Ini menceritakan kisah seorang pemuda yang memiliki sembilan Akar Spiritual, yang dianggap sebagai sampah oleh dunia kultivasi. Namun, tanpa sengaja, ia justru dibimbing oleh dua sosok legendaris yang telah berdiri di puncak dunia kultivasi.
Membawa dua cincin warisan tersegel yang menyimpan kekayaan dari dua sekte besar, Shen Luo memulai perjalanannya di dunia kultivasi.
Di tengah perjalanan, ia harus terseret ke dalam perselisihan masa lalu kedua gurunya, berhadapan dengan seorang Iblis Suci yang mematikan, serta terikat dalam perjodohan dengan seorang Putri Es yang telah mencintai pria lain.
Dengan sembilan Akar Spiritual yang dianggap sebagai kelemahan, Shen Luo harus bertahan hidup dan mengungkap rahasia kekuatannya, hingga suatu hari segel kedua cincin warisan itu terbuka dan takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Provokasi Murid Pelataran Luar
Tiga bulan telah berlalu sejak Shen Luo tiba di Puncak Hantu Kesunyian.
Selama sembilan puluh hari itu, ia tidak pernah turun gunung untuk mengambil makanan ataupun menghadiri kelas murid luar. Bagi sebagian besar murid Sekte Bintang Jatuh, pemuda berjubah tambalan itu mungkin sudah mati atau kehilangan akal karena terus tinggal di gunung terlarang yang dipenuhi Niat Pedang.
Namun kenyataannya justru berbeda.
Di dalam Gua Bintang, Shen Luo duduk bersila di antara altar giok. Qi panas dan dingin berputar perlahan di sekeliling tubuhnya, sementara di dalam Dantian, lautan Qi yang dahulu kosong kini telah berubah menjadi lebih luas dan padat.
Sembilan Akar Spiritual berdiri di tengah lautan energi seperti sembilan pilar yang menopang seluruh Dantian.
Empat akar di satu sisi dipenuhi Qi Suci berwarna keemasan, sementara empat lainnya diselimuti Qi Darah Iblis. Akar kesembilan berdiri di tengah dan menjaga keseimbangan di antara keduanya.
Wuuush!
Shen Luo menarik napas panjang.
Kabut spiritual di dalam gua berputar dan tersedot ke tubuhnya. Qi mengalir melewati meridian, membasuh tulang dan ototnya hingga seluruh tubuhnya terasa semakin ringan.
Beberapa saat kemudian, aliran Qi di sekelilingnya berhenti.
Shen Luo membuka mata.
Tatapannya jernih dan tenang.
"Pengumpulan Qi tingkat enam."
Ia mengepalkan tangannya.
Kekuatan yang jauh lebih besar mengalir di dalam tubuhnya. Selama tiga bulan terakhir, ia menyerap sebagian besar esensi spiritual yang masih tersisa di tempat kultivasi Sikong Jian. Dalam waktu singkat, lima tingkat kultivasi telah ia lewati.
Dengan Sembilan Akar Spiritual, Qi yang tersimpan di dalam tubuhnya jauh lebih padat daripada kultivator biasa pada tingkat yang sama.
Namun Shen Luo tidak berniat memperlihatkan kekuatan tersebut.
Ia menjalankan teknik pernapasan yang di ajarkan Kakek Putih. Dalam beberapa tarikan napas, auranya yang sebelumnya kuat perlahan menghilang hingga kembali seperti seorang pemuda dengan kultivasi rendah.
Shen Luo berdiri dan meregangkan tubuh.
"Tiga bulan duduk terus memang membuat tubuh kaku."
Ia menepuk-nepuk jubahnya, lalu mengenakan jubah abu-abu tambalan yang biasa dipakainya.
Sebelum meninggalkan gua, Shen Luo melihat sapu lidi yang diletakkan di dekat pintu. Ia mengambilnya dan berjalan keluar.
Begitu tiba di jalur utama gunung, ia mulai menyapu dedaunan kering yang berserakan di sepanjang jalan.
Srek... srek...
Gerakan sapunya mengikuti irama angin.
Bagi Shen Luo, menyapu bukan sekadar pekerjaan yang diberikan sekte untuk menyembunyikan kekuatannya. Gerakan sederhana dan berulang itu juga membantunya menjaga ketenangan Hati Dao.
Puncak Hantu Kesunyian kembali sunyi.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Dari kaki gunung terdengar suara langkah yang semakin mendekat.
Shen Luo menghentikan gerakan sapunya dan menoleh.
Empat orang sedang mendaki.
Dari langkah dan aura mereka, Shen Luo segera mengetahui bahwa mereka bukan murid biasa.
"Sial. Niat Pedang di gunung ini benar-benar menyebalkan."
Suara seorang pemuda terdengar dari kejauhan.
"Kalau bukan karena tugas sekte, aku tidak akan mau datang ke tempat seperti ini."
Tak lama kemudian, empat pemuda berjubah biru muncul di tikungan.
Mereka adalah murid luar tingkat atas. Pemimpin mereka bernama Wang Lei, seorang kultivator Pengumpulan Qi tingkat delapan. Tiga orang lainnya berada di tingkat ketujuh.
Mereka datang untuk mencari Rumput Bintang Berkabung yang tumbuh di tebing Puncak Hantu Kesunyian.
Namun ketika melihat Shen Luo yang sedang menyapu jalan, langkah Wang Lei terhenti.
Senyum mengejek muncul di wajahnya.
"Bukankah itu Sampah Sembilan Akar?" Ia tertawa kecil.
"Tiga bulan tidak turun gunung. Kukira kau sudah mati."
