Memasuki bangku kuliah dengan penampilan cupunya, membuat Ananda Ayunindia menjadi target empuk perundungan oleh Tristan Bratadikara dan komplotannya. Tak sekadar dibully, Ananda bahkan dijadikan bahan taruhan hingga berujung kehamilan. Hancur dan trauma, ia terpaksa melepas beasiswanya dan pergi menghilang.
Enam tahun berlalu. Ananda yang kini telah lulus kuliah dan menetap di Bandung, berhasil diterima bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan raksasa di Jakarta. Demi masa depan putra kecilnya dan sang ibu yang sudah renta, Ananda terpaksa kembali ke kota penuh memori kelam tersebut.
Siapa sangka, pimpinan tertinggi di perusahaan baru tempatnya bekerja adalah Tristan Bratadikara, pria yang dahulu menghancurkan hidupnya. Namun, Ananda yang sekarang bukan lagi gadis cupu yang bisa ditindas, ia telah bermetamorfosis menjadi wanita yang cantik, energik, dan pemberani. Akankah Tristan mengenali korbannya di masa lalu, atau justru bertekuk lutut pada sosok Ananda yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Perlahan-lahan, kesadaran Ananda mulai pulih. Efek memabukkan dari minuman beralkohol yang diteguknya di restoran tadi berangsur-angsur mereda, meninggalkan rasa tidak nyaman yang menjalar di sekujur tubuhnya.
Di seberang ranjang, Tristan duduk dengan santai di atas sofa mewah. Kakinya disilangkan, dan kedua tangannya memegang ponsel, berpura-pura fokus menatap layar gadget tersebut. Namun, pendengarannya yang tajam langsung menangkap pergerakan kecil dari atas tempat tidur. Ia tahu betul sekretarisnya itu sudah mulai siuman.
Ananda perlahan membuka kedua bola matanya. Sapuan cahaya lampu kamar yang temaram tetap saja membuat kepalanya terasa berputar hebat, seolah dihantam benda keras.
"Aaarrkkhhh... kenapa kepalaku pusing sekali!" rintih Ananda lirih sambil memegangi pelipisnya yang berdenyut-denyut perih.
Melihat Ananda merintih kesakitan seperti itu, ada dorongan kuat di dalam hati Tristan untuk segera bangkit dan menghampirinya. Namun, ego dan keangkuhannya yang setinggi langit menahan tubuh pria itu. Ia memilih tetap bergeming di sofa, pura-pura tidak peduli dan terus menatap ponselnya.
Dengan sisa tenaga yang ada, Ananda memaksakan diri untuk bangun dan bersandar pada dashboard tempat tidur. Pandangannya masih berkunang-kunang dan samar. Di depannya, ia melihat bayangan siluet seorang pria yang sedang duduk santai. Ananda memejamkan matanya sejenak, lalu mengucek kedua matanya dengan punggung tangannya agar penglihatannya bisa kembali jernih.
Begitu pandangannya fokus dan jelas, jantung Ananda seketika mencelos. Ia tersentak hebat saat menyadari siapa pria di hadapannya saat ini. Ditambah lagi, saat ia menunduk, ia terkejut setengah mati mendapati pakaian kerjanya telah lenyap, digantikan oleh selembar handuk kimono berwarna putih bersih.
"Apa... apa yang sudah Tuan lakukan terhadap saya?!" tanya Ananda dengan suara yang bergetar hebat, dipenuhi oleh rasa takut sekaligus amarah yang mendidih.
Mendengar tuduhan itu, Tristan perlahan menurunkan ponselnya. Ia menatap Ananda, lalu menanggapinya dengan sikap yang teramat santai, seolah tidak terjadi hal besar.
"Rupanya kau sudah bangun... setelah apa yang kau lakukan padaku tadi, hah?" sahut Tristan dengan nada menyindir.
Mendengar jawaban ambigu dari Tristan, ketakutan di dada Ananda kian memuncak. Bayangan buruk langsung memenuhi kepalanya. "Maksud Tuan apa?! Jangan berbelit-belit!"
Tristan tidak menjawab lewat kata-kata. Ia meletakkan ponselnya di meja, beranjak dari sofa, lalu melangkah lebar sengaja mendekati tempat tidur.
Melihat langkah tegap Tristan yang kian mendekat, Ananda refleks menarik tubuhnya mundur hingga mentok ke dashboard. Ia menyilangkan kedua tangannya erat-erat di atas dada, mencoba melindungi dirinya sendiri dengan tubuh yang gemetar ketakutan.
"Anda mau apa, Tuan?! Jangan kurang ajar! Tetap di sana!" pekik Ananda dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Tristan menghentikan langkahnya tepat di sisi ranjang tempat tidur, lalu bersedekap dada sambil mendengus meremehkan. "Cih, setelah apa yang kau lakukan barusan, kau seenaknya saja menuduhku kurang ajar?"
"Sebenarnya... apa yang sudah saya lakukan terhadap Tuan?!" tanya Ananda setengah berteriak, air mata pertahanannya hampir luruh.
Pikiran Ananda sudah kacau sepenuhnya. Kamar hotel ini, aroma ini, dan keberadaan Tristan di dekatnya benar-benar memicu trauma mendalam dari peristiwa naas enam tahun yang lalu. Malam kelam di mana Tristan merenggut kesuciannya dengan begitu kasar tanpa ampun kembali terbayang nyata, membuat seluruh sendi tubuhnya lemas karena ketakutan yang luar biasa.
Melihat ekspresi wajah Ananda yang begitu pucat, ketakutan setengah mati dengan mata membulat panik, Tristan yang semula ingin menjahilinya justru tidak bisa menahan diri lagi. Detik berikutnya, Tristan malah tertawa terbahak-bahak di depan wajah Ananda.
