NovelToon NovelToon
Terikat Tanpa Pilihan

Terikat Tanpa Pilihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:18.4k
Nilai: 5
Nama Author: ludiantie

Tessa hanyalah gadis biasa yang hidupnya digerakkan oleh takdir dan kesalahan orang lain. Pernikahan mendadak dengan Nickolas Adhitama, pria kaya dan dingin, bukanlah pilihannya, tapi kenyataan yang harus dihadapinya.

Nick, yang terbiasa menguasai segalanya, kini berhadapan dengan Tessa, wanita lembut, teguh, tapi menantang yang membuatnya kehilangan kendali.

Sementara Tessa berjuang menjaga harga diri dan kemandirian, Nick harus belajar bahwa hati manusia tak bisa diatur dengan kekuasaan atau uang.

Di dunia di mana satu keputusan bisa menjadi perang psikologis, akankah cinta tumbuh di antara ketegangan dan luka masa lalu, ataukah mereka hanya menjadi tawanan takdir yang kejam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ludiantie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Cahaya matahari pagi menyusup melalui celah tirai besar, membelah ruangan dengan sinar lembut keemasan.

Tessa terbangun lebih dulu.

Beberapa detik ia hanya diam, mencoba mengenali langit-langit tinggi di atasnya.

Lampu kristal kecil itu. Aroma ruangan yang terlalu bersih. Kasur yang terlalu empuk.

Lalu ia sadar.

Ia tidak sendirian.

Tubuhnya menegang sejenak sebelum perlahan menoleh.

Nick masih tertidur di sisi lain tempat tidur. Posisi mereka tetap berjarak. Selimut tidak berantakan. Tidak ada sentuhan yang tak disengaja.

Tapi jarak itu kini terasa berbeda.

Nyata.

Tessa hanya bisa menelan ludah pelan.

Wajah Nick terlihat lebih tenang saat tidur. Rahangnya tidak setegang semalam. Garis dingin di antara alisnya pun menghilang.

Untuk pertama kalinya, pria itu terlihat… manusiawi.

Tanpa sengaja, Tessa memperhatikannya sedikit lebih lama.

Dan saat itulah, mata Nick terbuka.

Tatapan mereka bertemu dalam jarak yang tidak terlalu jauh.

Tessa gugup dan buru-buru memalingkan wajahnya.

“Maaf,” gumamnya refleks.

“Untuk apa?” suara Nick masih berat karena baru bangun.

“Aku… tidak sengaja menatap.”

Hening sesaat.

“Kau istriku,” jawabnya datar. “Tidak perlu meminta maaf untuk hal seperti itu.”

Kalimat sederhana. Tapi entah kenapa membuat pipi Tessa memanas.

Nick bangkit lebih dulu, turun dari tempat tidur tanpa banyak kata. Ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya,

Tessa duduk perlahan di tepi kasur.

Beberapa lama kemudian, terdengar ketukan halus di pintu.

“Tuan, sarapan sudah siap.”

Suara kepala pelayan terdengar sopan dari luar. Bersamaan dengan Nick yang baru selesai mandi dan hanya memakai jubah mandinya.

“Kita turun bersama, kau mandi dulu,” katanya singkat.

Itu bukan permintaan,

Lebih seperti pengumuman.

Tessa mengangguk pelan dan berdiri.

Beberapa saat Tessa keluar kamar mandi dengan memakai jubah mandinya, dia melihat nick sudah siap dengan setelan kerjanya,

"Pakai itu dulu, keperluanmu akan datang nanti siang," Nick menunjuk sebuah dress sederhana yang berada diatas ranjang dengan dagunya,

Nick menunggu tessa bersiap sambil membaca laporan dihandphone nya,

Melihat tessa keluar dari ruang wardrobe, Nick ikut berdiri,

"Ayo turun,"

Jantung tessa kembali berdebar bukan karena Nick kali ini, tapi karena kenyataan yang menunggu di luar kamar itu.

Para pelayan.

Tatapan.

Peran barunya sebagai nyonya rumah.

Nick membuka pintu, lalu berhenti sejenak.

Tanpa menatapnya, ia berkata pelan,

“Jangan berjalan di belakangku.”

Tessa terdiam.

“Berdiri di sampingku.”

Kalimat itu tidak lembut.

Tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam dirinya menguat.

Dan untuk pertama kalinya pagi itu, Tessa melangkah sejajar dengan Nick.

Ruang makan itu tak kalah megah dari ruang utama.

Meja panjang dari kayu solid mengilap terbentang di tengah ruangan, dikelilingi kursi-kursi berlapis kulit krem. Di atas meja, hidangan sarapan tersusun rapi, roti panggang hangat, telur, buah-buahan segar, kopi hitam yang masih mengepul.

Tessa duduk di sisi kanan Nick, menjaga posturnya tetap tegak seperti yang tadi ia janjikan pada dirinya sendiri.

Beberapa pelayan berdiri di sudut ruangan, menunggu dengan sikap profesional.

