Adam Lorenzo Maxnore, bos mafia paling kejam di Asia Tenggara, kehilangan calon istrinya tepat pada hari pernikahan mereka akibat kecelakaan tragis. Giana Bianca Conti, wanita yang berada di mobil penabrak, dituduh sebagai pelaku, padahal kakak angkatnya, Amerda, adalah orang yang sebenarnya mengemudi dan melarikan diri.
Terjebak dalam amarah Adam, Gia harus menanggung kebencian pria yang menganggapnya sebagai pembunuh calon istrinya. Sementara itu, Amerda justru mengambil kesempatan untuk menggantikan Gia menikah dengan Ricardo Dominic demi menyelamatkan kehormatan keluarga.
Mampukah Gia membuktikan dirinya tidak bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika Adam mengetahui bahwa wanita yang dibencinya ternyata hanyalah korban pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Kamar rawat inap itu kembali sunyi setelah dokter dan perawat meninggalkan ruangan. Gia masih berbaring dengan tubuh lemah, sementara pandangannya sesekali tertuju pada pintu, berharap tidak ada seorang pun yang datang mengganggunya saat itu.
Namun, harapannya tidak bertahan lama. Pintu kamar terbuka, memperlihatkan sosok pria bertubuh tegap dengan setelan hitam yang melekat sempurna di tubuhnya. Wajahnya dingin, rahangnya tegas, dan sorot matanya selalu membuat siapa pun yang berhadapan dengannya merasa terintimidasi, Adam Lorenzo Maxnore.
Gia langsung mengalihkan pandangan. Jari-jarinya meremas ujung selimut ketika mendengar langkah kaki pria itu semakin mendekat. Adam menarik kursi di samping tempat tidur, lalu duduk tanpa meminta izin. Tatapannya mengamati wajah pucat Gia sebelum akhirnya ia membuka suara.
"Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu."
Gia tidak menjawab.
"Angkat wajahmu saat aku berbicara!"
Perlahan, Gia menoleh. Matanya terlihat lelah, tetapi tidak ada lagi tenaga dalam dirinya untuk menunjukkan perlawanan.
"Apa yang ingin Tuan tanyakan?"
Adam menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Tentang kecelakaan yang menewaskan Veronika."
Mendengar nama itu, Gia terdiam. Wajahnya berubah muram, sementara ingatan tentang hari pernikahannya kembali memenuhi kepalanya karena perlakuan kasar Adam.
“Ceritakan sekali lagi apa yang terjadi hari itu,” ujar Adam dengan suara dingin. Tatapannya tertuju pada Gia yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. “Aku ingin mendengarnya langsung darimu.”
Gia terdiam sejenak. Jemarinya meremas selimut yang menutupi tubuhnya. Mengingat kejadian itu membuat dadanya kembali terasa sesak, seolah-olah ia masih berada di dalam mobil pada hari nahas tersebut.
“Pada hari pernikahan ku dengan Ricardo, Kak Amerda yang mengemudikan mobil,” jawab Gia pelan. “Dia meminta ku untuk duduk di kursi penumpang. Awalnya, aku tidak menaruh curiga apa pun karena dia adalah kakak ku.”
Adam tidak menyela. Ia membiarkan Gia melanjutkan ceritanya.
“Ketika perjalanan baru berlangsung sekitar sepertiga jalan, tiba-tiba Kak Amerda membelokkan mobil ke kiri. Aku bahkan tidak sempat bertanya mengapa dia melakukan itu. Beberapa detik kemudian, mobil kami menabrak seorang wanita yang baru saja keluar dari salon pengantin. Yang ku lihat sebuah mobil melaju kencang makanya Kak Amerda membanting setir ke kiri,"
“Wanita itu Veronika,” potong Adam. Rahangnya mengeras ketika menyebut nama perempuan yang seharusnya menjadi istrinya.
Gia mengangguk lemah, “Ya, Tuan. Aku baru mengetahui namanya setelah semua orang mengatakan bahwa perempuan yang tertabrak itu adalah calon istri Anda.”
“Lalu apa yang terjadi setelah tabrakan?”
“Aku ketakutan itu pasti. Benturan itu membuat ku terdiam beberapa saat. Ketika aku melihat ke arah Kak Amerda, dia sudah membuka pintu mobil.”
Gia berhenti sejenak. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia berusaha menahan air matanya.
“Dia turun dari mobil. Aku pikir dia akan memeriksa keadaan wanita itu atau meminta bantuan. Aku bahkan sempat memanggil namanya dan menyuruhnya melihat korban. Namun, dia sama sekali tidak mendengarkan ku waktu itu.”
Kedua tangan Adam mengepal di sisi tubuhnya.
“Dia justru melarikan diri,” lanjut Gia dengan suara bergetar. “Dia meninggalkan ku sendirian di dalam mobil itu, sementara wanita yang kami tabrak tergeletak di jalan, dengan banyak dikerumunin orang.”
“Kenapa kau tidak ikut keluar?” tanya Adam.
Gia menatapnya. Ada kepedihan yang sulit disembunyikan di balik matanya.
“Aku ketakutan, Aku tidak tau apa yang harus ku lakukan. Semuanya terjadi begitu cepat. Aku memanggil Kak Amerda, tetapi dia terus berlari menjauh. Aku bahkan tidak tau ke mana dia pergi.”
“Jadi, ketika anak buahku memeriksa mobil, hanya kau yang berada di dalam mobil itu?”
“Benar.” Gia mengangguk. “Kak Amerda sudah pergi. Aku sendirian di sana, aku tidak pernah mengemudikan mobil itu, Tuan. Aku bahkan tidak tau kemana dia pergi saat itu,"
Adam terdiam. Potongan-potongan kejadian yang sebelumnya terasa janggal kini mulai menemukan tempatnya.
