Dia pernah berdiri di atas segalanya. Pedang, alkimia, formasi, hukum Dao, semuanya sudah ia kuasai. Tapi ada satu dinding yang tidak pernah bisa ia tembus: puncak sejati.
Maka Yu Tian melakukan hal yang dianggap gila. Ia menghancurkan tubuhnya sendiri, membuang seluruh harta dan kekuatannya, lalu bangkit dari titik nol dengan tubuh baru dan ranah paling rendah.
Pengetahuannya utuh. Kekuatannya tidak. Dan untuk pertama kalinya setelah zaman yang tak terhitung, ia tersenyum karena akhirnya ada sesuatu yang belum ia miliki.
Ia masuk sekte sebagai murid biasa, tapi ia tidak pandai merendah. Ia tidak sudi tunduk pada gelar, usia, atau kedudukan. Ia hanya menghormati kemampuan. Tapi dunia ini tidak peduli siapa dirinya dulu. Lawan yang lebih tinggi ranahnya tetap bisa membunuhnya, dan pengetahuan seluas apa pun tidak bisa menggantikan fondasi yang belum dibangun.
Setiap kemenangan menuntut bayaran. Setiap rahasia yang terbuka membawa pertanyaan yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Nda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Asrama murid luar berupa deretan bangunan kayu panjang di lereng timur, dengan atap sirap yang sudah menghitam oleh hujan bertahun-tahun. Bau kapur barus dan kayu lembap menyambut Yu Tian begitu ia mendorong pintu kamar nomor sembilan, dan lantai papan berderit di bawah sandalnya.
Empat dipan bertingkat berdiri di dua sisi ruangan, dan salah satunya sudah diisi seorang pemuda berwajah bulat yang sedang melempar-lempar buah kering ke udara dan menangkapnya dengan mulut.
"Oh, penghuni baru." Pemuda itu menelan buahnya dan melambaikan tangan ke arah dipan atas. "Aku Fang Ming. Dipan yang itu milikku, jangan diinjak, jangan dipinjam, jangan ditaruh barang di atasnya. Yang itu Su Wen, dia jarang bicara, tapi kalau dia bicara biasanya berguna."
Di sudut ruangan, seorang pemuda kurus berwajah tirus menutup gulungan yang sedang ia baca, dan menatap Yu Tian sebentar sebelum mengangguk.
"Su Wen." Hanya itu, lalu ia kembali menunduk pada gulungannya.
Yu Tian menjatuhkan buntalan kainnya ke dipan bawah yang paling dekat jendela, dan debu mengepul ke udara. Ia mengamati ruangan itu sebentar, mulai dari retakan di dinding sampai tikar jerami yang tipis.
'Kamar yang cocok untuk orang yang belajar bersabar. Aku sudah lama tidak mengenal kata itu.' Ia duduk di tepi dipan dan menjawab tanpa menoleh. "Yu Tian."
"Kau yang nomor dua ratus empat belas, kan?" Fang Ming melompat turun dan duduk bersila di lantai di depannya, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. "Semua orang membicarakanmu. Katanya kau tidak membungkuk di gerbang, dan katanya kristalnya menyala tiga perempat padahal tanganmu berkeringat. Dan si Lu Heng itu, dia sudah dibawa Tetua Shen ke Paviliun Dalam, dapat kamar sendiri."
"Orang yang bicara terlalu banyak biasanya tahu terlalu sedikit." Yu Tian membuka bungkusannya dan memeriksa isinya. "Berapa lama lagi sampai kalian berhenti bertanya?"
Fang Ming tertawa terbahak-bahak, sama sekali tidak tersinggung, sementara dari sudut ruangan Su Wen mengangkat pandangannya lagi, kali ini lebih lama.
...------...
Bel panjang berbunyi saat matahari baru setinggi pucuk pinus. Seluruh murid baru dikumpulkan di halaman depan asrama, hanya sembilan orang yang berdiri berjajar dengan jubah abu-abu yang masih kaku. Mereka dan Lu Heng, yang sudah dibawa ke Paviliun Dalam, adalah sepuluh yang lolos dari tiga ratus pendaftar.
Seorang pemuda berjubah biru tua dengan sulaman awan putih di dada berjalan di depan barisan dengan langkah teratur, dan sebuah kotak kayu kecil terselip di bawah lengannya.
Ia berhenti di tengah, menatap seluruh barisan satu kali, lalu mengetuk kotak itu. "Namaku Gu Chen, murid dalam yang ditugaskan membimbing kalian selama bulan pertama. Aku tidak akan mengulang aturan dua kali, jadi dengarkan baik-baik. Kalian masing-masing menerima satu batu roh kualitas rendah dan satu pil dasar setiap bulan, ditambah tugas kebersihan sebelum latihan pagi. Siapa pun yang tidak mengerjakan tugasnya, nilai disiplinnya dikurangi."
