“Bagaimana hafalanmu?"
“Susah! Bisakah dikurangi hafalannya!”
“Pakaianmu boleh diskon. Tapi urusan agama, jangan sampai ikut didiskon.”
Kayla Aurora adalah gadis cantik dengan dunia yang bebas, akrab dengan mabuk, klub malam, dan balap liar.
Aturan bukan temannya, apalagi nasihat agama. Hingga sebuah keputusan memaksanya masuk ke pondok pesantren.
Tempat yang terasa seperti penjara,
penuh hafalan, disiplin, dan larangan yang membuatnya tersiksa.
Di sanalah Kayla bertemu Hanan, lelaki tenang dengan kesabaran yang tak mudah habis.
Alih-alih menghakimi, Hanan memilih membimbing. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pengertian dan doa.
Di antara pelajaran yang memberatkan dan hati yang perlahan dilunakkan,
benih cinta pun tumbuh… bersamaan dengan iman yang mulai menemukan jalannya.
Karena terkadang,
Allah mempertemukan dua insan bukan untuk menyamakan dunia, melainkan untuk saling mendekatkan kepada-Nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Ruang rawat itu kembali tenang setelah dokter dan perawat keluar. Hanya terdengar bunyi monitor yang berdetak stabil dan suara napas Kayla yang kini lebih teratur karena pengaruh obat penenang.
Tubuhnya terbaring lemah di atas brankar. Wajahnya pucat. Bekas air mata masih terlihat jelas di sudut matanya. Rambutnya sedikit berantakan, menutupi sebagian keningnya.
“Mas… kasihan mbak Kayla,” gumam Fatimah lirih.
Nada suaranya penuh iba. Ia menatap Kayla lama sekali, seperti melihat seseorang yang sedang tersesat jauh dan tak tahu arah pulang.
Hanan hanya diam. Ia menghela napas panjang, berat. Pandangannya tak lepas dari sosok Kayla yang tampak begitu rapuh. Beberapa jam lalu gadis itu berdiri di ambang jendela lantai dua puluh. Sekarang ia terbaring tak berdaya.
Hanan merasa dadanya sesak lagi.
“Dokter… bagaimana keadaannya?” tanya Hanan tadi sebelum dokter benar-benar pergi.
Dokter yang berdiri di ujung brankar menatap Kayla dengan ekspresi profesional namun serius.
“Secara fisik stabil,” jawabnya pelan. “Tapi psikisnya terganggu cukup berat. Trauma dan tekanan emosinya menumpuk. Tolong jangan biarkan pasien sendiri. Harus selalu ada yang menemaninya.”
Kalimat itu terasa seperti peringatan. Kini kakak beradik itu duduk di sofa kecil tak jauh dari brankar Kayla. Jaraknya cukup dekat untuk melihat wajahnya dengan jelas.
Beberapa menit mereka hanya diam.
Hanan menyandarkan punggungnya ke sofa, mengusap wajahnya pelan. Pikirannya penuh. Lelah bukan hanya fisik, tapi juga hati. Fatimah melirik kakaknya dari samping.
“Gimana, Mas?” tanyanya pelan.
Hanan mengernyit. “Apa?”
Fatimah mendesah panjang. “Haisss… tadi Mas Hanan sendiri loh yang bilang!”
“Bilang apa?” Hanan menoleh, benar-benar bingung. Fatimah menatapnya dengan ekspresi tak percaya.
“Astaghfirullah al adzim ya Allah… Mas Hanan sejak kapan kamu jadi lemot gini sih, Mas?”
“Apa sih, Fatim…” Hanan menghela napas lagi.
“Tadi Mas Hanan bilang kalau Umi boleh jadi uminya mbak Kayla.”
Hanan terdiam sesaat. Ia menoleh kembali ke arah Kayla yang masih terlelap. “Iya,” jawabnya akhirnya pelan. “Biarkan saja.”
“Kok biarkan saja?” Fatimah mengangkat alis.
Hanan mulai merasa pusing. “Terus mau kamu gimana, Fatim? Ya Allah… Mas lagi banyak pikiran. Kamu itu ngomong gak langsung aja sih, kenapa harus muter?”
Fatimah tiba-tiba menyeringai lebar. Senyum yang terlalu mencurigakan.
“Maksud Fatim…” ia mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Hanan, berbisik dramatis, “kapan Mas mau meng-khitbah mbak Kayla?”
Hanan langsung menoleh cepat.
“Fatim!” bisiknya tajam, tapi wajahnya memerah.
Fatimah tertawa kecil menahan suara. “Apa sih, Mas? Salah ya nanya?”
Hanan mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa panas.
“Kamu ini ya… situasinya kayak gini kok malah bahas itu.”
“Justru karena situasinya kayak gini,” balas Fatimah santai. “Mbak Kayla butuh seseorang yang benar-benar ngelindungin dia. Bukan cuma nemenin di rumah sakit.”
Hanan terdiam. Pandangan matanya kembali jatuh pada Kayla. Gadis itu tertidur dengan wajah lelah. Tangannya terkulai di samping tubuhnya. Begitu rapuh.
“Kalau dipikir-pikir ya, Mas… Mas Hanan tuh udah sering loh nyentuh mbak Kayla.”
Sontak Hanan langsung menoleh cepat ke arah adiknya. “Fatim!’’
Fatimah menahan senyum yang hampir meledak.
“Hehehe… beneran kan?” lanjutnya santai. “Coba Mas inget-inget. Berapa kali Mas Hanan tanpa sengaja nyentuh mbak Kayla?”
