NovelToon NovelToon
Sandyakala "Aksa Dan Amerta"

Sandyakala "Aksa Dan Amerta"

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:306
Nilai: 5
Nama Author: Nyimas zaharah

Ini kisah seorang wanita introvert serta brokenhome, dalam segala hal tidak ada yang berjalan lancar baginya. Seorang wanita yang workaholic, soal percintaan jangan tanyakan. Sudah dapat dipastikan hancur juga sama seperti keluarga nya, Ia hanya dapat bertahan hidup untuk dirinya sendiri dengan cara menonton drama Korea kesukaannya, belanja di toko online, membeli makanan dan lain-lain.

Mei 1999 seorang wanita bernama Mahika Avisa Zalana, sejak lulus sekolah ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Jangan tanyakan alasannya, sudah dipastikan karna ia ingin bekerja dan tidak mau merepotkan keluarganya. Kalau ditanya kenapa tidak kuliah padahal keluarganya mampu bahkan sangat mampu untuk membiayai pendidikannya. Hanya saja ia terlanjur "Malas" yang berkaitan dengan keluarga nya lagi. Bukan berarti dia membenci keluarganya tapi ia ingin hidup tenang tanpa mengingat harus membayar hutang (tidak cuma-cuma) pendidikan yang ia pinjam pada keluarga nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyimas zaharah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Janji

...بسم الله الر حمن الر حيم ...

.... ...

.... ...

...Berdoa adalah caraku mencintaimu dan diamku adalah cara paling mencintaimu. ...

.... ...

.... ...

...Mahija Biantara Al-Ghifari...

***

Suara-suara para pria berseragam loreng sedang sibuk membereskan tenda-tenda yang digunakan selama masa bencana, seorang pria sedang berdiri mengawasi semua anggota nya, Mahija Biantara Al-Ghifari. Ia tidak menggunakan seragam nya, hanya bermodalkan kaos,topi hitam dan celana panjang. Ia melirik ke arah jam tangannya, ia berjalan mendekat ke arah Fian yang masih sibuk membereskan perlengkapan militer.

Pagi ini mentari menyinari desa dengan sangat cerah, angin semilir sesekali terasa. Suhu hangat setelah hujan semalam menjadi pertanda aktivitas warga akan kembali semula, seorang wanita dengan gamis biru danker dengan aksen motif bunga berwarna ungu dibagian bawah dan pergelangan tangannya sedang duduk di ayunan halaman rumahnya. Hijab berwarna ungu muda menutupi mahkotanya, saat ini ia tengah mendengarkan sebuah lagu melalui headphone nya sembari menutup kedua matanya menikmati hangatnya mentari pagi ini.

Sudah 10 menit ia berada di sana, ia melihat ke layar ponselnya sudah menunjukkan pukul 08.00. Ia bergegas memakai masker dan membawa tasnya, sesaat kemudian seorang pria baru saja sampai di depan pagar rumahnya. Ia hanya terdiam melihat pria itu yang kini telah rapih memakai topi dengan warna hitam, ntah hendak pergi kemana pria itu namun wanita yang tak lain adalah Mahika yakin bahwa pria yang ada di hadapannya itu akan berpamitan dengannya.

"Assalamu'alaikum" sapa pria itu, Mahija.

"Wa'alaikumussalam" jawab Mahika singkat.

"Saya akan berbicara dari sini saja, kamu tetap berada di tempatmu dan dengarkan apa yang saya ucapkan.." jeda Mahija, melihat Mahika berdiri di dekat ayunan.

"Saya mau berpamitan denganmu, maaf kan saya jika membuatmu tidak nyaman tempo hari yang lalu. Tentang keinginan saya melamar kamu menjadi istri saya.. "

"Saya sudah bilang saya menolak lamaran anda, saya tidak mau menerima lamaran anda" Mahika memotong ucapan pria yang sedang berada di hadapannya itu.

Rasa kesal sedikit memuncak di kepalanya dengan tegas Mahika memberikan peringatan keras pada pria yang berdiri dihadapannya itu, tampak raut wajah pria itu sedikit berubah dari sebelumnya.

"Saya harap jangan pernah datang lagi, saya sudah lelah dihancurkan oleh orang-orang yang saya percaya selama ini. Tolong biarkan saya hidup dengan tenang. Mohon maaf anda bisa pergi sekarang!!" Mahika mengakhiri ucapannya dengan penekanan.

Namun Mahija hanya tersenyum, ia tetap bertahan pada keyakinannya saat ini. Ia berdiri menundukkan wajahnya ke tanah, ia sama sekali tidak menatap Mahika saat ini, namun sebuah bungkusan kecil berada di genggaman tangannya.

"Saya akan kembali bersama keluarga saya 4 hari lagi, jika kamu tidak percaya atas ucapan saya. InsyaAllah secara resmi saya akan melamar kamu dan menjadikan kamu istri saya" ucapnya kembali. "Assalamu'alaikum" Mahija pergi melangkah menjauh dari rumah Mahika, ia yakin Allah Maha yang membolak-balikkan hati.

