangkah masuk. Namun kali ini, tangan kanan kepercayaannya itu tidak membawa tablet laporan keuangan atau daftar target pembunuhan. Dante membawa sebuah amplop tebal berwarna hitam legam. Tanpa prangko. Tanpa nama pengirim.
"Tuan," suara Dante terdengar lebih tegang dari biasanya. Ia meletakkan amplop itu tepat di tengah meja kerja marmer Aldebaran. "Tim keamanan perimeter menemukan ini di meja resepsionis utama lima menit yang lalu. Pengirimnya berhasil meretas kamera pengawas kita selama sepersekian detik. Ini bukan sekadar pesan biasa. Ini... sebuah provokasi."
Rahang Aldebaran mengeras. Mata elangnya menatap amplop itu dengan kilatan membunuh. Tidak ada seorang pun di kota ini yang berani bermain-main dengan The Iron Crown, kecuali mereka yang sudah bosan hidup.
Dengan gerakan lambat yang penuh perhitungan, Aldebaran meraih pembuka surat berlapis perak, mengiris tepi amplop itu, dan menumpahkan isinya ke atas meja.
Beberapa lembar foto beresolusi tinggi meluncur keluar.
Detik itu juga, udara di dalam ruangan terasa membeku. Suhu anjlok drastis. Aldebaran membeku di kursinya, matanya terpaku pada objek di dalam foto-foto tersebut.
Foto pertama menampilkan suasana Central Park di bawah siraman matahari musim gugur. Di sana, seorang wanita yang mengenakan kardigan beige tengah duduk di bangku taman. Wajahnya tersenyum lembut—sebuah senyuman yang menyiratkan kedamaian. Dan tepat di sebelahnya, duduk seorang pria berwajah ramah yang tengah menyisipkan seuntai anak rambut sang wanita ke belakang telinga.
Gelas kristal di tangan kiri Aldebaran retak. Cengkeramannya mengerat hingga buku-buku jarinya memutih.
Matanya yang setajam silet mengenali wajah pria di foto itu seketika. "Alan," geram Aldebaran rendah, suaranya bergetar oleh amarah murni yang siap meledak. "Bajingan tengik dari The Dragon Black berani menyamar menjadi pria kantoran rendahan?"
Namun, bukan Alan yang membuat jantung Aldebaran berhenti berdetak selama satu sekon. Fokusnya sepenuhnya tersita pada sang wanita.
Tangan Aldebaran yang besar dan dihiasi cincin tengkorak perak merayap, mengambil lembar foto kedua. Di foto ini, angle kamera memperbesar wajah wanita itu dari sisi samping saat angin musim gugur meniup rambutnya. Tepat di balik telinga kiri wanita itu, tercetak jelas sebuah tanda lahir kecil berwarna kemerahan.
Gotcha.
Napas Aldebaran tercekat. Tanda itu. Kulit pucat itu. Ia mengingatnya. Oh, ia mengingat setiap jengkal tekstur kulit itu, desahannya, dan bagaimana rasa manis bibirnya saat malam gila lima tahun lalu. Wanita yang selama ini membuatnya hampir gila mencari ke setiap sudut bumi, ternyata berada tepat di depan hidungnya, di kotanya, dan kini... sedang disentuh oleh musuh bebuyutannya.
"Kau menemukannya," bisik Aldebaran pada kekosongan, sebuah seringai iblis yang sangat gelap dan mematikan perlahan merekah di wajah tampannya. Seringai yang membuat Dante di sudut ruangan tanpa sadar menahan napas. "Kau menemukannya lebih dulu, Alan. Sebuah kesalahan yang akan kubayar dengan memenggal kepalamu."
Aldebaran menggeser ke foto ketiga, dan saat itulah dunianya benar-benar berhenti berputar.
Foto itu menampilkan seorang gadis kecil. Berusia sekitar empat tahun, mengenakan sweter merah muda, tengah tertawa lepas sambil digendong tinggi-tinggi oleh Alan. Namun, bukan tawa anak itu yang mengunci atensi Aldebaran. Melainkan matanya.
Saat gadis kecil itu menatap lurus, tak sengaja menghadap ke arah lensa kamera yang tersembunyi, Aldebaran melihat bayangan dirinya sendiri. Sepasang mata kelam yang tajam, dalam, dan absolut. Mata warisan garis keturunan Hendrick.
Otak Aldebaran, yang terbiasa menghitung strategi perang dalam hitungan detik, langsung menyatukan kepingan puzzle itu. Lima tahun yang lalu. Wanita dengan tanda lahir. Gadis kecil berusia empat tahun.
Prang!
Gelas kristal di tangan Aldebaran hancur berkeping-keping. Darah segar menetes dari telapak tangannya, menodai meja marmer putih, namun pria itu bahkan tidak berkedip. Ia tidak merasakan sakit. Rasa sakit di tangannya tenggelam oleh gelombang adrenalin, kepemilikan yang posesif, dan obsesi kelam yang kini menguasai setiap sel darahnya.
Wanita itu bukan hanya sekadar wanita dari masa lalu. Dia adalah wadah yang telah mengandung benihnya. Gadis kecil itu... adalah darah dagingnya. Pewaris takhta The Iron Crown.
"Dante," panggil Aldebaran. Suaranya tidak lagi bergetar karena amarah. Suaranya kini setenang air di dasar samudra terdalam—dingin, pekat, dan mematikan.
"Ya, Tuan?" Dante melangkah maju, melirik ngeri pada pecahan kaca dan darah di meja.
"Kumpulkan Flop dan seluruh unit elit Delta. Persenjatai mereka dengan kekuatan penuh," titah Aldebaran seraya bangkit berdiri. Ia mengambil selembar sapu tangan sutra hitam, mengelap darah dari tangannya dengan santai, matanya tak pernah lepas dari foto gadis kecil dan wanita di atas mejanya. "Lacak dari mana foto ini dikirim. Identifikasi wanita ini. Cari tahu nama jalan tempat tinggalnya, tempatnya bekerja, apa makanan kesukaannya, ukuran sepatunya, dan jam berapa dia bernapas. Aku ingin profil lengkapnya di mejaku sebelum matahari terbit."
"Baik, Tuan. Apa kita akan langsung menyerang Alan?"
Aldebaran tertawa. Sebuah tawa rendah, bergemuruh di dada yang terdengar seperti janji kematian. "Alan mengira dia sedang bermain catur denganku dengan menjadikan milikku sebagai sandera. Dia salah besar."
Aldebaran mencondongkan tubuhnya, ujung jemarinya yang bernoda darah menyentuh wajah Amanda di selembar foto. "Wanita ini dan anak itu adalah milikku. Takdirku. Dan barang siapa yang berani menyentuh milik sang Raja, maka neraka adalah tempat peristirahatan terakhirnya."
Ia menoleh menatap Dante, kilat di matanya adalah kilat seorang predator puncak yang siap mengoyak mangsanya. "Siapkan mobilku. Malam ini, The Iron Crown akan turun ke jalanan. Kita jemput Ratu dan Putri kecilku pulang ke istana mereka."
kejam banget
kenapa Lily yg harus pergi😭