NovelToon NovelToon
Oh No! Calon Ibu Tiri Kami Ternyata Bu Guru

Oh No! Calon Ibu Tiri Kami Ternyata Bu Guru

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / CEO / Duda
Popularitas:96.5k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Kepindahan Arumi ke sekolah elit di ibu kota membawanya menjadi wali kelas Azzam dan Azzura, si kembar anak konglomerat yang dikenal paling bermasalah. Dengan ketulusan dan kesabarannya, Arumi berhasil mengubah mereka menjadi pribadi yang lebih baik.
Takdir kemudian mempertemukannya kembali dengan Zaky Tanuwijaya, ayah si kembar sekaligus cinta pertama yang pernah menghancurkan hatinya di ambang pernikahan. Kini, Zaky yang telah menjadi duda ingin menebus kesalahan masa lalu dan memenangkan kembali hati Arumi.
Namun, ibunda Zaky terus menanamkan ketakutan kepada Azzam dan Azzura bahwa ibu tiri hanyalah wanita yang mengincar harta. Di tengah penolakan si kembar dan luka lama yang belum sembuh, mampukah Arumi membuka kembali hatinya dan membuktikan bahwa kasih sayang tulus mampu mengalahkan prasangka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3

Arumi memilih untuk mendudukkan dirinya di kursi guru, mengamati seisi ruangan dengan tenang. Untuk pertama kalinya dalam satu semester ini, suasana kelas 7 C mendadak berubah seratus delapan puluh derajat menjadi begitu hening.

Para murid yang selama ini dicap nakal dan tidak bisa diatur, mendadak fokus menekuk wajah mereka ke arah buku catatan, menuliskan kalimat perjanjian itu lembar demi lembar. Beberapa di antara mereka bahkan berwajah agak pucat. Mereka sadar, wali kelas baru kali ini benar-benar tidak bisa dianggap remeh. Ingatan tentang bagaimana gerakan kilat tangan Arumi saat menangkap bola baseball dari Azzam tadi masih terekam jelas, memberi gambaran nyata bahwa guru cantik di depan mereka ini memiliki ilmu beladiri yang tinggi.

Keheningan yang tidak biasa dari ruang kelas 7 C ini perlahan menjadi buah bibir. Beberapa guru yang kebetulan melintas di koridor sempat mengintip dari balik kaca jendela, merasa takjub sekaligus heran dengan pemandangan langka tersebut.

Sementara itu, di area kantin sekolah yang masih sepi, Azzam dan Azzura duduk di sudut ruangan untuk menenangkan diri setelah aksi walk-out mereka.

"Kak Azzam, sepertinya kita akan sedikit kesulitan menghadapi Bu Arumi," ucap Azzura memecah keheningan, menatap lurus ke arah kembarannya. "Dia guru yang cukup tangguh."

Azzam menghembuskan napasnya kasar. "Sudahlah, Ra. Kau tidak usah membahas guru menyebalkan itu. Dia dan Papah itu sama saja, sama-sama menyebalkan!" ujarnya ketus sembari meneguk ice chocolate di hadapannya untuk meredakan emosi.

Azzura tidak melanjutkan perkataannya. Ia paham betul tabiat kakaknya jika sedang kesal. Gadis remaja itu memilih untuk membuka botol air mineral dingin yang ia ambil dari dalam pendingin minuman, lalu meminumnya dalam diam.

Satu jam berlalu begitu cepat. Ketika waktu yang tertera di papan tulis habis, ada beberapa murid yang tampak panik karena belum selesai menulis hingga sepuluh lembar penuh. Beruntung, Arumi masih memberikan kelonggaran waktu selama lima belas menit. Bagi murid-murid kelas 7 C, tugas menulis kali ini terasa jauh lebih menegangkan dan menguras keringat daripada saat mereka mengerjakan ulangan semester.

"Dasar sial! Kita akhirnya mendapatkan wali kelas yang tangguh. Ini semua gara-gara Pak Kepala Sekolah. Kenapa juga harus mengirim guru sekejam Bu Arumi ke kelas kita!" bisik Tyo geram, menggerutu kepada teman sebangkunya, Rio.

Rio mendengus, melipat kedua tangannya di atas dada setelah mengumpulkan tugasnya yang pas-pasan. "Iya, Pak Bima harus disalahkan atas kejadian ini. Nanti setelah pulang sekolah, akan aku adukan ke Papah. Biar Papah minta pihak yayasan pecat dia jadi kepala sekolah di sini!" balas Rio dengan nada sombong, mengandalkan kekuasaan orang tuanya.