"Berdoa adalah caraku mencintaimu dan diamku adalah cara paling mencintaimu." Bagi Mahija ini hanyalah sebuah kerikil kecil sebelum menghadapi bahtera rumah tangga.

Mahija berjalan memasuki mobilnya, bersiap untuk kembali ke kesatuan. Para warga mengantarkan dirinya dengan senang hati, sebelum mobil berjalan ia menatap rumah Mahika yang tidak terlalu jelas namun masih terlihat.

"Saya akan kembali lagi dalam jangka waktu 4 hari.. " ujar Mahija dengan senyuman.

"Baiklah saya tunggu ya nak.. Saya doakan semoga niat baikmu akan terkabulkan. " kepala desa melepas Mahija dengan haru.

Selama ini apa yang kepala desa pikiran akhirnya terwujud, meskipun Mahika menolaknya mentah-mentah. Kepala desa tentu paham bagaimana rasanya jadi Mahika setelah sampai di desa ini, Mahika di datangi oleh orang-orang yang menyebut bahwasanya mereka keluarga Mahika saat Mahika sedang mengajar di sekolah. Mahika habis-habisan di maki dan di caci disudutkan hingga membuat Mahika tidak keluar rumah selama 2 bulan lamanya, orang-orang yang mengaku keluarga nya juga telah menyerahkan surat wali kepada kepala desa dan tidak mau mengurus hal-hal yang berhubungan dengan Mahika.

Ucapan-ucapan yang keluar dari mulut keluarga Mahika sangat tajam, bahkan para warga juga merasa sakit hati mendengarnya. Satu hal yang menjadi permasalahan adalah uang, Mahika dianggap sebagai bank berjalan bagi keluarganya. Para warga merasa iba pada Mahika, hingga akhirnya mereka merawat dan menjaga Mahika sampai saat ini.

Kini Mahika sudah bertahan sangat baik dengan membentengi dirinya sendiri, wajar saja para pria yang mendekati nya sangat sulit. Ia bertahan sejauh ini sendirian tanpa adanya keluarga yang menemaninya,Ia berjalan sendirian melewati duri-duri tajam yang menusuk kakinya.

"Assalamu'alaikum.. " sapa seorang wanita. Mahika.

"Waalaikumsalam" jawab para warga yang masih berkumpul.

"Avisa mau kuliah nak? " tanya bu Lasmi "mau diantar sama siapa hari ini?? "

Melihat Mahika yang membawa tas nya serta menggunakan sepatu, dengan melihat saja bu Lasmi sudah paham tujuan Mahika akan kemana. Ia adalah salah satu ibu yang sangat sering berkunjung kerumah Mahika, sekedar mengecek Mahika atau sekedar mengobrol ringan tentang ibu dan anak.

Ia sudah menganggap Mahika seperti anaknya sendiri, melarang, memberi nasehat dan terkadang mengajak Mahika untuk berbelanja berdua dengannya. Bahkan Mahika mempercayakan rumahnya pada bu Lasmi, jika sewaktu-waktu Mahika sedang pergi ke kota atau pergi menginap kerumah temannya.

"Saya lah bapaknya.. " sahut pak Bambang..

"Saya lah.. " Timpal pak Sumardi

"Tidak, pastinya sama saya " ucap bapak lain.

"Avisa sama bapak kepala desa saja deh" ucap Mahika setelah melihat perdebatan kecil.

"Yaaah kecewa para ayah" serempak bapak-bapak mendengar jawaban Mahika. Berpura-pura memasang raut wajah sedih.

"Apapun itu tetap saya pemenangnya" ujar kepala desa dengan santainya, menghidupkan motornya.

Mahika naik ke atas jok motor dan pergi ke kampus bersama ayah angkatnya, tak lupa memberi salam terlebih dahulu yang disambut lambaian tangan dari para warga yang mengantarkan nya pergi.

***

Sore hari sekitar pukul 3 sore akhirnya urusan Mahika di kampus telah usai, menunggu dosen pembimbing untuk mengecek hasil pengerjaan skripsi nya. Untung saja ia mempunyai dosen yang pengertian pada dirinya, Mahika berjalan di tepi jalan dekat kampus.

Tak jauh dari kampusnya ada sebuah pusat perbelanjaan yang cukup terkenal, disana ada beragam toko, tempat makan, hiburan seperti bioskop atau sekedar nongkrong di sebuah cafetaria yang ada di pusat perbelanjaan tersebut. Ia akhirnya memutuskan untuk kesana terlebih dahulu sebelum ia kembali pulang ke rumah, memasuki lobby sudah terasa hawa dingin penyejuk ruangan.

Mahika berkeliling mengitari setiap toko yang ada di pusat perbelanjaan tersebut, masuk ke toko satu dan keluar dari toko yang satunya lagi. Akhirnya ia menghentikan langkahnya di sebuah outlet makanan cepat saji, mengantri dan memilih makanan yang akan dibawanya pulang nanti.

"Avisa..? " panggil seseorang dari arah belakang, Mahika melihat ke arah sumber suara. Seorang pria dengan style yang modis yang sedang ikut mengantri juga.

