Demi uang Rp 2 miliar, Karina menceraikanku dan "meminjamkanku" untuk menikahi sahabatnya. Aku pikir hidupku hancur—ternyata pernikahan itu justru menyeretku pada wanita yang diam-diam mencintaiku selama 17 tahun.
Arya Wibowo, karyawan biasa yang baru kena PHK, tiga tahun jadi suami yang diperas habis-habisan. Ketika mantan istrinya, Karina, dengan enteng menukar pernikahan mereka demi uang, Arya memilih pergi tanpa menoleh. Yang tak ia duga, "istri kontrak"-nya, Anindya Kusuma, adalah pewaris tunggal Grup Kusuma—kerajaan asuransi bernilai puluhan triliun—dan gadis yang sudah memendam cinta padanya sejak umur sepuluh tahun.
>
Saat Karina akhirnya menyesal dan merengek minta rujuk, Arya cuma tersenyum: "Cerai kamu yang minta. Sekarang mau balik? Nggak akan pernah." Dari pria yang dulu dihina "nggak berguna", Arya bangkit dengan tangannya sendiri—sementara satu per satu kebohongan Karina terbongkar di depan umum, dan karma datang menjemput.
Vila mewah, mobil belasan miliar, cinta yang tulus, dan pembalasan yang manis. Tapi Karina belum menyerah—dua bulan lagi, katanya, ia akan membongkar semuanya ke internet…
Siapa sebenarnya yang akan menyesal seumur hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Aditama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11: Dia Suka Kamu, Bro
"Sayang."
Satu kata itu terus berputar di kepala Sinta.
Sementara di Vila Kusuma, Arya bangun dengan kepala seperti dipukul dari dalam.
Ia membuka mata perlahan. Tirai sudah menahan cahaya pagi, segelas air dan obat sakit kepala berada di meja samping, sementara baskom kosong diletakkan dekat ranjang.
Arya mengingat warung, wajah Bayu, lalu paha Anindya yang menjadi bantalnya di mobil.
Ia langsung duduk.
"Aduh."
"Makanya jangan bergerak cepat."
Anindya masuk membawa bubur hangat. Rambutnya sudah rapi, tetapi lingkar tipis di bawah matanya menunjukkan ia hampir tidak tidur.
"Kamu tidur di mana?" tanya Arya.
"Sofa."
"Kenapa nggak di ranjang?"
"Takut Mas Arya muntah lagi dan tersedak."
Rasa sakit di kepala Arya mendadak kalah oleh rasa bersalah. "Maaf."
"Permintaan maaf diterima dengan satu syarat."
"Apa?"
"Makan. Setelah itu minum obat."
Arya menerima mangkuk. "Cuma itu?"
"Dan lain kali batasi minum. Aku tidak melarang bertemu teman, tapi aku nggak mau melihatmu menyiksa tubuhmu sendiri."
Nada Anindya lembut, tetapi tegas. Arya mengangguk.
"Baik."
Anindya tersenyum puas. "Anak pintar."
"Aku lebih tua darimu."
"Orang yang semalam bilang masih sangat sadar sambil hampir jatuh nggak boleh protes."
Arya memilih makan.
Menjelang siang, rasa pusingnya berkurang. Ia masuk ke ruang gim untuk mengalihkan perhatian dari potongan ingatan memalukan. Baru beberapa menit bermain, Anindya muncul membawa piring buah.
"Lagi?" tanya Arya.
"Dokter internet bilang orang habis minum perlu vitamin."
"Dokter internet bisa salah."
"Buahnya tetap benar."
Ia duduk di samping Arya, mengambil satu potong melon dengan garpu kecil, lalu memakannya. Beberapa detik kemudian, ia menusuk potongan lain dengan garpu yang sama dan menyodorkannya ke mulut Arya.
Arya melirik garpu itu. "Kamu baru pakai."
"Iya."
"Ambil garpu lain."
"Kenapa? Kita sudah sah."
"Hubungannya apa?"
"Kalau pakai garpu yang sama, paling cuma ciuman nggak langsung."
Jari Arya berhenti di tombol pengendali. Karakternya terkena serangan dan jatuh.
Anindya tertawa. "Kalah."
"Karena kamu mengganggu."
"Makan dulu, nanti menang lagi."
Arya akhirnya mengambil buah dengan tangan. Anindya mengembungkan pipi, kecewa karena rencananya kembali gagal.
"Kamu kenapa?"
"Nggak apa-apa."
Di layar, akun lama Arya menampilkan catatan permainan terakhir tiga tahun sebelumnya. Anindya membaca tanggalnya.
"Mas Arya berhenti bermain tepat setelah menikah?"
"Hampir. Konsol lamaku dijual beberapa bulan kemudian."
"Kenapa?"
"Karina bilang kami butuh uang untuk mengganti ponselnya."
Anindya menurunkan piring buah. "Ponselnya waktu itu masih bagus."
"Katanya kameranya kurang tajam."
"Jadi barang yang membuatmu senang dijual demi kamera untuk memotret barang belanjaannya?"
Arya tersenyum hambar. "Kalau diucapkan seperti itu, terdengar lebih buruk."
"Karena memang buruk."
Anindya mengambil tablet dari meja dan mulai mengetik. "Aku bisa minta tim teknis memulihkan semua data akun lama. Kalau ada perangkat yang pernah kamu punya, kita cari lagi."
