NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Insinyur Di Era Tanam Paksa

Reinkarnasi Insinyur Di Era Tanam Paksa

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Time Travel / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Jatmika adalah seorang genius di bidang mekanika dan kimia yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun di tahun 1853, masa di mana Nusantara sedang dicekik oleh sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam. Hidup sebagai anak nelayan miskin di pesisir Kendal, Jatmika menyaksikan sendiri bagaimana rakyat mati kelaparan sementara gudang-gudang Belanda penuh dengan rempah dan emas. Berbekal ingatan masa depan, Jatmika memulai "perang" yang berbeda. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan logistik dan ilmu pengetahuan.
Dapatkah Jatmika membawa Nusantara melompati satu abad perkembangan teknologi untuk merdeka lebih awal? Ataukah ilmu pengetahuan yang ia bawa justru menjadi kutukan yang memicu kehancuran lebih besar bagi rakyat yang ingin ia selamatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Kedaulatan Di Atas Garam

Asap dari bangkai kapal HNLMS De Leeuw masih membubung di kejauhan saat Jatmika mengumpulkan para pemimpin rakyat di dalam gua besar yang kini menjadi pusat komando di Pegunungan Kendeng. Suasana tegang; meskipun mereka menang di muara, persediaan pangan mulai menipis dan pedagang di pasar mulai takut menerima uang dari pengikut Jatmika karena ancaman hukuman mati dari Belanda.

"Kita tidak bisa makan mesiu, Jatmika," ujar Pak Sahid dengan nada khawatir. "Rakyat mulai lapar, dan koin gulden Belanda yang kita punya tidak berguna jika tidak ada yang berani menjual beras kepada kita."

Jatmika berdiri di depan meja kayu besar yang dipenuhi coretan diagram kimia. "Kita akan menciptakan sistem kita sendiri. Jika Belanda menguasai emas dan perak, kita akan menguasai Garam dan Energi."

Jatmika menyadari bahwa di abad ke-19, garam adalah komoditas strategis yang dimonopoli oleh Belanda (melalui Zoutregie). Tanpa garam, pengawetan makanan mustahil dilakukan, dan kesehatan rakyat akan merosot.

"Suro, kirim tim ke pantai utara secara rahasia. Jangan ambil garam dengan cara lama. Gunakan teknik Evaporasi Vakum yang sudah aku ajarkan di bengkel rawa," perintah Jatmika. "Kita akan memproduksi garam murni dalam jumlah besar dan menjadikannya sebagai jaminan mata uang kita."

Jatmika mengeluarkan kepingan kayu jati kecil yang dihaluskan dan dicap dengan segel khusus menggunakan tinta kimia yang akan berubah warna jika terkena cahaya matahari—sebuah teknik Anti-Pemalsuan sederhana namun efektif.

"Ini disebut 'Kupon Bayangan'. Setiap keping ini bernilai satu kilogram garam murni di gudang kita. Kita akan membagikan ini kepada petani sebagai bayaran atas beras dan jagung mereka. Karena semua orang butuh garam, kupon ini akan memiliki nilai tukar yang stabil di pasar gelap," Jatmika menjelaskan.

"Tapi bagaimana jika Belanda menemukan gudang garam kita?" tanya Yusuf.

"Itulah tugasmu, Yusuf. Gunakan jaringan santri untuk mendistribusikan gudang-gudang kecil di puluhan pesantren. Jangan pernah menumpuk semuanya di satu tempat. Desentralisasi adalah kunci pertahanan kita," jawab Jatmika.

Sistem ekonomi baru ini mulai bergerak. Dalam hitungan hari, perdagangan rahasia meledak. Para petani lebih percaya pada kupon Jatmika yang bisa ditukar dengan garam murni daripada uang kertas Belanda yang nilainya fluktuatif akibat perang. Jatmika baru saja melakukan Sabotase Moneter.

Sementara itu, di Batavia, Gubernur Jenderal menerima laporan tentang tenggelamnya kapal perang mereka dengan tangan gemetar. Ia tidak lagi mengirimkan surat perintah biasa. Ia memanggil seorang pria dari bayang-bayang diplomatik: Kolonel Marcus Thorne, seorang veteran perang dari Inggris yang disewa sebagai konsultan khusus.

Thorne bukan prajurit biasa. Ia adalah penganut paham rasionalitas yang kejam. Ia menatap peta Kendal dengan mata elangnya yang dingin.

"Ini bukan pemberontakan petani, Gubernur," ucap Thorne dengan aksen Inggris yang kental. "Orang yang Anda lawan ini sedang membangun sebuah Protos-Negara. Dia menghancurkan logistik, melumpuhkan kavaleri dengan kimia, dan sekarang dia menyerang mata uang Anda. Anda tidak butuh tentara lebih banyak. Anda butuh memotong pasokan sumber dayanya."

Thorne menunjuk ke arah pegunungan. "Cari tahu dari mana dia mendapatkan logamnya. Tanpa besi, dia hanya seorang bocah dengan mainan kayu."

Di lembah batu kapur, Jatmika tidak sedang beristirahat. Ia sedang berdiri di depan sebuah struktur menara setinggi sepuluh meter yang terbuat dari bata tahan api. Ini adalah Blast Furnace (Tanur Tiup) pertama di Nusantara.

"Kita butuh suhu 1.500°C," gumam Jatmika sambil mengecek aliran udara dari kincir air bawah tanah yang ia bangun.

Ia memasukkan bijih besi lokal yang bercampur dengan batu bara hasil jarahan dan fluks kapur. Jatmika tidak ingin membuat besi cor yang rapuh; ia ingin menghasilkan Baja Karbon Rendah.

Saat logam cair mulai mengalir keluar dari dasar tanur seperti naga api yang merah membara, seluruh rakyat yang melihatnya bersujud dan berdoa. Bagi mereka, ini adalah keajaiban. Bagi Jatmika, ini adalah dasar dari revolusi mekanisnya.

"Suro, siapkan cetakan," ucap Jatmika dengan mata yang berkilat terkena cahaya logam cair. "Malam ini kita berhenti membuat ranjau. Kita akan mulai menempa Laras Senapan Alur."

Jatmika tahu bahwa dengan baja berkualitas tinggi ini, ia bisa membuat senapan yang bisa menembak akurat dari jarak 400 meter—dua kali lipat jarak tembak senapan Marsose. Jatmika baru saja memulai Perlombaan Senjata.

1
Nemi yaa
kereen😍
Sastra Gulo: Terimakasih ka :)
total 1 replies
anggita
terus berkarya tulis👌. moga novelnya lancar.
Sastra Gulo: Amin kak. support selalu ya🙏😍
total 1 replies
anggita
Jatmika.. 👍💣💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!