Menceritakan kisah seorang pemuda desa yang tidak bisa berbicara atau bisu... kehidupannya yang miskin secara perlahan berubah setelah menemukan sebuah batu mustika indah berwarna jingga. bisu yang di alami pemuda itu seketika sembuh tidak hanya itu batu itu juga memiliki kekuatan yang di idam idamkan kebanyakan laki-laki yaitu membuat tubuh penggunanya tak dapat terlihat atau kasat mata.. namun di balik semua keistimewan batu jingga itu menyimpan sebuah misteri dan kutukan yang secara perlahan mendorong pemuda tersebut memasuki dunia gelap yang sesungguhnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
terlanjur terjerumus
Tidak lama kemudian Lek Bambang datang, "eh... kamu geng, masuk masuk ngobrol di dalam." Ucap Lek Bambang.
"Ngga usah lah lek, di teras ini aja lebih luwes. Kayak tamu penting aja harus duduk di sofa. Kaku aku nanti ngga bisa ngomong." Jawab Sugeng.
"Ohh... ya udah ngopi ya geng?"
"Boleh lek."
Tampak Bambang masuk ke dalam rumahnya tak lama kemudian ia keluar membawa asbak dan rokok.
"Ahhh... duduk di teras lesehan gini anget pantatnya ya Geng. Gimana gimana? Ada urusan apa kamu kesini? Kok tumben kesini?" Tanya Lek Bambang.
"Lek Bambang lagi kerja ngga lek?"
"Nggaklah, lagi nganggur baru tiga hari yang lalu selesai buat ruko orang china deket pasar."
"Anu Lek saya ada rencana mau buat warung warungan depan rumah, di halaman itu."
"Oh ya... kapan mulainya?"
"Ya itu... lek Bambang bisa nggak, makanya aku tanya Lek lagi ada job ngga nih?"
"Bisa, lagi kosong job."
"Harian berapa lek?"
"Lepas 120 geng... kuli 90 maksudnya lepas itu ngga di kasih rokok sama makan loh geng. Tapi kalau minum, air putih, kopi, atau es ya tolong di kasih. Masak lelek mau bawa bawa tremos? Hahaha."
"Iya lek, paham aku soal itu aku juga pernah nguli. Emmm tapi ini aku minta tolong loh Lek, aku ngga punya banyak duit jadi aku aja ya yang jadi kulinya. Biar hemat lek.. hehe.. bisa ngga lek?"
"Iya.. iya... ngga papa ya udah mau buat ukuran berapa warungnya?"
"Kecil Lek, 3×4 aja. Kasih teras, sama depan warung pas selokan itu tolong di buat cor apa gorong gorong gitu Lek. Masak orang suruh lompatin comberan? Hahaha"
"Iya iya... pake batako aja di buat talut kecil abis itu di corkan bisa. Emm materialnya udah beli?"
"Udah lek, udah beli tadi siang."
"Pake batako depan rumah kamu itu Geng?"
"Iya lek, cukupkan itu?"
"Cukuplah, ituloh banyak."
"Kapan lek bisa dimulai?"
"Besok juga bisa, geng."
"Oke siap lek, masuk lebih cepat lebih bagus!"
Tak lama kemudian Tiara kembali muncul, ia membawa nampan berisi dua gelas kopi.
"Kopinya mas.." ucap Tiara kepada Sugeng.
"Iya makasih." Jawab Sugeng.
Setelah berbincang beberapa saat akhirnya Sugeng memilih untuk pamit pulang.
***
Pagi itu Sugeng dan Lek Bambang mulai mengerjakan pembuatan warung kecil itu. Tampak mereka berdua membuat pondasi dari batako setelah di ukur dan di tandai dengan seutas benang milon.
Seharian penuh mereka sibukan dengan pembuatan warung tersebut, dinding bata sudah terpasang setinggi satu meter, sepertinya pekerjaan itu tak akan memakan waktu yang lama. Sugeng memprediksi seminggu selesai sudah di plester dan di berikan atap. Setidaknya paling lama 10 hari sudah selesai.
Malam hari Sugeng berada di kamarnya, ia menghitung uang miliknya yang masih cukup banyak. Ia memghitung masih ada sekitar 60 jutaan. Itu karena dia tidak memakainya secara berlebihan takut warga curiga. Alasan Sugeng tak meminjamkan uang kepada Sodri juga karena itu, ia takut Sodri curiga dari mana Sugeng dapat uang sementara tidak ada kambing yang terjual.
