Risti adalah anak yang dikucilkan di keluarganya, hanya ada ayah dan satu saudara laki-laki yang menganggapnya. Risti adalah anak pertama ibunya yang merupakan istri kedua ayahnya. Sedangkan ibu tiri Risti memiliki 4 orang anak.
Indriana yaitu ibu Risti sudah meninggal saat melahirkan Risti, Risti pun dibesarkan oleh seorang pembantu karena ibu tirinya yang bernama Bu Dewi tidak sudi membesarkan Risti.
***
Suatu hari,
Windi yang merupakan anak sulung Bu Dewi dijodohkan oleh seorang laki-laki yang kabarnya sudah tua, penyakitan dan juga tidak bisa diandalkan. Akhirnya saat hari pernikahan Windi kabur dari rumah, tanpa sepengetahuan Risti tiba-tiba dia yang menggantikan pernikahan kakaknya itu.
Dan ternyata pria yang dinikahkan dengannya adalah seorang mafia
Apakah mereka akan berakhir bahagia?
Simak terus kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fera Aisha Syaidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Iklan Televisi
Walau di dalam lift Vino tetap saja menggendong Risti, saat sampai lift sudah sampai di lantai 2 Vino segera melangkah keluar saat pintunya terbuka, Risti dibawa masuk ke dalam ruangan dan mendudukkan Risti di sofa ruang kerja. Baru saja ingin mencari P3K tapi baju bagian belakang ditarik oleh Risti.
“Kamu pasti mau cari P3K, nggak usah, mending cariin es batu saja untuk mengompres, nanti juga akan membaik.” kata Risti seolah-olah bisa menebak pergerakan Vino. Dia sebelumnya sering ditampar oleh Bu Dewi, Windi, dan Jesi jadi dia tau cara mengatasinya.
“Oke, bentar aku ke dapur buat minta es batu.” Vino keluar dari ruangan.
Risti duduk anteng di dalam ruangan sambil melihat isi ruangan, dia mengamati dari sudut ke sudut, benar-benar rapi dan bersih bahkan lebih bersih daripada ruang kerja ayahnya. Risti penasaran, siapa sekretaris Vino, biasanya kalau dia nonton sinetron sekretaris akan menjadi pelakor, Risti jadi agak waspada.
***
Sementara itu di rumah keluarga Hermawan,
Windi dan Bu Dewi sedang menonton Televisi sementara Leon dan Jesi sedang kuliah, mereka berdua sama-sama mendapat jadwal pagi. Sedangkan Rama dari kemarin berdiam diri di kamar, hanya sesekali keluar untuk makan atau mengambil minum di dapur.
Rama masih merasa khawatir dengan Risti, setau dia suami Risti adalah om-om, Rama takut jika di rumahnya yang baru dia disiksa mengingat Risti yang selalu disiksa di rumah ini, apalagi harus hidup dengan om-om dan disiksa lagi, Rama benar-benar khawatir dia sudah tidak tidur selama 2 hari ini, jikalau mau menghubungi Risti bagaimana caranya? Risti saja tidak punya ponsel, nomor telpon rumah Risti yang baru Rama juga tidak tau.
“Arggghh, pusing sekali diriku ini,” gerutu Rama sambil mengacak-acak rambutnya. Rama ingin sekali bertemu dengan Risti tapi dia juga tidak tau dimana alamat rumahnya. Akhirnya Rama berinisiatif untuk menelpon ayahnya.
Tuuutt tuttt (Bunyi telefon)
Tidak membutuhkan waktu lama ayahnya langsung menolah panggilan tersebut, mungkin dia sedang sibuk dan tidak sempat mengangkat telfonnya.
“Ayah benar-benar sibuk sekarang, apa boleh buat? aku harus menunggu 5 hari lagi saat ayah pulang,” gumam Rama.
Sementara itu di ruang keluarga,
Windi sedang chatingan sambil tersenyum-senyum, seperti biasa Windi selalu mencari korban selanjutnya untuk diporoti hartanya, asalkan Windi sudah menggombal pasti semua laki-laki akan percaya begitu saja, sebenarnya semua laki-laki yang diporoti okeh Windi hanya mengincar tubuhnya saja. Windi tidak masalah kehilangan keperawanannya demi harta, setelah mereka melakukan itu-itu biasanya Windi selalu meminta barang-barang mahal.
Windi terkesan seperti kupu-kupu malam, walau keluarganya kaya tapi Pak Rian tidak pernah menuruti permintaan Windi, Windi melakukan hal seperti itu juga atas keinginan nafsunya yang begitu besar. Satu keluarga tidak ada yang tau, setau mereka Windi membeli barang-barang mahal daru hasil kerjanya yang halal, mereka tidak tau jika Windi bekerja sebagai kupu-kupu malam.
“Mah, Windi malam ini pergi ya, mau menginap di rumah teman lagi, besok Windi tidak masuk karena langsung lanjut bekerja,” kata Windi, ini adalah alasan andalan yang Ia gunakan setiap hari, Bu Dewi setuju-setuju saha karena dia selalu membebaskan Windi.
“Iya, kamu besok pulang jam berapa?” tanya Bu Dewi.
“Sore kayaknya, emangnya kenapa?” tanya Windi.
“Besok mama akan mengajak kamu, Leon, Jesi dan Rama untuk makan di luar, sudah lama kita tidak makan enak.” Bu Dewi mengedipkan mata sebelahnya, memang benar sejak Pak Rian di rumah mereka hanya makan apa pun yang dimasak oleh Bi Marni. Bi Marni adalah pembantu sekaligus orang yang membesarkan Risti tanpa sepengetahuan Pak Rian.