Satu per satu murid maju menerima jatah. Yu Tian menerima bagiannya dengan dua jari, mengangkat pil itu ke hidungnya, dan menciumnya sebentar. Aroma getir dan sedikit pasir menusuk hidungnya.
'Tepung tulang yang dicampur sedikit ramuan penguat dan banyak bahan pengisi. Orang yang membuat ini jelas tidak mau pilnya bekerja terlalu baik.'
Gu Chen mengumumkan pembagian tugas. Satu regu ditugaskan menyiram kebun obat, satu regu mengangkut air, dan regu terakhir menyapu seluruh anak tangga batu menuju aula latihan, yang berjumlah sembilan ratus, selama tiga jam penuh sebelum latihan dimulai.
Yu Tian masuk ke regu terakhir, dan ia menatap sapu bambu yang disodorkan kepadanya tanpa menyentuhnya. "Apa gunanya?"
Gu Chen mengangkat pandangan, dan alisnya bergerak sedikit. "Kau bicara padaku?"
"Tiga jam menyapu sembilan ratus anak tangga yang akan diinjak seratus orang sebelum siang." Yu Tian mengangkat bahu dengan malas. "Aku bertanya apa gunanya. Kalau tujuannya menguatkan tubuh, aku punya cara yang lebih baik. Kalau tujuannya menguji kepatuhan, kau sebaiknya mengatakannya terus terang."
Beberapa murid di barisan menoleh dengan wajah tegang, dan Fang Ming yang berdiri dua langkah dari Yu Tian menahan napasnya. Gu Chen menegakkan punggung, tangan kirinya menggenggam kotak kayu dengan sedikit lebih erat. Jeda panjang menggantung di antara mereka, dan satu-satunya yang terdengar adalah desir angin di sela-sela atap sirap.
"Itu aturan yang sudah ada sejak sekte ini berdiri." Suara Gu Chen datar, tetapi rahangnya menegang. "Aku tidak perlu menjelaskan alasannya kepada murid baru."
"Jadi kau tidak tahu." Yu Tian meletakkan kembali sapu itu ke tangan murid di sampingnya. "Aturan yang tidak punya alasan hanya kebiasaan. Aku tidak menyapu."
Gu Chen menatapnya lama. Tidak ada kemarahan di wajahnya, hanya ketelitian yang dingin, dan matanya menimbang isi ucapan itu, bukan orang yang mengucapkannya. Ia membuka buku catatan kecil dari balik jubahnya dan mencoret satu baris dengan ujung kuas. "Nilai disiplinmu dikurangi sepuluh. Kalau sampai akhir bulan kau masih menolak, kau akan kehilangan jatah pil."
"Catat saja." Yu Tian menyimpan batu rohnya ke dalam lipatan jubah dan berbalik pergi, dan di belakangnya terdengar bisik-bisik yang berubah menjadi dengung yang riuh.
...------...
Menjelang malam, ketika Fang Ming sudah mendengkur di dipan atas dan Su Wen menutup gulungannya dan memadamkan lampu minyak, Yu Tian duduk di tepi dipannya dengan punggung bersandar ke dinding. Ia menarik kantong kain dari pinggangnya dan menuangkan isinya ke telapak tangan, lalu menghitung inti monster yang tersisa dengan ujung jari. Sembilan butir. Masing-masing masih hangat, berdenyut lemah di bawah kulitnya, dan cahayanya remang di antara sela jari.
'Sembilan inti tingkat menengah. Di luar sana, benda ini bernilai cukup untuk menukar seratus pil seperti yang tadi.' Ia memandang pil di tangannya yang satunya lagi, lalu melemparnya ke udara dan menangkapnya. 'Kalau kujual lewat paviliun sekte, namaku akan dicatat. Seseorang yang berjubah abu-abu, nomor dua ratus empat belas, menjual inti tingkat menengah di hari pertamanya. Tetua Shen pasti senang membaca catatan semacam itu.'
Dari bawah dipan atas, suara Su Wen terdengar pelan dalam gelap. "Kau tidak tidur."
"Kau juga tidak." Yu Tian memasukkan kembali inti-inti itu ke dalam kantong tanpa menoleh. "Kalau aku ingin menukar sesuatu tanpa dicatat siapa pun, ke mana aku harus pergi?"
Hening sejenak, dan di antara keduanya hanya ada bunyi angin di celah jendela. Lalu Su Wen berkata pelan, "Ada pasar kecil di kaki gunung, yang buka setiap Malam bulan baru. Tapi kau tidak akan menemukannya sendirian."
Su Wen berbalik memunggungi Yu Tian, tidak berkata apa-apa lagi.
'Sepertinya aku harus menunggu beberapa hari lagi sampai bulan baru tiba.'