‘Ya Tuhan, ekspresi ketakutan ini... Kau terlihat sangat mirip dengan si itik saat aku rundung di kampus dulu. Kenapa kau bisa semirip ini dengannya?’ batin Tristan bergejolak penuh rasa tidak percaya, sementara tawanya masih tersisa.
Ananda yang masih bersiap untuk kemungkinan terburuknya mendadak tertegun. Rasa takutnya sedikit berganti menjadi kebingungan yang teramat sangat. Ia menatap heran sekaligus jengkel ke arah Tristan yang tertawa puas di atas penderitaan batinnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa pria monster ini malah tertawa seolah baru saja memenangkan sebuah lelucon?
Melihat wajah Ananda yang pucat pasi dan menatapnya penuh rasa curiga, Tristan menghentikan tawa renyahnya. Ia menghembuskan napas panjang, lalu menggeleng-gelengkan kepala melihat kepanikan sekretarisnya yang sudah melambung terlalu jauh.
"Hentikan pikiran konyol mu itu," ujar Tristan, suaranya kembali datar namun terdengar santai. "Kau tidak ingat apa yang kau lakukan di restoran tadi, hah? Kau mabuk, meracau menghinaku sebagai pria kejam, lalu sedetik kemudian kau muntah tepat di hadapanku. Mentahan mu itu mengotori jas mahal ku, kemejaku, dan juga pakaianmu sendiri."
Ananda tertegun. Ingatan samar tentang rasa mual yang hebat di restoran tadi perlahan muncul di kepalanya. Wajahnya yang semula pucat karena takut kini merona kemerahan karena menahan malu. Namun, ia tidak langsung percaya begitu saja.
"Lantas... kenapa saya sekarang mengenakan kimono ini? Siapa yang telah mengganti pakaian saya?!" tanya Ananda menuntut penjelasan, matanya menatap cemas serta penuh curiga ke arah Tristan yang kini dengan santai mendudukkan diri di tepi ranjang, tepat di dekat kakinya.
Tristan menaikkan sebelah alisnya, sengaja ingin mempermainkan ketakutan Ananda. "Menurutmu bagaimana? Di kamar ini hanya ada kita berdua. Kau pikir saja sendiri."
Mendengar jawaban Tristan yang teramat menyebalkan dan ambigu, pertahanan Ananda runtuh. Amarahnya yang sudah memuncak sejak kemarin malam kini meledak tak terbendung lagi.
"Jangan bilang Tuan yang melepaskan pakaian saya?! Iya, kan?!" pekik Ananda, air matanya mulai mengalir karena emosi. "Tuan benar-benar lancang sekali! Dasar pria mesum! Saya sangat menyesal bekerja di perusahaan Anda, ternyata Anda tidak lebih dari seorang..."
"Cukup, Ananda!" potong Tristan dengan suaranya yang meninggi, seketika membungkam ucapan wanita itu. Tristan mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas lutut, rahangnya mengeras. "Pikiranmu itu terlalu kotor tentangku!"
"Pria kaya dan berkuasa seperti Anda memang selalu menggunakan berbagai cara untuk melakukan hal hina seperti itu, kan?!" tantang Ananda, kalimatnya sarat akan kebencian dan trauma masa lalunya yang mendalam.
Dihina dan dituduh sebagai pria mesum murah4n oleh sekretarisnya sendiri membuat harga diri Tristan berontak. Ia tidak terima dipandang sehina itu. Dengan gerakan cepat yang tak terduga, Tristan memajukan tubuhnya dan mencengkeram kuat namun penuh penekanan pada tengkuk lehernya Ananda, memaksa wanita itu menatap langsung ke dalam bola matanya yang berkilat tajam.
Jarak mereka terkikis habis, menyisakan deru napas keduanya yang saling berkejaran.
"Asal kau tahu, Ananda... yang mengganti pakaianmu tadi adalah pelayan wanita hotel ini, bukan aku!" desis Tristan tepat di depan wajah Ananda, suaranya bergetar menahan gejolak emosi. "Dan dengar ini baik-baik... aku hanya menyentuh satu wanita dalam hidupku, dan tidak akan pernah ada wanita lain yang aku sentuh selain dia!"
Deg!
Kata-kata yang meluncur dari bibir tegas Tristan seketika menghantam dada Ananda dengan keras. Jantungnya berdegup kencang, dan entah mengapa, pengakuan itu terasa begitu menyesakkan dadanya.
Tatapan Tristan melunak, namun siratan penyesalan yang teramat dalam terpancar jelas dari matanya. Cengkeramannya di tengkuk Ananda perlahan mengendur, berganti menjadi sentuhan ibu jari yang mengusap kulit leher belakang Ananda dengan lembut.
"Dulu... aku memang pernah menjadi seorang pria bajingan, Ananda," ucap Tristan lirih namun terdengar begitu tegas, seolah ia sedang menumpahkan seluruh beban rasa bersalah dan penyesalan atas dosa besarnya di masa lalu yang selama enam tahun ini ia pendam sendirian. "Tapi cukup malam itu yang terakhir... Setelah malam itu, aku bersumpah tidak akan pernah menyentuh wanita mana pun lagi."
Ananda tertegun seribu bahasa, matanya yang berkaca-kaca menatap lekat ke dalam netranya Tristan. Kalimat "malam itu" yang diucapkan Tristan terdengar begitu penuh luka dan penyesalan, membuat dinding kebencian di hati Ananda mendadak goyah oleh kebingungan yang teramat besar.
Bersambung...