Bagi orang lain, ia adalah definisi kemandirian yang sempurna. Namun, di balik punggungnya yang tegap, tersimpan luka yang tak pernah dipeluk siapa pun.
Ia tumbuh dalam rumah yang penuh, tetapi merasa seperti yatim piatu di tengah hiruk-pikuknya. Sejak kecil, ia dipaksa menelan rindu pada orang tua yang merantau, hanya untuk kembali dan mendapati dirinya sebagai orang asing yang selalu salah. Tanpa pembelaan, tanpa kasih sayang, ia belajar satu hal: satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri.
Namun, sampai kapan seseorang bisa terus menjadi "langit" yang kokoh tanpa pernah runtuh? Ketika semua keinginan harus dipenuhi sendiri dan setiap air mata harus disembunyikan, ia mulai kehilangan jejak akan perasaannya sendiri.
Di rumah yang seharusnya menjadi pelabuhan, ia justru tenggelam dalam kesepian yang paling sunyi. Mampukah ia menemukan jalan pulang ke dirinya sendiri, ataukah ia akan terus menopang langit itu sampai hancur berkeping-keping?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Keesokan sorenya, mobil Alana memasuki gerbang rumah. Suasana terasa tegang. Ibu sudah menunggu di teras dengan tangan bersedekap, sementara Rian duduk di anak tangga dengan wajah ditekuk. Ayah tetap pada posisinya, duduk di kursi rotan sambil menyesap kopi, matanya menatap hampa ke arah jalanan.
Alana turun dari mobil. Ia tidak menunduk. Ia membawa kopernya dengan langkah tegap, kepalanya tegak, dan matanya jernih.
"Bagus ya, pulang-pulang langsung mau bikin adikmu susah," sambut Ibu, suaranya tajam. "Apa yang terjadi di sana? Kamu dicuci otak sama siapa sampai jadi pelit begini?"
Alana berhenti tepat di depan Ibunya. "Alana tidak pelit, Bu. Alana hanya mulai belajar menghargai diri sendiri. Selama ini Alana yang mencuci otak diri sendiri untuk percaya bahwa kebahagiaan Ibu dan Rian adalah tanggung jawab mutlak Alana, sampai Alana lupa kalau Alana juga butuh hidup."
"Tapi Rian itu adikmu—"
"Dan Rian sudah punya dua tangan dan dua kaki yang sehat, Bu," potong Alana tenang. Ia menoleh ke arah Rian. "Kamu bisa cari kerja paruh waktu atau jual motor itu kalau memang tidak sanggup bayar cicilannya. Kakak tidak akan lagi menambal lubang yang kamu gali sendiri."
Rian hendak membentak, tapi ia terdiam saat melihat sorot mata Alana. Itu bukan mata Alana yang biasanya penuh keraguan; itu mata seseorang yang sudah selesai dengan segala bentuk manipulasi emosional.
Alana kemudian menatap Ayah. Pria itu akhirnya mendongak, menatap putrinya cukup lama. Untuk pertama kalinya, Ayah memberikan anggukan kecil—sebuah pengakuan bisu bahwa langkah Alana benar.
"Alana mau masuk kamar, mau istirahat. Besok Alana sudah harus kembali ke kantor," ujar Alana sambil melangkah melewati mereka.
"Alana! Kamu nggak mau makan malam sama-sama dulu?" teriak Ibu, suaranya sedikit melunak karena bingung melihat otoritasnya menguap begitu saja.
"Mungkin nanti, Bu. Setelah Alana selesai membereskan barang-barang Alana sendiri," jawab Alana tanpa menoleh.
Di dalam kamar, Alana meletakkan tasnya. Ia membuka jendela, membiarkan udara sore masuk. Ia mengambil kartu nama Pradipta yang terselip di dompetnya, menatapnya sebentar, lalu tersenyum.
Dunia di luar sana mungkin masih sama berisiknya, keluarganya mungkin masih akan mencoba menariknya kembali ke pola lama, tapi Alana tahu satu hal: ia tidak akan pernah membiarkan dirinya tenggelam lagi.
Ia telah pulang, bukan untuk menjadi batu karang bagi orang lain, melainkan untuk menjadi rumah bagi dirinya sendiri.
Keesokan paginya, Alana tidak bangun karena teriakan Ibu yang menagih sarapan atau bunyi klakson motor Rian. Ia bangun karena alarm ponselnya sendiri—pukul enam tepat. Ada ketenangan yang berbeda saat ia memoleskan lipstik berwarna nude di depan cermin. Matanya tidak lagi tampak seperti kaca yang retak.
