Berada di tengah laut jawa, Pulau Koriyaksa dihuni para siluman dalam segala bentuk, dipimpin oleh siluman tanpa nama berwujud menakutkan. Akhirnya setelah 50 tahun berperang, sebuah perjanjian damai ditandatangani.
Setiap malam satu suro, bangsa manusia wajib mengirim tumbal untuk dipersembahkan pada Sang Raja.
Namun Sura mahasiswa yang terlempar ke dalam buku harus menjadi tumbal ke-100, anehnya dia justru berhasil merebut hati Sang Penguasa. WARNING! HATI-HATI DALAM MEMILIH BACAAN!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skill penahluk
Sura berlari menuju halaman belakang, di sana dia tercengang mendapati dua siluman kadal tengah sibuk mengorek tanah.
Di belakangnya berdiri satu siluman wanita yang tampak risau.
"Kakak, sudah hentikan! Nanti ada yang melihat." tegur Mini tak dihiraukan,
Dua siluman itu terus saja menggali, nyaris menciptakan lubang melingkar di sekitar pembatas.
"Apa yang kalian lakukan?" sontak Sura berdiri menghadang,
Sigap mengangkat mereka dengan lengan kekarnya, mengambil ujung kain dan melempar keluar sampai membuat dua siluman itu terjatuh ke belakang.
"Aduh!"
"Aw!"
Keduanya mengernyit, mengelus bokong yang terasa nyeri.
"A-anu...maafkan mereka, ini salahku yang sembarangan ke sini." Mini menunduk menunjukkan penyesalan,
Nadanya terdengar gemetar, nampak takut pada Sura. Meski hanya manusia tapi tubuhnya begitu kekar dan melebihi tinggi mereka,
"Mereka berdua cuma ingin mengambilkan bunga untukku..."
"Ayo, kak. Cepat minta maaf!"
"Hh! Buat apa minta maaf pada manusia? Cuma metik satu bunga apa salahnya?" sanggah Garo membuang muka,
"Hei! Dasar penyusup. Taman bunga ini milik Sura. Kalian malah sembarangan ingin mencurinya---cepat minta maaf!"
Kelelawar saling menggerutu, membela keberadaan Sura. Mereka tak ragu mendekat, menendang kaki kecil mereka ke atas kepala lawan,
"Sudah biarkan saja," Sura menengahi.
Tangannya terulur masuk ke dalam pembatas, langsung memetik satu tangkai bunga dan menyodorkan pada Mini.
"Ini ambillah,"
"Wah...cantik sekali," gumam Mini menganga takjub.
Mereka dikenal sebagai Niroto, 3 kembar bersaudara dari wilayah pinggiran. Sura sedikit bingung, bagaimana siluman reptil itu bisa masuk ke istana.
"Hh?! B-bagaimana caramu masuk ke sana?" sontak Bito terbelalak.
"Ini kebun milikku. Aku yang menanamnya, dan pembatas ini adalah sihir ruang buatanku."
"Jadi benar, ada manusia yang bisa memakai sihir..." cicit Bito mengingat informasi yang didapat.
Di luar kerajaan telah beredar rumor munculnya manusia yang mampu menciptakan sihir. Katanya sihir itu tak bisa ditembus bahkan dihancurkan oleh Raja sekali pun,
"Sihir apa ini? Kenapa kamu bisa membuatnya?"
"Ng, ini hanya sihir ruang yang kubuat lebih kuat." dusta Sura,
Dia sebenarnya tak tahu, seperti apa dasar sihir ruang yang sering didengar.
"Wah! Terus bagaimana cara kamu masuk ke sana?"
"Gampang. Aku menciptakan sesor pada sihir ruang ini agar bisa mengenaliku," jawab Sura kembali berdusta.
Dari awal skill itu memang ada untuk melindunginya, sedangkan sihir ruang tak bisa diatur tanpa bantuan media sihir lain.
"Ha? Sensor?" Mereka memiringkan kepala, kesulitan memahami istilah asing.
"Ng...itu seperti sihir yang bisa mendeteksi aura dan berubah menjadi segel jika terkena aura lainnya. Ya--semacam itu," Sura menyengir.
Mengarang kalimat guna meyakinkan mereka,
"Wah...hebat!"
"Eh...kenapa mereka diam saja?" batin Sura menyengir bingung.
Mendapat tatapan penuh takjub dari tiga siluman tadi,
"Ng, anu. Kalau tidak keberatan, bisa tolong tutup kembali lubang yang kalian buat?"
