NovelToon NovelToon
Rahasia Jarum Naga Emas

Rahasia Jarum Naga Emas

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Dokter Ajaib / Ahli Bela Diri Kuno / Roh Supernatural / Mata Batin / Mengubah Takdir
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: O'Liong

Fauzan Arfariza hanyalah seorang mahasiswa tingkat awal, hidup sederhana dan nyaris tak terlihat di tengah hiruk-pikuk kota. Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, ia menelan harga diri dan berjuang mengumpulkan uang pengobatan, satu demi satu, di bawah terik dan hujan tanpa keluhan.

Namun takdir kejam menantinya di sebuah persimpangan. Sebuah mobil melaju ugal-ugalan, dikemudikan oleh seorang wanita yang mengabaikan aturan dan nyawa orang lain.

Dalam sekejap, tubuh Fauzan Arfariza terhempas, darah membasahi aspal, dan dunia seolah runtuh dalam kegelapan. Saat hidup dan mati hanya dipisahkan oleh satu helaan napas, roda nasib berputar.

Di ambang kesadaran, Fauzan Arfariza menerima warisan agung Pengobatan Kuno—sebuah pengetahuan legendaris yang telah tertidur selama ribuan tahun. Kitab suci medis, teknik penyembuhan surgawi, dan seni bela diri kuno menyatu ke dalam jiwanya.

Sejak hari itu, Fauzan Arfariza terlahir kembali.
Jarum peraknya mamp

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon O'Liong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kakak Seperguruan

Fauzan Arfariza berdiri tegak dengan sorot mata mantap, seolah keyakinan itu mengalir dari Energi Murni terdalam yang bersemayam di tubuhnya. Dengan suara rendah namun penuh kepastian, ia berkata,

“Selama napas kehidupan itu masih tersisa walau hanya sehelai benang, aku dapat menyembuhkannya.”

Karaeng Fatimah memandangnya lama. Di wajahnya tersirat harap yang nyaris rapuh, bercampur kecemasan seorang pemimpin yang memikul nasib banyak jiwa. “Aku sungguh berharap engkau dapat menyembuhkan rekan-rekanku,” ucapnya lirih. “Mereka setiap hari menari di ambang hidup dan mati. Di rumah, ada orang tua yang menunggu, ada anak-anak kecil yang menggantungkan masa depan pada mereka. Bila sesuatu yang buruk benar-benar terjadi, akibatnya tak terbayangkan.”

Mobil sport yang dikemudikannya melaju kencang menembus lalu lintas Kota Jakarta, hingga akhirnya berhenti di depan Rumah Sakit Pusat Kota Jakarta. Gedung itu menjulang seperti benteng putih, namun di balik dindingnya kini berkecamuk kegelisahan.

Fauzan Arfariza mengamati sekitar, lalu bertanya, “Mengapa semua rekanmu dirawat di Rumah Sakit Pengobatan Tradisional? Bukankah kasus mendadak seperti ini biasanya ditangani oleh pengobatan modern?”

Pertanyaan itu wajar. Di zaman ketika Pengobatan Tradisional perlahan terpinggirkan, tidak banyak orang yang mempercayainya, terlebih untuk penyakit misterius yang datang serempak.

Karaeng Fatimah menghela napas. “Kami tak punya pilihan lain. Kemarin, ketika mereka jatuh sakit secara bersamaan, mereka langsung dilarikan ke rumah sakit umum. Semua pemeriksaan dilakukan, dari kepala hingga kaki, namun hasilnya nihil—tak satu pun kelainan ditemukan. Kapten akhirnya memutuskan memindahkan mereka ke Rumah Sakit Pengobatan Tradisional, berharap masih ada jalan yang tersisa.”

Area parkir penuh sesak. Tak satu pun celah tersedia. Karaeng Fatimah menepikan mobil tepat di depan pintu masuk dan berkata cepat, “Keadaannya genting. Kau masuk dulu untuk menangani mereka. Aku akan mencari tempat parkir.”

Fauzan Arfariza mengangguk, membuka pintu, dan melangkah turun. Begitu memasuki lobi, langkahnya terhenti.

Di hadapannya berdiri dua sosok yang tak asing: Herlambang Ahda dan Natasya Dermawan.

Pemandangan itu membuatnya terkejut. Kemarin, Nora Ananta telah membongkar kebohongan tas bermerek palsu dan gelang granit yang memalukan itu. Seharusnya hubungan keduanya telah hancur. Namun kini mereka berdiri berdampingan seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Keduanya pun melihat Fauzan.

Sejak Herlambang Ahda terpaksa mengganti rugi dua miliar Rupiah, kebenciannya pada Fauzan Arfariza mengendap seperti racun. Untuk menyalurkan dendamnya, ia kembali mendekati Natasya Dermawan dan berjanji akan menggunakan koneksi keluarganya agar Natasya diterima sebagai dokter magang di Rumah Sakit Pusat Kota Jakarta, bahkan langsung diangkat sebagai pegawai setelah lulus.

Bagi Natasya, yang berasal dari keluarga sederhana tanpa jejaring kuat, tawaran itu bagaikan tali penyelamat. Di tengah sulitnya lapangan kerja, ia akhirnya mengesampingkan amarah dan menerima kembali Herlambang Ahda.

Herlambang melirik ke sekeliling, memastikan Karaeng Fatimah tak tampak. Rautnya sedikit lega.

“Hei, bocah,” katanya sinis, “kau ke sini mau apa?”

Fauzan Arfariza menatapnya datar. “Rumah sakit ini bukan milik keluargamu. Apa aku perlu melapor ke mana pun untuk berada di sini?”

