NovelToon NovelToon
DIA LELAKI YANG BERBAHAYA, TAPI AKU MENCINTAINYA

DIA LELAKI YANG BERBAHAYA, TAPI AKU MENCINTAINYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:526
Nilai: 5
Nama Author: Jefika Isabell

Isabella Laurent adalah definisi sempurna dari kecantikan yang mampu mencuri perhatian siapa pun. Wanita berdarah Spanyol itu memiliki tinggi 169 sentimeter, wajah menawan, tatapan mata yang memikat, serta pesona elegan yang membuat banyak pria berusaha mendapatkan hatinya. Namun, di balik kecantikannya, Isabella bukanlah wanita lemah yang mudah tunduk pada keinginan orang lain. Ia memiliki harga diri, keberanian, dan prinsip yang tidak akan pernah ia korbankan demi seorang pria.

Sayangnya, takdir mempertemukannya dengan seseorang yang seharusnya tidak pernah memasuki kehidupannya.

Dominic Lorenzo Imanuel.

Seorang pria yang namanya cukup untuk membuat para pengusaha besar kehilangan keberanian. Ia bukan sekadar pria kaya raya dengan kekuasaan tanpa batas, melainkan seorang mafia berbahaya yang mengendalikan dunia gelap dengan tangan dingin. Kejam kepada musuh, tidak mengenal belas kasihan, dan selalu mendapatkan apa y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PEREMPUAN DENGAN WAJAHKU

Malam itu, aku tidak bisa memejamkan mata.

Bayangan perempuan yang mengaku sebagai saudara kembarku terus memenuhi pikiranku. Suaranya, tawanya, bahkan cara dia mengucapkan namaku terasa begitu familier.

Bagaimana mungkin ada seseorang yang memiliki wajah dan suara sepertiku, tetapi menjalani kehidupan yang sama sekali berbeda?

Aku duduk di tepi ranjang sambil memandangi foto bayi yang dikirimkan bersama paket tadi.

Dua bayi perempuan.

Satu adalah aku.

Lalu siapa bayi yang lainnya?

Pintu kamar terbuka perlahan.

Dominic masuk dengan wajah serius. Ia sudah berganti pakaian dengan kemeja hitam dan celana panjang.

“Kau belum tidur?”

Aku menggeleng.

Dominic menghampiri tempat tidur, kemudian duduk di sampingku.

“Aku sudah memeriksa nomor yang menghubungimu.”

“Dan?”

“Nomor itu menggunakan jaringan pribadi. Sulit dilacak.”

Aku menghela napas.

“Dia bilang akan datang besok malam.”

“Aku tahu.”

“Bagaimana kalau dia benar-benar saudara kembarku?”

Dominic menatapku.

“Kalau itu benar, kita akan mencari tahu mengapa kalian dipisahkan.”

Aku menunduk.

“Bagaimana jika dia membenciku karena mendapatkan kehidupan yang berbeda?”

Dominic menggenggam tanganku.

“Bukan salahmu jika seseorang telah mengambil keputusan atas kehidupan kalian.”

Aku tersenyum tipis.

Namun, ada satu pertanyaan yang sejak tadi menggangguku.

“Dominic, apakah kau percaya kepadaku?”

Ia mengernyit.

“Tentu saja.”

“Bahkan jika suatu hari nanti kau mengetahui bahwa keluargaku bertanggung jawab atas semua penderitaan keluargamu?”

Dominic terdiam.

Kemudian ia mendekat dan menyentuh pipiku.

“Aku mungkin akan membenci masa lalu keluargamu, Isabella. Tapi aku tidak akan menghukummu atas sesuatu yang tidak pernah kau lakukan.”

Aku memejamkan mata.

Entah mengapa, kalimat sederhana itu membuatku hampir menangis.

Keesokan paginya, Marco datang membawa kabar mengejutkan.

“Tuan, kami menemukan seseorang yang cocok dengan deskripsi perempuan yang menelepon Nona Isabella.”

Dominic langsung berdiri.

“Di mana?”

“Hotel di pusat kota. Dia menggunakan nama Victoria Laurent.”

Aku menoleh cepat.

“Victoria Laurent?”

Marco mengangguk.

“Dia check-in tiga hari lalu. Usianya diperkirakan sama dengan Nona Isabella.”

Dominic mengambil jasnya.

“Siapkan mobil.”

“Aku ikut,” kataku.

Dominic menoleh.

“Tidak.”

“Dominic!”

“Tempat itu belum tentu aman.”

“Aku berhak bertemu dengannya. Dia mungkin satu-satunya orang yang bisa menjelaskan siapa diriku sebenarnya.”

Dominic menghela napas panjang.

Beberapa detik kemudian, ia mengangguk.

“Baik. Tapi kau tidak boleh menjauh dariku.”

Kami tiba di hotel sekitar pukul sebelas siang.

Marco sudah memeriksa kamar Victoria. Namun, perempuan itu ternyata tidak berada di sana.

Seorang petugas hotel memberikan informasi bahwa Victoria baru saja meninggalkan kamar.