"Kamu kemana aja? Kamu makin cantik, aku rindu sama kamu " ucap pria itu tanpa basa-basi lagi, tangan pria itu menyentuh pergelangan tangan Mahika yang langsung di tolak Mahika dengan kasar.

Hanya senyum sinis yang tergambar dari wajah pria tersebut, Nichols Deriawan. Pria yang pernah menjalin hubungan dengan Mahika dahulu sewaktu Mahika masih bekerja di hotel, pria yang meninggalkan Mahika begitu saja tanpa penjelasan. Kini ia kembali lagi, sifatnya masih sama seperti sebelumnya tidak ada perubahan yang lebih baik dari dirinya.

"Ayolah Avisa, kemarin gua hanya main-main saja dengan wanita-wanita itu. Gua masih mencintai mu, ayo sayang.. " Nichols mendekat ke arah Avisa.

Mahika segera menjauh dari Nichols, segera ia pergi setelah makanannya telah di siapkan, ia bergegas meninggalkan Nichols secepat mungkin agar ia tidak diikuti oleh pria yang pernah dicintai nya itu.

"Watak, perilaku nya masih sama seperti dulu. Suka sekali bermain-main dengan wanita di bar diskotik. " gumam Mahika yang langsung bergegas secepatnya keluar dari dalam mall tersebut.

"AVISA!! " suara dari arah belakang Mahika.

Mahika tidak sedikit pun menoleh ke arah belakang, ia tahu suara itu berasal dari mana. Wajah Mahika tampak mulai memucat, ia berlari sebelum pria yang tak lain mantan pacarnya yang psikopat itu datang mendekat.

"Avisa.. "

Sebuah tangan memegang erat pergelangan tangan Mahika, ia sama sekali tak bisa berkutik sedikit pun. 

"Mau kemana sayang... "

***

Aktifitas seperti biasanya di markas kesatuan, Mahija yang baru saja dari lapangan setelah mengawasi anggota nya sedang berlatih fisik di akhir bulan sebelum adanya ujian kesamaptaan para prajurit. Beberapa jam lalu tepatnya Mahija mendapatkan surat terlampir tentang adanya ujian kesamaptaan.

"Ndan.. " panggil Jaka yang sedang menaiki motor bebeknya berwarna merah. "Mau kemana ndan? Saya antar sekalian naik kuda hitam saya"

"Dari mana kamu? " tanya Mahija, Jaka langsung menghentikan motornya tepat di depan Mahija.

"Dari pos depan ndann, habis mengantar surat laporan "

Mahija langsung naik ke jok motor yang dikendarai oleh Jaka, Mahija menepuk bahu Jaka dan motor pun melaju melewati rumah-rumah dinas.

"Ndan malam ini lagu apa? " tanya Jaka yang baru saja berhenti tepat di depan barak asrama. Ia memarkirkan motornya, lalu mengikuti langkah Mahija yang masuk kedalam barak.

"tanya Hansen, hari ini bagian dia pilih lagu" duduk di bangku depan asrama.

Jaka langsung mengambil ponsel dari sakunya, mengetik sebuah pesan di dalam grub yang terdiri dari Mahija, Fian, Yusuf, Jaka, Hansen. Mereka membuat sebuah grup dengan nama Dirgantara's, sebuah band untuk sekedar kesenangan sesaat. Melepaskan penat disetiap weekend, hanya ketika senggang saja.

Tercipta karna permintaan Fian yang selalu bosan dengan perputaran rutinitas yang itu-itu saja, akhirnya ia mengumpulkan beberapa anggota dan mengajak Mahija untuk bergabung di grup musik band.

Hansen (whatsapp)

To the bone - Pamungkas

"Ndan lagu to the bone. "

"Oke."

Usai melaksanakan sholat isya aula sudah dipenuhi oleh beberapa prajurit yang sedang bersantai sekedar mendengarkan musik atau mengobrol santai, ada juga yang tengah duduk di depan aula sembari merokok. Selesai makan malam yang di traktir oleh Fian, Mahija dan anggota lainnya sudah berada di aula.

Alunan dua gitar, keyboardist, drum saling berpadu di dalam aula menciptakan sebuah melodi yang indah, Mahija dengan gitar bassnya bermain dengan santai seperti biasanya.

Pamungkas - to the bone 🎶

Take me home, I'm fallin'

Love me long, I'm rollin

Losing control, body and soul

Mind too for sure, I'm already yours

Walk you down, I'm all in

Hold you tight, you call and

I'll take control, your body and soul

Mind too for sure, I'm already yours....

Bermain musik hingga seisi terpukau melihat mereka bermain, tidak melihat semua prajurit juga ikut bergabung bernyanyi bersama mereka juga. Seperti menonton konser artis ternama, permainan band mereka sangat menghibur prajurit yang berada di barak.

Kenangan sejak memasuki Batalyon, bertemu dengan orang-orang yang baik dan saling membantu dalam suka dan duka. Berkat mereka Mahija melalui semua ini, Ia sangat bangga kepada bawahannya yang telah percaya kepada diri memimpin mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!