Seorang pemuda yang sejak lahir telah ditakdirkan menderita. Bakatnya dicuri, keluarganya dihancurkan, ia dijual sebagai budak. Namun dari abu kehancuran itu, ia bangkit sebagai api yang membakar segalanya.
Xu Hao bukan pahlawan biasa. Ia adalah pemberontak sejati, seseorang yang menolak takdir, menentang kehendak Langit, dan menempuh jalannya sendiri: Dao Pemberontakan. Dengan kekuatan ini, ia mampu melampaui batas-batas kultivasi konvensional, menghancurkan hukum alam, dan bahkan melukai makhluk yang dianggap dewa.
Namun di balik keganasannya, tersimpan luka yang tak pernah sembuh. Cintanya pada Lianxue, gadis yang setia menanti ribuan tahun, menjadi satu-satunya cahaya dalam kegelapan. Dan saat cahaya itu padam, Xu Hao kehilangan segalanya. Enam ribu tahun ia terpuruk dalam kegilaan, hanya mampu menyebut satu nama: Xue'er.
"Ayah ibuku dibunuh. Cintaku mati di pelukanku. Takdir telah mempermainkanku! Kini giliranku mempermainkan takdir."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perbincangan Di Ruangan Khusus
Setelah meninggalkan aula utama, nenek itu memandu Xu Hao melewati lorong pendek menuju sebuah ruangan khusus. Ruangan ini lebih kecil dari aula, tapi lebih hangat dan nyaman. Dindingnya dihiasi lukisan pemandangan alam yang menenangkan. Di tengah ruangan, ada meja bundar dari kayu hitam mengkilap dengan empat kursi di sekelilingnya.
Nenek itu duduk di salah satu kursi, memberi isyarat pada Xu Hao untuk duduk di hadapannya. Mei Mei ikut masuk, mengambil posisi di samping nenek itu. Dengan gerakan anggun, ia mengambil teko porselen putih dan menuangkan teh ke dalam cangkir kecil.
Aroma teh langsung memenuhi ruangan. Harum, segar, dan yang paling penting, mengandung energi ilahi yang cukup pekat. Bahkan uap yang naik dari cangkir itu membentuk formasi kecil di udara sebelum menghilang.
Xu Hao mengambil cangkirnya. Ia mencium aroma teh sebentar, lalu meneguknya sekaligus. Teh itu hangat, sedikit pahit di awal, tapi setelahnya terasa manis dan menyegarkan. Energi ilahi di dalamnya menyebar ke seluruh tubuh, membuat meridiannya terasa nyaman.
Ia meletakkan cangkir, lalu menatap nenek itu langsung. Matanya tajam, tidak ada basa-basi.
"Aku tidak suka basa-basi."
Nenek itu tersenyum. Ia menyeduh tehnya sendiri dengan gerakan lambat dan anggun, sama sekali tidak terburu-buru. Setelah menyeruput tehnya pelan, ia meletakkan cangkir dan menatap Xu Hao.
"Baiklah, aku juga tidak akan basa-basi."
Ia menarik nafas, lalu memulai.
"Dewa-dewa yang kau lihat sebelumnya, baik itu Mei Mei maupun diriku, merupakan orang yang ditandai Sesat oleh Hakim Dewa. Kami tidak tahu alasannya apa. Karena faktanya, jalan Dao kami normal seperti dewa kebanyakan. Tidak ada penyimpangan, tidak ada teknik terlarang, tidak ada pemberontakan terhadap Langit."
Nenek itu berhenti, memberi waktu pada Xu Hao untuk mencerna informasinya. Matanya yang tua tapi tajam mengamati reaksi Xu Hao. kemudian ia melanjutkan.
"Ini sangat aneh bagi kami. Selama ribuan tahun kami mencoba memecahkan misteri ini. Mengapa kami diburu? Apa kesalahan kami? Tapi tidak pernah menemukan jawabannya."
Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan.
