Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen terindah berubah menjadi bencana bagi keluarga Abraham. Kakak kandung Alice Sabrina Catrine (Cesa) mendadak kabur tepat di hari H pernikahan demi menghindari perjodohan sepihak. Demi menjaga martabat keluarga, Cesa tidak punya pilihan lain. Menggunakan gaun pengantin yang bukan miliknya, Cesa terpaksa melangkah ke pelaminan untuk menggantikan posisi sang kakak.
Cesa sama sekali tidak mengenal siapa laki-laki yang menjabat tangan ayahnya di depan penghulu. Detik berikutnya, dunia seolah runtuh saat ia mengetahui identitas sang suami: Devano Alvian Mahendra.
Devan adalah paket lengkap dari definisi masalah: terkenal galak, tengil, nakal, dan punya hobi kelayapan malam yang mendarah daging. Sialnya, Cesa bukanlah gadis penurut yang lemah lembut. Cesa adalah gadis cantik berkulit mulus dengan sumbu pendek alias emosi yang mudah meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BLACK VAREN
Siang itu, matahari ibu kota bersinar terik, memantulkan hawa panas dari aspal jalanan. Namun, bagi klub motor "black varen", tempat paling adem adalah basecamp mereka—sebuah bengkel modifikasi merangkap kafe industrial yang luas di kawasan Jakarta Selatan. Di sana, deretan motor sport ratusan juta rupiah berbaris rapi. Di dalam ruangan sofa, sekitar sepuluh cowok berjaket kulit sedang asyik menenggak kopi, merokok, dan membicarakan spek mesin.
Tiba-tiba, suara raungan mesin Ducati 1000cc yang sangat familiar terdengar mendekat.
"Eh, si Devan dateng tuh! Tumben bawa Ducati, biasanya pake McLaren," ujar tio, salah satu anggota senior, sambil menoleh ke arah pintu kaca.
"Tapi kok suaranya agak tersendat ya? Kayak bawa beban berat," sahut tumpukan anak motor lainnya.
Motor Ducati merah itu berhenti tepat di depan lobi basecamp. Namun, pemandangan berikutnya membuat seluruh anak motor yang ada di dalam ruangan langsung melotot, menjatuhkan rokok, dan tersedak kopi mereka berjamaah.
Devan turun dari motor dengan wajah yang ditekuk sedalam palung Mariana. Dan yang membuat mereka syok setengah mati: wajah tampan sang ketua klub motor amatir itu dipenuhi totol-totol putih losion kalamin sisa bentol semalam. Namun, yang jauh lebih menggegerkan jagat raya adalah makhluk yang turun dari jok belakang.
Cesa turun dengan gaya petantang-petenteng andalannya. Ia melepas helm half-face-nya dengan kibasan rambut dramatis ala iklan sampo, membetulkan jaket jins kebesaran yang ia kenakan, lalu dengan santai mengantongi kunci motor Ducati Devan ke dalam saku celananya sendiri.
"Wah, wah, wah... jadi ini tempat nongkrong lo kalo lagi kabur dari rumah, Kak?" suara cempreng nan bar-bar Cesa langsung memecah keheningan..
Devan tidak menyahut. Ia melangkah masuk ke dalam basecamp dengan langkah berat, diikuti Cesa yang berjalan di belakangnya sambil celingukan menatap sekeliling dengan pandangan menilai.
"Woy, Van! Ini... siapa? Dan muka lo kenapa woy?! Habis dirampok tawon kurap?!" teriak reno langsung menghampiri Devan, matanya tidak lepas dari sosok Cesa yang berdiri berkacak pinggang.
Sebelum Devan sempat menjawab, Cesa sudah maju satu langkah, menyingkirkan tubuh Devan dengan lengannya. "Kenalin semuanya! Gue Alice Sabrina Catrine Alister. Panggil aja Cesa. Istri sah, ratu utama, sekaligus pemegang kendali penuh atas kehidupan cowok totol-totol di sebelah gue ini!" seru Cesa dengan senyum lebar berwibawa tanpa rasa malu sedikit pun.