Natasya Dermawan menyela dengan nada tinggi, “Benar! Paman Ir. Herlambang Ahda—adalah direktur di sini. Bisa dibilang rumah sakit ini setengah milik keluarganya!”

Fauzan tersenyum dingin. “Lalu kau sendiri? Datang kemari karena gelang palsu itu meracunimu, jadi mencari perlindungan?”

“Kau—!” Wajah Natasya memerah. “Fauzan Arfariza, jangan sok hebat hanya karena punya restoran! Di rumah sakit ini, kau bukan siapa-siapa. Dengarkan baik-baik, aku datang hari ini untuk wawancara dokter magang. Semua sudah diatur. Ini cuma formalitas. Setelah lulus, aku langsung bekerja di sini. Sementara kau? Mahasiswa kedokteran yang bahkan tak punya tempat magang. Aku benar-benar malu pernah mengenalmu.”

“Aku tak butuh rasa malumu,” jawab Fauzan singkat. “Kita sudah tak punya hubungan apa pun.”

Tanpa menoleh lagi, ia bergegas menuju tangga.

Natasya menghentakkan kaki. “Apa hebatnya dia? Bagaimanapun juga, aku yang meninggalkannya!”

Herlambang Ahda menyeringai. “Sudahlah. Semoga saja dia bukan datang untuk wawancara. Kalau iya, aku akan memastikan pamanku memberinya pelajaran.”

“Benar,” sahut Natasya tajam. “Dia tak boleh lolos.”

Di bangsal perawatan khusus lantai teratas, suasana tegang menggantung di udara. Kapten Polisi Kriminal Topan Sugara, Direktur Rumah Sakit Pengobatan Tradisional Ahmad Sudrajat Hutapea serta dokter kepala Sofyan Drajat berdiri mengelilingi tempat tidur, menyaksikan seorang lelaki tua memeriksa pasien.

Ia adalah Sanro Maega, kepala Balai Pengobatan Tapak Darah—tabib legendaris yang namanya disegani. Setelah memeriksa nadi tiga polisi yang terbaring pucat, wajahnya mengeras.

“Bagaimana hasil diagnosis pengobatan modern?” tanyanya.

Sofyan Drajat segera menjawab, “Semua hasil normal. Satu-satunya keanehan adalah suhu tubuh mereka sangat rendah. Namun penyebabnya tak ditemukan.”

Topan Sugara menggenggam tangan. “Sanro Maega, apa sebenarnya penyakit mereka?”

Sanro Maega menghela napas panjang. “Nadi mereka menunjukkan Keseimbangan dan Kestabilan yang runtuh. dan kacau. Jika dugaanku benar, mereka telah bersentuhan dengan sesuatu yang tak bersih.”

“Apa?” Mata Topan membelalak. Sebagai aparat hukum, ia sulit menerima hal-hal semacam itu.

“Yang kumaksud adalah Energi Vital keseimbangan yang menyusup ke tubuh,” lanjut Sanro Maega tenang.

“Apakah masih ada jalan penyembuhan?” tanya Topan penuh harap.

Sanro Maega menggeleng pelan. “Dahulu, pengobatan sejati menyatu dengan seni bela diri dan ilmu misteri. Kini, semua itu hampir punah. Aku… tak sanggup.”

Kecemasan menyelimuti ruangan. Topan Sudrajat menimpali, “Kondisi mereka sangat labil. Memindahkan ke ibu kota pun belum tentu selamat.”

Sanro Maega mengelus janggutnya. “Masih ada satu cara. Aku harus memanggil Kakak Perguruanku.”

“Apakah beliau mampu?” tanya Topan.

Wajah Sanro Maega bersinar penuh hormat. “Ia adalah pewaris sejati aliran pengobatan kuno. Tak ada penyakit di dunia ini yang tak bisa disembuhkannya.”

Ia pun mengeluarkan ponsel dan menekan nomor.

Saat itu pula, nada dering merdu terdengar dari pintu. Pintu terbuka, dan Fauzan Arfariza melangkah masuk.

Sofyan Drajat berteriak kesal, “Apa-apaan ini? Ini ruang perawatan khusus!”

Fauzan mematikan ponsel dan berkata tenang, “Aku datang untuk melihat pasien.”

Sofyan mencibir. “Kau terlalu muda!”

Namun Sanro Maega bangkit, matanya berbinar. “Diam!”

Ia menoleh pada Fauzan Arfariza dan berseru lantang, mengguncang seluruh ruangan:

“Dialah Kakak Perguruanku!”

Mendengar kata-kata Sanro Maega, suasana di dalam bangsal rumah sakit seketika membeku. Udara seolah menegang, menggantungkan keterkejutan di setiap pasang mata yang hadir. Tak seorang pun menyangka—bahkan dalam mimpi paling liar sekalipun—bahwa pemuda yang berdiri tenang di hadapan mereka adalah kakak seperguruan dari Sanro Maega.

Dalam benak semua orang, Sanro Maega adalah seorang sesepuh agung dunia pengobatan tradisional. Namanya disegani, ucapannya didengar, ilmunya diakui lintas wilayah Jakarta dan bahkan melampaui batas-batas wilayah lainnya.

1
Achmad
gasss thor
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat Thor lanjut jangan pernah kendor
culuns
ini cerita Indonesia apa cina kok campur2
Nanang: translit ing
total 1 replies
Hary
PEREMPUAN MA GAMPANG, yg SUSAH itu DUIT...!!!
MOTTO : Menghadapi wanita tidak tau diri
KENAL, PIKAT, SIKAT, MINGGAT
O'Liong: ➕2️⃣1️⃣🤭
total 1 replies
sitanggang
novelnya mirip bgt, kek sebelah...tapi disebelah pakai nama china/Korea gitu. 🫣🫣
O'Liong
Sip
O'Liong
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!