Kai di reinkarnasi setelah mengalami kecelakaan mobil akibat menolong anak kecil , setelah di Reinkarnasi , ia kembali menjalani kehidupan keduanya , tetapi suatu hari ini malah masuk kedunia ketiga , apakah ada sesuatu yang direncanakan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Marina menoleh pelan ke arah Kai. Angin tipis mengibaskan rambutnya, sementara suasana di arena terasa tegang.
" Kai, kamu sudah siap? "
Kai yang sempat melamun langsung tersentak. Ia menoleh cepat, sedikit gugup.
" Ah... i-iya. "
Namun di balik jawabannya, pikirannya berputar cepat.
Sudah pasti... yang harus kulakukan adalah...
Marina mengalihkan pandangannya dari Kai ke Amane, lalu mengangkat tangannya sebagai tanda.
" ...Baiklah. Kedua petarung siap. "
Amane dan Kai sama-sama mengangkat pedang kayu mereka.
Amane tersenyum tipis—senyum penuh percaya diri.
Sementara Kai... tersenyum ringan, tapi matanya menyimpan keraguan.
Perbedaan kekuatan di antara mereka terlalu jelas.
Kai tahu itu.
Dan kali ini... ia berniat menahan diri.
Kelompok ini masih mencari tahu tentang dirinya. Ia tidak bisa sembarangan menunjukkan semuanya.
Melawannya akan sulit...
Setidaknya... aku harus mendaratkan satu serangan.
" Duel... mulai! "
Tanpa ragu, Amane langsung melesat maju.
Langkahnya cepat—hampir seperti bayangan.
Hentak!
Pedang kayunya diayunkan dengan kekuatan penuh.
Kai dengan refleks menahan.
Duaak!
Benturan keras terdengar. Getaran menjalar sampai ke lengan Kai.
Belum sempat ia menstabilkan diri—
Amane mengangkat pedangnya lagi.
Hentak!
Serangan kedua jauh lebih berat.
Kai menahan lagi, tapi kali ini tubuhnya terdorong mundur beberapa langkah. Kakinya bergeser di tanah, meninggalkan jejak.
Amane berhenti. Ia berdiri tegak, menatap Kai dengan ekspresi dingin.
" Meskipun kamu memegang pedang... kamu lengah ya? "
Nada suaranya tajam.
" Bukankah sudah aku katakan ke guild? "
Ia menurunkan sedikit pedangnya, matanya menyipit.
" Bahwa aku... tidak mempercayaimu. "
Mata Kai sedikit membesar.
Namun... ia justru tersenyum tipis.
Bukan karena santai.
Tapi karena ia sadar... situasinya memang seperti ini.
" Nah... sekarang perbaiki kuda-kudamu. "
Amane menambahkan, dengan nada seolah meremehkan.
" Tenang saja. Aku sudah menyiapkan banyak ramuan penyembuh kok. "
Kai menarik napas panjang.
Hembus...
Ia berdiri lebih tegak.
Namun di dalam hatinya—
Kalau aku terus menahan diri...
aku tidak akan bisa menyentuhnya sama sekali.
Dari belakang, suara Nia terdengar jelas.
" Haah... payah banget sih cowok itu. " " Cuma segitu aja mentalnya udah hancur. " " Apa intuisi ku sudah tumpul ya... "
Disusul suara Cecil yang bergumam sinis.
" Meskipun lawannya Amane-san, masa sampai nggak bisa pasang kuda-kuda. " " Pengecut banget. "
Kai terdiam.
Kata-kata itu menusuk.
Hah... berisik...
Seenaknya saja bicara...
Memang benar... selain bakat ini... aku cuma orang biasa.
Aku cuma... nggak mau melukai siapa pun.
Apa... lebih baik menyerah aja...?
Senyum tipis muncul di wajahnya.
Hahaha...
Namun—
" Itu tidak benar! "
Suara Marina memotong semuanya.
Kai tertegun.
