NovelToon NovelToon
DARAH ASTRA

DARAH ASTRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Epik Petualangan
Popularitas:474
Nilai: 5
Nama Author: DragonLucifer

Di kota futuristik Astra City, manusia biasa dan mereka yang memiliki kekuatan super hidup berdampingan setelah munculnya fenomena langit merah misterius. Raka Mahendra, pemuda dengan energi kosmik yang tak terkendali, harus menghadapi takdirnya, menyelamatkan kota, dan mengungkap rahasia di balik kekuatannya. Bersama Kayla, pengendali gravitasi, dan Adrian, bayangan dari masa lalu, Raka akan menghadapi peperangan, pengkhianatan, dan takdir kosmik yang akan mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DragonLucifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 – Ujian Astra

Markas Helios Guard berdiri megah di pusat Astra City, menara baja dan kaca itu menjulang seperti tombak yang menembus langit. Setelah pertempuran semalam, Raka, Kayla, dan Adrian berdiri di ruang interogasi transparan di lantai tertinggi.

Arsen berdiri di depan mereka dengan wajah serius.

“Semalam,” katanya tenang, “kau menunjukkan kekuatan yang tidak bisa kami abaikan.”

Raka menyilangkan tangan. “Aku sudah bilang. Aku tidak berniat menghancurkan kota.”

“Masalahnya,” potong Arsen, “niat tidak selalu cukup.”

Kayla menatap tajam. “Jadi? Kalian mau mengurungnya?”

Arsen menggeleng. “Tidak. Kami ingin mengujinya.”

Raka mengangkat alis. “Mengujiku?”

Adrian tersenyum samar. “Akhirnya sampai juga.”

Arsen memberi isyarat. Dinding ruangan berubah menjadi layar hologram, menampilkan arena bawah tanah besar dengan dinding baja tebal dan generator energi mengelilinginya.

“Itu Arena Astra,” jelas Arsen. “Tempat kami melatih dan mengukur kemampuan pengguna energi.”

Raka menghela napas pelan. “Dan kalau aku gagal?”

Arsen menatapnya lurus. “Maka kau terlalu berbahaya untuk dibiarkan bebas.”

Sunyi sejenak.

Kayla menggenggam tangan Raka. “Kau tidak harus membuktikan apa pun pada mereka.”

Raka tersenyum tipis. “Ini bukan soal mereka.”

“Lalu?”

“Ini soal aku.”

Beberapa menit kemudian, Raka berdiri sendirian di tengah Arena Astra. Dinding baja setinggi dua puluh meter mengelilinginya. Lampu-lampu putih menyala terang dari atas.

Suara Arsen menggema dari pengeras suara.

“Ujian Astra terdiri dari tiga tahap. Kontrol. Daya Tahan. Dan Sinkronisasi.”

Raka mendongak. “Kedengarannya seperti ujian sekolah.”

“Percayalah,” suara Arsen tetap datar, “ini jauh lebih menyakitkan.”

Tahap pertama dimulai.

Panel di dinding terbuka, memunculkan drone berbentuk bola dengan inti energi kuning di tengahnya.

“Sepuluh unit tempur,” jelas Arsen. “Hancurkan tanpa merusak struktur arena.”

Drone melesat cepat.

Raka langsung bergerak, menghindari sinar laser pertama. Ia melompat, memutar tubuh, dan menembakkan gelombang biru kecil yang tepat mengenai satu drone.

Ledakan kecil terdengar.

“Presisi bagus,” komentar suara dari ruang kontrol.

Drone lain menyerang bersamaan. Raka membentuk perisai tipis di lengannya, menahan dua tembakan sekaligus.

“Fokus,” gumamnya pada diri sendiri.

Ia menutup mata sepersekian detik, merasakan aliran energi dalam tubuhnya—lebih tenang dibanding semalam.

Ia membuka mata dan bergerak cepat.

Satu demi satu drone jatuh tanpa menghancurkan satu pun dinding.

Beberapa menit kemudian, suara Arsen kembali terdengar.

“Tahap pertama selesai.”

Pintu di lantai terbuka.

Dari dalamnya, muncul sosok humanoid setinggi tiga meter, tubuhnya terbuat dari logam hitam dengan garis energi merah menyala.

“Unit Titan,” kata Arsen. “Dirancang untuk menahan serangan tingkat Omega.”