"Itulah alasannya kau dibawa Mei Mei ke sini. Karena kami ingin mendapatkan informasi darimu. Apa alasan Penegak Hukum Langit secara langsung memberimu kesengsaraan? Sedangkan kami, kami hanya orang yang diburu dan dijuluki sesat tanpa sebab. Kesengsaraan surgawi kami normal, tidak ada campur tangan langsung dari Penegak Hukum."
Xu Hao mengernyitkan dahi. Pertanyaan itu membuatnya berpikir.
Ia teringat masa-masa di Dunia Bawah. Saat terobosan ke Nascent Soul di Domain Makam Jiwa Iblis, ia mengalami sembilan kesengsaraan surgawi. Ada sosok yang ikut campur, mencoba membunuhnya. Saat itu ia tidak tahu penyebabnya.
Lalu di Dunia Pelangi, saat terobosan ke Heaven Ascension, ia mengalami hal yang sama. Sosok mata itu mengatakan jika dirinya sesat, tapi tidak jelas alasannya.
Saat terobosan ke True Immortal, sedikit lebih jelas. Saat itu ia mulai memahami bahwa Dao Pemberontakannya yang menjadi masalah.
Dan sehari yang lalu, Penegak Hukum Langit menyebut tiga hal. Asal usul, tubuh, dan Dao.
Dao ia pahami. Tapi asal usul dan tubuh? Apa salahnya?
Xu Hao menghela nafas. "Aku tidak tahu kejelasan pastinya. Tapi alasan ini mungkin tidak salah."
Nenek itu menatapnya tajam. "Apa itu?"
Xu Hao menjawab singkat, "Dao milikku."
Nenek itu terdiam sejenak. Matanya menerawang, berpikir. Lalu bertanya lagi, "Tidak ada yang lain?"
Xu Hao terdiam beberapa saat. Ia mempertimbangkan apakah perlu mengatakan lebih banyak. Tapi nenek ini tampak tulus, dan informasi ini mungkin tidak terlalu rahasia.
"Sehari yang lalu Penegak Hukum mengatakan diriku sesat, karena asal usul dan tubuhku. Tapi aku merasa itu aneh. Karena asal usul dan tubuhku tidak memiliki keistimewaan atau sesuatu yang aneh. Aku lahir di dunia fana dari orang tua biasa. Tubuhku juga biasa, tidak ada garis keturunan istimewa."
Nenek itu mengernyitkan dahi. Ia menatap Xu Hao dengan tatapan berpikir. Di sampingnya, Mei Mei tampak diam dan seperti kecewa dengan nenek itu.
Setelah beberapa saat, nenek itu menggelengkan kepala pelan.
"Sepertinya kau pun bertanya-tanya tentang itu. Tidak ada bedanya dengan kami. Yang membedakan adalah, kau adalah target utama mereka, sedangkan kami tidak begitu penting."
Xu Hao mengangkat cangkir tehnya, meneguk habis isinya. Ia meletakkan cangkir dengan bunyi nyaring.
"Lupakan tentang itu saat ini. Aku tidak ingin memusingkan hal itu. Yang penting aku tahu musuhku, dan musuhku tahu diriku. Sisanya, biarkan waktu yang menjawab."
Nenek itu terkekeh. "Baiklah, lupakan terlebih dahulu. Mungkin memang belum waktunya kita mengerti."
Xu Hao mengangguk. Lalu ia mengingat sesuatu yang sejak tadi mengganggu pikirannya.
"Ada satu hal yang ingin kutanyakan, Senior. Apakah Senior tahu tentang tingkat Penguasa Kekosongan?"
Nenek itu mengerutkan kening. Matanya menyipit, lalu perlahan mengangguk.
"Ya, aku tahu itu."
Xu Hao merasa lega. "Tolong ceritakan."
Nenek itu tersenyum. Ia menuangkan teh untuk dirinya sendiri dan Xu Hao, lalu mulai bercerita.
