Kehadiran Jay Van O’Connor adalah noda yang tak pernah bisa diterima Zavier Van O’Connor.
Jay si anak haram Jackman Van O’Connor, bukan hanya bukti pengkhianatan sang ayah, tetapi juga ancaman nyata bagi posisi dan kendali yang selama ini Zavier inginkan. Warisan dan tahta.
Sejak awal, Zavier berusaha melenyapkan Jay.
Dengan cara halus maupun kejam, dengan kekuasaan, uang, dan strategi.
Zavier harus melenyapkan sang adik bukan karena tanpa alasan, setiap melihat Jay, Zavier seperti melihat sosok sang ayah ada dalam diri adiknya. Jay benar-benar mirip seperti Jackman.
Hingga suatu hari, Zavier menemukan celah Jay.
Anna Barthley, seorang gadis sederhana yang hidupnya dipenuhi pekerjaan paruh waktu, berjuang melunasi hutang orang tuanya, dan tak pernah bersentuhan dengan dunia kelam keluarga O’Connor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 7
Sebuah ruangan yang remang hanya diterangi cahaya lampu redup yang menggantung di langit-langit. Bayangan dinding tampak memanjang, menciptakan suasana mencekam. Di tengah ruangan, seorang pria bertubuh gemuk duduk terikat pada kursi besi. Wajahnya lebam, bibirnya pecah, dan napasnya terengah menahan sakit.
Drew berdiri tegak ketika tuannya menuruni tangga dengan langkah tenang. Sepatu kulitnya beradu pelan dengan anak tangga beton, menciptakan gema yang berat. Jay mengenakan sarung tangan hitam, dan wajahnya nyaris tak terlihat karena tertutup bayangan gelap ruangan itu.
Perlahan, Jay mendekat. Ia berhenti tepat di depan pria gemuk tersebut, lalu mengangkat dagunya dengan satu jari telunjuk, menekan dari bawah agar wajah itu terangkat. Jay meneliti wajah penuh ketakutan di hadapannya dengan sorot mata yang dingin dan tajam.
“Kau tahu kesalahanmu?” tanyanya datar.
Pria gemuk itu menggeleng cepat, napasnya tersengal.
“Siapa kau… dan kenapa kau melakukan ini padaku? Apa salahku? Aku tidak mengenalmu!” serunya dengan suara bergetar.
“Kau seharusnya tidak menyentuh gadis itu,” ucap Jay pelan, namun setiap katanya terdengar seperti ancaman yang tak terbantahkan. Tatapannya setajam bilah pisau yang siap menghunus tanpa ampun.
“Memangnya apa hubunganmu dengannya?!” teriak pria itu, mencoba melawan rasa takut yang jelas menguasainya.
Jay tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata.
“Hubunganku?” ulangnya lirih. “Kau tidak perlu tahu siapa aku baginya. Yang perlu kau tahu… adalah konsekuensi dari perbuatanmu.”
Ia memberi isyarat kecil pada Drew.
Drew melangkah maju, menyerahkan sebuah ponsel pada Jay. Di layar terpampang rekaman kamera pengawas—jelas memperlihatkan pria gemuk itu menarik pergelangan tangan seorang gadis yang berusaha melepaskan diri.
Jay memutar ulang adegan itu tepat di depan wajahnya.
“Kau masih ingin mengatakan tidak tahu kesalahanmu?”
Pria gemuk itu terdiam. Wajahnya memucat.
“Itu hanya salah paham! Aku hanya bercanda! Aku tidak melakukan apa-apa!” katanya panik.
Jay menurunkan ponsel itu perlahan.
“Sentuhan yang tidak diinginkan bukan candaan,” ucapnya dingin. “Tangisan yang kau anggap remeh… adalah alasan kau berada di sini.”
Jay berdiri tegak, lalu berbalik meninggalkan pria itu.
“Drew,” katanya tanpa menoleh. “Pastikan dia memahami arti batasan.”
Langkah Jay kembali menaiki tangga terdengar mantap dan tanpa ragu, meninggalkan jeritan yang segera memecah kesunyian ruangan gelap itu.
Drew menundukkan kepala singkat.
“Baik, Tuan.”
Langkah Jay menghilang di balik pintu besi yang tertutup perlahan. Suara dentingannya terdengar berat, seolah menjadi tanda bahwa nasib pria gemuk itu kini sepenuhnya berada di tangan Drew.
Ruangan kembali sunyi.
Drew melepas jasnya dengan tenang, melipatnya rapi dan meletakkannya di atas meja kayu. Wajahnya datar, tanpa emosi. Ia bukan orang yang menikmati kekerasan—namun ia juga bukan orang yang ragu menjalankan perintah.
Pria gemuk itu mulai meronta.
“Tolong… tolong dengarkan aku! Itu benar-benar hanya salah paham! Aku tidak bermaksud—”
Satu tamparan keras menghentikan kalimatnya.
Bukan untuk melukai lebih dalam, melainkan untuk membungkam.
“Diam,” ucap Drew singkat. “Tuan Jay sudah memberimu kesempatan untuk menjelaskan. Kau menyia-nyiakannya.”
Drew berjalan memutar, berhenti tepat di belakang kursi tempat pria itu terikat. Tangannya yang bersarung hitam meraih bahu pria tersebut, mencengkeramnya kuat.
“Kau tahu apa yang paling Tuan Jay benci?” suara Drew terdengar rendah dan stabil. “Orang yang merasa memiliki hak atas tubuh orang lain.”
Pria itu mulai gemetar hebat.
“Aku punya anak perempuan… aku bersumpah… aku tidak akan mengulanginya lagi…”
Drew terdiam sesaat. Kalimat itu tidak menggoyahkan hatinya.