Hanan terdiam. Bayangan-bayangan itu muncul begitu saja di kepalanya. Saat ia menarik Kayla menjauh dari jendela.
Saat ia mengangkat tubuhnya yang hampir jatuh. Saat ia menggenggam tangannya untuk menenangkan.
Saat ia merapikan selimut tadi. Dan semuanya terjadi begitu cepat. Refleks. Tanpa niat lain selain menyelamatkan.
“Padahal selama ini,” lanjut Fatimah, kini lebih serius, “Mas Hanan selalu menjaga jarak sama yang bukan mahram.”
Kalimat itu terasa seperti cermin yang dipaksa berdiri di depan wajahnya. Hanan memang dikenal tegas menjaga batas. Tak pernah sembarangan bersentuhan. Bahkan sekadar bersalaman pun ia hindari jika tak perlu.
Tapi dengan Kayla… Ia tidak berpikir. Ia hanya bergerak. Karena takut kehilangan.
Hanan menunduk pelan. Ia tak membantah. Ia tak menyangkal. Ia mengiyakan dalam diam. Fatimah memperhatikannya, lalu menyilangkan tangan dengan gaya sok bijak.
“Nah… itu harusnya Mas Hanan udah wajib khitbah mbak Kayla loh.”
Hanan langsung mengangkat wajahnya lagi. “Fatim…”
Tapi kali ini suaranya tidak setegas tadi. Fatimah tersenyum lembut, tak lagi menggoda.
“Mas… Mas itu bukan tipe orang yang sembarangan peduli. Kalau Mas sampai se-refleks itu nyelamatin dia, sampai gak mikir soal batas… berarti hati Mas udah duluan bergerak.”
Hanan terdiam lama. Ia kembali menatap Kayla. Gadis itu terlihat begitu kecil di atas brankar. Begitu rapuh. Namun di balik semua luka itu, ada keberanian luar biasa keberanian untuk bertahan dari sesuatu yang hampir menghancurkannya.
Hanan menghela napas panjang.
“Mas nyentuh dia karena darurat!” ucap Hanan pelan, mencoba menegaskan. Suaranya tidak keras, tapi jelas mengandung pembelaan.
Ia menoleh ke arah Fatimah, seolah ingin memastikan adiknya berhenti menggiring pembicaraan ke arah yang tak ingin ia pikirkan terlalu jauh.
“Tapi tetep aja, Mas,” balas Fatimah santai namun serius. “Mas Hanan udah nyentuh mbak Kayla sering.”
Hanan mengerutkan dahi. “Fatim… sudah cukup.”
Namun Fatimah tidak menyerah. Ia bangkit dari duduknya dan mendekat beberapa langkah, menatap kakaknya dengan tatapan yang jarang ia tunjukkan tatapan yang bukan lagi menggoda, tapi sungguh-sungguh.
“Mas jujur deh… Mas itu jatuh cinta kan sama mbak Kayla?”
Hanan langsung menegang. “Fatimah.”
Satu kata itu terdengar seperti peringatan. Namun Fatimah tetap melanjutkan, suaranya kini lebih lembut.
“Mas… mbak Kayla itu butuh sosok imam. Seseorang yang bisa nuntun dia. Dan Mas Hanan cocok sama dia.”
Kalimat itu menggantung di udara. Hanan memejamkan mata sejenak.
“Astaghfirullah al adzim…” lirihnya, lebih seperti ia sedang menenangkan dirinya sendiri.
Cinta? Ia tak pernah memikirkan sejauh itu.
Yang ia tahu hanya satu: setiap kali melihat Kayla terluka, dadanya ikut sakit. Setiap kali Kayla menangis, ia ingin menghapus air mata itu. Setiap kali Kayla hampir jatuh, tubuhnya bergerak tanpa pikir panjang untuk menahan.
Apakah itu cinta? Atau sekadar rasa tanggung jawab?
“Nanti Fatim bantu bicara sama Umi deh… gimana?” lanjut Fatimah penuh semangat, seolah sudah menyusun rencana. Hanan membuka mata cepat.
“Allahuakbar, Fatim cukup!” katanya frustasi, suaranya sedikit lebih keras dari sebelumnya namun tetap tertahan agar tidak mengganggu Kayla.
Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, jelas pusing.
“Kita tunggu dia sadar,” ucapnya akhirnya, lebih tenang. “Sekarang yang penting dia sembuh dulu. Bukan soal khitbah, bukan soal cinta.”
Fatimah terdiam. Hanan menoleh lagi ke arah Kayla. Wajah gadis itu terlihat begitu damai saat tertidur. Kontras sekali dengan kekacauan yang tadi memenuhi ruangan ini.
Dalam hatinya, Hanan mengakui satu hal yang tak ia ucapkan pada siapa pun Ia memang tak pernah peduli pada perempuan lain seperti ini.
Namun ia juga tahu, cinta bukan sekadar rasa ingin memiliki. Cinta adalah kesiapan untuk memimpin, melindungi, dan bertanggung jawab.
Dan untuk itu… ia ingin memastikan niatnya lurus. Fatimah akhirnya tersenyum kecil.
“Baiklah, Mas,” katanya pelan. “Kita tunggu dia sadar.”
‘Apakah semua laki laki itu begini ya? Susah banget buat jujur,’ gumam Fatimah dalam hati, ‘Ah nanti coba tanya abi lah, apakah dulu abi juga gitu ke Umi,’ imbuhnya terkekeh sendiri.
‘’Kenapa kamu ketawa?”’ tanya Hanan menatap adiknya.
apa aj umi.... Kayla pasti ikut aj