Disa ingin memberi kejutan berupa kehamilan yang telah lama dinanti-nanti, tetapi dia malah mendapatkan kejutan lebih dulu dari Cakra. Cakra membawa pulang Risa yang sedang hamil anaknya.
Dari pada menerima Cakra, yang jelas-jelas sudah mengkhianatinya, dan harus menerima Risa sebagai madunya, Disa memilih pergi dengan membawa anak Cakra yang dia sembunyikan.
"Jangan menyesal setelah aku pergi."
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
lagi-lagi, Disa mendapatkan transferan uang dari Hadrian yang katanya untuk keperluan Disa dan calon cucunya. Tapi menurut Disa, uang yang Hadrian beri rutin setiap bulan itu sangat kebanyakan. Lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan Disa sehari-hari, Disa jadi tidak enak.
Hadrian menolak uang itu dikembalikan. Itu sudah menjadi hak Disa kewajibannya lah untuk menanggung semua kebutuhan Disa selama Disa hamil, mewakili Cakra katanya.
"Mas Cakra juga sebenarnya udah tau kok, Pa, kalau Disa lagi hamil," adu Disa. Untuk menghindari kecanggungan, ia tetap memanggil Hadrian papa sebab Disa tidak nyaman jika harus mengubah panggilan akrab itu.
Hadrian pun tak keberatan, justru ia akan merasa kecewa jika Disa tidak lagi memanggilnya papa. Meskipun sudah tidak menjadi menantunya, Disa akan tetap ia anggap sebagai anaknya.
"Oh ya? Ya syukurlah kalau Cakra udah tau. Biar bagaimana pun, si kembar itu tanggung jawab Cakra juga, Dis. Walaupun begitu kelakuannya, maafin Cakra ya?
"Iya, Pa. Um ... Terima kasih ya, Pa, uangnya. Kelebihannya ini Disa masukin tabungan ya, Pa, buat si kembar nanti."
"Iya, Dis, itu hak kamu. Terserah mau kamu gunakan untuk apa, yang penting bermanfaat."
"Iya, Pa. Yaudah, Disa tutup ya telponnya. Assalamualaikum."
Setelah mendengar sahutan salam dari Hadrian, Disa menutup teleponnya. Hari ini ia berencana untuk pergi cek up ke dokter kandungan sekaligus ingin melakukan USG untuk mengetahui jenis kelamin si kembar.
Begini ternyata rasanya menjadi ibu hamil. Selalu antusias saat ingin melakukan pemeriksaan bulanan. Tidak sabar ingin mendengar detak jantung janin serta keadaannya di dalam sana.
Disa tidak merasakan kendala apa pun di masa kehamilan pertamanya ini. Semuanya terasa baik-baik saja. Disa harap, semoga ia dan calon kedua buah hatinya akan selalu sehat dan selamat hingga tibanya mereka akan bertemu.
Sebelum keluar dari kamar, Disa mengeluarkan kalung pemberian Rayyan dari laci mejanya. Ia tatap sebentar kalung itu lekat-lekat. Ada keinginan yang kuat untuk memakaikan kalung itu di lehernya.
Entah mendapatkan dorongan dari mana, Disa akhirnya memakai kalung itu. Menatap sebentar pantulan lehernya di cermin yang kini tidak polosan lagi.
"Bagus banget sih kalungnya," gumam Disa tersenyum. Wajahnya otomatis memerah ketika mengingat pesan dari Rayyan.
Disa akhirnya keluar dari kamar setelah selesai bersiap. Ia berjalan ke meja makan.
"Disa periksanya sendiri aja nggak apa-apa, Buk," kata Disa saat ia sedang makan pagi bersama Rahmi.
"Yakin? Ibuk nggak apa-apa buka warung agak siangan, ibu bisa bisa nganterin kamu dulu ke dokter. Dari pada sendirian, ibu khawatir," tutur Rahmi.
"Ibuk nggak usah khawatir, Disa bisa sendiri kok. Lagian Disa nanti sekalian mau pergi ke mall, mau nyicil beli perlengkapan bayi. Nanti aja kalau ibuk mau nemenin periksa kalau perut aku udah besar. Kalau sekarang Disa masih bisa sendiri kok."
"Tapi, Dis—"
"Disa mau sendirian aja, Buk, please. Naik taksi."
Rahmi akhirnya menghela napas panjang. Mengalah berdebat dengan Disa. "Ya sudah. Yang penting kamu hati-hati, sama harus selalu ngabarin ibuk."
"Iyaa... Buk."
Disa menghabiskan makanannya sebelum memesan taksi online. Ia juga sudah mendapatkan nomor antrian yang dipesan lewat online.
Dua puluh menit kemudian, ia sudah duduk di dalam taksi yang akan membawanya ke rumah sakit. Salah satu lagu milik Westlife mengalun lembut di dalam taksi yang berjalan pelan. Sang sopir taksi yang memakai masker dan topi itu berkali-kali memperhatikan penumpangnya dari kaca spion.
Disa menatap ke luar tanpa merasa curiga sedikit pun dengan sopir taksi tersebut.