“Justru karena kau punya anak perempuan,” jawab Drew dingin, “kau seharusnya lebih tahu batasan.”
Ia memberi isyarat pada dua pria berbadan besar yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan. Mereka melangkah maju.
Tidak ada senjata tajam. Tidak ada alat yang berlebihan.
Hanya pukulan terukur.
Hukuman yang cukup untuk membuat pria itu mengingat rasa sakit setiap kali tangannya ingin melanggar batas lagi.
Teriakan menggema di ruangan gelap itu. Namun Drew tetap berdiri tegak, memperhatikan dengan ekspresi tak berubah. Setiap pukulan dihentikan tepat sebelum melampaui batas yang membahayakan nyawa.
Beberapa menit kemudian, Drew mengangkat tangannya.
“Cukup.”
Pria gemuk itu terkulai lemah, napasnya berat, wajahnya semakin bengkak. Namun ia masih sadar. Masih mampu merasakan.
Drew berjongkok di depannya.
“Ini bukan tentang balas dendam,” katanya pelan. “Ini tentang pelajaran.”
Ia menepuk ringan pipi pria itu—bukan dengan kelembutan, melainkan sebagai penegasan.
“Jika kau mendekati gadis itu lagi… atau perempuan mana pun dengan niat yang sama… hukuman berikutnya tidak akan sesederhana ini.”
Drew berdiri kembali.
“Ikat dia di luar kota. Biarkan orang-orangnya menemukannya. Pastikan dia hidup.”
Dua pria itu mengangguk.
Saat Drew berjalan menuju tangga, langkahnya tetap stabil. Namun di balik ketenangannya, ada kesadaran bahwa dunia yang ia pijak bersama Jay bukanlah dunia hitam-putih.
Di dunia itu, keadilan tidak selalu menunggu hukum.
Dan malam itu, seorang pria belajar tentang batas—dengan cara yang tidak akan pernah ia lupakan.
Pintu besi di lantai bawah tertutup dengan bunyi berat. Suara mesin mobil perlahan menjauh, membawa pria gemuk itu keluar dari wilayah yang tak akan pernah ingin ia ingat lagi.
Drew menaiki tangga dengan langkah teratur. Tidak tergesa, tidak pula ragu.
Di lantai atas, Jay berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke kota. Cahaya lampu malam berpendar samar, memantul di permukaan kaca. Sarung tangan hitamnya masih melekat rapi, kedua tangannya terlipat di belakang punggung.
Drew berhenti beberapa langkah di belakangnya.
“Tuan.”
Jay tidak langsung menoleh. “Selesai?”
“Sudah, Tuan.” Suara Drew stabil seperti biasa. “Ia masih sadar ketika ditinggalkan. Tidak ada luka permanen. Namun cukup untuk memastikan ia mengingat malam ini seumur hidupnya.”
Hening sejenak.
“Dan?” tanya Jay pelan.
“Kami meninggalkannya di pinggir jalan luar kota. Orang-orangnya akan menemukannya dalam waktu kurang dari satu jam. Ia tidak akan melapor.” Drew berhenti sebentar. “Ia terlalu takut.”
Jay akhirnya menoleh sedikit, sorot matanya tetap dingin.
“Takut bukan tujuan utama,” katanya tenang. “Aku ingin ia mengerti.”
“Ya, Tuan. Ia mengerti.”
Jay berjalan perlahan menuju meja kerjanya. Ia melepas sarung tangan hitamnya satu per satu, meletakkannya dengan rapi. Gerakannya tenang, seolah malam tadi hanyalah rapat bisnis biasa.
“Bagaimana kondisi gadis itu?” tanya Jay tanpa menatap Drew.
“Masih syok, tetapi aman. Kami sudah menempatkan orang untuk mengawasi diam-diam. Tidak akan ada yang mendekatinya lagi.”
Untuk pertama kalinya, rahang Jay sedikit mengeras.
“Pastikan dia tidak pernah tahu tentang ini.”
Drew mengangguk. “Tuan tidak ingin ia merasa berutang?”
Jay terdiam beberapa detik sebelum menjawab.
“Aku tidak melakukannya untuk pengakuan.”
Kalimat itu singkat, namun sarat makna.
Drew memahami. Jay tidak ingin dilihat sebagai penyelamat. Tidak ingin gadis itu merasa berada dalam bayangannya. Namun pada saat yang sama, ia juga tidak membiarkan siapa pun menyentuh apa yang ia anggap… miliknya untuk dilindungi.
“Apakah ada perintah lain, Tuan?” tanya Drew.
Jay duduk, menatap berkas-berkas di mejanya, tetapi pikirannya jelas tidak sepenuhnya di sana.
“Awasi pergerakannya selama beberapa hari. Jika pria itu mencoba bermain licik… kita akhiri urusannya.”
Nada suara Jay tetap datar. Tanpa emosi. Tanpa ancaman berlebihan.
Namun Drew tahu—kalimat itu bukan sekadar peringatan.
“Baik, Tuan.”
Drew membungkuk hormat, lalu melangkah keluar ruangan. Pintu tertutup pelan di belakangnya.
Jay tetap duduk sendirian dalam cahaya lampu redup. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, memejamkan mata sejenak.
Di benaknya terlintas wajah gadis itu—ketakutan, gemetar, namun tetap mencoba terlihat kuat.
Jari Jay mengepal perlahan.
“Jangan membuatku kehilangan kendali,” gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri daripada siapa pun.
Di luar, malam semakin pekat.
Dan obsesi yang selama ini ia kendalikan… perlahan mulai menunjukkan wujudnya.
Bersambung
adu domba zavier brhasil nih...
untung jay segera datang....