“Siap, pasti Windi akan ikut.” Windi mengedipkan sebelah matanya sembari mengacungkan jempol, sebenarnya Windi selalu makan enak di luar.
“Sip, kamu memang anak mama yang paling bisa diandelin.” Bu Dewi memeluk Windi.
Yes, makan enak lagi. (Batin Windi)
***
Di kantor Vino,
Risti bersender di bahu Vino sambil memegangi es batu yang Ia tempelkan di pipinya.
“Kamu kalau kesini bilang dulu, biar nggak ada orang-orang tidak tau diri membully kamu,” kata Vino menasehati Risti.
“Ahu han mau hasih hejuan he hamu (Aku kan mau ngasih kejutan ke kamu).” es batunya sangat dingin hingga tembus di gigi dan membuat ngilu.
“Tapi kalau kamu dibully seperti itu lagi gimana?” tanya Vino.
“Ya, nggah papa han ada hamu hang selalu melindungihu hehe (Ya, nggak papa kan ada kamu yang selalu melindungiku hehe).” Risti meringis, dia sudah terbiasa mendapatkan perlakuan seperti ini. Pipi Risti sudah baikan dia membuang es batunya ke dalam tong sampah.
“Iya sayang, tapi kamu juga jangan sembrono seperti itu,” kata Vino.
“Iya deh iya, besok kalau mau kemari aku bilang dulu, eh iya itu, kamu gimana makan siangnya? kan semua sudah tumpah di lantai tadi, rencananya sih mau makan bareng kamu di sini, eh malah dijatuhkan ke lantai,” kata Risti.
“Memangnya kamu belum makan siang?” tanya Vino.
“Belum,” jawab Risti singkat.
“Baiklah nanti kalau aku sudah selesai, kita makan siang di luar dan langsung pulang saja.” Vino berjalan ke arah meja kerjanya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Risti hanya manggut-manggut saja.
Eh iya, perasaan kita sudah menikah selama 3 hari ini tapi aku belum pernah bertemu dengan mertuaku? di saat hari pernikahan pun mereka tidak datang. Mikir apa sih aku dari kemarin sampai lupa menanyakan mertua sendiri. (Batin Risti sambil menepuk-nepuk jidatnya)
Risti berniat untuk menanyakan hal ini tapi sepertinya nanti di rumah saja, daripada mengganggu pekerjaan Vino, bisa-bisa nanti tidak selesai-selesai pekerjaannya, lebih lama selesai \= lebih lama makan siang, perut Risti sudah keroncongan.
***
Di rumah,
Setelah makan di sebuah restoran mereka berdua pulang, Risti dan Vino tidak langsung naik ke kamar melainkan menonton Televisi terlebih dahulu.
Saat pertama kali menyalakan Televisi sudah ada iklan pembalut.
“Ris, aku mau tanya,”
“Tanya apa?”
“Kalau iklan deodoran saja ketiaknya diliatin tapi kalau iklan pembalut anunya kok nggak diliatin ya?” tanya Vino, pertanyaan Vino sangat laknat.
“Jangan aneh-aneh deh! memangnya kalau iklan shampo harus diliatin ketika dia shampoan? enggak kan? kalau punya ini dipakai.” Risti menunjuk ke kepalanya, dia merasa geram.
“Ya iya lah harusnya, iklan sabun aja meragain pas dia sabunan, tapi sayang cuma setengah,” ucap Vino kecewa.
“Udah diem! tinggal nonton aja kok ribut, toh liat iklan juga nggak pasti mau beli kok ribut,” kata Risti kesal. Vino langsung diam seribu bahasa.
Di sela-sela menonton acara Televisi, Risti memberanikan diri untuk bertanya.
“Vin,”
“Hem?” Vino mengalihkan pandangannya dari Televisi menuju ke Risti.
“Ada apa sayangku?” tanya Vino.
“Emm...itu sebenarnya orangtua kamu itu di mana? kok mereka nggak keliatan saat kita menikah?” tanya Risti.
Vino menarik nafas panjang dan menceritakan jika Ayah dan Ibunya sudah meninggal, ayahnya meninggal 3 tahun yang lalu, Vino sejak kecil diurus oleh kakek dan neneknya karena ayahnya selalu pergi untuk urusan bisnis, itulah mengapa Risti tidak menemukan foto Vino bersama kedua orangtuanya.
“Jadi? aku tidak punya mertua dong?” tanya Risti kaget.
“Iya, hanya punya kakek dan nenek, mereka sekarang berada di rumahnya yang terletak di Jl. Sentanu, agak masuk desa sih rumahnya,” kata Vino. Risti kecewa tidak mempunyai mertua tapi dia sedikit lega soalnya sedari dulu Risti selalu membayangkan jika dia dia punya mertua yang galak (Korban Sinetron).
“Besok kira berkunjung ke sana saja, nggak enak soalnya kalau aku tidak menemui nenek dan kakek,” kata Risti.
“Kenapa besok? sekarang saja mumpung masih jam segini, kalau besok aku bisanya malam, aku nggak mau malam-malam, kita jadi tidak bisa buat baby,” kata Vino.
“Dasar, pikiranmu hanya seputar itu-itu saja.” Risti melempar bantal ke arah wajah Vino dan langsung naik ke atas.
.
.
.
.
.
.
Terima kasih sudah membaca 🌺
Jangan lupa tap favorite biar nggak ketinggalan update terbarunya 😗
Tbc.