" Kai bukan pengecut! "
Marina melangkah maju sedikit, matanya serius.
" Amane itu sangat kuat. " " Kai mungkin tidak akan menang... "
Ia mengepalkan tangannya.
Lalu berteriak sekuat tenaga—
" Tapi... SEMANGAT! "
Suasana mendadak sunyi.
Kai menunduk sejenak.
Lalu—
" Ha... haha... hahaha... "
Ia tertawa kecil.
" Hah... sepertinya... aku harus menggunakan sedikit. "
Ia mengayunkan pedangnya ke samping.
Wuusshh...
Aura merah mulai muncul.
Awalnya tipis.
Lalu perlahan menyelimuti tubuhnya seperti api yang berdenyut.
Udara di sekitarnya berubah.
Tekanan... meningkat.
" Kalau aku menyerah... aku benar-benar akan terlihat payah. "
Amane yang melihat itu langsung membeku.
Matanya membesar.
Tubuhnya merinding.
" A-apa... apaan itu... "
Kai mulai berjalan pelan.
Langkahnya tenang.
Namun setiap langkah terasa berat—seolah menekan tanah.
Lalu—
Hilang.
Dalam sekejap, tubuhnya menghilang dari pandangan.
" ?! "
Amane refleks mengangkat pedangnya.
Tapi—
Tebas!
Kai sudah berada di depannya.
Serangannya turun lurus dengan kecepatan luar biasa.
Amane menahan.
Namun—
KRRAAK!
Pedang kayunya... hancur.
Terbelah menjadi potongan kecil.
Yang tersisa hanya gagangnya di tangan Amane.
Waktu seperti berhenti.
Mata Amane membesar.
Keringat dingin mengalir dari pelipisnya.
Sementara di hadapannya—
Kai berdiri.
Pedangnya berhenti hanya beberapa inci dari tubuh Amane.
Aura merahnya yang masih berdenyut perlahan menghilang.
Di belakang arena, Febriana ikut melangkah mendekat.
Begitu pandangannya jatuh pada pedang kayu di tangan kedua petarung itu, ekspresinya langsung berubah. Ia mengangkat kedua tangannya, hampir menutupi mulutnya, jelas terlihat cemas.
" Tolong... jangan berlebihan sampai mengganggu waktu ujian ya... "
Nada suaranya lembut, tapi kekhawatiran di matanya tak bisa disembunyikan.
Tak jauh dari sana, Violet berdiri dengan tenang. Tatapannya menyapu seluruh area, mengawasi setiap gerakan dengan penuh kewaspadaan.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
" Amane!! "
Suara lantang memecah suasana.
Cecil berteriak dari pinggir arena, tangannya melambai-lambai penuh semangat.
" Tolong hajar si mesum itu sampai babak belur! "
Ucapan itu langsung membuat beberapa orang terdiam sejenak.
" Cecil, ucapanmu tidak sopan lho. "
Amane menegur, meskipun nada suaranya terdengar setengah menahan tawa.
Situasi yang tadinya masih bisa dianggap normal kini berubah menjadi sedikit kacau. Suara-suara mulai bermunculan, sebagian penasaran, sebagian lagi hanya ingin melihat bagaimana duel ini akan berakhir.
Di tengah keributan itu, Amane menghela napas pelan.
Ia menoleh ke arah mereka berempat, wajahnya menunjukkan sedikit rasa tidak sabar.
" Yah sudahlah... "
Lalu pandangannya beralih ke arah Marina.
" Kalau begitu, Marina... "
Ia mengangkat sedikit pedangnya, memberi isyarat siap.
" Mumpung semua sudah berkumpul, tolong beri aba-aba untuk memulai ya. "
Marina menatap Amane sejenak, lalu melirik ke arah Kai di seberangnya. Ia memastikan keduanya benar-benar siap.
Kemudian ia mengangguk pelan.
" Hmm... "
semoga semua sehat selalu ya,
Aamiin