Satu ciuman di tengah desing peluru, dan seluruh Italia gempar.
Riccardo Colombo, presiden berusia empat puluh lima tahun, sudah sepuluh tahun menduda dan menikah dengan satu hal saja: negara. Tapi survei berkata lain. Lawan politiknya unggul dengan keluarga sempurna, dan partai mengancam, tanpa istri, tidak ada pemilihan ulang.
Bella Lombardi, dua puluh tahun, relawan yang tulus dan putri keluarga mafia paling ditakuti di negeri ini. Seumur hidup, masa depannya diputuskan oleh pria-pria berkuasa lewat jabat tangan dan aliansi. Ciuman spontan yang ia berikan pada sang presiden malam itu hanya dimaksudkan sebagai refleks. Tapi kamera sudah terlanjur menangkapnya.
Kini sebuah tawaran terhampar di atas meja makan siang: pernikahan kontrak, empat tahun, sebatas masa jabatan.
Bella tidak meminta perhiasan. Ia hanya menuliskan pasal-pasal kebebasan.
Riccardo bersumpah ini hanya perjanjian. Bella bersumpah tidak akan jatuh cinta.
Tapi ayah Bella tidak akan menyerahkan putrinya begitu saja, seseorang mengintai dari balik layar kekuasaan, dan ada rahasia di Palazzo yang bisa menghancurkan mereka berdua.
Berapa lama dua orang bisa berpura-pura menjadi pasangan, sebelum kepura-puraan itu berubah menjadi satu-satunya hal yang nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 - Rumah yang Sunyi
Bella
Aku bangun perlahan dengan sinar pertama matahari menghangatkan wajahku. Sesaat aku tetap memejamkan mata, merasakan ketenangan pagi. Secara naluriah, kuulurkan tangan ke sisi ranjang, mencari hangat Riccardo.
Aku hanya menemukan seprai dingin.
Hatiku mencelos.
Aku cepat membuka mata dan duduk di ranjang, memandang sekeliling kamar. Semuanya persis seperti yang kami tinggalkan semalam, tapi dia tidak ada.
"Riccardo..." panggilku pelan.
Tak ada jawaban.
Keheningan memenuhi kamar.
Kupanggil lagi, sedikit lebih keras.
"Riccardo?"
Tak ada.
Kugigit bibir bawahku, merasakan kegelisahan tumbuh dalam diriku. Dia tidak mungkin pergi tanpa memberitahuku... atau mungkin ada urusan mendesak?
Aku menarik napas dalam, berusaha menyingkirkan pikiran buruk, tapi kekosongan yang ditinggalkan ketiadaannya terus menekan dadaku. Kutatap pintu kamar, berharap pintu itu terbuka kapan saja dan dia masuk dengan senyum tenang yang selalu menenangkan hatiku.
Tapi detik-detik berlalu... dan yang kutemukan hanya hening.
Aku bangkit dari ranjang, masih merasakan ketiadaan Riccardo. Kupakai jubah sutra di atas gaun tidur, mengikat rambut sekenanya, dan menuruni tangga.
Begitu tiba di ruang makan, kutemukan Dolores sedang menyelesaikan penataan meja sarapan. Aroma kopi segar dan roti yang baru keluar dari oven memenuhi ruangan.
Dia tersenyum begitu melihatku.
"Selamat pagi, Nyonya."
"Selamat pagi, Dolores. Di mana Riccardo?"
Dia membungkuk kecil sebelum menjawab:
"Presiden harus berangkat pagi-pagi ke Palazzo. Beliau bekerja sejak jam-jam pertama pagi."
Aku hanya mengangguk, mengerti bahwa tanggung jawabnya tak pernah bisa menunggu.
Kuhampiri meja dan duduk. Dolores menuangkan secangkir kopi dan menaruh beberapa buah dan roti di hadapanku.
Aku berterima kasih dengan senyum tipis.
Kuangkat cangkir ke bibir, tapi nyaris tak merasakan rasanya. Kuminum kopi secara otomatis, tersesat dalam pikiran. Pikiranku terus kembali pada Riccardo, membayangkan apa yang begitu mendesak sampai ia pergi sebelum aku bangun.
Rumah ini sunyi, tetapi untuk pertama kalinya sejak aku tiba di sini, kesunyian itu tidak membawa kedamaian. Hanya membuat ketiadaannya terasa makin besar.
Setelah sarapan, aku kembali ke kamar. Mandi lama, memakai pakaian ringan, dan menata rambutku dengan cermat.
Mungkin Riccardo akan segera pulang.
Pikiran itu menemaniku sepanjang pagi.
Aku memutuskan menunggunya untuk makan siang. Aku yakin, sesibuk apa pun dia, dia akan menemukan waktu untuk pulang.
Tapi jam makan siang tiba... dan kursi di hadapanku tetap kosong.
Kulirik jam untuk kesepuluh kalinya.
Tak ada.
Ponselku tetap hening.
Aku berpikir menelepon, tapi mengurungkannya. Aku tak mau mengganggu. Kalau dia sedang rapat penting, mengganggu hanya egois.
Jam-jam berlalu pelan.
Aku membaca beberapa halaman buku tanpa memahami satu kata pun. Aku berjalan di taman. Kembali ke rumah. Menatap jendela, menunggu mobilnya muncul kapan saja.