"Penguasa Kekosongan sebenarnya bukan tingkat kultivasi resmi di Alam Dewa. Itu adalah sebutan untuk kultivator yang berada di setengah langkah menuju Dewa Penguasa. Atau Seorang Kaisar Dewa yang tidak sepenuhnya berhasil mencapai Tingkat Dewa Penguasa."
Ia menyeruput tehnya.
"Di masa lalu, banyak kultivator yang terjebak di level ini selama ribuan tahun. Mereka terlalu kuat untuk disebut Kaisar Dewa, tapi belum cukup kuat untuk disebut Dewa Penguasa. Maka muncullah sebutan Penguasa Kekosongan. Kekosongan di antara dua alam."
Xu Hao akhirnya mengerti. Jadi itu maksudnya. Penguasa Kekosongan adalah level di antara Kaisar Dewa dan Dewa Penguasa. Hao bilang akan mengembalikan pedangnya saat ia mencapai level itu.
"Terima kasih, Senior."
Nenek itu tersenyum. "Tidak perlu berterima kasih. Itu informasi umum yang bisa kau dapatkan di mana saja."
Perbincangan pun berlanjut. Xu Hao bertanya banyak hal, dan nenek itu menjawab dengan sabar.
Tentang keadaan Alam Dua. Ternyata Alam Dua jauh lebih luas dari Alam Satu. Ada tujuh wilayah besar yang dikuasai oleh berbagai kekuatan.
Tentang cara membangkitkan pecahan jiwa. Nenek itu menjelaskan bahwa untuk membangkitkan seseorang dari pecahan jiwa, diperlukan setidaknya tiga hal. Pertama, tubuh fisik yang cocok. Kedua, energi jiwa yang cukup besar untuk merekonstruksi jiwa yang utuh. Ketiga, pemahaman mendalam tentang hukum reinkarnasi atau kehidupan. Semakin utuh pecahan jiwanya, semakin besar peluang keberhasilan. Tapi risikonya tetap besar. Kegagalan bisa berarti kehancuran total pada jiwa itu.
Tentang cara naik ke Alam Tiga. Ada dua cara. Pertama, membayar dua ratus ribu kristal ilahi tingkat tinggi pada penguasa Alam Dua. Mereka akan membuka portal dan membantu proses naik alam. Kedua, melewati jalan alternatif. Melewati Hutan Ribuan Ilusi, lalu menyeberangi Jembatan Buaian Mimpi, dan terakhir menghadapi ujian bertarung di Puncak Dewa. Jika berhasil melewati ketiganya, otomatis akan naik ke Alam Tiga. Syarat minimal untuk mencoba jalan alternatif adalah Dewa Langit bintang sembilan.
Xu Hao mencatat semua informasi ini dalam ingatannya.
Lalu ia bertanya tentang nama-nama yang selama ini ia cari. Xu Tengshi, Xu Tianlong, Xiou Gu, Wang Jia.
Nenek itu menggeleng. Ia tidak pernah mendengar nama-nama itu. Mungkin mereka ada di alam yang lebih tinggi, atau mungkin mereka menggunakan nama samaran.
Tentang empat anak Dewi Yue Ling. Nenek itu mengerutkan kening, lalu mengangguk.
"Aku pernah mendengar kabar tentang itu. Dewi Yue Ling dari Klan Serigala Mistik memang memiliki empat anak. Dua laki-laki, dua perempuan. Nama mereka Xu Yifan, Xu Zhengyu, Xu Mengyi, dan Xu Mulan. Tapi aku tidak tahu di mana mereka sekarang."
Ia berhenti, lalu menambahkan, "Yang aku tahu, Klan Serigala Mistik sedang dalam pertempuran besar. Mereka bertarung dengan Dewa Kuno dan para Buddha. Pertempuran itu sudah berlangsung puluhan ribu tahun dan tidak pernah selesai. Mereka berada di Alam Tujuh."
Xu Hao menghela nafas. Informasi yang didapatnya sedikit, tapi cukup berarti. Paling tidak, ia tahu ke mana harus melangkah selanjutnya. Alam Tiga dulu, lalu terus naik hingga Alam Tujuh.