Ia keluar kamar dengan mengenakan blazer berwarna biru navy yang tajam. Di meja makan, suasana masih kaku. Ibu hanya diam sambil mengaduk teh dengan kasar, sementara Rian tidak terlihat, mungkin sedang mogok makan atau tidur hingga siang sebagai bentuk protes.
"Alana berangkat, Bu. Ayah," pamitnya singkat. Ia meletakkan selembar amplop berisi uang bulanan Ibu yang jumlahnya sudah ia sesuaikan—hanya untuk kebutuhan pokok rumah tangga, tidak lebih.
Gedung kantor terasa berbeda hari ini. Bukan karena catnya yang baru, tapi karena cara Alana berjalan menyusuri koridor. Ia menyapa satpam dan resepsionis dengan senyum yang benar-benar sampai ke mata.
Begitu sampai di lantai sembilan, ia melihat pintu ruangan Pradipta terbuka sedikit. Alana menarik napas panjang, merapikan bajunya, lalu mengetuk.
"Masuk," suara bariton itu terdengar tenang.
Pradipta sedang menyesap kopi hitamnya sambil membaca berkas. Saat Alana masuk, ia meletakkan cangkirnya dan melepas kacamata bacanya. Ia memperhatikan Alana dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu berhenti di matanya.
"Warna matamu sudah kembali, Alana," ujar Pradipta tanpa basa-basi. "Selamat datang kembali ke daratan."
"Terima kasih, Pak. Dan terima kasih untuk... segalanya. Vila itu benar-benar menyelamatkan saya," Alana berdiri di depan meja besar itu, namun kali ini ia tidak merasa terintimidasi.
Pradipta bangkit dari kursinya, berjalan memutari meja hingga ia berdiri hanya berjarak satu meter dari Alana. "Saya sudah bilang, saya tidak suka kehilangan asisten terbaik saya. Tapi saya juga lebih tidak suka melihat seseorang yang saya... hargai, hancur hanya karena tidak berani bilang tidak."
Ada jeda yang cukup panjang. Kata "hargai" yang diucapkan Pradipta terasa memiliki bobot yang lebih dalam dari sekadar rekan kerja.
"Saya sudah bilang 'tidak' pada mereka, Pak," ujar Alana dengan nada bangga yang terselip di suaranya.
"Bagus," Pradipta mengangguk kecil. Ia kemudian mengambil sebuah map berwarna biru dari mejanya dan memberikannya pada Alana. "Ini proyek baru. Pengembangan cabang di Bali. Saya butuh orang yang punya ketegasan dan kejernihan pikiran untuk memimpin tim di sana selama tiga bulan ke depan."
Alana menerima map itu dengan tangan yang mantap. "Bali? Bapak ingin saya pergi ke sana?"
"Bukan hanya kamu. Saya juga akan sering ke sana untuk pengawasan. Tapi yang paling penting," Pradipta menatap Alana dengan sorot mata yang hangat dan tulus, "ini adalah kesempatanmu untuk benar-benar menjaga jarak dengan 'kebisingan' di rumahmu. Membangun fondasi barumu sendiri."
Alana terdiam. Ini lebih dari sekadar tugas kantor. Ini adalah pintu keluar yang diberikan Pradipta dengan cara yang paling elegan.
"Kenapa Bapak melakukan ini semua untuk saya?" tanya Alana lirih.
Pradipta tersenyum tipis—sebuah senyum yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun. "Karena saya pernah menjadi 'batu karang' itu, Alana. Sampai akhirnya saya hancur dan tidak ada yang memunguti kepingannya. Saya hanya tidak ingin melihat hal yang sama terjadi pada orang sehebat kamu."
Tangan Pradipta terulur, menyentuh pundak Alana sekilas. Bukan tepukan kasar seperti yang dilakukan Rian, tapi sebuah sentuhan yang seolah berkata, 'Aku di sini'.
"Siap untuk mulai bekerja lagi, Alana?"
Alana membalas tatapan itu, merasakan sebuah harapan baru yang mekar di dadanya. Bukan lagi soal tuntutan atau utang budi, tapi soal masa depan yang ia pilih sendiri.
"Siap, Pak Pradipta."
Sore itu, Alana tidak langsung pulang ke rumah. Ia duduk di sebuah kafe di lobi kantor, memesan kopi kesukaannya, dan mulai membuka map biru itu. Di lembar pertama, ada sebuah catatan kecil yang ditempel dengan sticky note bertuliskan tulisan tangan Pradipta yang rapi:
"Jangan lupa bernapas. Bali punya udara yang bagus untuk itu."
Alana tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak lagi merasa tersesat. Ia tahu persis ke mana ia akan melangkah, dan kali ini, ia tidak berjalan sendirian.