Ketiga murid di belakangnya ikut tertawa.
Shen Luo tetap menyapu tanpa menoleh.
Sikap acuh tak acuh itu membuat senyum Wang Lei menghilang.
"Hei! Aku sedang bicara denganmu."
Shen Luo baru mengangkat kepala.
"Puncak Hantu Kesunyian adalah wilayah terlarang bagi murid luar tanpa izin. Apa urusan kalian di sini?"
Wang Lei mencibir.
"Seorang tukang sapu berani mengurus urusan kami?"
Tatapannya beralih ke tebing di samping jalan.
Di antara bebatuan tumbuh beberapa batang Rumput Bintang Berkabung. Namun di sekelilingnya terdapat belasan Ular Bayangan Hitam yang bergerak di antara rerumputan.
Wang Lei menunjuk ke arah tanaman tersebut.
"Pergilah ambil rumput itu."
Shen Luo menatapnya.
"Kenapa?"
"Kau akan menjadi umpan."
Nada suara Wang Lei dipenuhi penghinaan.
"Tarik perhatian ular-ular itu. Setelah kami mengambil rumputnya, tugasmu selesai."
Shen Luo menggelengkan kepalanya.
"Aku menolak."
Wajah Wang Lei langsung berubah. "Berani menolak?"
"Aku justru menyarankan kalian turun gunung sekarang."
Shen Luo menyandarkan sapunya pada sebuah batu.
"Jangan membuat masalah di sini."
Wang Lei tertawa karena marah. "Seorang murid tingkat satu berani mengancamku?"
Ia mencabut pedangnya.
"Kalian berdua, patahkan kakinya."
Dua murid tingkat tujuh segera maju.
Pedang mereka menebas ke arah kaki Shen Luo.
Shen Luo tetap berdiri tanpa bergerak. Ketika kedua bilah itu hampir menyentuh jubahnya, ia hanya bergeser satu langkah.
Kedua pedang menebas udara kosong.
Dalam sekejap, Shen Luo sudah berada di antara mereka.
Qi Suci mengalir ke kedua lengannya.
Trang! Trang!
Punggung tangannya menghantam kedua bilah pedang.
Kedua pedang langsung patah.
Mata kedua murid itu membelalak. Mereka belum sempat memahami apa yang terjadi ketika Shen Luo kembali bergerak.
Buk!
Satu tinju menghantam dada murid di sebelah kiri hingga tubuhnya terlempar dan membentur batang pohon.
Pada saat yang sama, Shen Luo memutar tubuh dan menyapu kaki murid lainnya.
Krak!
Lututnya patah.
Jeritan terdengar sebelum pemuda itu jatuh ke tanah dan memegangi kakinya.
Wang Lei dan murid terakhir yang masih berdiri langsung membeku.
Keringat dingin membasahi punggung mereka.
"Kau..." Suara Wang Lei bergetar. "Kau menyembunyikan kultivasi?"
Shen Luo tidak menjawab.
Wang Lei menggertakkan gigi. Ia tahu tidak ada gunanya mundur sekarang. Dengan cepat ia mengangkat pedangnya dan mengerahkan seluruh Qi di dalam tubuhnya.
Aura Pengumpulan Qi tingkat delapan meledak.
"Pedang Pembelah Angin!"
Wang Lei melompat dan menebas dari atas. Tebasan tersebut membawa kekuatan yang cukup untuk membelah batu besar.
Namun Shen Luo hanya mengangkat satu tangan.
Bam!
Pedang itu berhenti di telapak tangannya.
Wang Lei mengerahkan seluruh tenaganya, tetapi bilah tersebut tidak bergerak sedikit pun.
Wajahnya perlahan berubah pucat.
Shen Luo menatapnya dengan tenang. "Qi-mu terlalu berantakan."
Ia menjepit bilah pedang itu dengan dua jari.
Krek!
Ujung pedang langsung patah.
Wang Lei mundur dengan panik, tetapi sebelum sempat mengambil jarak, Shen Luo sudah berdiri di hadapannya.
Plaak!
Tamparan keras mendarat di wajahnya.
Tubuh Wang Lei terlempar dan berguling beberapa kali di tanah. Darah mengalir dari sudut mulutnya, sementara beberapa giginya jatuh berserakan.
Murid terakhir yang masih berdiri langsung menjatuhkan pedangnya.
Ia berlutut di tanah.
"Senior, ampuni kami!"
Shen Luo tidak memedulikannya.
Ia berjalan mendekati Wang Lei yang masih terbaring, lalu menekan dada pemuda itu dengan satu kaki.
"Gunung ini bukan tempat kalian berbuat sesuka hati."
Wang Lei menatapnya dengan wajah pucat.
Shen Luo menunduk.
"Kalau kalian datang lagi untuk mencari masalah, jangan berharap bisa turun dengan utuh."
Ia menarik kakinya dan mundur.
"Pergilah."
Wang Lei segera bangkit dengan susah payah. Murid yang tersisa membantu kedua rekannya, lalu mereka bertiga menyeret Wang Lei menuruni gunung tanpa berani menoleh.
Setelah suara langkah mereka menghilang, Puncak Hantu Kesunyian kembali sunyi.
Shen Luo berdiri sebentar, lalu mengambil sapunya yang tadi disandarkan pada batu.
Srek... srek...
Ia kembali menyapu dedaunan seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Angin gunung terus berembus di antara pepohonan mati.
Di Puncak Hantu Kesunyian, ketenangan kembali menyelimuti segalanya.
Moga2 MC nya ga kegatelan ma cewek2, dan ga punya banyak bini /Facepalm//Facepalm/