Seluruh ruangan seketika hening. Satu detik, dua detik, lalu...
"HAH?! ISTRI?!" teriak sepuluh anak motor itu serempak, mengguncang langit-langit basecamp.
"Van, lo beneran nikah dadakan kemarin?! Yang katanya kakak ipar lo kabur terus digantiin adiknya?! Jadi ini orangnya?!" tanya Jodi, anggota klub yang paling kepo.
Devan mengurut pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri lagi. "Iya, ini cewek kampret yang terpaksa gue nikahin. Udah ah, jangan dibahas. Pusing gue. Muka gue begini juga gara-gara dia!" ketus Devan sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa panjang.
Cesa tidak tinggal diam. Bukannya duduk manis menemani suaminya, cewek bar-bar itu malah langsung beraksi layaknya inspektur jenderal yang sedang sidak pabrik. Ia berjalan menuju deretan motor sport yang dipajang di dalam bengkel, mengetuk-ngetuk tangki bensin sebuah motor Kawasaki Ninja H2 seharga miliaran dengan kukunya yang dicat pink.
"Hmm... motornya lumayan. Tapi warnanya kurang estetik ya. Coba kalau dicat warna pink magenta pake gliter-gliter, pasti kalau dipake balapan langsung memancarkan aura girl boss," komentar Cesa asal-asalan, membuat pemilik motor tersebut—seorang cowok berbadan kekar penuh tato—langsung memegangi dadanya dengan wajah pucat.
"Heh, Cesa! Jangan sembarangan pegang motor orang! Itu motor mahal!" bentak Devan dari sofa.
Cesa menoleh, menjulurkan lidahnya. "Halah, mahal juga mahalan mahar yang bokap lo kasih ke gue kemarin! Btw, anak-anak Cobra sekalian... ketua kalian ini sebenernya cupu banget tau gak kalau bawa motor!"
Mendengar kata 'cupu', seluruh anak motor langsung mendekat, aromanya seperti aroma gosip segar. "Wah, gimana ceritanya, Mbak Cesa? Buka kartu dong!" seru Rio bersemangat.
"Tadi di jalan, dia sengaja bawa motor ngebut-ngebut miring-miring biar gue takut. Eh, gue malah nagih minta lebih kenceng, eh dia malah lemes duluan! Tuh lihat, sekarang mukanya totol-totol kayak donat gula, staminanya kayak siput kurang zat besi! Hahaha!" Cesa tertawa ngakak, memukul-mukul pundak Rio yang ada di dekatnya dengan bar-bar.
"HAHAHAHA! ANJIR, SI DEVAN DIKATAIN SIPUT!" seluruh basecamp langsung meledak dalam tawa riuh, menertawakan Devan yang harga dirinya sebagai ketua klub motor langsung merosot tajam ke kerak bumi dalam waktu lima menit akibat ulah istrinya.
"CESA!!! KELUAR GAK LO DARI SINI!!!" raung Devan, wajah totol putihnya memerah padam menahan malu.
"Ogah! Di sini seru, temen-temen lo lebih asyik daripada lo yang emosian mulu! Mbak pelayan kafe! Tolong buatin es kopi susu regal yang paling mahal ya, taruh di rekeningnya Devan Alister!" seru Cesa santai, lalu duduk di kursi bar, langsung membaur dengan anak-anak motor yang kini malah asyik mendengarkan cerita-cerita bar-bar Cesa tentang bagaimana ia menjebak Devan pakai minyak goreng di ruang gym.
Devan hanya bisa bersandar di sofa, menutupi wajahnya dengan bantal, meratapi nasibnya yang kini sepenuhnya dijajah oleh sang Ratu Barbar bahkan di wilayah kekuasaannya sendiri.