“Dia menitipkan sesuatu untuk Nona Isabella,” ujar petugas tersebut.

Ia menyerahkan sebuah amplop putih.

Aku segera membukanya.

Di dalamnya terdapat secarik kertas.

Jika kau benar-benar ingin mengetahui kebenarannya, datanglah ke tempat ibu kita dimakamkan. Jangan bawa Dominic.

Aku menatap tulisan itu.

“Ibu kita?”

Dominic membaca pesan tersebut dari sampingku.

“Ini jebakan.”

“Bagaimana kalau bukan?”

“Isabella, dia sengaja memisahkanmu dariku.”

Aku menggeleng.

“Dia mungkin hanya ingin berbicara denganku sebagai saudara.”

Dominic memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

“Aku tidak menyukainya.”

Aku hampir tersenyum mendengar nada suaranya.

“Sejak kapan kau harus menyukai semua orang yang ingin kutemui?”

“Sejak orang-orang itu terus mencoba membunuhmu.”

Aku tidak membantah.

Namun, aku tetap ingin pergi.

Akhirnya Dominic menyetujui pertemuan tersebut dengan syarat Marco dan beberapa penjaga mengawasi dari kejauhan.

Pemakaman keluarga Laurent terlihat sepi ketika kami tiba.

Aku berjalan menyusuri deretan batu nisan hingga menemukan makam Elena.

Di sana sudah berdiri seorang perempuan.

Punggungnya menghadap kepadaku.

Rambut panjangnya tergerai sampai pinggang. Ia mengenakan gaun putih sederhana.

“Victoria?”

Perempuan itu perlahan berbalik.

Aku terdiam.

Wajahnya sama persis denganku.

Bentuk mata, hidung, bibir, bahkan tahi lalat kecil di dekat dagunya.

Seolah-olah aku sedang berdiri di depan cermin.

Ia tersenyum.

“Akhirnya kita bertemu.”

Aku melangkah mendekat dengan hati-hati.

“Jadi, kau benar-benar saudara kembarku?”

Victoria mengangguk.

“Namaku Victoria. Dan ya, kita dilahirkan pada malam yang sama.”

Air mataku mulai menggenang.

“Mengapa kita dipisahkan?”

Senyumnya menghilang.

“Karena salah satu dari kita dianggap sebagai ancaman.”

“Ancaman bagi siapa?”

Victoria menatapku tajam.

“Bagi keluarga Imanuel.”

Aku mengerutkan kening.

Ia kemudian mengeluarkan sebuah foto dari tasnya.

Foto itu memperlihatkan Elena sedang menggendong dua bayi.

Namun, ada sesuatu yang berbeda.

Di belakang foto tertulis dua nama.

ISABELLA — PEWARIS SAH.

VICTORIA — ANAK YANG HARUS DIHILANGKAN.

Aku menutup mulut.

“Apa maksud tulisan ini?”

Victoria tertawa kecil tanpa kebahagiaan.

“Selama ini aku hidup di tempat yang bahkan tidak bisa kusebut rumah. Aku dibesarkan dengan kebohongan bahwa aku adalah anak yang tidak diinginkan.”

“Victoria...”

“Sedangkan kau mendapatkan Richard, pendidikan, rumah, dan kehidupan yang nyaman.”

Aku menggeleng.

“Aku juga tidak pernah mengetahui apa pun.”

“Tapi setidaknya kau punya seseorang yang melindungimu.”

Matanya beralih ke arah Dominic yang berdiri beberapa meter dari kami.

“Pria itu bahkan rela mempertaruhkan nyawanya untukmu.”

Aku tidak menjawab.

Victoria mendekat.

“Sekarang aku ingin semuanya kembali.”

“Apa maksudmu?”

Ia menatapku lurus-lurus.

“Namamu. Warisanmu. Bahkan kehidupanmu.”

Tiba-tiba Victoria mengeluarkan sebuah dokumen dari tasnya.

“Ini surat pengakuan dari Adrian. Dia menyatakan bahwa aku adalah pewaris yang sebenarnya.”

Aku mengambil dokumen itu.

Namun, sebelum sempat membacanya, Dominic datang mendekat.

“Jangan sentuh dokumen itu.”

Victoria tersenyum sinis.

“Ah, Dominic Imanuel. Pria yang selama ini menjadi pelindung adikku.”

Dominic berdiri di sampingku.

“Aku tidak mengenalmu.”

“Tentu saja. Karena selama ini semua orang berusaha memastikan kau tidak pernah menemukan keberadaanku.”

Dominic memperhatikan dokumen tersebut.

“Dari mana kau mendapatkan ini?”

“Dari ayah kita.”

Aku terkejut.

“Ayah kita?”

Victoria menatapku.

“Adrian bukan hanya ayahmu, Isabella. Dia juga ayahku. Tapi ada satu hal yang tidak pernah diberitahukan Elena kepadamu.”

“Apa?”

Victoria tersenyum tipis.

“Adrian sebenarnya tidak pernah menginginkan kalian berdua lahir.”

Aku merasa dadaku sesak.

“Itu tidak benar.”

“Percayalah. Aku memiliki bukti.”

