NovelToon NovelToon
Misi Bertahan Hidup: Jangan Jadi Gadis Miskin!

Misi Bertahan Hidup: Jangan Jadi Gadis Miskin!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir / Fantasi Wanita
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagaimana rasanya menjadi seorang CEO sukses di era modern, lalu dalam sekejap mata terbangun di dalam gubuk bobrok era dinasti kuno?
Itulah nasib sial yang menimpa Lin Wan. Jiwanya merasuki tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun yang hampir mati kelaparan, hidup bersama ibu yang sakit-sakitan, adik kecil yang menangis kelaparan, serta paman serakah yang berniat menjual mereka demi utang judi.
Bagi Lin Wan, menyerah bukanlah kamusnya. Berbekal otak bisnis modern, kecerdasan taktis, dan tekad baja, ia bersumpah untuk mengubah nasib.
Berhasilkah Lin Wan menjadi wanita yang bisa berubah kaya, atau justru takdir membawanya pada takdir yang tak pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Strategi Kebangkitan Ekonomi

Malam pertama di atas reruntuhan gubuk yang berat berbalut terpal kedap air akhirnya berhasil dilewati tanpa insiden berarti.

Meskipun badai angin pegunungan sempat menguji ketahanan struktur tenda darurat tersebut sepanjang tengah malam, ikatan simpul tali rami dan kekokohan empat tiang utama yang dirakit oleh Lin Wanru terbukti tahan banting.

Ketika garis cahaya putih keperakan mulai merayap di ufuk timur Desa Hutan Batu, udara pagi terasa begitu dingin menusuk tulang. Embun malam menempel tebal di permukaan kain terpal luar, membentuk bulir-bulir air yang berkilauan diterpa sinar matahari fajar yang malu-malu menyembul di balik bukit batu.

Di dalam tenda darurat, Lin Wanru perlahan membuka matanya. Ia tidak langsung bangkit, melainkan meregangkan otot-otot tubuhnya secara perlahan untuk memeriksa kondisi fisiknya. Rasa nyeri di punggung akibat hantaman keras di pasar kemarin kini sudah mulai mereda, menyisakan rasa kaku yang wajar.

"Huffthh..."

Wanru menghela napas panjang, lalu melirik ke sisi kirinya. Nyonya Lin dan Lin Bao masih terlelap dalam tidur yang pulas. Napas mereka terdengar teratur di bawah kehangatan selimut usang yang kasar. Wanru sengaja bergerak sangat pelan agar tidak membangunkan ibu dan adiknya.

"Waktunya bergerak," bisik Wanru dalam hati. Ia bangkit perlahan, merapikan pakaiannya yang sedikit kusut, menyandang kantong kain usang kosong di bahunya, dan melangkah keluar melalui celah tirai terpal.

Pagi hari di Hutan Hantu selalu menghadirkan suasana mistis yang khas. Kabut tipis menggantung rendah di antara pepohonan purba, dan aroma tanah basah bercampur dedaunan busuk memenuhi udara.

Bagi penduduk desa, Hutan Hantu adalah tempat yang harus dihindari saat fajar karena konon dihuni oleh roh-roh penunggu yang usil. Namun bagi Wanru, hutan ini adalah lumbung harta karun biologis yang tidak pernah kehabisan stok.

Dengan langkah cepat dan penuh perhitungan, Wanru menyusuri jalur yang sama seperti hari sebelumnya. Matanya yang tajam memindai setiap inci tanah, batang pohon lapuk, dan tepi aliran sungai kecil. Kali ini, targetnya tidak hanya terbatas pada jamur tiram atau akar manis.

"Hari ini aku harus mencari komoditas yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi," analisis Wanru sambil memetik beberapa rumpun tanaman obat berkhasiat tinggi yang tumbuh di balik batu basah. "Sepuluh keping tembaga di kantong tidak akan cukup bertahan lama jika kami hanya mengandalkan bahan pangan harian. Aku butuh modal untuk memperluas skala usahamu."

Dalam waktu dua jam penjelajahan yang melelahkan namun memuaskan, kantong kain usang di bahu Wanru kini telah terisi penuh oleh:

Sejumlah Jamur Hitam Liar (Wood Ear) berkualitas ekspor tinggi yang sangat dicari oleh para tabib dan koki restoran istana kuno.

