NovelToon NovelToon
Gadis Montok Sang Don

Gadis Montok Sang Don

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Mafia / Asmara / Cewek Gendut / Tamat
Popularitas:4
Nilai: 5
Nama Author: Lenardt

Setiap pagi, Laras melayani pelanggan pertamanya di kedai kecil itu: seorang pria bermata biru yang selalu memanggilnya "Cantik". Hanya itu. Karena di rumah, ayah dan kakaknya memperlakukannya seperti sampah, dan lelaki setampan itu tak akan pernah melirik gadis gemuk sepertinya.

Yang tidak Laras tahu, pria itu adalah Satria Kusuma, Don 'Ndrangheta, bos mafia yang ditakuti, dan ia punya waktu enam bulan untuk menikah atau kehilangan takhtanya. Satu malam, setelah melihat sendiri bagaimana Laras diperlakukan, Satria mendatangi rumahnya dan menawarkan kesepakatan yang tak bisa ditolak ayah Laras: utang dilunasi, dan Laras menjadi istrinya.

Laras mengira ajalnya sudah dekat. Ia punya rahasia yang menurut hukum mafia pantas dibayar nyawa. Tapi pria yang ia takuti justru menyediakan sofa, selimut, dan kesabaran tanpa batas, dan perlahan menunjukkan padanya bahwa ia boleh hidup, boleh dicintai, bahkan boleh menjadi kuat.

Sementara itu, di balik pesta dan perjodohan, keluarga Kusuma menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan semuanya. Dan Bianca, adik Satria yang tajam lidahnya, sedang bermain api dengan satu-satunya lelaki yang tak boleh ia sentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenardt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Bianca Kusuma

Aku kembali ke gudang untuk hari kedua penyiksaan. Semalam aku ingin kabur ke apartemen Rendra. Dengan semua yang terjadi belakangan ini, tidur di pelukannya akan jadi pelarian yang sempurna. Tapi kupikir lebih baik tidak mengambil risiko, Papa sedang mengawasiku, sekarang lebih ketat dari sebelumnya.

Seperti pertama kali, aku disambut baik oleh para pemuda itu dan dokter yang sudah menunggu.

Aku masuk ke ruangan yang gelap, lampu langsung dinyalakan. Tapi sebelum menutup pintu, aku berbalik dan mengambil obor las yang kuminta pada kakakku untuk membereskan mereka.

"Mau saya temani masuk, Nona?" tanya pria itu dengan mata melotot, jelas takut padaku.

"Nggak perlu, tapi terima kasih."

Aku masuk ke ruangan itu. Erwin cuma menatapku tanpa bicara sepatah kata pun. Kurasa mulutnya yang bengkak dan giginya yang hilang membuatnya sulit bicara.

"Pagi. Tidur nyenyak di sini? Adikmu tidur nyenyak banget di ranjang yang hangat dan nyaman, di samping keluarga aslinya, dekat orang-orang yang bersedia mencintainya dengan tulus. Dan syukurlah jauh dari sampah macam kamu." Dia menatapku jijik dan memutar bola mata. "Sebaiknya jangan memutar mata padaku, atau hari ini aku mulai dari situ."

Untuk pertama kalinya sejak aku masuk, kulihat kepanikan di matanya. Dan aku tidak bisa bohong, itu membuatku senang sekali.

"Langsung saja ya. Aku banyak urusan dan nggak ada waktu untuk dibuang-buang pada sampah macam kamu."

Kunyalakan obor itu dan kuseret trolinya bersamaku. Kakakku tidak puas dengan obor dapur biasa, jadi dia menyediakan obor industri raksasa.

Kulihat kepanikan Erwin makin besar di setiap langkahku. Begitu apinya kudekatkan ke kulit lengannya, dia melonjak mencoba melepaskan diri.

"Jangan loncat-loncat, Manis, atau aku keburu kesal dan jadi kasar. Aku buru-buru dan nggak sabaran."

Kuarahkan api itu ke kakinya pelan-pelan, meninggalkan jejak luka bakar dan membuatnya menjerit histeris.

"Hari ini aku baik, nggak akan kupanggang kamu bulat-bulat." Sambil bicara kuputar obor itu dan kubakar pipinya sampai kulitnya menghitam dan membusuk.

Jeritannya seperti bahan bakar yang membuatku ingin terus, tapi pikiranku sedang tidak ke sana. Jadi aku berhenti, mematikan api, dan menarik seutas tali.

Cukup sekali kupanggil, pemuda itu datang membantu. Bersama-sama kami mengikat kaki dan tangan Erwin ke belakang punggungnya, kaki dan tangan jadi satu, semua dengan satu simpul.

"Besok aku nggak bisa datang, kamu akan tetap dalam posisi ini sampai aku kembali. Bersyukurlah aku sedang baik padamu." Kutampar wajahnya yang terbakar.

Aku keluar dan pindah ke kamar Hartono, yang sudah histeris dan memakiku.

"Sebaiknya berhenti menghinaku, hari ini suasana hatiku nggak bagus. Kalian seharusnya berterima kasih, aku sudah terlalu lunak pada kalian."

"Terima kasih apanya, dasar jalang. Kamu pikir..."

Dia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, karena tendanganku ke wajahnya membuatnya terjengkang ke samping.

"Tutup mulut sialanmu." Kuinjak tangannya, tangan yang kemarin kucabuti kukunya.

Aku ke kotak peralatan, mengambil tang dan pisauku. Aku duduk di samping Hartono yang hampir pingsan kena tendangan tadi, lalu mulai menjepit jarinya satu per satu, tepat di bagian daging yang terbuka. Dia meraung, tapi begitu ada tanda-tanda dia mau bangun, kuhantam dengan tinju sampai dia jatuh lagi.

Kuambil tangannya yang satu lagi, kurantai juga, dan kumanfaatkan kenyataan bahwa tangan ini belum terluka dan belum berdarah untuk memulai dari sini.

Satu per satu kugoreskan pisau di sendi-sendi jarinya, membuatnya meraung.

Hartono terikat, tapi tetap mencoba menendangku. Meski tidak kena, dia berhasil membuatku kesal.

Aku berdiri, kuikat tangannya yang berdarah itu bersama tangan yang lain, lalu kupegang kakinya yang telanjang. Sekali tebas, kupotong tendonnya. Hartono meraung dan menggeliat, tapi tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikanku, bahkan tenaga untuk itu pun dia tidak punya.

Kuikat kakinya lagi dan aku berdiri. Kuambil tempat jarum, dan dari sana kuambil dua jarum. Aku kembali ke Hartono dan menusukkan satu jarum ke tiap kaki, di bawah kuku ibu jari. Dia menjerit dan menggeliat mencoba mencabutnya, tapi rantai tidak mengizinkan.

Kuabaikan makiannya dan kutinggalkan dia begitu saja, tergeletak di atas matras tipis, menggeliat kesakitan.

"Jarum-jarum itu tetap di situ sampai aku kembali dan mencabutnya. Sekarang aku harus pergi, dadah, ya."

Aku ingin melakukan lebih banyak, tapi tidak hari ini, tidak sekarang. Hari ini aku berencana melakukan sesuatu yang gila. Aku akan bilang pada Satria bahwa aku sudah tidak perawan, dan membiarkan kakakku memutuskan apa yang akan dia lakukan padaku.

* * *

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!