NovelToon NovelToon
Penguasa Danau Keabadian

Penguasa Danau Keabadian

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: LanzT0k3

Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, Wang Dahu hanyalah seorang pecundang—pemuda bertubuh gemuk yang tak mampu berkultivasi, dihina orang lain, bahkan dipermalukan oleh wanita yang dicintainya.

Ketika semua harapannya hancur, ia mendatangi Danau Pengabul Keinginan, tempat terlarang yang konon menyimpan rahasia mengerikan. Di sana, ia membuat perjanjian dengan iblis kuno demi memperoleh kekuatan.

Namun, sesuatu yang mustahil terjadi.

Alih-alih kehilangan tubuh dan jiwanya, Wang Dahu justru menyerap kekuatan sang iblis!

Kini, rahasia yang terkubur selama ribuan tahun mulai terbangun. Seorang lelaki yang dahulu diinjak-injak perlahan melangkah menuju puncak dunia kultivasi.

Tetapi, jika iblis kuno pun ketakutan terhadap tubuhnya, sebenarnya siapa Wang Dahu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 — Pertarungan Hidup dan Mati

​Wang Dahu menelusuri jejak kaki raksasa itu hingga menembus wilayah lebat yang dipenuhi oleh pepohonan mati.

​Suasana di sekitarnya berubah senyap seketika. Tak ada lagi desir angin yang menggoyang dedaunan, bahkan dengung serangga malam pun seolah lenyap mati.

​“Dahu, waspadalah,” tegur si iblis tajam dari dalam batin. “Ada entitas berbahaya di depan.”

​Dahu langsung menghentikan langkahnya, memicingkan mata menembus tirai kabut kelabu.

​Di antara barisan batang pohon yang menghitam, sesosok bayangan kolosal perlahan merayap keluar.

​Sosok itu menyerupai beruang raksasa, namun seluruh kulitnya terbungkus oleh lapisan sisik hitam legam menyerupai baja tempa. Sepasang bola matanya menyala merah darah, sementara taring dan cakar depannya menjulur panjang mengancam.

​Beruang Baja Bermata Merah!

​Dahu langsung mengenali spesies monster itu dari ensiklopedia purba yang dibacanya di paviliun buku.

​Makhluk itu memiliki tingkat kekuatan destruktif yang setara dengan Ranah Pengumpulan Qi tingkat ketujuh!

​“Bocah, jangan bertindak gegabah,” memperingatkan si iblis. “Pertahanan sisik baja itu tidak main-main. Bahkan sabetan kultivator yang selevel dengannya belum tentu mampu menggores kulitnya.”

​Dahu justru menyunggingkan seringai tipis. “Kalau begitu, jadikan dia batu asahan untuk kekuatanku.”

​Tanpa aba-aba, sang monster melayangkan raungan tuli telinga.

​ROAAAR!

​Tanah tempat Dahu berpijak bergetar hebat. Beruang baja itu menerjang dengan kecepatan yang sama sekali tak sebanding dengan ukuran tubuh masifnya.

​Dahu melompat ke samping secara refleks.

​BAM!

​Cakar maut beruang itu menghantam tanah dengan kekuatan penuh, menciptakan kawah kecil berserakan batu.

​Serangan langsung seperti itu bisa meremukkan tulangku dalam sekali pukul, batin Dahu memperingatkan dirinya sendiri.

​Ia memusatkan sirkulasi Qi ke kedua telapak kakinya, melesat gesit menyamping, lalu menghantamkan kepalan tangannya ke rusuk sang monster.

​DUG!

​Suara benturan logam terdengar nyaring.

​Tak ada goresan. Kulit baja itu bahkan tak bergeming sedikit pun.

​“Mustahil!” Dahu tersentak kaget.

​Monster itu berbalik sepersekian detik dan mengibaskan cakarnya menyamping. Dahu mengangkat lengan bersilang untuk menangkis, namun gelombang kejut dari hantaman itu membuat tubuhnya terpental jauh.

​BRAKK!

​Punggungnya menghantam keras batang pohon mati hingga kayu itu patah berkeping-keping.

​Darah segar merembes menetes dari sudut bibirnya.

​“Bocah bodoh! Sudah kubilang jangan adu tenaga!” bentak si iblis kesal.

​Dahu memaksakan diri bangkit berdiri. Napasnya memburu, lengannya ngilu luar biasa, dan dadanya terasa sesak seolah dihantam martil besi.

​Monster itu kembali merayap mendekat.

​Pertarungan berjalan semakin berat sebelah.