"Nggak perlu."
Wajah Anindya langsung waspada, mengira Arya kembali menolak pemberiannya.
Arya menunjuk opsi permainan baru di layar. "Akun lamanya tetap kusimpan. Tapi yang ini aku mau mulai dari awal. Dulu aku berhenti di tengah karena hidupku diputuskan orang lain. Sekarang aku ingin menang dengan tanganku sendiri."
Anindya memandang profil wajahnya. "Baik. Tapi kalau butuh rekan satu tim, panggil aku."
"Kamu bisa main?"
"Bisa belajar."
"Nanti timku kalah."
"Kalau begitu Mas Arya harus mengajariku sampai menang."
Arya hendak menjawab ketika ponselnya berbunyi melalui headset. Bayu mengirim undangan obrolan suara.
Begitu tersambung, suara temannya langsung meledak.
"Bro! Masih hidup?"
"Sayangnya masih."
"Istri lo marah?"
Arya melihat Anindya yang sedang memakan melon dengan wajah tidak bersalah. "Nggak. Cuma diancam harus sarapan dan minum obat."
"Istri siapa yang jaga suami mabuk semalaman lalu hukumannya bubur?"
"Istri gue."
Anindya menahan senyum dan pura-pura fokus pada buah.
Bayu berdeham. "Nah, soal istri lo. Sinta punya teori."
"Jangan mulai."
"Dengar dulu. Menurut Sinta, Anindya suka sama lo."
Arya menoleh refleks.
Anindya sedang memasukkan buah ke mulut. Ketika mata mereka bertemu, ia hampir tersedak.
"Pelan-pelan," kata Arya sambil menyerahkan air.
"Siapa itu?" tanya Bayu.
"Anindya."
"Bagus. Nyalakan pengeras suara."
"Tidak."
Arya melepas headset dan berjalan beberapa langkah menjauh.
"Sinta salah," katanya pelan.
"Kenapa?"
"Karena Anindya cuma menjalankan pernikahan ini dengan baik."
"Bro, dia datang pakai baju rumah dalam dua puluh menit, nggak peduli kena muntahan, lalu pangku kepala lo sepanjang jalan."
"Dia orang baik."
"Dia menyiapkan ruang gim sesuai hobi lo, memberi mobil atas nama lo, dan menolak liburan demi menemani lo."
Arya berhenti. "Dari mana lo tahu soal liburan?"
"Sinta kenal temannya. Informasi beredar. Fokus."
Arya merendahkan suara. "Bayu, lihat kenyataannya. Dia Anindya Kusuma. Dia mengendalikan grup perusahaan besar. Gue baru kena PHK. Tiga hari lalu gue bahkan nggak punya tempat tinggal."
"Terus?"
"Terus perempuan seperti dia nggak mungkin suka laki-laki seperti gue."
Di belakang Arya, garpu Anindya berhenti di udara.
Ia mendengar kalimat itu.
Bayu menghela napas panjang melalui headset. "Lo tahu masalah lo apa? Karina terlalu lama bilang lo nggak berharga sampai sekarang lo mengulang kalimatnya pakai suara sendiri."
Arya terdiam.
"Sinta bilang perhatikan mata Anindya," lanjut Bayu. "Orang bisa memalsukan senyum. Bisa membayar mobil. Tapi panik waktu lo sakit dan lega waktu lo aman susah dipalsukan."
"Mungkin lo terlalu banyak nonton drama."
"Mungkin. Tapi gue lihat sendiri. Dia suka lo, bro."
Panggilan berakhir setelah Bayu mengajak bermain malam nanti.
Arya kembali ke kursi. Anindya sudah mengganti wajahnya menjadi tenang, tetapi piring buah di tangannya tidak lagi bergerak.
"Bayu bilang apa?" tanyanya.
"Dia cuma memastikan aku nggak mati."
"Cuma itu?"
"Cuma itu."
Anindya mengangguk, lalu menyodorkan lagi potongan melon dengan garpu yang sama.
Kali ini Arya menatap wajahnya lebih lama.
Ia mengingat tatapan di depan KUA, tangan yang gemetar saat memegang buku nikah, kamar yang disiapkan terlalu tepat, dan kepanikan Anindya di warung.
Apakah mungkin Bayu benar?
Arya membuka mulut dan memakan melon dari garpu itu.
Anindya membeku.
"Kenapa?" tanya Arya.
"Nggak ada." Wajahnya perlahan memerah. "Manis?"
"Lumayan."
"Melonnya?"
Arya menyalakan permainan lagi. "Memangnya apa lagi?"
Anindya menggigit bibir agar tidak tersenyum terlalu lebar.
Ia memindahkan kursinya sedikit lebih dekat dan menunjuk tombol pada pengendali. "Kalau aku mau belajar, mulai dari mana?"
Arya meletakkan tangannya di atas jemari Anindya untuk mengarahkan tombol. Keduanya sama-sama terdiam ketika kulit mereka bersentuhan.
"Dari awal," jawab Arya.
Anindya menatap tangan mereka, lalu layar permainan baru. "Aku suka mulai dari awal."
Arya menghadap layar, tetapi pikirannya tidak lagi berada dalam permainan.
Bayu mungkin salah.
Namun untuk pertama kalinya, Arya berharap sahabatnya benar.