Raka menyeringai kecil. “Akhirnya tantangan.”

Titan menyerang lebih dulu, tinju besarnya menghantam tanah hingga retak.

Raka terlempar tapi mendarat dengan stabil.

Titan menembakkan sinar merah langsung ke arahnya. Raka mengangkat kedua tangan, membentuk perisai penuh.

Benturan energi membuat seluruh arena bergetar.

Di ruang kontrol, Kayla menggigit bibirnya.

“Dia menahannya…”

Adrian berdiri di belakangnya, tangan di saku. “Belum. Dia sedang belajar.”

Di arena, Raka mulai maju perlahan, menahan sinar Titan dengan satu tangan, sementara tangan satunya mengepal.

Cahaya biru terkonsentrasi di tinjunya.

“Kalau ini ujian daya tahan,” katanya pelan, “aku tidak akan kalah.”

Ia menerjang, menembus sinar merah dan menghantam dada Titan.

Ledakan cahaya memenuhi arena.

Titan terpental dan jatuh keras.

Beberapa detik hening.

Kemudian suara Arsen terdengar.

“Tahap dua selesai.”

Napas Raka berat. Keringat menetes di dahinya.

“Tahap terakhir,” kata Arsen, nada suaranya berubah lebih serius. “Sinkronisasi.”

Lampu arena meredup.

Simbol biru di dada Raka mulai bersinar sendiri.

“Apa yang kalian lakukan?” teriaknya.

“Kami tidak melakukan apa pun,” jawab Arsen pelan. “Ini respons alami Segel Astra.”

Lantai arena berubah menjadi pola lingkaran bercahaya. Energi biru dan merah muncul bersamaan, berputar di sekitar Raka.

Ia terjatuh berlutut.

Gambar-gambar muncul di kepalanya—ledakan pertama Astra, bayangan makhluk raksasa, dan sosok bercahaya yang memanggilnya.

“Terima… warisanmu…”

Raka mengepalkan tangan.

“Aku bukan boneka!”

Energi di sekelilingnya bergetar liar.

Kayla berteriak dari ruang kontrol, “Hentikan ujian! Dia kesakitan!”

Arsen tetap diam, menatap monitor dengan mata tajam.

“Ini bukan soal rasa sakit,” katanya pelan. “Ini soal pilihan.”

Di arena, Raka menutup mata.

Ia tidak melawan energi itu.

Ia menarik napas… dan menerima alirannya tanpa membiarkannya menguasai.

Cahaya biru berubah lembut.

Lingkaran energi di lantai menyatu dengan simbol di dadanya.

Tiba-tiba semuanya tenang.

Lampu kembali menyala.

Raka berdiri perlahan.

Arsen menatap data di monitornya, wajahnya akhirnya menunjukkan ekspresi terkejut.

“Tingkat sinkronisasi… 87%.”

Salah satu teknisi berbisik, “Itu mustahil…”

Raka menatap ke arah ruang kontrol.

“Sudah selesai?”

Arsen mengangguk pelan. “Kau lulus.”

Pintu arena terbuka.

Kayla berlari masuk dan memeluk Raka erat. “Kau gila. Tapi kau hebat.”

Raka tersenyum lelah. “Aku juga hampir percaya aku akan meledak.”

Adrian berjalan mendekat. “Ujian ini bukan hanya untuk membuktikan kau kuat.”

Raka mengerutkan kening. “Lalu?”

Adrian menatap simbol di dadanya yang kini redup.

“Ini untuk memastikan kau benar-benar pewaris.”

Arsen mendekat, kali ini tanpa sikap mengancam.

“Mulai hari ini,” katanya tegas, “kau bukan target pengawasan. Kau adalah sekutu Helios Guard.”

Raka terdiam sejenak.

“Dan apa artinya itu?”

Arsen menjawab tanpa ragu.

“Itu artinya perang akan datang. Dan kau berada di garis depan.”

Di luar menara Helios, langit Astra City kembali memerah untuk sesaat—kilatan singkat yang hampir tak terlihat.

Seolah sesuatu… menjawab.

Bab ini menandai awal perubahan besar: Raka bukan lagi ancaman, tapi harapan. Namun semakin besar kekuatan yang ia terima, semakin dekat pula bayangan musuh yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!