​Dahu mencoba melancarkan sabetan dari berbagai sudut, namun lapisan sisik baja di sekujur tubuh Beruang Baja Bermata Merah itu seolah tak bercacat. Setiap tinjunya yang dilapisi Qi hanya membuang-buang tenaga dan melukai tangannya sendiri.

​Sebaliknya, setiap kali cakar monster itu menyambar, Dahu nyaris kehilangan nyawanya.

​BAM!

​Satu hantaman telak kembali mendarat di bahunya.

​Darah menyembur dari mulut Dahu. Tulang rusuknya terasa retak, membuat kesadarannya sempat melayang.

​“Cukup! Mundur sekarang atau kau mati!” teriak si iblis panik.

​Namun Dahu tidak langsung kabur. Di tengah rasa sakit yang mendera hebat, matanya tetap tajam mengunci setiap jengkal pergerakan musuh.

​Kenapa... setiap kali ia bersiap menerjang, ada bagian bawah lehernya yang bergerak aneh?

​Dahu memicingkan mata penuh konsentrasi.

​Benar! Setiap kali Beruang Baja itu mengerahkan seluruh tenaga untuk mengayunkan cakar utamanya, lapisan sisik di bagian bawah lehernya sedikit terangkat ke atas, menyisakan celah sekecil jari selama sepersekian detik.

​Itu dia titik butanya!

​“Ketemu?” tanya si iblis.

​“Kupikir begitu.”

​“Jangan bilang kau mau mengincar celah sisiknya?”

​Dahu menyeka darah di dagunya dengan mantap. “Bagian bawah lehernya. Celah itu terbuka setiap kali dia mengerahkan daya penuh.”

​Si iblis terdiam sepersekian detik, lalu tertawa pendek. “Hahaha! Bagus! Setidaknya otakmu masih berfungsi di saat nyawamu di ujung tanduk!”

​Dahu mengubah total taktiknya.

​Ia berhenti mencoba menembus pertahanan utama. Sebagai gantinya, ia berlari lincah mengitari labirin pohon mati, memanfaatkan tunggul kayu dan batu-batu besar sebagai perisai mobilitas.

​Beruang itu mengamuk membabi buta mengejarnya.

​Dahu sengaja memancing emosi sang monster dengan melancarkan serangan-serangan kecil yang menjengkelkan.

​“Hei, binatang dungu! Kejar aku kalau bisa!”

​ROAR! Monster itu menerjang dengan kemurkaan absolut.

​Dahu melompat ke sisi kiri tepat pada waktunya. Cakar raksasa beruang itu menghantam batu karang di hadapannya.

​BAM! Batu itu hancur berkeping-keping.

​Dan tepat di detik itu, bagian bawah leher sang monster tersingkap terbuka lebar!

​Tanpa menyia-nyiakan sepersekian detik, Dahu memusatkan seluruh sisa energi Qi di dantiannya ke tangan kanannya, melesat maju dan menghantamkan tinjunya telak ke titik lemah tersebut!

​DUUM!

​Hantaman bertenaga penuh itu sukses menghantam celah sisik.

​Beruang Baja itu meraung kesakitan, mundur terhuyung-huyung sambil memuntahkan cairan hitam.

​Namun sebelum Dahu sempat menarik tangannya, ekor tebal monster itu menyapu keras tubuhnya.

​BAM!

​Dahu terpental jauh dan terseret di atas tanah berbatu.

​Lukanya kian parah, dan sekujur tubuhnya terasa remuk redam.

​“Dahu! Kondisimu sudah melewati batas!” seru si iblis cemas.

​Dahu memaksakan lututnya menumpu tanah, merangkak bangkit dengan sisa-sisa kesadarannya.

​Sedikit lagi...

​Ia mengamati pola gerakan terakhir sang monster. Ia sadar, setelah melancarkan hantaman cakar penuh, monster itu selalu kehilangan keseimbangan sesaat di bagian tumpuan depan.

​Sebuah rencana nekat tercipta di kepalanya.

​Dahu berlari terpincang-pincang menuju celah sempit di antara dua batu besar.

​Beruang Baja Bermata Merah langsung menyerbu tanpa pikir panjang.

​Saat monster itu melompat menerobos celah, Dahu mendadak melompat ke atas batu karang di sisinya.

​Cakar monster menghantam celah batu, membuat tubuh raksasanya tersangkut sesaat. Celah di lehernya terbuka sangat lebar.

​Ini dia!

​Dahu mengerahkan seluruh sisa tenaga dan Qi-nya ke kepalan tangan kanannya. Ia melompat turun dari atas batu bak meteor jatuh.

​“ROBOHLAH!”

​DUUUUM!

​Ledakan gelombang Qi mengguncang tanah hutan mati secara masif.