"Baik!" jawab mereka serentak,
Langsung menggerakkan tangan dan kaki, mendorong dan menggaruk cepat. Dalam waktu singkat berhasil menimbun lubang kembali seperti semula,
"Wih, cepatnya..." batin Sura takjub, berpikir jika cakar mereka akan sangat berguna dalam menggemburkan tanah.
"Hehe!" Garo dam Bito tersenyum puas, kembali berdiri, menatap Sura dengan raut terpesona.
"Mm, apa ini? Apa ada sesuatu di wajahku?" pikirnya mengalihkan mata, sekilas memegangi pipi serta dahi.
"Sepertinya mereka sudah terpengaruh dengan skill unik anda." ucap sistem menjawab kebingungan Sura,
"Skill unik?"
"Benar. Ini efek dari segel yang terbuka, secara tidak sadar tubuh anda memakai skill tersebut."
"Skill apa yang bisa membuat mereka seperti ini?"
"Skill penahluk. Skill ini hanya akan aktif setelah anda berhasil mendapat kepercayaan mereka,"
"Siluman yang terkena skill ini pasti akan tunduk, membela, dan lebih menghormati anda."
"Glek...kenapa lebih mirip ilmu hipnotis?" benak Sura bergidik ngeri.
"Terus, bagaimana cara menghilangkannya?"
"Efeknya akan hilang sendiri, selama anda menjauh dari mereka."
"Benarkah? Kalau begitu..."
Sura memandang mereka sejenak sebelum berbalik pergi, tak disangka malah diikuti.
"Apa Kele Lawar juga terkena skillku?" melirik dua kalong yang bertengger di bahunya.
"Tidak. Dari awal mereka sudah menyukai anda dan menganggap anda sebagai teman,"
"Mm...berarti skill ini cuma berfungsi pada siluman netral. Dalam artian, siluman yang tidak menyukai juga tidak membenciku."
Sura mencubit dagu sambil termenung, mungkin ini sifat yang diturunkan dari para reptil. Sebab sejak awal, leluhur mereka juga pernah memihak pada manusia,
Tapi bukankah semuanya telah berubah? Akibat keputusan itu lah bangsa mereka dikucilkan oleh siluman lain.
Sura menoleh, mendapati angka suka mereka yang telah mencapai 90% tanpa angka benci sedikit pun.
"Hh! Sekarang bagaimana caraku mengusir mereka?"
"Apa kami melakukan kesalahan?" tanya Mini menyadari kebingungan di wajah Sura,
"Eh? Ternyata masih bisa bicara. Kupikir mereka berubah jadi boneka, kayak orang yang kena hipnotis."
"Syukurlah..." pikir Sura menyeringai,
"Kenapa kalian masih di sini? Bukankah ada hal lain yang harus kalian lakukan?"
"Benar juga. Kita harus kembali, sebelum kakak pertama marah!" sahut Mini dengan panik,
"Kamu benar. Ayo cepat!" seru Garo berlari mendahului,
"Terima kasih, atas bunganya. Kami pergi dulu ya..." pamit Mini menundukkan kepala sebelum berbalik,
Sedangkan Bito masih sempat menyodorkan kepalan tangannya, guna melakukan tos antar pria. "Sampai jumpa di pertandingan nanti,"
"Ha? Eh? Apa maksud--pertandingan apa?" gumam Sura tertegun mendapati punggung yang telah menghilang dari pandangan,
"Kami lupa bilang, kalau patih Anubis mengundang seluruh siluman di pulau Koriyaksa buat bertarung."
"Nanti pemenangnya akan terpilih menjadi pengawal pribadi Raja,"
"APA?!" Sura memekik panik,
"Kenapa aku ga tahu apapun. Jadi mereka yang bakal bertarung melawanku?"
"Mm, untuk saat ini masih ada 50 siluman yang mendaftar. Lebih jelasnya, kita temui Raja saja!"
"Dari semalam dia belum tidur sama sekali, karena mengurus pertandingan ini."
"Semalam? Jadi masalah ini baru muncul semalam? Anjing itu benar-benar keterlaluan." Sura menggertak geram, langsung tahu siapa dalang dari masalah ini.
Sebegitu inginnya mengusir sampai tak memberi ketenangan walau sehari saja.
"Sistem. Apa ada skill yang bisa mengutuk siluman?"
"Biar aku kutuk anjing itu menjadi ikan emas, lalu menggorengnya sampai garing!"
"Maaf, tidak ada skill semacam itu."