Beberapa rumpun Ginseng Liar Muda berukuran sedang yang tersembunyi di balik akar pakis tua.

Sekumpulan besar Bunga Seruni Liar yang bisa dikeringkan untuk dijadikan teh herbal penurun panas dalam.

"Cukup," gumam Wanru dengan napas sedikit terengah-engah namun tersenyum puas. "Dengan tambahan ginseng liar muda ini, nilai jual hari ini akan melompat jauh dibandingkan kemarin."

Menjelang pukul sepuluh pagi, Wanru sudah kembali berjalan menuruni bukit menuju lokasi tenda darurat mereka di reruntuhan gubuk.

Begitu ia mendekati area tersebut, ia melihat Nyonya Lin sedang sibuk merapikan ranting-ranting kayu di depan tenda, sementara Lin Bao tampak duduk riang sambil membersihkan batu-batu kecil di sekitar halaman darurat.

"Ibu! Bao-er!" sapa Wanru ceria, melangkah masuk ke halaman.

Nyonya Lin seketika menghentikan pekerjaannya. Wajah wanita paruh baya itu langsung diselimuti rasa cemas begitu melihat putrinya pulang membawa kantong penuh dari hutan. Ia bergegas menghampiri Wanru, sambil memeriksa kedua tangan dan wajah putrinya dengan panik.

"Wan-er! Dari mana saja kau pagi-pagi sekali, Nak? Kenapa masuk ke hutan lagi sendirian? Bukankah punggungmu masih sakit karena kemarin?" tanya Nyonya Lin bertubi-tubi, suaranya sarat akan kekhawatiran seorang ibu.

Wanru tersenyum hangat, lalu menurunkan kantong kainnya dengan hati-hati ke atas tanah. "Ibu, aku baik-baik saja. Punggungku sudah jauh lebih baik. Aku sengaja pergi pagi-pagi sekali mumpung hari cerah dan warga desa belum banyak yang berkeliaran."

Wanru membuka sedikit ikatan kantong kainnya, dan memperlihatkan isi di dalamnya kepada sang ibu dan adiknya.

Nyonya Lin terperanjat kaget. Mata wanita paruh baya itu membelalak saat melihat rumpun ginseng liar muda dan jamur hitam berkualitas tinggi berkilau di dalam kantong.

"Ya Tuhan... Wan-er... ini... ini ginseng liar?!" seru Nyonya Lin setengah berbisik karena tidak percaya. "Bagaimana mungkin kau bisa menemukan tanaman berharga seperti ini di pinggiran Hutan Hantu?"

"Hutan itu menyimpan banyak rahasia bagi siapa saja yang tahu cara mencarinya, Ibu," jawab Wanru. "Hari ini, aku akan kembali ke Pasar Sungai Besi untuk menjual seluruh hasil hutan ini. Dengan ginseng ini, kita bisa mendapatkan kepingan tembaga yang jauh lebih banyak."

Sembari Nyonya Lin menyiapkan air hangat sederhana di dalam mangkuk tanah liat untuk membersihkan wajah Wanru, sang CEO duduk bersila di depan tenda, dan mulai merancang strategi bisnis hari kedua.

Bagi Wanru, berjualan secara eceran sebagai pedagang kaki lima di sudut kuil tua memang berhasil kemarin, namun cara itu memiliki banyak kelemahan, tidak efisien, memakan waktu lama, dan rentan diusir oleh pengawas pasar jika tidak memiliki izin resmi.

$Model bisnis eceran harian adalah gaya pedagang kecil yang hidup dari tangan ke mulut," analisis Wanru dalam hati, menyusun rencana di dalam kepalanya. "Untuk bisa keluar dari lingkaran kemiskinan secara permanen, aku harus menaikkan rantai pasok. Alih-alih menjual langsung ke pembeli akhir, aku harus menjalin kerja sama B2B (Business-to-Business) dengan pemilik toko obat terbesar atau restoran mapan di kota kecamatan.