Sementara murid-murid menggerutu dalam hati, Arumi sudah berdiri lagi di depan kelas. Ia mulai menuliskan beberapa soal Matematika dasar di papan tulis. Dengan gaya mengajar yang tegas namun tak lagi menakutkan, ia meminta murid yang disebut namanya untuk maju dan mengerjakan soal tersebut, soal yang sebenarnya tidak begitu sulit bagi seorang pelajar kelas 7 jika mereka mau memperhatikan.

Menjelang bel jam istirahat berbunyi, desas-desus mengenai ketangguhan Bu Arumi langsung menyebar ke penjuru kelas. Murid-murid mulai kalang kabut dan memutar otak bagaimana caranya agar bisa lepas dari kekangan wali kelas baru mereka yang menyebalkan itu.

Azzam dan Azzura yang baru saja kembali dari kantin langsung disambut oleh suasana kelas yang masih tegang. Bukannya jera, Azzam justru langsung menyusun rencana baru untuk mengerjai Arumi keesokan harinya. Ia berjalan mendekati meja Rio, lalu mencondongkan badannya untuk membisikkan sesuatu ke telinga kaki tangannya itu.

Mendengar rencana licik tersebut, mata Rio seketika berbinar. Sebuah senyum jahat terukir di wajahnya.

"Wah, ide yang bagus tuh, Zam! Biar rok si guru menyebalkan itu lengket dan dia tidak bisa beranjak dari tempat duduknya besok!" balas Rio setengah berbisik, lalu tertawa puas bersama Azzam, membayangkan jebakan lem super yang akan mereka pasang di kursi Arumi.

*

*

Sore hari di kota metropolitan, Arumi duduk termenung di teras kontrakan barunya yang sederhana. Secangkir teh hangat di genggamannya perlahan mendingin. Pikirannya masih tertinggal di ruang kelas 7 C, tepatnya pada tatapan mata Azzam. Ada sesuatu pada diri remaja itu yang mengusik ketenangannya. Struktur wajah dan sorot matanya yang tajam seolah mengingatkan Arumi pada seseorang di masa lalunya, sosok yang mati-matian ingin ia lupakan. Namun yang lebih membuat Arumi terusik adalah rasa sakit yang tersirat di sana. Azzam tidak sekadar nakal, anak itu seperti sedang menyimpan luka batin yang sangat dalam dan tak terselesaikan.

Sementara itu, di sebuah mansion megah di kawasan elit Jakarta, suasana justru terasa mencekam. Azzam sedang duduk termenung di tepi ranjang kamarnya yang luas, beberapa saat kemudian tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dengan kasar.

Brak!

"Azzam!"

Zaky Tanuwijaya berdiri di ambang pintu dengan napas memburu. Setelan jas kerjanya bahkan belum sempat diganti. Wajahnya yang matang dan tampan kini merah padam menahan murka. Di belakangnya, Ibu Maya sang Nenek mengekor dengan raut wajah cemas, takut putra tunggalnya itu akan berbuat nekat pada cucu kesayangannya.

"Kau benar-benar sudah membuat Papah malu! Kenapa hari ini kau membolos di saat jam pelajaran berlangsung? Dan kepala sekolah sendiri yang melapor kalau kau berani melemparkan bola baseball ke arah gurumu!" tegas Zaky, suaranya menggelegar memenuhi ruangan.

Bukannya takut, Azzam justru bangkit berdiri. Ia menatap balik sang ayah dengan pandangan menantang tanpa kedip.

"Wah, hebat sekali guru baru itu. Belum ada satu hari mengajar, sudah berani mengadu pada Papah!" jawabnya ketus dan mengejek.

"Kau... benar-benar harus diberi pelajaran, Azzam!" bentak Zaky, melangkah maju setapak.

"Silakan, Pah! Bahkan kalau Papah mau mengusirku dari rumah ini sekarang juga, Azzam tidak takut!" tantang Azzam, suaranya mulai bergetar karena emosi yang membuncah. "Selama ini Papah memang tidak pernah peduli ataupun perhatian padaku dan Azzura! Papah seolah tidak pernah menginginkan kehadiran kami di dunia ini!" bentaknya dengan mata berkaca-kaca, mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.

Deg!

Kata-kata Azzam laksana belati yang menghantam dadanya Zaky. Amarahnya memuncak seketika. Tanpa sadar, Zaky melayangkan tangan kanannya ke udara, bersiap menampar pipi putra kandungnya sendiri. Azzam memejamkan mata, bersiap menerima pukulan itu.

Namun, beberapa detik berlalu, tamparan itu tak kunjung mendarat. Tangan Zaky bergetar hebat di udara, tertahan oleh akal sehatnya. Ia menurunkan tangannya perlahan. Menganiaya fisik Azzam hanya akan membuat hubungan mereka yang retak menjadi hancur berkeping-keping.

