Anaxa Daemyn Elrad, seorang mahasiswa psikologi, mulai menerima amplop cokelat berisi laporan penelitian yang menggambarkan kehidupan, kebiasaan, bahkan perilaku pribadinya secara terperinci.
Awalnya dia menganggapnya sebagai kebetulan. Namun, semakin banyak laporan yang muncul, semakin sulit baginya menyangkal satu kenyataan: seseorang sedang mengamati dirinya.
Di balik kehidupan kampus yang tampak biasa, tersembunyi sebuah proyek penelitian bernama EVA-213.
Siapa yang mengawasinya? Apa tujuan penelitian tersebut? Dan sejak kapan hidup Anaxa bukan lagi sepenuhnya miliknya?
Bagaimana jika seluruh hidupmu ternyata hanyalah data bagi seseorang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sara Zefa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DIBALIK SEBUAH PERSETUJUAN
Dimas terdiam di tempat. Matanya tetap memandang ke Ribka yang masih terisak dalam tangis. Dimas masih mencoba untuk memperbaiki masalah. Langkahnya maju ke depan, semakin mendekati gadis itu.
Tetapi siapa sangka, Ribka langsung turun dari ranjang rumah sakit dan menyeret tiang infusnya. Dengan satu tangan, Ribka mendorong bahu Dimas agar dia menjauh.
"Lu pergi gak. Gue gak mau tau. Pergi sana!" Usir Ribka yang masih berlinang air mata.
Dimas mengatup kan bibirnya. Ingin berbicara tetapi mendadak bingung ingin mengatakan apa. Dia menatap Ribka kembali dan mendapati usahanya untuk bicara dan minta maaf ke Ribka gagal total.
Dimas mengangguk kan kepala. "Oke. Gue akan pergi." Dan dia membalikkan badan, melangkah menjauh dan keluar dari ruang rawat inap Ribka.
Sementara itu, Ribka jatuh terduduk di atas lantai. Perempuan itu semakin terisak-isak. Dia hanya bermaksud untuk mengajak ngobrol Anaxa biar lelaki itu gak kesepian dan terlalu setres menghadapi semua masalahnya sendiri. Dan Ribka sama sekali tidak mengira bahwa dia akan di cap sebagai pelakor oleh Dimas temannya sendiri.
Ribka berusaha menghapus air matanya dengan tangan. Tetapi air mata terus-terusan mengalir. Dia bahkan sampai bingung kenapa rasanya bisa sesakit ini.
Sedangkan di ruang rawat inap lain, keadaan Anaxa juga tak kalah buruk dengan Ribka. Pria itu baru saja tertidur akibat menangis terlalu lama. Alya masih menggenggam tangan Anaxa sembari duduk di atas kursi. Sementara Keenan berdiri dekat ranjang, melipat kedua tangannya di dada, dan menatap Anaxa dengan pandangan khawatir.
"Apa cuma aku yang merasa kondisi mental king makin buruk?" Dia benar-benar terlihat terguncang." Ucap Keenan lirih.
"Kamu benar." Ucap Alya kemudian memperhatikan wajah Anaxa yang tertidur, terlihat jelas kelelahan dan lesu.
"Aku takut kalau king bakalan lebih ngedown kalau tau tentang bukti penelitian ilegal yang tadi kita temukan." Keenan menyuarakan ke khawatiran nya. Dan Alya setuju dengan itu.
"Apakah kita perlu menyelidikinya berdua?"
"Sepertinya untuk saat ini seperti itu." Ucap Keenan pada akhirnya.
Mereka berdua saling berpandangan, kemudian bergegas membuka tas ransel yang mereka bawa, termasuk membuka ransel punya Dimas yang tertinggal di ruangan ini. Satu persatu barang bukti di keluarkan dan tersebar di atas lantai. Keenan dan Alya sibuk membaca ulang bukti yang mereka temukan seolah-olah mencari petunjuk lain yang mengungkap EVA-213 lebih jauh.
Alya membuka salah satu map dan matanya langsung melotot setelah membaca isinya. Dia menepuk bahu Keenan kemudian menyodor kan map tersebut untuk dibaca. Reaksi Keenan juga tak kalah kaget dari Alya.
"Ini... Biodata lengkap subjek 01 sampai 07?" Keenan berusaha membaca semua itu lebih teliti. Dia membalik halaman yang menampil kan biodata subjek 03. "Alamat tinggal subjek 03 ternyata tidak jauh dari sini... Ingin pergi?"
"Malam ini?" Tanya Alya sambil melihat jam.
Keenan menganggukkan kepala "Karena kita tidak tahu apa lagi yang akan terjadi besok. Lebih baik tidak membuang waktu." Dan akhirnya ucapan Keenan disetujui Alya.
Mereka berdua kembali merapihkan barang bukti ke dalam tas ransel, dan menyimpan nya di dekat ranjang rawat Anaxa. Lalu mereka keluar dari ruang itu. Sebelum pergi, Keenan mengatakan ke suster perawat untuk menjaga Anaxa dan tidak menerima tamu terlebih dahulu akibat kondisi psikisnya.
Dan sampailah mereka ke parkiran motor. Alya memilih untuk dibonceng saja oleh Keenan untuk sampai ke tempat tinggal subjek 03. Keenan pun memacu motornya membelah angin malam, namun ketegangan membuat atmosfer terasa berat.
