Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.
Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.
Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."
Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Nisa Datang
Bab 17: Nisa Datang
Terminal Tanjungbalai di jam sembilan pagi adalah definisi dari kekacauan yang gerah. Di tengah hiruk-pikuk calo yang saling berteriak dan debu yang beterbangan tertiup angin laut yang kering, Rafi berdiri kaku. Matanya tidak lepas dari setiap angkot kuning yang berhenti di gerbang terminal.
Secara statistik, keterlambatan angkot di Tanjungbalai adalah 15 hingga 20 menit akibat sistem "ngetem" yang tidak terukur. Namun, tepat pada pukul 09.07, sebuah angkot dengan stiker besar di kaca depannya berhenti dengan sentakan kasar. Pintu gesernya terbuka, mengeluarkan suara decit logam yang menusuk telinga.
Lalu, dia turun.
Waktu seolah melambat secara paksa dalam kepala Rafi. Dunia yang tadinya berwarna abu-abu kusam karena debu solar, tiba-tiba mendapatkan saturasi warna yang tajam. Nisa turun dengan gerakan ringan, merapikan sedikit ujung kemeja putih gadingnya yang dipadukan dengan celana kulot berwarna cokelat muda. Rambutnya yang hitam legam tergerai rapi, tampak sangat kontras dengan latar belakang terminal yang kumuh.
Rafi terpaku. Secara objektif, pakaian Nisa sederhana. Tidak ada perhiasan mencolok atau riasan tebal. Namun, di mata Rafi, kesederhanaan itu justru memancarkan kemewahan yang membuatnya sesak napas. Nisa terlihat sangat bersih—sebuah kebalikan mutlak dari lingkungan terminal yang apek.
"Rafi?"
Suara itu lembut, tapi cukup jelas untuk menembus kebisingan mesin bus diesel di dekat mereka. Nisa berjalan mendekat, menyampirkan tas kecil di bahunya. Harum sabun mandi dan sedikit aroma bunga tercium saat jarak mereka mengikis menjadi dua meter.
Rafi menelan ludah. Tiba-tiba, kemeja flanel biru yang ia setrika dengan uap manual semalam terasa seperti kain perca murahan. Minyak wangi jeruk nipis lima ribuan yang ia banggakan tadi pagi mendadak terkesan seperti bau pembersih lantai di depan aroma Nisa.
Rasa minder yang ia coba kubur dalam-dalam sejak Bab 1 muncul kembali ke permukaan, lebih kuat dan lebih dingin dari sebelumnya.
"Eh, iya, Nis. Sudah sampai ya," jawab Rafi, suaranya terdengar sedikit pecah di awal. Secara analitis, ia baru saja melakukan kegagalan komunikasi primer: terlihat gugup.
"Sudah lama nunggu?" Nisa bertanya sambil menyeka sedikit keringat di dahinya dengan tisu. Gerakannya elegan, membuat Rafi merasa tangannya sendiri yang kasar dan berkeringat adalah sebuah aib.
"Enggak, baru sepuluh menit," bohong Rafi. Padahal ia sudah berdiri di sana selama hampir empat puluh menit sampai kakinya kesemutan di dalam sepatu yang dilem Alteco.
Nisa melihat ke sekeliling terminal, matanya menyipit karena silau matahari. "Kita naik bus yang mana?"
Rafi segera tersadar dari lamunannya. Secara operasional, ia adalah pemimpin perjalanan ini. Ia harus menunjukkan bahwa ia memegang kendali.
Ia menunjuk ke arah bus ekonomi berwarna hijau yang mesinnya sudah menderu, mengeluarkan
asap hitam tipis dari knalpotnya.
"Yang itu, Nis. Busnya sudah mau penuh, jadi kita nggak bakal ngetem lama lagi," kata Rafi, mencoba menggunakan logika transportasi yang ia susun di Bab 16.
Nisa mengangguk kecil. Saat mereka mulai berjalan beriringan menuju bus, Rafi merasakan sebuah sensasi yang sangat asing sekaligus mengerikan: ia merasa sangat tidak pantas berjalan di samping Nisa.
Setiap langkah yang ia ambil terasa sangat berat. Ia sangat sadar akan sol sepatunya yang mungkin saja mengeluarkan suara aneh, atau pudar di kerah kemejanya yang mungkin terlihat jelas di bawah sinar matahari yang terik ini. Di sampingnya, Nisa berjalan dengan tenang, seolah-olah debu terminal dan bau solar tidak menyentuhnya sama sekali.
"Nis," panggil Rafi pelan saat mereka melewati sekumpulan supir yang sedang merokok.
"Ya?"