Sugeng berfikir harus relevan, setidaknya ia harus membangun usaha, agar jika ia terlihat sukses kelak ia tidak akan di pandang buruk atau mendapat tuduhan yang tidak tidak.
Sejauh ini strategi dan rencana yang di jalankan Sugeng berjalan mulus tanpa hambatan.
Dia melakukan kegiatan dan rutinitas sehari hari seperti biasanya. Pagi hari ia mengisi air di kolam menggunakan sanyo pompa listrik, sembari menunggu Lek Bambang datang.
Siang hari Sugeng dan Lek Bambang beristirahat, mereka bersantai meminum kopi, merokok dan makan gorengan.
"Geng nanti kalau udah nol bata, libur sehari dulu sebelum masang atap. Biar agak keras dulu dindingnya. Jangan di lepas papan tiang cor di sudut sudut itu, nanti aja." Ucap Lek Bambang.
"Oh iya Lek, ngga papa."
"Soalnya saudaraku mau ada hajat juga geng, rewang sekalian... gak enaklah kalau ngga ikut rewang."
Sore hari selepas mandi Sugeng termenung di pinggiran kolam nila sembari menatap bangunan warungnya yang belum jadi itu karena belum ada atap.
"Kalau aku mau nyuri lagi gimana cara lumpuhin pemilik rumahnya ya? Waktu itu Wanto tidur jadi aku bisa ambil uangnya beda kalau dia waspada.. hmmm.. apa aku bunuh sekalian aja pemilik rumahnya... nggak.. nggak! Aku ngga mau bunuh orang lagi."
"Tapi tunggu dulu, buat apa aku nyuri uang lagi? Alasan utama dulu aku curi uang, karena terpaksa harus lunasin hutang ke si tante tante girang itu... lalu alasan aku curi uang sekarang untuk apa? Hidupku ngga susah susah banget... tapi... buat apa batu jingga itu jika aku ngga gunakan untuk curi uang, masa buat ngintip janda mandi? Nggak nggak geng, ini bukan novel bokep, aku udah terlanjur terjerumus juga kelingkaran iblis... ahhh taulah pikir nanti aja.." batin Sugeng.
Malam harinya Sugeng santuy di kamar sembari browsing cara melumpuhkan manusia.
"Hmm... ini ada obat bius? Kayaknya ngga workit deh... yang ada orang mati kehabisan nafas kalau aku bekap. Hmm pake apa ya? Di pukul tengkuknya kalau kekencengan bisa mati, atau mungkin geger otak kasihan juga." Batin Sugeng ia terus mencari cari cara bagaimana melumpuhkan manusia sekedar untuk jaga jaga.
Tiba tiba Sugeng menemukan cara paling ampuh membuat seseorang pingsan, yaitu dengan sebuah alat bernama stun gun, sebuah alat defensif pertahanan diri berupa alat kejut listrik.
Perlahan namun pasti Sugeng mencari tahu tentang alat itu di toko online.
"Sialan, yang di jual di toko online indonesia Voltasenya rendah banget gak bisa bikin manusia pingsan. Aku harus membelinya di toko online luar negeri, tapi sampenya lama banget.
Hmmm gimana ya harganya empat belas juta tapi itu pasti workit kalau buat pingsan orang beneran. Estimasinya 8 hari sampenya, ngga papa deh... lagian belum ada rencana juga mau ngerampok rumah siapa." Batin Sugeng.
Keesokan harinya Lek Bambang libur kerja, Sugeng memanfaatkan hari itu untuk pergi ke kota. Dia membuka rekening tabungan di sebuah bank swasta.
Setelah ia mempunyai rekening ia duduk di halaman depan mesin ATM bank tersebut. Ya dia memesan alat tersebut dan melakukan pembayaran melalui mesin ATM.
"Sip selesai..." batin Sugeng. .
Empat hari kemudian, atap warung sudah jadi. Dan sudah di plester dinding dalam dan luar.
"Geng, besok acara aku panitianya..."
"Oh ya Lek, libur aja ngga papa.. butuh apalagi lek kira kira?"
"Lah tinggal keramik sama pintu kan? Pintunya kamu mau pesen folding apa pake papan?"
"Folding mahal ngga ya Lek?"
"Nggak lah, mending Folding geng lebih rapi dari pada pake papan."