Empat tahun lamanya mengarungi bahtera rumah tangga, dan tepat di ulang tahun pernikahan yang seharusnya disambut bahagia, Arjanti harus menelan kecewa, dipaksa memberi izin suaminya menikah lagi.
Mertuanya terus menekan, melimpahkan kekurangan ada pada dirinya yang tak kunjung hamil, sementara mereka ingin segera menggendong cucu.
Sang suami yang awalnya menentang keras saat dipaksa menikah lagi, lama kelamaan setuju dengan alasan ingin menimang anak.
Pada akhirnya, Arjanti harus berbagi suami. Tinggal satu atap dengan wanita bermuka dua, berambisi menjadi istri tunggal.
Lantas, bagaimana kehidupan Arjanti pasca pria yang dicintai segenap jiwa itu menghadirkan wanita lain selain dirinya?
Apa benar kalau dia memang mandul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMWI : 19
“Mas, lihat kelakuan istri pertamamu! Dia fitnah aku!” Saila memekik. Tidak terima tuduhan keji itu.
Arjanti menoleh ke sepasang suami-istri, lalu pandangannya turun pada tangan saling menggenggam.
Herlan terburu-buru melepaskan gandengan tangan istri muda. Ia seperti seorang suami kepergok selingkuh.
‘Ini yang katanya mau berbicara? Semakin kesini, sikapmu buat aku jijik Mas!’ Janti memalingkan muka, enggan melihat pria yang sesaat tampak mencintainya, sedetik kemudian sudah berpindah hati ke wanita lain.
“Kalau memang benar kamu gak hamil, kenapa harus di besarkan masalah kecil atau kesalahpahaman ini? Tinggal jawab, aku belum mengandung, apa susahnya?” ia menantang.
“Ya karena kamu asal bicara, kesal aku jadinya!” balas Saila.
“Sudah, jangan ribut lagi!” Doko menengahi. Perutnya lapar, tapi sarapan diatas meja makan tak menggugah selera.
“Janti, buatkan mie rebus pakai cabai rawit. Sama minumnya teh hangat!” titahnya bak berbicara dengan seorang pelayan.
Arjanti melirik Herlan, dan dia tertawa getir dalam hati. ‘Inikah yang dibilang adil? Didepan istri muda, kamu membiarkan aku diperintah sesuka hati oleh orang tuamu.’
“Minta buatkan Saila, Pak. Katanya dia mau belajar jadi istri berbakti sesuai standar keluarga ini!” jawabnya acuh tak acuh.
Mata Saila mendelik. ‘Kapan aku pernah ngomong seperti itu?’
“Kalau Saila gak mau masak, minta tolong ke ibunya. Bukankah tempo hari Bapak begitu lahap makan nasi goreng buatan bu Tanira, hitung-hitung biar ada gunanya dia tinggal disini. Sama seperti aku yang diharuskan melakukan ini itu, sampai dipaksa pula menerima wanita itu!” Dagunya terangkat dengan mata menunjuk istri kedua suaminya.
“Besanku bukan pembantu, Janti! Jangan kurang ajar kamu!” sergah Darti, naik lagi tensi darahnya.
“Aku juga bukan pembantu!” balasnya berteriak. Meski kepala berdenyut, Janti tetap berdiri tegak. Menatap tepat manik terkejut ibu mertua.
“Aku memang terlahir dari keluarga sederhana, namun harus Ibu tau! Bapak dan ibuku gak pernah memperlakukan diriku seperti kalian. Mereka begitu menyayangi, peduli, dan tak pilih kasih. Bukan seperti Anda, dia, mereka.” Tatapannya berpindah-pindah sesuai dia menyebutkan satu persatu orang yang berdiri disana.
Hilang sudah kesabaran yang terus diuji. Dia lelah lahir batin, namun berusaha tegar disaat tak mendapatkan pembelaan apalagi dukungan.
“Aku diam, pun ketika kalian perlakuan semena-mena tetap bungkam. Bukan karena senang, dan bentuk kepasrahan dikarenakan dijadikan menantu keluarga kaya. Tidak!” suaranya memekik tertahan, dan air mata lolos membasahi pipi.
“Seandainya saja dulu aku bisa membaca masa depan sebelum menikah dengan putra keluarga Doko, dengan tegas kukatakan! Gak akan mau bersuamikan pria tak memiliki pendirian, masih disetir orang tua. Sungguh aku menyesal!” suaranya gemetaran, dan kening mengkerut menahan emosi nyaris meledak.
Herlan maju, menarik lengan Janti sampai masuk ke dalam pelukannya. Ia dekap wanita yang mulai menangis kencang ini.
“Sayang, maafkan Mas.” Dieratkannya pelukan itu, lalu dia membopong Arjanti, tanpa mau melihat siapa-siapa, membawa sang wanita keluar rumah.
Arjanti memberontak, enggan masuk ke dalam mobil. “Lepaskan, Mas! Cukup sudah aku menahan semuanya seorang diri! Sekarang terserah sama mu. Bukankah kalian sudah membahas mau mencarikan kos-kosan untuk tempat tinggal baruku, ayo cari sekarang!”
“Gak akan! Kamu istriku, mana mungkin Mas bisa jauh-jauh,” keputusannya pun sudah bulat.