Hari Minggu itu meluncur lewat sela jariku, dan ketika sadar, malam sudah turun.
Dolores berpamitan dan pergi, meninggalkan mansion dalam kesunyian yang nyaris mencekik.
Aku berjalan di ruang tamu sambil memeluk tubuhku sendiri. Rumah ini terlalu besar untuk satu orang.
Aku menarik napas dalam.
Kuraih ponselku.
Cukup menunggu.
Kutekan nomor Riccardo.
Telepon berdering...
Berdering...
Dan tak ada yang menjawab.
Aku menelan ludah dan mencoba lagi.
Kali ini aku menunggu sampai sambungan terputus sendiri.
Tak ada.
Aku menatap layar yang padam beberapa detik.
Rasa pahit menyerbu dadaku.
Mendadak aku merasa menyedihkan.
Seperti perempuan putus asa yang memohon beberapa menit perhatian dari suaminya sendiri.
Aku tertawa tanpa humor, melempar ponsel ke sudut sofa, dan menaiki tangga cepat-cepat.
Aku tak mau berpikir.
Aku tak mau mengarang penjelasan.
Aku hanya ingin kekosongan di dalam diriku ini lenyap.
Aku terlalu lama duduk di ranjang.
Kutatap pintu kamar, seakan sebentar lagi Riccardo akan masuk dan bilang semuanya hanya kendala kecil.
Tak mau mengakuinya, bahkan pada diriku sendiri, tapi aku masih menunggunya.
Menit-menit berlalu.
Malam berubah menjadi dini hari.
Dan dini hari perlahan memberi tempat pada fajar.
Riccardo tidak pulang.
Tidak menelepon.
Tidak mengirim satu pesan pun.
Kupejamkan mata sesaat, berusaha mengendalikan sesak di dadaku.
Aku tak tahan lagi di sini.
Terkurung di rumah ini.
Aku bangkit, berganti pakaian, dan menuruni tangga.
Begitu masuk ruang makan, kutemukan Dolores menata meja sarapan lagi. Aroma kopi segar memenuhi ruangan, tapi hari ini tak membangkitkan seleraku.
Dia tersenyum melihatku.
"Selamat pagi, Nyonya."
Kupaksakan senyum.
"Pagi, Dolores. Hari ini aku tidak sarapan. Aku mau keluar."
Dia mengamatiku sesaat, seakan menyadari ada yang tidak beres, tapi hanya mengangguk.
"Sesuai keinginan Nyonya."
Aku keluar lewat pintu utama, menghirup udara segar pagi.
Beberapa detik aku berdiri di pintu mansion.
Kusadari aku tak punya tujuan.
Aku hanya tahu tidak sanggup menghabiskan satu hari lagi hanya menunggu.
Sopir membukakan pintu mobil dan bertanya sopan:
"Ke mana, Nyonya?"
Aku berpikir sejenak.
Hanya ada satu tempat yang bisa membuat hatiku menemukan sedikit penghiburan saat ini.
"Ke rumah ibuku."
Dia mengangguk.
Mobil melaju, dan kuamati mansion makin mengecil lewat kaca belakang.
Untuk pertama kali sejak pernikahan, aku merasa sedang melarikan diri... bukan dari Riccardo, tapi dari kesepian yang ditinggalkan ketiadaannya di dalam diriku.
Ketika mobil berhenti di depan rumah orang tuaku, kurasakan kelegaan aneh menyerbu dadaku.
Aku turun dan berjalan ke pintu. Bahkan sebelum menekan bel, salah seorang staf sudah membukakan dan mempersilakan aku masuk.
Aroma kopi baru seduh membangkitkan kenangan masa kecilku.
Aku menuju ruang makan.
Mama duduk di meja, menikmati kopi dengan tenang.
Papa tidak ada.
Begitu melihatku, wajahnya bercahaya.
"Bella!"
Dia berdiri dan memelukku penuh sayang.
Kubalas pelukannya, berusaha tampak baik-baik saja.
"Aku memutuskan berkunjung."
"Keputusan bagus. Duduk. Ngopi bersama Mama."
Kupaksakan senyum terbaikku dan duduk.
Dia menuang secangkir kopi, memotong sepotong kue, dan menaruhnya di piringku.
Kami mengobrol tentang hal-hal tak penting. Taman, kenalan-kenalan, kabar-kabar kecil hari itu.
Aku tersenyum ketika perlu.
Menjawab pertanyaan.
Tapi pikiranku jauh dari sana.
Mama mengamatiku diam-diam beberapa saat.
Dia terlalu mengenalku.
"Nak... semua baik-baik saja?"
Jantungku goyah sesaat.
Aku ingin bercerita bahwa Riccardo pergi tanpa membangunkanku, bahwa seharian ia tak pulang, tak menjawab teleponku, bahkan tak mengirim pesan.
Aku ingin mengakui betapa menyakitkannya itu.
Tapi aku hanya tersenyum lagi.
"Baik, kok."
Dia terus menatapku, seakan melihat menembus jawabanku.
Meski begitu, dia tidak mendesak.
Dia hanya menggenggam tanganku sesaat, gestur kasih sayang yang diam.
Dan saat itu aku sadar, kadang para ibu tahu kebenarannya... bahkan ketika anak-anak mereka berusaha sekuat tenaga menyembunyikannya.