Anak buahnya memang hanya menemukan Gia di dalam mobil. Tidak ada orang lain di sana. Saat itu, ia menganggap keberadaan Gia sebagai bukti kuat bahwa perempuan itulah yang bertanggung jawab. Ia tidak pernah membayangkan bahwa pengemudi sebenarnya telah melarikan diri dan meninggalkan Gia untuk menghadapi semuanya sendirian.
“Kenapa kau tidak langsung mengatakan bahwa Amerda melarikan diri?” tanyanya lagi.
Gia tersenyum getir, “Aku sudah berusaha menjelaskannya kepada Tuan. Aku mengatakan bahwa bukan aku yang mengemudikan mobil itu. Aku juga mengatakan bahwa aku tidak bersalah,"
“Namun, kau tidak menjelaskan semuanya sedetail ini.” potong Adam dengan nada rendah.
“Apakah Tuan pernah memberi aku kesempatan untuk menyelesaikan penjelasan ku hari itu?”
Pertanyaan itu membuat Adam terdiam. Gia menundukkan wajahnya. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh membasahi pipi.
“Setiap kali aku mencoba menjelaskan, Tuan selalu menganggap aku ini sedang berbohong. Tuan sudah memutuskan bahwa aku bersalah bahkan sebelum mendengarkan cerita ku sampai selesai.”
Adam menatap perempuan di hadapannya tanpa berkata-kata.
“Aku tau Tuan kehilangan seseorang yang sangat berarti. Aku juga tau Tuan marah dan ingin menemukan orang yang bertanggung jawab atas kematian Nona Veronika. Namun, mengapa Tuan menjadikan aku ini sasaran kemarahan Tuan tanpa memastikan kebenarannya terlebih dahulu?” Suara Gia semakin pelan.
“Aku kehilangan hari pernikahan ku. Aku kehilangan kepercayaan orang-orang yang seharusnya melindungi ku. Bahkan, aku harus menanggung hukuman atas sesuatu yang tidak ku lakukan.”
Gia menarik napas dengan susah payah sebelum melanjutkan.
“Yang paling menyakitkan, Tuan, adalah ketika aku mengatakan kebenaran, tidak ada seorang pun yang mau memercayai ku.”
Adam mengalihkan pandangannya. Ia terbiasa menghadapi orang-orang yang memohon ampun di hadapannya, tetapi kali ini ia tidak menemukan kebohongan dalam tatapan Gia yang lelah.
“Ada satu hal lagi,” ujar Gia setelah beberapa saat.
Adam kembali menatapnya.
“Setelah Kak Amerda pergi, aku tidak tau apa yang harus dilakukan. Aku masih berada di dalam mobil ketika orang-orang mulai berdatangan. Aku tidak melarikan diri dari tempat kejadian, Tuan. Aku tidak punya kesempatan untuk melakukan apa pun sebelum anak buah Tuan datang.”
Gia menggenggam selimutnya erat-erat.
“Jadi, jika mereka hanya menemukan Aku di dalam mobil, itu karena Kak Amerda sudah lebih dulu melarikan diri. Bukan karena Aku yang mengemudikannya atau bertanggung jawab atas kecelakaan itu.”
Adam tidak menjawab. Gia memejamkan mata sejenak. Tidak ada kelegaan di wajahnya, hanya kelelahan yang mendalam.
“Sekarang Tuan akhirnya menemukan bukti yang selama ini Tuan butuhkan.”
“Gia—”
“Namun, bukti itu tidak akan mengembalikan apa yang telah hilang dari diriku.” Gia menatapnya kembali. “Tuan boleh percaya kepada ku sekarang. Tetapi jangan berharap aku bisa melupakan bagaimana Tuan memperlakukan ku ketika aku masih berusaha mengatakan kebenaran.”
Adam terdiam lama, dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak satu pun kalimat yang keluar dari mulutnya.
Sementara, Gia kembali memalingkan wajah, mengakhiri percakapan itu tanpa menunggu jawaban darinya. Bagi perempuan itu, kepercayaan yang telah dihancurkan tidak bisa dipulihkan hanya karena kebenaran akhirnya terungkap.
"Aku akan mengantarmu besok ke kediaman Conti," kata Adam dan bangkit dari tempat duduknya. Adam langsung berbalik dan keluar dari ruangan itu meninggalkan Gia dengan setuju kebingungan atas ucapan Adam barusan.
Sementara itu, di luar kamar, Adam mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Marco.
"Besok aku akan membawa Gia ke kediaman Conti," katanya begitu panggilan tersambung.
[Baik, Tuan. Apakah saya perlu menyiapkan pengawalan?]
"Siapkan, dan teruskan penyelidikanmu terhadap Sadam dan Amerda."
[Apakah ada perkembangan baru, Tuan?]
Adam melirik pintu kamar Gia.
"Aku sudah mendengar langsung kesaksian Gia. Dia mengetahui bahwa Amerda yang mengemudikan mobil dan menabrak Veronika."
Marco terdiam sejenak.
[Kalau begitu, kita sudah memiliki keterangan langsung dari saksi yang berada di dalam mobil.]
"Cari tau apa hubungan Sadam dan Amerda, kenapa rubah tua itu sangat membela anak angkatnya ketimbang putri kandunganya,"
[Baik, saya mengerti, Tuan]
Adam mengakhiri panggilan.
ayahmu saja menginginkan kematianmu,, tak usah lah jadi orang yang terlalu baik,, karna pada akhirnya hanya akan d injak2 saja .
lngsung ilang ingatan Dy kaki ny kebentur meja ,,
otak ny di kaki sih jdi bgtu sikap ny,, 😒😒😒😒😒😒
Apapun kalian berdua itu,, yg pastinya kalian berdua itu jahat sama Gia.