“Egois kamu, Mas!” bentak Janti. “Apa yang kalian lakukan ini sudah keterlaluan, sadar gak sih?!”
“Kalau memang sedari awal niat berpoligami, harusnya jangan satukan dua istri dalam satu rumah! Pada akhirnya aku terusir dari kamar utama, dan sekarang harus membiasakan diri menonton kamu bermesraan dengan dia, kamu anggap apa aku? Wanita tanpa jiwa sehingga gak bakalan tersakiti hatinya, kah?” Janti bersandar pada pintu mobil bagian depan.
“Baru beberapa hari, tapi sakitnya nyaris gak tertanggung lagi, mau sampai kapan aku kamu giniin, Mas?” suaranya nyaris berbisik.
“Jangan sentuh!” pekiknya menepis tangan yang mau membelai pipi, mengusap air mata.
“Kita bicarakan baik-baik dengan Saila, biar dia bisa bersikap lebih dewasa lagi, ya?” bujuknya menahan tangan agar tidak memeluk.
Sudut mata Janti menyipit, lalu dia tertawa getir. “Aku gak butuh belas kasihan dia demi mendapatkan perhatianmu. Silahkan kalau kamu mau menghabiskan waktu 24 jam selama seminggu, sebulan, setahun bahkan selamanya bersama dia. Awas!”
Arjanti mendorong dada prianya. Ketika cukup cela, dia keluar lalu berlari menuju pagar rumah.
“Janti!” Herlan berusaha mengejar.
“Mas!” Saila mencegah, memanggil dengan suara parau.
Sang pria pun menoleh ke belakang. Melihat wajah istri muda bermandikan air mata, niat menyusul istri pertama menguap begitu saja.
Herlan melangkah lebar, lalu memeluk dan menenangkan Saila. “Maaf, sudah membuatmu menangis.”
Dalam pelukan hangat itu, Saila menyeringai culas. ‘Kamu sudah kalah Janti, dia lebih memilihku daripada mengejarmu.’
“Kamu janji bakalan jagain perasaanku, tapi tepat di depan mata, malah membopong Janti. Gak adil sekali,” mulutnya mencebik, suara melirih membuat hati Herlan terenyuh.
Saila terus berbicara, memukul telak rasa bersalah sang pria. “Gimana nanti kalau aku hamil, terus pas ngidam pengen dimanja, tapi kamu lebih condong ke Janti, aku malah dicueki … hiks hiks.”
“Hal seperti itu tidak pernah terjadi, saat nanti dirimu mengandung. Janti pasti mau mengerti, memaklumi, dan dia paham kalau wanita hamil itu butuh diperhatikan, dijaga perasaannya,” ucapnya ringan sekali.
Mendengar jawaban seperti yang keinginannya, senyum Saila pun bertambah lebar. Pengantin baru itu masuk lagi ke dalam rumah sambil merangkul, lalu duduk di kursi meja makan.
Seperti tidak terjadi apa-apa, Herlan makan dengan lahap sarapan pagi buatan Astuti — roti bakar dan telur rebus.
Lainnya juga menyantap sarapan seadanya, bukan olahan tangan wanita yang saat ini tengah hancur hatinya.
Arjanti pergi lagi ke kota kabupaten, menarik uang tersisa dalam rekening. Kemudian dia duduk di taman. Melamun sambil sesekali mengatur napas disaat dada terasa menyempit.
“Rasanya aku mau menyerah,” gumamnya sambil menatap langit cerah berawan putih. “Biduk rumah tangga ini tak lagi memiliki tujuan. Terombang-ambing dalam gelombang pasang lautan lepas.”
“Dia yang berjanji akan setia, kini hatinya telah mendua. Haruskah aku terus bersabar? Menanti suamiku kembali disaat sudah ada wanita lain diantara kami?” Janti memejamkan mata.
Lelah, sangat. Bukan hanya fisik, tapi mental mulai dihajar tanpa ampun.
Hampir satu jam Janti duduk di bangku taman. Tanpa minum, enggan memesan sarapan di pedagang kaki lima. Cuma menyendiri, menenangkan hati yang mulai meragukan masa depan bersama pria mulai menunjukkan sikap berat sebelah.
Ketika dirasa sedikit baik, dan tak lagi sekalut tadi, Janti memutuskan pulang. Dia bukan pribadi suka bepergian tanpa tujuan. Anak rumahan. Perut masih terasa perih, dibiarkan saja.
***
Hari pun terus berlalu. Hubungan Arjanti dengan suaminya kian renggang.
Herlan kehilangan kepercayaan sang istri pertama, dan selalu gagal mendekati wanita yang mulai memasang tembok tinggi menciptakan jurang pemisah.
Namun, pria itu masih bersikeras terus mendekati, melarang ibu dan lainnya mengganggu sang istri pertama.
Pembantu rumah tangga pun ditambah satu lagi, diambil dari yayasan. Wanita berumur 40 tahunan, fisik biasa saja. Tugasnya merawat Darti, dan membantu pekerjaan Astuti.
Pada suatu hari, ketika waktunya sarapan. Seruan suara wanita mengejutkan semua orang.
“Aku hamil!”
.
.
Bersambung.
sm org yg pling plang,yg belum pitus sm masa lalunya nanti kamu jd pelampiasan,semangat Janti