Belum sempat suasana menjadi lebih santai, seorang pria berjas abu-abu gelap masuk dengan langkah terukur.

Ia membungkuk singkat.

“Selamat pagi, Tuan. Nyonya.”

Tessa sedikit terkejut mendengar sapaan itu ditujukan padanya juga.

“Masuk,” jawab Nick tenang tanpa menoleh.

Pria itu, yang jelas bukan pelayan membuka tablet di tangannya.

“Agenda hari ini, pukul sembilan rapat dengan dewan direksi terkait akuisisi proyek Timur. Pukul sebelas konferensi internal dengan tim legal. Makan siang bersama investor dari Singapura pukul satu siang.”

Ia berbicara cepat. Efisien. Tanpa jeda.

Tessa mendengarkan dalam diam.

Dunia ini bergerak terlalu cepat.

“Pukul tiga ada penandatanganan kontrak distribusi,” lanjut asisten itu. “Dan malam ini, jam tujuh, makan malam keluarga di kediaman utama.”

Nick berhenti mengaduk kopinya.

“Makan malam keluarga?” tanyanya datar.

“Ya, Tuan. Undangan dari Tuan Besar sudah dikirim dua hari lalu.”

Hening sepersekian detik.

Tessa merasakan perubahan tipis di udara.

“Baik. Konfirmasi kehadiran,” jawab Nick singkat.

Asisten itu mengangguk.

“Nyonya juga diharapkan hadir.”

Kalimat itu diarahkan langsung pada Tessa.

Jantungnya kembali berdetak sedikit lebih cepat.

Makan malam keluarga.

Artinya… ia akan bertemu orang-orang yang benar-benar menjadi bagian dari dunia Nick.

“Siapkan gaun yang sesuai,” tambah Nick tanpa menoleh padanya. “Yang pantas.”

Tessa mengangguk pelan.

“Iya.”

Asisten itu menutup tabletnya.

“Apakah ada tambahan instruksi, Tuan?”

Nick menatapnya sebentar, lalu berkata tenang,

“Mulai hari ini, semua jadwalku yang bersifat publik pastikan mencantumkan nama istriku jika diperlukan.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi cukup membuat beberapa pelayan saling berpandangan sekilas sebelum kembali menunduk.

Asisten itu hanya menjawab, “Baik, Tuan.”

Suasana kembali hening.

Tessa menatap cangkir tehnya.

“Jadwalmu… padat sekali,” gumamnya pelan.

“Itu normal.”

Hening lagi.

Lalu Nick menambahkan tanpa ekspresi,

“Kalau kau merasa tidak siap untuk malam ini, katakan sekarang.”

Tessa terdiam beberapa detik.

Ia bisa mundur.

Bisa mengatakan belum siap.

Tapi bayangan kalimat semalam kembali terngiang di

kepalanya,

Berdiri di sampingku.

Tessa mengangkat wajahnya.

“Aku akan ikut.”

Nick menatapnya sekilas.

Tidak tersenyum.

Tidak memuji.

Tapi ada sesuatu di matanya yang berbeda.

“Baik.”

Asisten itu baru saja hendak pamit ketika suara Nick kembali terdengar.

“Tunggu.”

Pria berjas abu-abu itu berhenti, menoleh hormat. “Ya, Tuan?”

Nick menyandarkan punggungnya pada kursi, jemarinya bertaut santai di atas meja.

“Mulai hari ini, semua kebutuhan istriku diatur olehmu.”

Tessa yang sedang menyentuh cangkir tehnya sedikit terdiam.

“Asisten pribadi, stylist, dan pengadaan pakaian,” lanjut Nick tenang. “Pastikan semuanya sesuai standar.”

Asisten itu mengangguk. “Baik, Tuan. Apakah ada preferensi khusus?”

Nick menoleh pada Tessa sejenak, lalu kembali pada asistennya.

“Samakan.”

Hening sepersekian detik.

“Maaf, Tuan?” tanya sang asisten memastikan.

“Semua yang kupakai,” ucap Nick tanpa perubahan nada. “Merek, kualitas, desainer, sepatu, tas, perhiasan. Jangan ada yang berada di bawah itu.”

Sendok kecil di tangan Tessa hampir terlepas.

Ia menatap Nick.

“Kau tidak perlu..."

“Aku tidak berbicara untuk diperdebatkan,” potong Nick datar, namun tidak meninggikan suara.

Asisten itu mencatat cepat di tabletnya.

“Ukuran dan preferensi warna akan kami sesuaikan dengan Nyonya.”

Nick menambahkan satu kalimat lagi, tenang namun tegas,

“Dan pastikan semua yang dikenakan istriku tidak membuat siapa pun mempertanyakan posisinya di sampingku.”

Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.

Para pelayan yang berdiri di sudut ruangan tetap menunduk, tetapi jelas mendengar.

Tessa merasakan campuran emosi yang sulit ia uraikan.

Bukan hanya tentang pakaian mahal.

Bukan hanya tentang merek yang mungkin bahkan tak pernah ia dengar.