Jika ia bisa menjual seluruh ginseng dan jamur berkualitas tinggi itu langsung kepada Tabib Kepala di Balai Pengobatan Utama Sungai Besi atau Koki Kepala Restoran Angsa Emas, ia bisa mendapatkan harga grosir yang stabil tanpa harus berpanas-panasan menggelar lapak di jalanan setiap hari.

"Ibu, hari ini aku akan pergi ke pasar sendirian," kata Wanru setelah meminum seteguk air hangat. "Bao-er, tetaplah di sini menemani Ibu dan jaga tenda kita. Jangan pergi ke mana-mana."

"Baik, Kakak! Aku akan menjaga Ibu!" jawab Lin Bao patuh sambil mengangguk mantap.

Nyonya Lin menatap putrinya dengan pandangan penuh rasa percaya yang kini sudah mengakar kuat. "Hati-hati di jalan, Wan-er. Jangan mencari masalah dengan orang-orang jahat lagi."

"Tenang saja, Ibu. Kali ini, aku pergi bukan untuk mencari masalah, melainkan untuk mencari kekayaan," ucap Wanru tersenyum penuh percaya diri.

Tanpa membuang waktu lebih lama, Wanru menyandang kantong kainnya yang berisi komoditas herbal berharga tinggi, lalu melangkah meninggalkan area reruntuhan gubuk.

Ia kembali memilih jalur setapak tua di balik bukit belakang untuk menghindari pertemuan yang tidak perlu dengan warga Desa Hutan Batu atau kelompok Nyonya Liu.

Langkah kakinya terasa jauh lebih ringan hari ini. Semangat juang seorang pebisnis ulung yang terperangkap dalam tubuh gadis delapan belas tahun kembali membara.

Satu jam kemudian, Wanru berhasil menyeberangi jembatan kayu Sungai Besi dan kembali menginjakkan kakinya di keramaian gerbang utara pasar kecamatan.

Suasana pasar hari ini tampak sama sibuknya seperti kemarin. Bau rempah-rempah, suara tawar-menawar, dan derap langkah kaki manusia berpadu menjadi satu simfoni ekonomi rakyat jelata.

Namun, jika kemarin Wanru berjalan dengan rasa cemas dan kebingungan geografis, hari ini ia melangkah dengan kepala tegak layaknya seorang pemilik perusahaan besar yang sedang melakukan inspeksi lapangan.

Matanya langsung memindai deretan bangunan bergaya kuno di sepanjang jalan utama pasar, mencari satu titik target utama yang menjadi tumpuan strategi bisnisnya hari ini yaitu, Balai Pengobatan "Sumber Berkah", apotek herbal terbesar dan paling bergengsi di seluruh wilayah Kecamatan Sungai Besi.

"Ini dia tempatnya"

Bersambung...

1
Osie
laki modelan dehai nih kudu dibasmi sampai g bernapas lagi..benar benar sampah yg kudu ditanam
Iyus Iyus
baguuuss
Iyus Iyus
mampus tu
Osie
keluarga lin warung kudu jd konglomerat ..no cinta cintaan ya thor kudu sukses n kaya raya dulu..cinta cintaan no kesekian ratus dah
Aurora: Lin Wanru mungkin ya, bukan Lin warung, typo 😅
siap... tapi jika othor berkata lain jidonya bisa segera hadir 😃🤗
total 1 replies
Osie
aura ceo jaman modern emang gak kaleng kaleng..kena mental dah duo penjaga rumah lelang
The Dream26: Novel 'RUMAH' telah hadir, karya spektakuler dan seru untuk di nikmati, penasaran?, mampir ya kak
total 1 replies
Osie
eh sdh dipenghujung cerita ternyata..msh ada lanjutannyakah? ceritanya bagus banget
Aurora: cerita masih berlanjut kak... nantikan episode selanjutnya ya... 🤗
total 1 replies
Dewi Habibah
lanjut 😍
Aurora: siap kakak...🤗
total 1 replies
Dewi Habibah
Bagus sekali ceritanya
Aurora: terima kasih... nantikan terus update episode selanjutnya ya...🤗
total 1 replies
Siskasuryaningsih
Baru baca thor tetap semangat yo,,, 💪💪💪
Aurora: siap kakak...🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!