Ia mengeluarkan sebuah flashdisk kecil.

“Di dalamnya ada rekaman percakapan Adrian dan Richard pada malam kita dilahirkan.”

Dominic mengambil flashdisk itu.

“Kenapa kau memberikannya kepada kami?”

Victoria menatapnya dingin.

“Karena aku ingin kalian mendengar sendiri siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas semua penderitaan ini.”

Kemudian ia mundur beberapa langkah.

“Besok malam, aku akan datang ke mansion. Pastikan buku hitam itu sudah disiapkan.”

“Kenapa kau menginginkan buku itu?” tanyaku.

Victoria berhenti.

Untuk pertama kalinya, senyumnya menghilang.

“Karena halaman terakhirnya bukan hanya berisi namamu, Isabella.”

Ia menatap Dominic.

“Di sana juga tertulis nama orang yang membunuh Clara Imanuel.”

Dominic langsung menegang.

Victoria kembali menatapku.

“Dan orang itu masih hidup.”

Setelah mengatakan itu, ia berjalan meninggalkan kami.

Aku hendak mengejarnya, tetapi Dominic menahan lenganku.

“Biarkan dia pergi.”

“Dominic, kita harus mendapatkan penjelasannya!”

“Tidak. Kita harus memeriksa flashdisk ini terlebih dahulu.”

Malam harinya, kami berkumpul di ruang kerja.

Marco berhasil membuka file dalam flashdisk Victoria.

Sebuah rekaman lama mulai diputar.

Suara Richard terdengar lebih dulu.

“Kita tidak bisa membiarkan kedua bayi itu tumbuh bersama. Jika mereka mengetahui siapa pewaris sebenarnya, seluruh kesepakatan akan hancur.”

Kemudian suara Adrian menjawab.

“Aku hanya menginginkan Isabella. Bayi yang satu lagi tidak boleh berada di dekat keluarga ini.”

Aku menahan napas.

Lalu terdengar suara seorang perempuan.

Suara itu membuatku langsung berdiri.

Elena.

“Kalau kalian menyentuh salah satu anakku, aku akan menghancurkan kalian semua.”

Rekaman berhenti sejenak.

Kemudian muncul suara pria lain.

Suara yang sangat kukenal.

Dominic.

Namun, rekaman itu berasal dari dua puluh lima tahun lalu, sebelum ia dilahirkan.

Aku menoleh bingung.

“Itu tidak mungkin.”

Marco memeriksa file tersebut.

“Tuan, ada bagian rekaman yang digabungkan. Suara terakhir berasal dari rekaman lain.”

Dominic mendekat ke layar.

Suara itu kembali terdengar.

“Pastikan Isabella tidak pernah mengetahui bahwa ibunya sendiri adalah orang yang membunuh Clara.”

Aku membeku.

Perlahan, aku menoleh kepada Dominic.

Ia juga terlihat terkejut.

Namun, sebelum salah satu dari kami sempat berbicara, ponsel Marco berdering.

Ia mengangkatnya.

Wajahnya langsung berubah pucat.

“Apa maksudmu mereka sudah masuk?”

Marco menatap Dominic.

“Tuan... ada seseorang di mansion.”

“Siapa?”

Marco menelan ludah.

“Richard Laurent.”

Aku berdiri begitu cepat hingga kursiku terjatuh.

“Ayah?”

Marco mengangguk.

“Tapi ada masalah lain.”

Dominic mengerutkan kening.

“Apa?”

Marco menatapku dengan wajah serius.

“Richard tidak datang sendirian. Dia membawa seorang perempuan yang wajahnya sama persis dengan Nona Isabella.”

Aku merasakan seluruh tubuhku melemas.

Victoria?

Namun, perempuan itu baru saja meninggalkan kami.

Lalu siapa yang sekarang berada di mansion?

Tiba-tiba ponselku berdering.

Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

“Jangan percaya pada Victoria yang kau temui hari ini. Dia bukan saudara kembarmu yang sebenarnya.”

Aku menatap layar dengan napas tertahan.

Pesan kedua masuk beberapa detik kemudian.

“Saudara kembarmu yang sebenarnya sudah meninggal dua puluh tahun lalu.”

Aku perlahan mengangkat wajah.

Dominic menatapku.

“Isabella, ada apa lagi?”

Aku menunjukkan pesan tersebut.

Dominic membaca semuanya, lalu mengambil pistol dari laci meja.

Wajahnya berubah dingin.

“Sepertinya malam ini kita akan mengetahui siapa yang sebenarnya sedang mempermainkan kita.”

Dan tepat saat itu, seluruh lampu mansion padam.

Dari pengeras suara terdengar suara perempuan yang sangat mirip denganku.

“Selamat malam, Isabella. Sudah waktunya kau bertemu dengan dirimu yang sebenarnya.”

BERSAMBUNG...

1
Mia Camelia
lanjut thor😊
A.A.Pusung
Sedang membaca....
Zendyaa4
bagus kak,semangat teus.. .💪
jangan lupa mampir kakk..🤭
RSS: ko ada bhsa inggrisnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!