Tapi tentang pernyataan tak langsung itu,

Ia tidak akan dibiarkan terlihat lebih rendah.

Asisten itu akhirnya menunduk hormat. “Akan saya urus hari ini juga, Tuan.”

Setelah pria itu pergi, Tessa menoleh pelan pada Nick.

“Kenapa kau melakukan itu?”

Nick mengangkat cangkir kopinya, menyesapnya singkat sebelum menjawab.

“Aku tidak suka orang lain merasa punya alasan untuk merendahkan sesuatu yang menjadi milikku.”

Kata-kata itu terdengar dingin.

Possessive.

Namun entah kenapa… bukan merendahkan.

Tessa terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak memasuki rumah itu, ia merasa bukan sekadar tamu yang tersesat.

Melainkan bagian dari sesuatu yang dengan jelas diakui.

Meski dengan cara yang kaku.

1
Zahraputri Putri
yg jelas nick ini cari masalah sendiri, smua orang punya masalalu jadi biarlah itu jadi masalalu yg penting skrg tessa sdh jadi istrimu, kmu aja mgkn punya masalalu yg kmu tutupi dari tessa jadi udh lah gk ush diungkit lagi
itsmecancer: wah bisa jadi sih 🤔
total 1 replies
Jelita S
maaf y thor ceritamu bagus tpi alurnya monoton dengan masalah yg sama 🙏🙏🙏 jdi agak kurang antusiasnya buat baca dan nunggu up nya
itsmecancer: makasih banget buat masukan nya ya 🥺, tapi sekarang memang harus lewatin fase ini dulu sebelum masuk ke fase berikutnya, yang aku jamin gak kalah seru ☺️❤️
total 1 replies
Jelita S
Nick ini kayak bunglon cepat berubahubah
Nur Halida
ih.. gak tau diri .. bukannya dulu kamu yg ninggalin nick demi malalu kamu ...
nick apaoun ug dikatakan elena kamu harus ingat sudah ada tessa di sisimu
itsmecancer: kita lihat, kira-kira Nick bakal goyah gak yah🤔
total 1 replies
Bunga
hidupnya Nick melelahkan
itsmecancer: lebih ke melelahkan karena ulah nya sendiri gak sih 🤭, tapi gapapa, kita lihat seberapa jauh Nick bisa mengendalikan semuanya sendiri🤔
total 1 replies
Nur Halida
kenapa sih nick selalu bersikap seperti ini. selalu menjauh kalo ada masalah
itsmecancer: mungkin karena gak berani menghadapi Tessa, ya gak?🤫
total 1 replies
Nur Halida
sekarang masalalu nick yg muncul..
nick... jangan kecewakan tessa lagi nick😔
itsmecancer: Tapi Tessa disini adem loh, gak kayak Nick yang pertama kali tahu masalalu Tessa-Orion🤭
total 1 replies
Nur Halida
jangan lepaskan nick tessa .. apapun yg terjadi kqmu gak boleh pisah sama nick..
nick milikmu dan kamu milik nick..
that's simple😁
itsmecancer: That's simple😎
total 1 replies
Jelita S
kalian berdua bisa yuk saling jatuh cinta😄😄
Nur Halida
semoga tessa cepetan punya baby juga ..
Bunga
Nick n Tessa punya Beby twins
Jelita S
semoga Tessa cepat hamil😄😄
itsmecancer: Hehe 😆 noted doanya! Kita lihat nanti gimana, yang penting perjalanan mereka tetap seru ya🤭
total 1 replies
Jelita S
bagus lah si Nick mulai memahami Tessa
Jelita S
Tessa kamu bisa
Nur Halida
nah... gitu dong nick...
Nur Halida
berusahalah membuat tessa jatuh cinta sejatuh2nya padamu nick agar dia tidak menoleh ke masalalunya lagi ..
jangan nyerah karena tessa pernah mencintai seseorang sedalam itu ..
jadilah orang berikutnya yg akan dicintai tessa lebih dalam dari orion ..
semangat nick.. 💪💪💪
Bunga
duh jangan bikin Nick salah faham lagi dong thor
itsmecancer: kita tunggu besok ya🤫🤔
total 1 replies
Jelita S
Orion oh Orion selalu membuat salah paham Nick
itsmecancer: Orion lama-lama jadi kompor deh😌
total 1 replies
Nur Halida
yah.. baru juga hangat nick pasti.salah paham lagi ngeliat orion dan tessa berduaan di dapur apalgi nick habis bermimpi tinggal oleh orang2 yg dia sayang😔
itsmecancer: doain aja ya mudah²an Nick gak error lagi😌
total 3 replies
Nur Halida
sekarang aku ngerti kenapa nick bersikap seperti itu pada tessa dan orion .. karena nick selalu ditinggal oleh orang2 yg dia sayangi ..dan mereka meninggalkan nick karena orang dari masa lalu ..
jadi nick kalo kamu tidak mau ditinggal tessa kamu harus berubah lebih baik jangan bersikap egois dan penih ambisi seperti papamu ..
itsmecancer: setujuuu ❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!