Keenan mengendarai motor melewati banyak kelokan jalan. Sampai akhirnya tiba di suatu rumah berukuran minimali di dalam komplek perumahan. Alya dan Keenan turun dari motor dan memandangi rumah yang lebih cocok untuk tinggal secara mandiri daripada membangun keluarga.
Alya maju beberapa langsung ke depan, memberanikan diri untuk memencet tombol bel di dekat pintu. Beberapa saat kemudian suara perempuan terdengar dari interkom. "Siapa?" Tanya perempuan itu dengan singkat.
Keenan maju ke depan, kemudian menjawab panggilan interkom. "Kami mahasiswa yang ingin mencari tahu tentang EVA-213."
Dan selanjutnya hening. Sama sekali tidak ada panggilan interkom lagi, membuat Keenan mengernyitkan alis. "Halo? Maaf kalau agak tiba-tiba dan mengejutkan. Kami cuma..."
Cklek!
Tiba-tiba pintu dibuka dan seorang perempuan tinggi kurus keluar dari balik pintu. "Masuk."
Keenan dan Alya saling berpandangan kembali, kemudian masuk ke dalam rumah. Alya sempat melihat-lihat ruangan di dalam, terlihat padat dan penuh oleh barang-barang. Sampai akhirnya perempuan itu mempersilahkan mereka untuk duduk di sofa kecil di ruang tamu sempit itu.
"Ada apa kalian berdua mencari ku." Tanya perempuan itu. Tetapi perilakunya tampak canggung, dan perempuan itu terlihat melipat kedua tangannya di dada.
"Kami ingin bertanya tentang EVA-213, penelitian ilegal yang menjadikan teman kami sebagai subjek 07." Kata Keenan.
Namun, di luar dugaan, perempuan itu malah mengerutkan alisnya bingung. "Penelitian ilegal? EVA-213?"
Alya ikut menimbrung. "Penelitian yang juga menjadikan anda subjek secara ilegal. Teman kami diawasi tanpa izin dan di terror amplop coklat berisi 200 laporan penelitian tentang rutinitas, perilaku, dan pikirannya sendiri."
Tetapi wajah perempuan itu terlihat semakin bingung. "Tunggu. Kalian cerita tentang apa? EVA-213 bukan penelitian ilegal. Mereka sah dan profesional."
Keenan dan Alya yang malah ganti terkejut mendengar perkataan perempuan itu. "Apakah anda juga diamati diam-diam dan dijadikan subjek penelitian tanpa anda tahu? Mungkin di amati di tempat kerja atau rumah anda di jadikan laboratorium rahasia?" Tanya Keenan.
Perempuan itu menggeleng kan kepala. "Kalian sedang menceritakan cerita fiktif? Aku yang memberikan persetujuan kepada mereka dan bergabung ke penelitian EVA-213." Perempuan itu mulai menatap Keenan dan Alya dengan aneh. Jelas sekali dia merasa gak nyaman.
"Apa yang kami katakan benar-benar terjadi. Aku punya buktinya." Ucap Keenan, menyalakan ponselnya, membuka galeri, dan menunjukkan foto ketiga dokumen yang sempat dia foto entah kapan itu.
Awalnya perempuan itu tampak ragu untuk menerima ponsel Keenan, namun di dorong oleh rasa penasaran, akhirnya dia membaca nya juga. Dan benar saja. Setelah perempuan itu membaca sejenak tulisan di foto dokumen, wajahnya berubah menjadi keterkejutan. Perempuan tersebut tambak beberapa kali membesarkan foto dokumen itu dan membacanya berkali-kali untuk memastikan dirinya tidak salah baca.
Dan akhirnya perempuan itu mengembalikan ponsel kepada Keenan. Dia tampak terduduk lemas di sofanya. "Apakah itu benar-benar EVA-213 yang selama ini aku tahu?"
Alya berucap lirih. "Sayangnya iya..."
Dan tampak nya, perempuan itu mulai terlihat kebingungan. Dia mengingat-ingat lagi sesi awal observasi nya dengan orang yang diketahuinya sebagai observer dari EVA-213.
Subjek 03 duduk di ruang observasi dengan tenang. Seorang observer duduk di hadapannya sambil membawa catatan.
“Bagaimana perasaanmu hari ini?”
“Biasa saja.”
“Apakah kamu merasa kesepian?”
“Sering.”
“Apakah kamu tidak menyukai orang lain?”
“Bukan tidak menyukai orang lain. Saya hanya lebih nyaman sendiri.”
Observer mencatat jawabannya. “Kalau begitu, mengapa kamu tetap membutuhkan orang lain jika kamu nyaman sendiri?”
Subjek 03 terdiam sebentar sebelum menjawab, “Karena merasa nyaman sendiri bukan berarti tidak membutuhkan siapa pun.”
Observer kemudian menatapnya. “Lalu, mengapa kamu bersedia mengikuti EVA?”
Subjek 03 tersenyum tipis. “Karena saya ingin tahu seberapa banyak diri saya yang bahkan belum saya pahami sendiri.”
Dan perempuan itu kembali ke kesadaran nya saat ini. Dia menatap kedua orang di depannya yang tampak khawatir.
"Anda tidak apa-apa?" Tanya Alya pelan.
Perempuan itu menggeleng lemah. "Aku mulai meragukan penelitian EVA-213. Apakah penelitian mereka sesuai dengan persetujuan ku atau tanpa sadar aku sudah dimanipulasi oleh mereka."