'Yang sebenarnya Papah sesali bukan kehadiran kalian, Nak... Tapi mengapa kalian harus lahir dari rahim wanita iblis itu? Wanita yang sudah menjebak dan menghancurkan masa depan Papamu ini!' jerit Zaky meratap di dalam batinnya yang tersiksa.

Tak sanggup menahan sesak di dadanya, Zaky mengurungkan niatnya untuk memarahi Azzam lebih jauh. Ia membalikkan badan dengan kasar lalu melangkah pergi meninggalkan kamar itu tanpa sepatah kata pun.

Begitu Zaky menghilang di balik lorong, Ibu Maya buru-buru berlari dan memeluk cucu kesayangannya itu dengan erat.

"Sudah, Nak, sudah... Jangan dilawan Papamu," bisiknya menenangkan.

Tak lama, Azzura yang sedari tadi bersembunyi di balik pintu kamar dengan tubuh gemetar, perlahan melangkah masuk. Ia mendekati kakaknya dengan tatapan iba.

"Kak Azzam, kamu tidak apa-apa?" tanya Azzura lirih.

Azzam melepaskan pelukan neneknya perlahan. Ia mengusap sudut matanya yang basah, digantikan oleh kilat amarah yang membara. "Ra, besok aku harus balas dendam pada wanita sialan itu. Aku tidak akan pernah membiarkan dia bertahan lama mengajar di sekolah kita!" ucap Azzam, giginya mengatup rapat dengan mata berkilat tajam.

Azzura mengangguk setuju, mendukung penuh kembarannya. "Kakak tenang saja. Aku pastikan rencana kita besok akan berhasil dan langsung membuat guru baru itu mengundurkan diri seperti yang lain."

Mendengar percakapan kedua cucunya, Ibu Maya yang berdiri di dekat mereka seketika merinding. Sang nenek tidak menyangka bahwa dendam dan luka akibat kurangnya kasih sayang orang tua bisa membuat cucu-cucunya yang masih belia itu memiliki pemikiran semelejit dan senekat itu.

Bersambung...

1
Uba Muhammad Al-varo
si Citra..... kalau benar Azzam dan azura bukan anaknya Zaky, memang benar' Citra kejam dan jahat,dibalik kemunculan Yudistira adakah rahasia yang tersembunyi
Teh Euis Tea
mungkin dulu citra tidur sm yudistira trs hamil dan menjebak zaky
mungkin dulu yudi miskin makanya citra ninggalin yudi?
achh penasaran bgt
Nadja 🎀
jangan bilang dulu citra benci Yudi miskin.. makanya meninggalkan yudi. makanya pura-pura di tidurin biar zaky bertanggung jawab karena zaky orang kaya jg harta jg sengaja keluarga Zaky benci arumi pantas saja terungkap!
Nar Sih
sabar zaky ,jika memang azzam bukan putra kandung mu gk apa ,,anggap si kmbr tetap putra putri mu
Nar Sih
waah...ank siapa si kmbr yaa
Iffanaya 😽
nah loh...apa mungkin kalo Azam dan azzura anaknya dokter Yudistira yg pernah pny hubungan sama citra 🤔
Arum Dyah
jangan2 anaknya dokter itu lagi...🤭🤭
Teh Euis Tea
nah loh jd si kembar anak siapa itu?
mana si citra udah meninggal lg jd ga bisa nanya
berarti dulu si citra jebak zaky untuk tanggung jawab sm anak yg di kandung, kasian zaky 🥹
neny
tuh kan,,aq dah felling dr awal,,mereka bkn anak Zaky,,citra menjebak Zaky dan membuat Zaky hrs bertanggungjawab pdhl itu anak dr laki2 lain
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
apa azam azzura bukan anak kandung nya zaky 🤔
vania larasati
lanjut kak
Aisyah Suyuti
menarik
Ana
ikut bahagia 🤗
mimief
atu pasangan lagi yg belum bahagia Thor
Wisnu Ama indah?
apakabar tu berdua
mimief
cie.

cieeeee
pak Arya
mimief
pasti urusan ayu yaaa
mimief
tapi kenapa ya
Ama pelakor jaman sekarang
udah pada rada lain yaa

🤣
mimief
wah...orang sakit
bisa jadi perang dunia ke 2 ini
kalau nemuin lipstik di jas nya 😱
Nar Sih
seneng nyaa arumi bnr,,di ratukan oleh suami juga sikembar azam azzura dan gk ketinggalan ibu mertua
Ana
ga sabar nunggu bab selanjutnya 🤗🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!