Saat mobil sudah sampai di rumah sakit, sopir taksi itu membukakan pintu untuk Disa. Barulah kemudian, ia membuka masker dan melepaskan topinya.
"Mas Cakra!" pekik Disa, saat menyadari sopir taksi yang ditumpanginya ternyata adalah Cakra.
"Kamu mau cek up kandungan, kan? Aku temenin," kata Cakra. Segera, ia menggenggam tangan Disa.
Disa bergeming. Menatap pergelangan tangannya yang dipegang Cakra.
"Aku nggak mau, Mas. Aku bisa sendiri. Lebih baik sekarang kamu pergi," usir Disa. Biar bagaimana pun, Cakra sekarang sudah menjadi suami dari Risa, kendati pria itu adalah ayah dari janin yang dikandung Disa.
Disa, tidak seharusnya pergi berduaan dengan suami orang. Dia tidak ingin menjadi rendahan seperti Risa.
"Aku juga ingin tahu keadaan anak aku, Dis. Kamu nggak berhak melarang aku!" sergah Cakra.
"Kamu ini suami orang, Mas, sadar dong! Aku nggak mau pergi berduaan sama suami orang, aku gak mau dicap pelakor. Aku bukan Risa!" balas Disa.
"Dis, please ... Kita nggak pergi kencan bedua, kita mau periksa ke dokter," tegas Cakra.
"Tetap aja. Kita pergi ke dokternya cuma bedua. Aku gak mau."
Cakra mendesah kasar. "Terus? Kita udah terlanjur berada di sini sekarang, Dis. Ayolah, biarin aku temenin kamu periksa. Aku mau tau gimana keadaan anak kita. Aku mau tau perkembangannya."
Anak kita? Saat Cakra mengatakan itu, hati Disa berdesir. Seharusnya periksa bulanan rutin dengan dokter kandungan menjadi momen yang membahagiakan andaikan hubungannya dengan Cakra tidak retak.
"Risa tau kalau kamu nemuin aku?" tanya Disa pelan.
Cakra hanya menggeleng.
Perlahan, Disa melepaskan tangan Cakra yang mencengkram tangannya. "Kamu punya istri, Mas. Tolong pikirkan istri kamu kalau tau kamu pergi nemuin perempuan lain. Pasti dia sakit."
Cakra terdiam. Disa seolah sedang mengingatkan pada perbuatannya dulu yang sering diam-diam bertemu dengan Risa di belakang Disa hingga hubungan mereka terikat dalam pernikahan tanpa sepengatahuan Disa.
Disa seolah sedang menyampaikan betapa sakitnya dia saat dia mengetahuinya. Cakra menghembuskan napas pelan.
"Dis, kita kan ketemu dan pergi berdua karena ada keperluan, bukan ... Berselingkuh."
Disa menyingkap rambutnya yang ada di sekitar lehernya ke belakang. "Terserah kamu lah, Mas," ujarnya lelah.
Disa berjalan lebih dulu, namun baru berjalan dua langkah, Cakra sengaja menahan bahunya.
Cakra mencondongkan tubuhnya ke depan, tangannya terulur menyentuh kalung yang melingkari leher Disa. Ia amati lekat-lekat kalung itu.
Disa sedikit memundurkan tubuhnya, merasa tidak nyaman berada sedekat ini dengan Cakra.
"Apa sih, Mas? Jangan dekat-dekat," tegur Disa.
Cakra tidak memperdulikan teguran Disa. Fokusnya terus tertuju pada kalung itu.
"Dari mana kamu dapetin kalung ini, Dis?" tanya Cakra. Suaranya mendadak menyeramkan.
Disa mengernyit. Bingung, kenapa Cakra tiba-tiba sangat tertarik dengan kalung yang ia pakai?
"Aku ... Beli lah," jawab Disa.
"Beli di mana?" tanya Cakra lagi, tidak sabar.
"Ya ... Di toko perhiasan lah. Emang di mana lagi? Lagian ngapain sih kamu kepo banget? Terserah aku dong beli kalungnya di mana. Kamu pengen?"
"Dis, jujur deh," desak Cakra." Aku tau kamu nggak beli kalung itu di toko perhiasan. Jujur, kamu dapat kalung itu dari mana? Di kasih sama siapa?"
Disa terkesiap. Cukup terkejut. Dari mana Cakra tahu Disa mendapatkan kalung ini karena pemberian dari seseorang? Jangan-jangan selama ini Cakra mempunyai bakat yang tidak diketahui Disa?
Disa jadi merinding.
"Di kasih sama siapa, Disa?" desak Cakra lagi. "Tolong jawab!"
"Di kasih sama temen aku! Puas?"
"Siapa? Aku harus tau siapa orang yang ngasih kalung ini ke kamu."
...****************...
lanjut g pake lama
pokonya jngn sampe disa celaka
AYO TAKBIR
biarin kebalik ke risa
risa aja tuh ya dibikin keguguran
biar g ba punya anak
kalau berkenan follow ig aku ya @jalur_langitbiru13
makasih.
kritik, saran, dan ulasannya juga ditunggu 🫰