​Retakan besar langsung menjalar di leher sang monster, menembus lapisan sisik bajanya yang tebal.

​Dahu tidak berhenti. Mengabaikan rasa sakit di lengannya, ia menghantam titik yang sama untuk kedua dan ketiga kalinya!

​KRAAK!

​Pertahanan mutlak itu akhirnya jebol total!

​Beruang Baja Bermata Merah mengeluarkan raungan terakhir yang melemah, sebelum akhirnya tubuh kolosalnya ambruk menubruk tanah dengan suara bergemuruh.

​BOOOOM!

​Dahu berdiri terhuyung beberapa langkah di dekat bangkai monster itu, lalu jatuh terduduk lemas di atas tanah basah.

​Darah segar mengotori pakaiannya, namun di balik keletihan luar biasa itu, seulas senyum kepuasan terukir di wajahnya.

​Akhirnya... tumbang juga.

​Di dalam dimensi batinnya, si iblis menatap sosok Dahu dengan tatapan takjub bercampur tak percaya.

​Sesaat kemudian, ia tertawa terbahak-bahak lepas. “Hahaha! Bocah gila! Kau benar-benar berhasil merobohkan monster itu!”

​Dahu tersenyum lemah. “Bukankah kau sendiri yang menyuruhku menggunakan otak?”

​“Benar! Dan cara berpikirmu benar-benar melampaui batas logika kultivator seumuranmu. Kau memanfaatkan celah, membaca momentum, dan memaksa lawan membuka pertahanannya sendiri.” Si iblis menggelengkan kepala. “Bukan ototmu yang menang hari ini, tapi akal bulusmu.”

​Dahu terlalu lelah untuk membalas ejekan itu. Ia hanya memejamkan mata sejenak, membiarkan tubuhnya beristirahat.

​Saat ia memeriksa bangkai sang beruang di sekitarnya, ia mendapati beberapa keping token spiritual ujian tersembunyi di dalam ceruk sarangnya.

​“Jadi monster ini memang mengumpulkan token peserta lain,” gumam Dahu. Ia mengumpulkan semuanya ke dalam kantong kainnya. Jumlah token di tangannya kini sudah lebih dari cukup untuk meloloskannya ke tahap berikutnya.

​Beberapa jam kemudian, Dahu beristirahat di balik ceruk batu tersembunyi, memandu sirkulasi Qi untuk memulihkan luka-lukanya.

​Tiba-tiba, telinganya menangkap suara bising langkah kaki dan teriakan arogan dari arah luar semak.

​“Pastikan tidak ada satupun yang lolos! Geledah semua area!”

​“Zhou Tianhe, kita sudah merampas banyak token dari peserta lain. Apa itu belum cukup?”

​“Belum! Aku mau semua orang menyerahkan token mereka padaku! Siapa pun yang berani membangkang, hajar sampai tak bisa berjalan!”

​Dahu membuka matanya perlahan.

​Ia sangat mengenali suara itu.

​Zhou Tianhe.

​“Sepertinya ada tikus yang sedang mencari masalah,” gumam si iblis bersuara remeh.

​Dahu bangkit berdiri perlahan. Meski luka di tubuhnya belum pulih sepenuhnya, aliran Qi di dantiannya kini jauh lebih stabil.

​“Awalnya aku tidak berniat mencari musuh di ujian ini,” kata Dahu dingin seraya merapikan pakaiannya. “Tapi kalau dia sendiri yang datang mengantar nyawa... rasanya tidak sopan kalau aku mengabaikannya.”

​Ia melangkah keluar dari ceruk persembunyiannya.

​Di hadapannya, Zhou Tianhe tampak berjalan angkuh didampingi tiga orang pengikut setianya. Begitu melihat sosok Dahu muncul dari balik rimbunnya pohon, langkah Zhou Tianhe sontak terhenti.

​Mata pemuda itu membelalak lebar, lalu seringai penuh dendam merekah di wajahnya.

​“Wang Dahu!” teriak Zhou Tianhe penuh kemenangan. “Akhirnya aku menemukanmu juga, sialan!”

​Dahu menatapnya datar tanpa gentar sedikit pun. “Kebetulan sekali. Aku juga sedang mencari seseorang untuk menguji hasil latihanku hari ini.”

​Seringai di wajah Zhou Tianhe seketika membeku.

​Dan di dalam alam kesadaran Dahu, si iblis menyeringai lebar. Sepertinya setelah membereskan monster hutan, sekarang saatnya membantai manusia sombong.

1
Muhamad U Fadillah Udwm
lqnjuttt
Muhamad U Fadillah Udwm: jangan sampe tengah jalan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!