"Maaf ya, kita harus naik bus. Nggak bisa naik mobil..." Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Rafi, sebuah manifestasi dari rasa mindernya yang akut. Secara logis, ia tidak perlu meminta maaf karena Nisa sudah tahu sejak awal, tapi secara emosional, ia merasa gagal memberikan kenyamanan.
Nisa menoleh, menatap Rafi dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Kenapa minta maaf? Aku juga biasa naik angkot kok ke sekolah. Malah asyik naik bus, bisa lihat pemandangan."
Jawaban itu seharusnya menenangkan Rafi, tapi bagi pikirannya yang skeptis, itu hanya terdengar seperti bentuk kesopanan Nisa untuk menjaga perasaannya. Rafi semakin merapatkan dompetnya di saku celana. Uang 315 ribu di dalamnya terasa seperti satu-satunya pelindung harga dirinya yang tersisa.
Mereka sampai di depan pintu bus. Seorang kondektur dengan handuk kecil di lehernya langsung menyambut mereka.
"Kisaran! Kisaran! Masuk, Dik! Kursi belakang masih ada dua!" teriak si kondektur sambil menepuk-nepuk badan bus dengan keras.
Rafi mempersilakan Nisa naik duluan. Saat Nisa menapakkan kakinya ke tangga bus yang tinggi, Rafi memperhatikan detail kecil: Nisa tampak ragu sejenak melihat lantai bus yang kotor dan banyak bekas puntung rokok. Hati Rafi mencelos. Ini adalah realitas yang ia tawarkan—sebuah perjalanan kelas ekonomi yang tidak higienis.
"Hati-hati, Nis. Tangganya agak licin," kata Rafi sambil menjulurkan tangannya secara refleks, namun ia segera menariknya kembali sebelum sempat menyentuh Nisa. Ia takut tangannya yang berkeringat akan menodai kulit Nisa yang tampak halus.
Di dalam bus, udara terasa dua kali lebih panas dan lebih apek. Bau keringat manusia bercampur dengan bau jok kulit imitasi yang terbakar matahari menciptakan aroma yang mencekik. Nisa terus berjalan ke arah belakang, mencari kursi kosong.
Setiap mata penumpang di dalam bus seolah tertuju pada mereka—atau lebih tepatnya, pada Nisa. Sosok gadis cantik dan bersih di dalam bus ekonomi Tanjungbalai adalah anomali. Rafi merasa bangga sekaligus cemas secara bersamaan. Ia bangga karena semua orang melihatnya berjalan bersama Nisa, tapi ia cemas karena ia tahu ia membawa "berlian" ini masuk ke dalam lingkungan yang kasar.
Akhirnya, mereka menemukan satu baris kursi kosong di dekat jendela.
"Duduk di sini saja, Nis," kata Rafi sambil buru-buru menyeka debu di kursi plastik itu dengan sapu tangan lusuh yang ia bawa. Ia melakukan gerakan itu dengan cepat, berharap Nisa tidak menyadari betapa dekilnya sapu tangan tersebut.
Nisa duduk di dekat jendela, sementara Rafi duduk di sisi lorong. Ruang kakinya sangat sempit, membuat lututnya beradu dengan kursi di depannya. Secara ergonomis, ini adalah penyiksaan, namun bagi Rafi, ini adalah awal dari ujian ketahanan yang sesungguhnya.
Bus mulai bergetar hebat saat supir menginjak gas. Deru mesinnya memekakkan telinga, membuat percakapan normal menjadi hampir mustahil dilakukan tanpa berteriak.
Rafi melirik Nisa. Gadis itu menatap keluar jendela, ke arah deretan ruko tua di sepanjang jalan terminal yang mulai bergerak mundur.
Cahaya matahari memantul di wajahnya, memperlihatkan butiran keringat kecil yang mulai muncul di pelipisnya.
Dia sudah mulai gerah, pikir Rafi cemas. Dan perjalanan ini bahkan belum benar-benar dimulai.
Rafi meraba saku celananya, memastikan uang seratus ribuan hasil begadangnya masih aman. Ia harus memastikan perjalanan ini berakhir manis di Kisaran nanti, bagaimanapun caranya. Karena saat ini, di dalam bus yang bergetar dan panas ini, rasa mindernya sedang bertarung hebat dengan tekadnya untuk menjadi pria sejati bagi Nisa.
"Kita berangkat, Nis," bisik Rafi pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Nisa menoleh dan tersenyum tipis. "Iya, Rafi. Semoga nggak macet ya."
Senyum itu adalah satu-satunya oksigen bagi Rafi di tengah asap knalpot yang menyesakkan ini. Bab 17 ditutup dengan kesadaran pahit Rafi: Nisa terlalu mewah untuk bus ini, dan ia harus bekerja dua kali lebih keras untuk memastikan Nisa tidak menyesal telah menjawab "Boleh" di Bab 12 tadi.