Menikah tanpa kehadiran suami bukanlah impian Sheena. Ia terpaksa menandatangani dokumen pernikahan di catatan sipil hanya didampingi oleh ibu mertuanya, sementara Matthias—sang suami—lebih memilih merayakan kelulusan S2-nya di The Spire Of Wisdom tanpa sedikit pun memberi kabar.
Tiga bulan penuh pengabaian membuat hati Sheena mendingin. Saat Matthias pulang dengan aura black flag yang kaku dan dingin, Sheena dipaksa pindah ke mansion pribadi pria itu. Matthias bersikap seolah Sheena hanyalah orang asing yang menumpang hidup, karena hatinya masih tertahan pada sosok gadis kecil di halte bus bertahun-tahun lalu—satu-satunya orang yang membolehkannya menangis.
Matthias tidak sadar, sapu tangan yang ia simpan bagai nyawa adalah milik wanita yang kini ia abaikan di rumahnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, apakah Sheena masih mau menunggu pria yang sudah membuang waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Simfoni di Ruang Terlarang
...–Balasan yang Tak Terduga–...
Suasana makan malam di mansion Smith malam itu terasa sangat aneh. Keheningan yang tercipta bukan lagi keheningan yang dingin dan menusuk, melainkan keheningan yang penuh dengan ketegangan yang sulit dijelaskan.
Sheena hanya menunduk, sibuk mengaduk-aduk sup di mangkuknya tanpa benar-benar memakannya. Pipinya masih terasa hangat setiap kali teringat kejadian di mobil tadi sore. Sementara itu, Matthias yang duduk di ujung meja tampak beberapa kali berdehem, mencoba memotong kesunyian namun suaranya seolah tertahan di tenggorokan.
"Sheena," panggil Matthias akhirnya. Suaranya rendah dan serak, membuat Sheena tersentak kecil.
"Y-ya?" Sheena mendongak sedikit, namun segera membuang muka saat matanya bertemu dengan tatapan Matthias yang gelap dan intens.
"Soal yang di mobil tadi..." Matthias menjeda kalimatnya. Ia meletakkan sendoknya, lalu bangkit berdiri. Postur tubuhnya yang menjulang membuat ruang makan itu terasa sempit seketika. "Ikut aku ke ruang kerja sebentar. Ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu sebagai balasan."
Sheena mengerutkan kening. Balasan? Balasan apa? Dengan langkah ragu, ia mengekor di belakang Matthias menuju lantai atas.
Sheena melangkah ragu mengikuti Matthias masuk ke dalam ruang kerjanya. Begitu pintu terbuka, langkahnya terhenti seketika. Matanya membulat, menatap sekeliling dengan binar kekaguman yang tidak bisa disembunyikan.
Ruangan itu sangat luas, lebih menyerupai sebuah galeri musik pribadi daripada ruang kerja seorang CEO. Di salah satu sudut, jejeran gitar akustik dan elektrik tersusun cantik di dinding, berkilau di bawah lampu temaram. Di dekat jendela besar, sebuah set drum lengkap berdiri dengan gagah, bersanding dengan sebuah grand piano hitam yang tampak sangat elegan.
"Matthias... ini semua milikmu?" Bisik Sheena takjub. Ia berjalan mendekat, jemarinya hampir menyentuh tuts piano yang dingin. "Indah sekali. Aku tidak tahu kau menyukai musik sehebat ini."
Sheena menoleh ke arah Matthias dengan senyum tulus, sebuah pemandangan yang seketika membuat napas Matthias tercekat. Namun, pria itu tidak sedang ingin membahas koleksi musiknya. Tujuannya membawa Sheena ke sini jauh lebih mendesak.
Matthias berjalan mendekat tanpa suara. Ia tidak berhenti sampai jarak di antara mereka hilang sama sekali. Sheena yang merasa suasana mendadak berubah menjadi intens, perlahan mundur hingga punggungnya menyentuh tepian piano.
"Kau menyukainya?" Tanya Matthias, suaranya rendah dan dalam, bergema di antara instrumen musik di ruangan itu.
"Ya... sangat suka," jawab Sheena pelan, ia mulai merasa gugup dan menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata kelam Matthias.
Matthias mengulurkan tangan, mengangkat dagu Sheena dengan lembut agar gadis itu kembali menatapnya. "Ada yang lebih indah daripada ruangan ini, Sheena. Dan dia sedang berdiri tepat di depanku."
Wajah Sheena merona hebat. Ia meremas ujung bajunya, merasa dunianya seolah berputar. "Matthias, kau—"
Kalimat Sheena terhenti saat Matthias menunduk. Dengan sangat perlahan—memberi waktu jika Sheena ingin menolak—Matthias menempelkan bibirnya di atas bibir Sheena.
Berbeda dengan ketegangan di parkiran tadi siang, ciuman ini terasa sangat lembut dan penuh perasaan. Sheena tertegun, matanya perlahan terpejam saat merasakan kelembutan yang tak terduga dari pria yang biasanya bersikap kaku itu. Ia tidak memberontak, tangannya yang gemetar justru meremas baju kaos milik Matthias, membalas sentuhan itu dengan malu-malu.
Hanya ada suara detak jantung mereka yang saling bersahutan di tengah kesunyian ruang musik itu.
Saat Matthias akhirnya melepaskan tautan mereka, ia menempelkan dahinya ke dahi Sheena. Ia bisa melihat betapa merahnya wajah istrinya saat ini, dan itu adalah pemandangan paling cantik yang pernah ia lihat.
"Itu balasan untuk yang tadi sore," bisik Matthias lembut.
Sheena menggigit bibir bawahnya, benar-benar kehilangan kata-kata. Rasa malu yang luar biasa menyergapnya, membuatnya tidak sanggup berlama-lama menatap pria itu. Dengan gerakan kikuk, ia memutar tubuhnya dan bergegas keluar dari ruangan itu.
"Aku... aku mau tidur!" Serunya kecil sambil setengah berlari, meninggalkan Matthias yang masih berdiri di samping pianonya.
Matthias menatap kepergian Sheena dengan senyum tipis yang tak kunjung hilang. Ia menyentuh tuts piano, menekan satu nada rendah yang berdenting indah di ruangan itu—sama indahnya dengan perasaan yang mulai bersemi di hatinya malam ini.